ONE NIGHT LOVE CEO

ONE NIGHT LOVE CEO
Emosi Axel


__ADS_3

Axel sangat kesal hingga dia memfokuskan dirinya kepada laptop, namun tidak bisa. Karena akan selalu ada bayangan dari wajah Aurel yang dipeluk dan dicium oleh laki-laki lain selain dirinya.


"Tuan Axel ini laporan yang anda minta sudah saya perbarui"ucap Aurel yang memberikan dokumen kerjanya.


Axelpun hanya membuka beberapa lembar berkas itu dan membuangnya ke lantai dengan asal.


"Itu yang kamu sebut dengan dokumen? saya menggaji kamu dengan kemampuan yang kamu miliki!"omel Axel yang membuat Aurel mengambil beberapa lembar kertas itu yang berceceran dilantai.


Axel kesal dengan sikap Aurel yang memunguti lembaran kertas yang dibuangnya ke lantai dan tidak sama sekali ada perlawanan darinya.


"Baik saya akan bikin kembali pak"ucap Aurel dengan patuh.


Tidak butuh waktu lama Pak Tono, salah satu manager bagian keuangan masuk untuk memberikan laporannya pada Axel yang telah disusun kembali.


Namun Pak Tonopun kembali mendengar amarah dan Omelan dari Axel membuat lembaran kertas itu jatuh ke lantai, dengan sigap Aurel membantu laki-laki tua itu membereskan kertas itu dan mengantar keluar ruangan.


"Tuan Axel, saya tidak tau apa masalah anda hari ini, semua pekerjaan karyawan anda sama sekali tidak dihargai"kesal Aurel.


"Memang kaliannya saja yang tidak becus, saya tidak butuh komentarmu, lebih baik serahkan dokumen yang sudah diperbarui lagi ke saya"ketus Axel.


"Tapi anda tidak perlu dan seharusnya bersikap seperti itu ke Pak Tono dan lainnya, mereka bekerja dan juga mereka memiliki harga diri"ucap Aurel yang tidak tahan dengan sikap ngebos Axel padanya.


Axelpun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Aurel.


"Kenapa kamu harus peduli dengan laki-laki lain? apa ini kemampuanmu merayu laki-laki lain dengan kebaikanmu"ketus Axel.


"Apa maksudmu?"ucap Aurel.


"Apa maksud saya? Kamu membela laki-laki itu apa segitunya kamu merindukan belaian seorang laki-laki, dipeluk dan dicium sesuka hati"

__ADS_1


"Saya bukan wanita seperti itu!!!"Ketus Aurel.


"Nyatanya kamu wanita sepeti itu, yang mudah dipeluk dan dicium oleh laki-laki lain, apa kamu setelah tidur dengan saya? tidur juga dengan laki-laki lain? Berapa banyak yang sudah kamu temani tidur?"tanya Axel yang membuat Aurel kesal bukan main.


"Axel cukup! Tidak berhak kamu menilai saya seperti apa! Jangan pernah perlihatkan wajahmu dihadapan saya lagi, saya berhenti bekerja disini!"ketus Aurel yang langsung pergi meninggalkan ruangan kerjanya tidak lupa dengan tas kerjanya dan keluar dengan emosi.


"Aurel kamu keluar dari sini, saya tidak akan menerima kamu kembali!"teriak Axel penuh dengan amarah, saat kaki Aurel sempurna keluar dari ruangan itu.


Setelah keluarnya Aurel dari ruangan itu, Axel menjadi emosi dan semua peralatan dan dokumen-dokumen diatas meja kerjanya seketika berhamburan di lantai-lantai ruangannya.


"Sial!"umpat Axel sambil mendudukkan dirinya di Sofa besar yang panjang diruangannya, sambil sesekali memijit jidatnya yang terasa hari ini sangatlah berat sekali untuk dihadapinya.


Tok.. Tok..


suara ketukan pintu berbunyi, entah siapa orang dibalik itu.


"Masuk"ucap Axel singkat.


Rendy yang baru saja masuk ke dalam ruangan bosnya itupun terkejut, karena ruangan itu layaknya kapal pecah, dan sangat berantakan sekali untuk sekelas ruangan bos.


"Lu kenapa Xel?"tanya Rendy yang masih tak percaya dengan emosi Axel yang separah itu, akibat melihat Aurel dipeluk dan dicium oleh laki-laki lain.


"Ada apa kemari?"tanya Axel singkat yang sedang malas menceritakan apa-apa.


"Ini berkas yang lu minta tadi, gua taro di atas meja lu"ucap Rendy yang menaruh tumpukan dokumen itu di atas meja bosnya.


Rendy yang menyadari tidak ada sosok perempuan didalam ruangan itupun langsung ikut duduk di atas sofa panjang itu.


"Aurel kemana?"tanya Rendy.

__ADS_1


"Berhenti"ucap Axel tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Wah, lu gila sih Xel, biarin Aurel berhenti kerja gitu aja, biar bagaimanapunkan dia itu ibu dari kedua anak-anak lu itu. Nanti anak-anak lu makan dan minum susunya bagaimana?"jelas Rendy.


"Gua yang tanggung untuk ke dua anak-anak gua itu"ucap Axel dengan santainya.


"Terserah lu aja sih Xel, gua cuma mau bilang si kembar ga akan menerima wanita lain jadi ibunya, kecuali Aurel. Dan kemungkinan besar jika hubungan lu dan Aurel tidak baik-baik saja, si kembar akan lebih memilih sosok ibunya dibanding diri lu yang baru mereka temui beberapa bulan"jelas Rendy dengan bijak.


"Aurel tidak layak menjadi istri gua, untuk urusan anak-anak biar gua nanti yang ambil alih"ketus Axel.


"Yaudah terserah lu aja, tapi jangan nyesal aja nantinya lu. Apalagi Aurel cantiknya ga ada banding, dia ga layak jadi istri, jadi istri gua juga ga nolak kok"ucap Rendy dengan santainya dan mendapatkan tatapan tajam dari bosnya.


"Hahahaha biasa aja kali Xel tatapan lu, kan lu sendiri yang bilang dia ga pantes jadi istri lu. Lagian lu tuh aneh aja kalo cemburu tuh ya bilang, kasih tau dia, jangan malah dibawa bawa ke pekerjaan"lanjutnya, yang membuat Axel hanya terdiam sesaat.


"Lu masih emosi sama dia, besok aja gua anterin lu ke apartemennya dia untuk ngobrol baik-baik, lu tenangin diri lu aja hari ini, jangan kerja dulu. Gua keluar ya"ucap pria yang berkacamata itu dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan yang sangat berantakan itu.


...⭐...


Axel memilih untuk pulang ke rumah kedua orangtuanya dan langsung duduk di ruangan tv dengan santainya, walaupun tv menyala tapi pikiran dan hatinya sedang tidak fokus untuk menonton apapun.


"Sayang, kamu pulang ke rumah?"tanya Alia, ibu dari Axel yang baru saja datang dari taman belakang rumahnya bersama sang suami.


"Iya ma"ucap Axel singkat.


Ke dua orangtua Axelpun saling tatap-tatapan bingung dengan kondisi putranya yang terlihat murung saat menonton tv dengan tatapan kosong.


"Kamu ada apa nak?"tanya Alia dengan lembut.


"Gapapa, aku ke atas ya ma, mau istirahat dulu"ucap Axel yang segera bangkit dari sofa, berjalan menaiki tiap anak tangga menuju kamarnya yang sudah lama dia tidak tiduri.

__ADS_1


Karena saat ini Axel memiliki rumah besar untuk kelak dia akan berkeluarga, tapi saat ini dirinya sendiri sedang bingung dan dilema dengan kondisinya saat ini.


Satu wanita itu bisa membuat dirinya menjadi seemosi dan segila ini menghadapinya, dia yang salah tapi dia sendiri yang memilih untuk berhenti bekerja, pikir Axel.


__ADS_2