ONE NIGHT LOVE CEO

ONE NIGHT LOVE CEO
Hadiah


__ADS_3

Aurel melihat pagar besar yang menjulang tinggi terbuka sendiri dan mobil itu memasuki halaman luas yang ditanami dengan berbagai tanaman dan bunga-bunga yang cantik.


Saat mobil itu memasuki lebih dalam lagi, mata Aurel terkejut bukan main melihat rumah mewah dan besar layaknya istana, bahkan rumah itu lebih besar dari milik keluarga Agatha.


"Waaahhhh istana, aku bisa menjadi Princess jika tinggal disini" ucap Alev karena kagum dengan rumah besar layaknya istana di negeri dongeng.


"Kita dimana?" tanya Aurel pada Axel, namun laki-laki itu hanya diam.


Axel pun turun dari mobilnya yang diikuti Alev, Aydin sertan Aurel yang masih kesal karena pertanyaannya sama sekali tidak digubris oleh Axel.


"Kalian tunggu diluar dulu ya, kalau Daddy suruh masuk, nanti kalian baru masuk. Oke?" tanya Axel pada kedua anak kembarnya.


"Oke Daddy" ucap Alev dan Aydin hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Axel masuk begitu saja, dan benar saja kedua orangtuanya sudah menunggunya diruang tv dan mendapatkan sambitan oleh botol air minum dari sang Ayah dengan wajah kesal.


"Kenapa saya dilempar botol?" tanya Axel dengan santai.


"Jangan berpura-pura bodoh kamu, Axel! Kamu yang memasukkan Celine ke Penjara kan?! Jawab Papa!" bentak Alan pada Putra sulungnya.


"Tebakan papa benar!" ucap Axel dengan santai dan wajah tersenyum.


"Gila kamu xel! Kasih papa alasan kenapa kamu melakukan hal itu ke Celine?! Dia tunangan kamu!" Bentak Alan yang sudah habis kesabarannya menghadapi putra tertuanya.


Axel membuka benda pipih yang dia taruh di saku jasnya dan mengirimkan ke ponsel milik kedua orangtuanya, kelakuan busuk Celine yang hampir membuat dirinya rugi.


"Celine mengendap-endap masuk keruangan ku, lalu dia letakan virus di cpu komputer ku, untungnya tidak ada data yang dicuri atau hilang. Menurut papa dan mama apa perempuan seperti itu layak menjadi menantu dan bersanding dengan Axel?" tanya Axel dengan santai pada kedua orangtuanya.


Dada Alan terasa begitu sesak, teman kerjanya yang dia percayai memiliki putri selicik itu, hingga Alan memilih duduk untuk mengatur deru nafasnya yang tidak teratur.


"Pa, tenang pa. Mama ambilkan obat" ucap Alya, mama dari Axel yang segera berjalan cepat ke kamar untuk mencari obat.


Sedangkan Axel memilih untuk menuangkan air mineral ke dalam gelas untuk sang papa.

__ADS_1


"Makanya Pa jangan ngomel mulu sama anak, masa lebih percaya teman bisnis dibanding anak sendiri" celetuk Axel.


"Axel diamlah, dan Papa minumlah obatnya dulu" ucap Alya yang berjalan dan langsung duduk disebelah suaminya, memberikan satu persatu obat untuk suaminya dengan telaten.


Axel yang diam seperti ini malas sekali melihat jika sang Papa sedang sakit malah mengambil kesempatan untuk bermanfaat dengan Mamanya.


"Oh iya Axel katamu, kamu mau memberi Papa dan Mama hadiah besar yang tak ternilai harganya? Sampai mama harus masak banyak dan makanan yang enak?" tanya Alya yang mengingat ucapan anaknya pagi tadi melalu ponsel.


Axel baru mengingat ada kedua anaknya yang menunggu lama, dan dia kelupaan karena omelan dari Papanya.


"Baiklah, tunggu sebentar disini" ucap Axel dengan santai dan berjalan keluar dari rumahnya dan melihat kedua anaknya yang sedang duduk di bangku depan dengan santai ditemani Aurel.


"Maaf ya membuat kalian menunggu lama" ucap Axel yang berjongkok untuk berbicara ke Aydin dan Aycel.


"Iya Daddy gapapa" ucap Alev yang langsung menggandeng tangan Axel.


"Yuk kita masuk" ucap Axel dengan tangan kanan menggenggam tangan mungil milik Alev dan tangan kiri untuk menggenggam tangan mungil Aydin, sedangkan Aurel berjalan dibelakang tubuh Axel.


Saat masuk ke dalam rumah besar itu, kedua orangtua Axel terkejut bukan main, melihat kedua sepasang anak kecil yang sangat mirip dengan putranya saat kecil.


"Aydin dan Alev salim dulu sama Kakek dan nenek, mereka orangtua Daddy jadi jangan takut" ucap Axel lembut, melepaskan genggaman tangan anaknya.


Aydin dan Alev berjalan ke arah kedua orangtua Axel dan salim kepada Alan dan Alya secara bergantian.


"Mereka cucuku?" tanya Alya dengan airmata yang mengembang dimatanya sambil mencium pipi mungil milik Aydin dan Alev.


"Iya itu cucu mama, bukannya mama sangat menginginkan cucu?" ucap Axel dengan santai.


"Mama tidak akan marah untuk sekarang karena ada kedua cucuku, lihat nanti ya Axel" ketus Alya pada putranya. "Lalu siapa wanita disebelahmu?" tanyanya langsung.


"Aurel, calon menantu mama" ceplos Axel dengan santai.


Cubitan tepat ditangan Axel dari Aurel.

__ADS_1


"Sakit aurel, sakit" rintih Axel kesakitan.


"Makanya kalo ngomong tuh dijaga" bisik Aurel pada Axel, sambil melepas cubitan itu.


"Aydin dan Alev sudah makan?" tanya Alya pada kedua cucunya yang menggemaskan.


"Belum, kata Daddy kita akan diajak makan enak dan banyak hari ini" ucap Alev dengan polosnya.


"Yaudah ayo kita jalan ke meja makan, disana nenek sudah sediakan banyak makanan yang enak-enak dan kalian bisa makan sepuasnya" ucap Alya dengan senyum diwajahnya.


"Asiiiikkkkk, aku makan banyak" ucap Alev kesenangan dengan banyak makanan yang banyak terpampang dimeja makan besar.


Saat sedang mengambil makanan, Aydin memilih untuk meminggirkan sayur-sayuran, karena anak laki-laki itu kurang suka sayur dan harus diomelin oleh Aurel.


"Aydin makan sayurannya, biar kamu cepat tumbuh tinggi dan pintar" ucap Aurel.


"Kamu tidak suka sayur-sayuran?" tanya Alan pada cucu laki-lakinya.


"Aku tidak suka kakek" ucap Aydin.


"Persis seperti Alex kalau tidak suka makan sayuran" ucap Alan yang tidak sadar telah membuat hati Axel kesal.


"Jelas-jelas Aydin putraku, tentu saja dia miripku bukan mirip Alex, tidak ada yang harus dimirip-miripkan dengan Alex" ketus Axel pada Papanya, sebab Axel tahu bahwa Alex adalah mantan kekasih dari Aurel.


Axel beranjak dari kursi duduknya untuk berhenti makan.


"Kenapa anak itu Ma?" tanya Alan pada mamanya.


"Kamu sih Pa, udah tau Aydin putranya Axel malah dimiripin dengan Alex" ucap Alya.


"Tapi Ma, Maksud Papa, Aydin tidak suka makan sayur persis seperti Alex, tapi dia marah seperti itu" ucap Alan yang bingung dengan tingkah putra sulungnya.


"Maaf Tuan, Nyonya boleh saya tau toilet dimana ya? saya mau ke toilet?" tanya Aurel memberanikan dirinya bertanya pada ke dua orangtua pemilik rumah besar layaknha istana.

__ADS_1


"Kamu lurus aja nanti ke kanan ada dapur, itu sebelahnya ada toilet" ucap Alya yang memberitahukan pada Aurel.


"Baik Nyonya, terimakasih" ucap Aurel yang berjalan kearah yang telah diberitahukan pada Mamanya Axel.


__ADS_2