Om Tampan

Om Tampan
Rasa Cemburu Starla


__ADS_3

Selina merasa canggung berada di antara keluarga Sean, apalagi dengan adanya Starla membuatnya merasa tidak nyaman. Entah benar atau hanya perasaannya saja, Selina merasa Starla terus saja menatapnya dengan tidak suka.


"Mami di mana Sean?" tanya Pasha tanpa mengalihkan pandangannya dari papan catur.


"Jangan hiraukan dia. Anakmu itu lebih memilih bermain dengan ponselnya dari pada berkumpul dengan kita di sini," ucap Evelyn kesal.


"Aku akan memanggilnya," ucap Starla.


Starla merasa itu adalah kesempatan dirinya untuk bicara berdua dengan Sean. Namun, sebelum Starla melangkah, ia lebih dulu melihat Sean sedang berjalan ke tempat itu. Pandangan keduanya bertemu, Starla memberikan senyumnya, tetapi Sean hanya menatapnya datar.


Sean sebenarnya malas melihat Starla, tetapi Sean juga tidak ingin orang tuanya merasa curiga dengan renggangnya hubungan anatara dirinya dan Starla.


"Jadi siapa yang menang?" tanya Sean yang lansung mengalihkan pandangan semua orang.


"Kamu sudah bosan dengan ponselmu membuatmu datang ke mari?" tanya Evelyn.


"Ayolah, Mam. Kenapa merajuk seperti anak kecil." Sean memeluk sang ibu dengan amat manja.


"Lepaskan, Mami. Apa kamu tidak malu bersikap manja seperti itu pada Mami," ucap Evelyn.


"Om Ello, ayo jalan! Sebentar lagi papi akan kalah," seru Selina.


"Apa sih nih anak?" batin Starla.


"Lo bisa main catur?" tanya Sean.


"Aku juara satu lomba catur tingkat provinsi di sekolah lamaku," ungkap Selina.


"Benarkah? Kalau begitu duduk dan coba kalahkan Papi," ucap Pasha. "Ello sangat payah."


"Itu karena aku tidak ingin Papi merasa malu jika kalah dariku," elak Marcello.


"Alasan saja," cibir Pasha.


Selina duduk di hadapan Pasha setelah Marcello beranjak dari tempat itu. Melihat itu Starla merasa kesal, ia merasa tidak diperhatikan seperti biasanya karena keberadaan Selina di rumah itu.


"Hei, bocil! Kalahkan Papi! Jika lo menang dari Papi, gue traktir lo makan es krim sepuasnya," ucap Sean.


"Oke, janji ya."


"Janji."

__ADS_1


Sean dan Selina berjabat tangan.


Selina melihat papan catur ia berkonsentrasi untuk mengubah strategi Marcello sebelumnya. Setelah menemukan celah Selina melangkahkan salah satu bidak catur. Benar saja Pasha termakan oleh jebakannya. Dalam beberapa saat saja Selina membuat Pasha kalah. Semua orang bertepuk tangan dan mengucapakan selamat kepada Pasha atas kekalahannya, terkecuali Starla.


"Om Sean harus tepati janji ya," ucap Selina.


"Iya cerewet. Mau pergi sekarang?" tanya Sean.


"Mami tidak mengizinkannya. Selina baru pertama kalikali datang ke sini. Dia harus makan malam bersama kita," ucap Evelyn.


"Tapi ...." Selina melihat ke arah Sean. Memandang wajah lelaki itu seolah meminta pendapatnya.


Sean mengedipkan matanya seraya mengangguk. Selina paham dengan isyarat itu. Gadis itu melihat ke arah Evelyn seraya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, Mami akan siapakan makan malam sepesial untuk kita semua," ucap Evelyn. "Mami ke dapur dulu."


Setelah Evelyn pergi Pasha meminta kedua anak laki-lakinya untuk mengikutinya. Ada hal penting yang ingin dibahas.


Di gazebo hanya tinggal Selina dan Starla. Selina merasa canggung bersama Starla. Apalagi melihat ada ketidaksukaan di wajah Starla.


"Tante Starla." Panggilan Selina menghentikan langkah Starla yang ingin pergi dari tempat itu.


"Jangan memanggilku dengan panggilan itu! Tante? Heh, kapan saya pernah menikah sama om kamu?" ucap Starla dengan nada ketus.


"Menjauh dari saya! Saya tidak suka didekati oleh orang asing," suruh Starla.


"Aku hanya mau minta maaf atas sikapku waktu di restoran. Aku tahu kamu kesal padaku," ucao Salina.


"Bagus kalau kamu sadar. Jika kamu ingin saya memaafkanmu ... menjauhlah dari Sean!" ucap Starla.


"Dasar gadis bodoh! Sudah gue bilang, jangan pernah meminta maaf padanya. Dia tidak layak untuk itu," ucap Sean. "Dan lo! Atas dasar apa lo menyuruh Selina menjauh dari gue? Yang harus menjauh dari gue itu lo."


"Sea —"


Sean tidak memberikan kesempatan untuk Starla bicara.


"Ayo pergi! Jangan hiraukan dia!" Sean merangkul pundak Selina membawanya pergi dari tempat itu. Keduanya berbalik, tetapi ucapan Starla menghentikan mereka.


"Sean ... mau sampai kapan kamu bersikap seperti ini padaku?" tanya Starla dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Sean mengepalkan tangannya lalu berbalik mengadap Starla.

__ADS_1


"Bersikap yang bagaimana? Gue merasa sikap gue sama lo biasa saja. Gue hanya gak suka sikap lo pada Selina. Jika lo ingin dihargai lo juga harus belajar menghargai orang lain. Dengan sikap lo yang seperti sekarang, gue merasa lo bukan Starla yang gue kenal selama ini."


"Tapi, Sea ...."


Sean kembali berbalik memunggungi Starla. Laki-laki itu tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulut Starla.


"Sean aku merasa cemburu dengan kedekatan kamu sama gadis itu!" aku Starla.


Sean menghentikan langkahnya begitu juga dengan Selina. Keduanya terkejut mendengar ucapan Starla, tetapi mereka lebih terkejut lagi melihat Marcello berdiri di hadapan mereka.


Sean dan Marcello beradu pandang. Keduanya saling menatap, tidak ada yang tahu arti tatapan mereka terkecuali kakak beradik itu. Seolah mengerti akan tatapan Marcello, Sean lebih dulu memutuskan pertemuan pandangan itu. Sean mencoba bersikap seolah tidak mendengar ucapan Starla.


"Ajari calon istri lo bersikap baik kepada orang lain." Sean merangkul pundak Selina lalu masuk ke dalam rumah melewati Marcello begitu saja.


Setelah Sean dan Selina pergi Marcello menatap penuh arti pada calon istrinya. Ia tidak tahu harus bicara apa pada wanita itu.


"Marcello, dengarkan —" Ucapan Starla dipotong oleh Marcello.


"Ayo masuk! Mami nyuruh kita untuk makan bersama," potong Marcello.


Marcello berbalik dan kembali ke dalam lebih dulu meninggalkan Starla di tempat itu sendiri. Melihat kepergian Marcello, Starla berdecak dengan sangat kesal. Ia tahu Marcello pasti marah padanya dan menyalahkan Selina karena hal itu.


Meja makan besar di rumah itu ramai, tidak seperti bisanya. Mereka makan malam dengan suka cita. Sean serta Selina selalu saja membuat Evelyn maupun Pasha tertawa. Keempat orang di tempat itu merasa senang, tetapi tidak dengan Starla dan Marcello keduanya terus saja diam. Bahkan Marcello tidak mau melihat Starla meskipun hanya sekejap saja.


"Mami, Papi ini sudah malam. Aku mau mengantar Selina pulang," ucap Sean.


"Iya, Nak. Kalian hati-hati di jalan," ucap Pasha.


"Sampaikan salam untuk Arya dan Keisha dari kami," ucap Evelyn diangguki oleh Sean.


"Selina pamit Mami, Papi, Om dan ... Kak Starla," ucap Selina.


"Dah, Selina kapan-kapan main lagi," ucap Marcello.


"Iya Om." Selina mencium punggung tangan Evelyn bergantian dengan pasha juga Marcello.


Selina merasa ragu untuk bersalaman dengan Starla. Sepertinya Sean paham dengan keraguan Selina, sebelum Selina mengulurkan tangannya pada Starla, laki-laki itu lebih dulu membawanya pergi.


"Dah, semua," ucap Sean tanpa menghentikan langkahnya.


Keduanya sudah berada di dalam mobil. Sean kembali melajukan kereta besinya membelah jalanan kota. Sean melaju dengan kecepatan lumayan tinggi ia tidak ingin terlambat mengantar Selina sampai ke rumah atau dirinya akan mendapatkan masalah. Namun ternyata perjalanan mereka terhambat oleh padatnya lalu lintas.

__ADS_1


"Astaga! Keisha pasti akan membunuhku karena ini." Ucapan Sean membuat Selina tertawa.


Maaf tidak bisa up setiap hari. Kerja pulang malam sama lagi revisi bab Raja bertemu Ratu.


__ADS_2