ONE NIGHT LOVE CEO

ONE NIGHT LOVE CEO
Menginap


__ADS_3

Setelah Alex mengganti pakaian dikamarnya, dia kembali turun ke ruang makan dan melihat tidak ada sosok Aurel sedang makan.


"Dimana Aurel ma?" tanya Axel.


"Dia sedang ke toilet" ucap Alya pada putra sulungnya yang langsung pergi ke arah toilet yang berdekatan dengan dapur.


...****************...


Selesai dari toilet, mata Aurel terkejut dengan adanya Alex dirumah besar itu, dan wajar saja Alex dan Axel ada saudara.


"Rellia, kok kamu bisa disini?" ucap Alex tidak kalah terkejut dengan adanya sosok Aurel.


"Bukan urusanmu" ucap Aurel dengan ketus, dan berjalan melewati Alex begitu saja, namun sayangnya tangan Aurel ditarik oleh Alex, hingga membuat Aurel seperti memeluk Alex.


"Lepaskan!" Tegas Axel dengan suara yang menggema seisi ruangan, membuat Aurel dan Alex melepaskan pelukannya.


Axel yang kesal pun menarik pergelangan tangan Aurel dengan kasar sambil berjalan ke ruang makan.


"pelan sedikit, sakit tau!" ringis Aurel yang membuat tangannya kemerahan, namun Axel seolah-olah tidak mendengar ringisan itu.


"Bang, Aurel kesakitan itu tangannya" ucap Alex, semakin membuat kemarahan Axel memuncak.


"Kamu diam dan jangan ikut campur urusan saya!" tegas Axel.


"Abang bukan siapa-siapa Aurel! Saya mengenal Aurel sejak di bangku kuliah dulu!" tegas Alex tidak kalah dengan Axel.


"Abang ingetin kamu! Kamu hanya mantan kekasihnya, Tapi dia adalah ibu dari anak-anak abang!" tegas Axel yang mampu membungkam mulut adiknya.


Kedua orangtua Axel dan Alex datang menghampiri suara ribut yang berasal dari dapur dan ternyata kedua bersaudara itu sedang ribut dan ditemani kedua bocah kembar.


"Axel, Alex ada apa lagi sih kalian?" tanya Alya pada kedua anaknya yang sudah dewasa.


"Daddy lepasin tangan Mommy, kasihan mommy kesakitan" ucap Aydin yang berlari ke arah tangan Mommy nya yang dipegang oleh Axel dengan kasar.


Axel yang melihat putranya berusaha melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Aurel yang dia tarik hingga memerahpun, akhirnya melepaskan tangan itu.


Sedangkan Alex yang mendengar penuturan dari bocah kecil laki-laki yang memanggil abangnya dengan sebutan Daddy dan mantan kekasihnya dengan sebutan Mommy, akhirnya memilih pergi meninggalkan rumah tanpa menjawab pertanyaan Mamanya, Alya.


"Mommy kita pulang aja yuk" ucap Aydin yang kesal dengan Alex yang memperlakukan ibunya secara kasar.

__ADS_1


"Aku juga ikut Mommy pulang" ucap Alev yang berjalan ke arah Aydin.


Kedua orangtua Alex terkejut bukan main, sebab kedua anak itu memilih untuk pergi keluar dari rumah besar itu, dan mereka tidak bisa bertemu dan menghabiskan waktu dengan cucu cucu mereka.


"Kalian jangan pada pulang ya, beberapa hari lagi ulangtahun nenek, temani nenek ya disini, kalian menginap disini saja" ucap Alya pada cucu-cucunya.


"Iya, menginap disini aja ya, nanti kakek belikan mainan yang kalian mau" bujuk Alan pada kedua cucunya.


Aydin dan Alev mulai ragu dan saling bertatapan untuk mengambil keputusan, hingga akhirnya kedua anak kembar itu menatap wajah Aurel dengan seksama, untuk meminta jawaban dari ibunya.


"Kalau kalian mau menginap disini, menginap saja sampai ulangtahun nenek, Mommy pulang, nanti Mommy jemput kalian berdua" ucap Aurel pada kedua anaknya.


"Kenapa Mommy tidak menginap juga?" tanya Alev pada ibunya.


"Disini kamarnya tidak banyak, mommy bisa tinggal di apartemen, nanti mommy ketemuin kalian kok setiap hari" ucap Aurel.


"Mommy bisa tidur dikamar Daddy" ucap Alev.


"Ga bisa sayang. Mommy ada urusan di apartemen" ucap Aurel.


"Nyonya, Tuan saya permisi" ucap Aurel pada Alya dan Alan yang masih susah menerima kehadiran Aurel.


"Tinggal disini saja, saya belum menyiapkan suster untuk menjaga dan merawat mereka" ucap Axel yang masih mempertahankan egonya, sebenarnya Axel ingin Aurel diterima oleh kedua orangtuanya.


"Tapi.." ucap Aurel terputus.


"Kalau tengah malam mereka berdua minta makan atau susu. saya tidak bisa membuatnya, kamu tahu makanan yang boleh dikonsumsi oleh mereka dan yang tidak boleh dikonsumsi oleh mereka. Nanti akan ada kamar untukmu kok" ucap Axel dengan tenang.


"Iyaa Mommy, kalau mommy tidak ada disini aku dan Alev akan banyak es krim yang banyak" ucap Aydin.


"Tidak boleh, baiklah mommy tinggal disini" ucap Aurel pada Aydin.


...****************...


Alev menemani sang nenek menyiram tanaman di halaman belakang bersama dengan Aydin. Namun anak laki-laki itu mulai bosan dan melihat sekelilingnya namun tidak melihat sosok Axel.


"Nenek, Dimana Daddy?" tanya Aydin pada Alya yang sibuk menjelaskan berbagai macam bunga pada Alev.


"Sedang diruang kerja bersama kakek" ucap Alya dengan senyum diwajahnya.

__ADS_1


"Baiklah aku mau kesana" ucap Aydin.


"Mau diantar?" tanya Alya yang takut cucu laki-lakinya tersesat.


"Tidak perlu, nanti aku akan tanyakan pada bibi atau paman yang menjaga rumah" ucap Aydin yang pergi begitu saja.


Seperginya Aydin, Aurel merasa ada yang ingin dibicarakan oleh Alya kepada dirinya namun tidak enak karena terdapat Alev.


"Alev, bisa kamu temani abangmu untuk temui Daddy? Nanti Daddy video call sama perempuan lain loh" ucap Aurel yang memanasi putrinya yang cemburuan ketika Axel menerima telfon dari wanita lain.


"Baik Mommy" ucap Alev yang berlari dengan langkah kakinya yang kecil.


Setelah memastikan cucu perempuannya pergi, sikap Alya berubah dengan Aurel.


"Apa kamu puas dengan perpisahan Axel dan Celine?" ucap Alya dengan dingin pada Aurel.


"Apa nyonya masih menginginkan menantu yang ingin membuat Anda sekeluarga rugi?" tanya Aurel balik, yang membuat Alya terdiam karena hampir saja keluarganya jatuh miskin dalam sehari dikarenakan Celine.


"Tenang saja nyonya saya tidak berminat kok menjadi istri pak Axel, yang saya inginkan hanya menjadi ibu yang baik untuk kedua anak kembar aja. Jadi anda bebas untuk menjodohkan pak Axel dengan wanita yang bermartabat dan status yang tinggi, tidak dengan saya" ucap Aurel dengan senyum yang tulus.


"Kenapa kamu tidak menginginkan menjadi istri seorang Axel?" tanya Alya pada wanita yang baru saja dikenalnya.


"Entahlah, mungkin karena aku sudah merasakan menjadi ibu dan aku menginginkan anak-anak ku nanti bersama orang yang tepat juga" ucap Aurel.


Panggilan telfon berbunyi.


Segera Aurel mengangkatnya.


"Ada apa?" tanya Aurel pada Axel.


"Keruang kerjaku sekarang" ucap Axel dengan nada perintah layaknya bos dan mematikannya sepihak.


"Siapa?" tanya Alya yang penasaran.


"Pak Axel, sepertinya saya harus keruang kerjanya" ucap Aurel yang menghela nafas panjangnya.


"Saya ikut" ucap Alya.


Mereka berdua berjalan memasuki rumah besar itu dan berjalan memasuki ruang kerja Axel yang terdapat putri kecilnya sedang menangis sangat kejar.

__ADS_1


__ADS_2