
Setelah lepas dari Axel, Aurel memilih keluar dari ruangan bosnya itu dengan kesal. Namun baru saja keluar dari pintu, sudah dihadapkan dengan wajah Alex yang sudah berdiri dekat dengannya.
"Permisi saya mau lewat"ucap Aurel yang membuat Alex tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Ada yang perlu aku bicarakan denganmu"ucap Alex yang langsung menggenggam pergelangan tangan Aurel tanpa persetujuan wanita.
Axel yang melihat Alex ingin membawa Aurel pergipun segera mencegahnya.
"Mau kamu bawa kemana dia?"tanya Axel dengan suara yang dingin.
"Ini jam istirahat, dan juga bukan urusan Abang"ucap Alex yang menarik pergelangan tangan Aurel begitu saja.
Aurel hanya diam dan mengikuti langkah Alex membawanya turun ke dalam lift berdua, hingga tiba di rooftop perusahaan mereka saling bisu satu sama lain.
"Aurel jelaskan padaku tentang hubunganmu dengan abangku?"tanya Alex dengan menatap wajah mantan kekasihnya yang sudah lama tidak ditemui.
"Jawab aku Aurel!!!"teriak Alex menuntut jawaban dari wanita yang masih singgah dihatinya sampai saat ini.
"Bukan urusanmu!"ucap Aurel dengan tatapan kosong dan begitu dingin dengan Alex.
"Bagaimana bukan urusanku?! Dia Abang kandungku Rellia, sedangkan kamu wanita yang sangat aku cintai. aku berhak tau!"kukuh Alex.
"Cinta? Setelah kamu berselingkuh dengan sahabatku?! Kamu masih sebut cinta?! Cinta yang seperti apa yang kamu maksud?! Hah! Beritahu aku!"bentak Aurel, mengeluarkan emosinya yang selama ini terpendam.
"Lalu apa bedanya kamu denganku, Rellia? kamu juga orang ketiga diantara hubungan Axel dengan Celine?! Apa segitu sakit hatinya kamu, hingga rela menjadi wanita murahan!"ketus Alex yang menyadari hubungannya dengan Axel memang dari awal adalah sebuah kesalahan.
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat di pipi Alex yang ternyata itu adalah abangnya sendiri, Axel yang memukul wajahnya.
"Jaga ucapanmu Alex!"bentak Axel yang tidak suka dengan ucapan adiknya yang terlalu kasar dengan Aurel.
Aurel yang hati dan pikirannya sedang kacau hari itu, memilih berjalan ke arah lift yang diikuti oleh Axel, meninggalkan Alex dirooftop.
__ADS_1
Sepanjang didalam lift mereka berdua saling diam, tanpa buka suara. Sejujurnya Axel terkejut dengan fakta yang didengar oleh mulut adiknya sendiri, bahwa wanita yang telah melahirkan anak-anaknya itu adalah mantan kekasih adiknya, Alex.
Hingga tiba diruangan besar milik Axel, laki-laki itu langsung mengunci rapat ruangannya agar Aurel tidak keluar ruangannya sebelum pertanyaan dari mulutnya tuntas.
Axel menatap kedua manik mata milik Aurel yang cantik dan teduh. Namun amarahnya masih terus menghantui dirinya sendiri.
"Apa benar yang aku dengar diatas, kamu mantan kekasih Alex?"tanya Axel dengan suara dingin.
"JAWAB AUREL!!!" bentak Axel dihadapan wanita itu.
"Itu bukan urusanmu"ucap Aurel dengan santai.
"BAGAIMANA BUKAN URUSANKU?! KAMU ITU IBU DARI ANAK ANAKKU!!" Kesal Axel yang begitu luar biasa.
"Apa kamu sudah pernah tidur dengan adikku juga?!"tutur Axel yang menyayat hati Aurel. "KAMU SANGAT PINTAR MERAYU KEDUA PUTRA DARI KELURAGA CULLEN, AUREL!!!"lanjut Axel tanpa memikirkan perasaan wanita itu.
Axelpun menjatuhkan seluruh barang barang yang ada di ruangannya, menumpahkan segala kekesalan didalam hatinya pada Aurel. Sungguh ini juga hal yang menyulitkan untuk Aurel, dia juga tidak tau bahwa Alex dan Axel bersaudara.
Aurel hanya bisa menangis dalam diam dan tidak berkata apapun, kata-kata Axel dan Alex sangat menyakiti hatinya.
"Hallo mommy dimana? Jadikan kita makan malam di restoran? Aku ingin makan steak!"ucap Alev dengan sangat semangat dan riang.
"Iya mommy segera pulang ya sayang, tunggu mommy"ucap Aurel dengan senyum tipisnya. Alev melihat dibalik video call itu ada sang Daddy dibelakang mommy nya.
"Daddy ikut yuk! Kita makan bersama!"ucap Alev dengan riang mengajak Alex.
"Daddy sibuk sayang, banyak kerjaan"ucap Aurel.
Handphone ditangan Alev kini berpindah tangan ke tangan Aydin. Bocah kecil itu menatap layar pilih dengan senyumnya.
"Kalau tidak ingin ikut bilang saja, tidak perlu banyak alasan"ucap Aydin begitu dingin hingga membuat hati Alex terketuk dengan kata-kata anak laki-lakinya itu, persis sekali dengan wataknya dia. "Ayo mommy pulang sekarang"ucap Aydin dengan tersenyum manis pada Aurel.
"Iya sayang"ucap Aurel menutup panggilan video call tersebut.
__ADS_1
"Saya harus segera pulang. saya pamit" ucap Aurel.
"Saya ikut"ucap Axel yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari mulut Aurel.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Axel dan Aurel saling diam satu sama lain. tidak ada yang berniat membuka obrolan satu sama lain.
Sampai dipintu apartemen, Aurel disambut dengan pelukan hangat Aydin dan Alev yang menunggunya sejak tadi.
"Kenapa mommy lama sekali? aku sudah lapar"oceh Alev yang komplain dengan kedatangan Aurel yang lama.
"Maaf sayang, tadi banyak sekali kerjaan"ucap Aurel sambil mengusap pipi putrinya yang gemas.
Sedangkan disatu sisi Aydin merasa ada yang janggal dengan mommy nya, mata mommy memerah, seperti habis menangis, dan Aydin hanya memberikan tatapan dingin oleh Alex sebagai tertuduh saat ini.
"Baiklah mommy ganti pakaian dulu yaa sayang"ucap Aurel yang segera bergegas berganti pakaian ternyaman untuk pergi ditemani Alev.
Hanya ada Aydin dan Axel diruang tamu itu.
"Kenapa Mommy menangis?"tanya Aydin dengan dingin pada Axel. "Kalau tidak bisa buat bahagia mommyku, setidaknya jangan buat dia nangis. Banyak laki-laki lain yang bisa buat Mommy bahagia"lanjutnya.
"Kenapa Aydin berbicara seperti itu dengan Daddy?"tanya Axel yang menahan kekesalannya dengan putranya sendiri.
"Karena Mommy yang melahirkanku dan Alev, seorang diri, tanpa ada sosok Daddy"ucap Aydin yang membuat Axel membuka kedua matanya, bahwa dia telah menyakiti Aurel terlalu dalam.
"Aydin sayang, ayo Mommy sudah rapih nih"ucap Aurel dengan senyum yang mengembang.
Aydinpun tersenyum saat melihat senyum mommy nya kembali, dan langsung menggandeng tangan Aurel dengan cepat.
Saat didalam mobil, Aurel sama sekali tidak bersuara dan memilih untuk memangku Aydin, sedangkan Alev memilih duduk dalam pangkuan Axel sambil melihat-lihat keluar kaca mobil.
"Daddy, lihat ibu-ibu disana"ucap Alev yang menunjuk keluar jendela, sehingga mata Axel mengikuti arah telunjuk putrinya.
"Ibu yang bersama kedua anaknya itu?"tanya Axel yang diberi anggukan oleh Alev.
__ADS_1
"Dia seperti Mommy dulu, selalu bawa aku sama Abang saat mau berbelanja makanan. Mommy juga membelikan es krim untuk aku dan Abang, padahal dia sendiri kurang uangnya"ceplos Alev dengan polosnya.
Hati Axel berdesir hebat, dia merasa bersalah tidak menemukan wanita yang duduk disampingnya secepat mungkin, apalagi tindakan cemburunya yang keterlaluan tadi siang.