
Pagi pagi sekali Rendy mengantar Axel ke depan pintu apartemen milik Aurel, untuk menurunkan ego dari diri mereka masing-masing, terutama sahabat sekaligus bosnya, Axel.
Pintu belpun dipencet oleh Rendy, karena Axel masih sangat segan untuk menurunkan egonya agar berbaikan dengan satu makhluk perempuan yang sangat sulit dimengerti olehnya.
Aurelpun membuka pintu apartemennya dengan santai, dengan pakaian baju santai dan handuk yang masih ada diatas kepalanya.
"Ada perlu apa Pak Rendy kesini?"tanya Aurel yang hanya menyapa Rendy, dan masih kesal dengan perlakuan Axel kemarin yang menurutnya keterlaluan.
"Kamu tidak bekerja?"ucap Rendy yang pura-pura tidak tahu.
"Sudah mengundurkan diri"ucap Aurel dengan santai didepan pintu.
"Tapi jika kamu mengundurkan diri secara tiba-tiba, kamu harus mengganti pinalti yang terdapat dikontrak"ucap Rendy yang mengingatkan Aurel pada kontrak kerjanya.
Aurel yang mengingat aturan kontrak kerja itupun sangat kesal dan terlihat dari wajahnya yang sudah cemberut.
"Masuklah, saya ganti pakaian dulu"ucap Aurel membuat Rendy dan Axel masuk ke apartemennya.
Rendy kagum melihat kecerdasan 2 bocah kecil dan wajah kembar yang sangat mirip dengan sahabatnya itu, Axel. Benar-benar mirip sekali.
"Halo, saya Satya, adik dari Kak Aurel"ucap Satya yang menjulurkan tangannya pada Rendy yang disambut hangat oleh Rendy.
"Rendy, asisten Axel sekaligus sahabatnya"ucap Rendy dengan ramah.
"Duduk sini kita makan bareng, kak Aurel masaknya lumayan banyak"ucap Satya dengan ramah, membuat Rendy dan Axel duduk dihadapan meja makan dengan jenis macam makanan enak.
Rendy dan Axelpun yang belum sarapan langsung menyendok masakan Aurel yang begitu menggugah selera dirinya.
"Pak Satya datang jam berapa?"tanya Rendy.
__ADS_1
"Panggil aja Satya, biar lebih santai, toh bukan dikantor"ucap Satya dengan santai.
"Baiklah, kalau begitu panggil saya juga dengan Rendy, tanpa Pak ya"ucap Rendy dengan kekehan kecil.
"Saya menginap disini, membantu kakak mengurus si kembar berduaan dengan saya"ucap Satya.
"Setau saya, anda itu putra satu-satunya dan pewaris dari keluarga Agatha. Kenapa Aurel memutuskan tinggal sendiri?"tanya Rendy yang cukup penasaran, dan tahu bahwa keluarga Agatha hanya mengenalkan anak laki-lakinya, tidak pernah memperlihat anak perempuan mereka.
"Aydin, Alev kalau sudah makannya tolong bantuin Om panggil Mommy kalian yaa, lama sekali dandannya"ucap Satya.
"Baik Om"ucap Aydin dan Alev yang langsung turun dari bangku, dan berlari ke arah kamar Mommy mereka, tanpa sepatah katapun menyapa atau berbicara pada Daddy mereka.
"Jadi kenapa Aurel tidak diperkenalkan pada dunia bahwa dia anak dari keluarga Agatha?"tanya Rendy ulang.
"Karena setelah dia lulus, dihamilkan oleh laki-laki tidak bertanggung jawab, diusir dan tidak diberikan biaya sepersenpun dari keluarganya bahkan dihapus jadi pewaris keluarga Agatha, dan harus bekerja mati-matian di negara orang. Belum lagi dengan perkataan orang luar jika tau kakak hamil diluar nikah dan membesarkan anak sendiri, bukan hanya kakak yang akan dihina tapi Aydin dan Alev akan dihina terus menerus menjadi anak haram"ucap Satya dengan santai, namun hati sangat tertohok mengungkapkan kehidupan kakaknya selama ini.
"Saya jamin tidak akan ada yang berani mengatakan itu terhadap anak-anak saya"ungkap Axel.
"Ayo kita berangkat kerja"ucap Aurel yang sudah memperlihatkan dirinya dihadapan 3 pria yang duduk dihadapan meja makan.
"Sarapan dulu sini kak"ucap Satya.
"Tidak perlu, nanti telat"ucap Aurel singkat.
Satyapun langsung menarik lengan kakaknya untuk duduk disampingnya yang berhadapan dengan Axel.
"Buka mulutmu, bosmu aja masih disini, santai aja kak"ucap Satya yang langsung memasukkan nasi beserta lauk pauk ke dalam mulut Aurel.
"Benar, santai saja Aurel, pak bos kita ada dimari ini"ucap Rendy yang membuat Axel tidak berkata apapun.
__ADS_1
Akhirnya Aurel memutuskan untuk sarapan dengan tenang, namun tatapan mata Axel selalu tertuju padanya. dan dia tidak mau habis berfikir hingga makanannya habis.
Sepanjang perjalanan ke kantor, Aurel hanya diam seribu kata, tidak mengatakan apa-apa, dan juga hanya menghabiskan waktu didepan layar komputer untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Saat Aurel menyerahkan beberapa berkas diatas meja kerja Axel dengan sikap profesionalnya meskipun dia sangat ingin keluar dari tempat kerjanya.
"Saya ingin tahu, mainan apa yang disukai oleh kembar?"ucap Axel secara tiba-tiba, membuat Aurel termenung sebentar. "Karena selama ini apapun yang saya kasih selalu mereka terima"
"Mereka hanya membutuhkan kasih sayangmu sebagai ayah, makanya mereka selalu terima apapun darimu, selagi mainan itu dari ayah mereka, mereka pasti bahagia"ucap Aurel dengan datar.
"Lalu bagaimana denganmu?"tanya Axel dengan santainya menatap wajah Aurel dari tempat duduknya.
"Aku tidak membutuhkan apapun, dan kalau bisa menjauhlah dariku, itu lebih baik"ucap Aurel dengan santai dan berbalik badan, berjalan dengan santainya keluar dari ruangan besar milik Axel.
"Aurel!"teriak Axel namun diacuhkan begitu saja dengan wanita itu, Aurel lebih memilih keluar tanpa mendengar panggilan namanya dari Axel.
Hingga akhirnya, Axel kesal dengan perbuatan wanita itu, bahkan beberapa berkas yang diberikan ke Axel semuanya disuruh perbaiki secara menyeluruh hingga membuat Aurel harus lembur.
Tidak terasa pukul sudah menunjukkan jam 9 malam, dirinya terkejut karena lupa memberitahu Satya untuk menitipkan kembar. Dan kemungkinan kedua anaknya belum makan sama sekali.
Dengan segera mungkin, Aurel memilih menutup berkas berkas itu dan mematikan komputer kerjanya sesegera mungkin.
Axel yang melihat Aurel belum menyelesaikan pekerjaannya namun sudah mematikan komputernyapun merasa kesal dan marah, hingga Axel keluar dari ruangannya dan menggenggam lengan tangan Aurel dengan kuat sebelum pergi.
"Mau kemana kamu?! Pekerjaan kamu belum selesai, apa saya sudah memperbolehkan dan mengizinkan kamu pulang?!"ketus Axel.
"Lepaskan! saya harus pulang dulu! besok saya kerjakan lagi!"ucap Aurel tidak kalah ketusnya sambil meronta agar tangannya dilepaskan dari Axel
"Saya atasanmu Aurel!"bentak Axel yang membuat Aurel terdiam dan menatap dengan tajam matanya.
__ADS_1
"Untungnya kamu bukan menjadi suami saya! dan saya harus pulang karena harus memberi makan kedua anak saya Pak Axel yang terhormat"Ucap Aurel dengan datar dan dilepaskan oleh Axel yang melihat jam tangannya yang ternyata sudah pukul 9 malam, dan anak-anaknya belum makan.
Aurel segera berjalan ke arah lift yang diikuti oleh Axel dari belakang.