
Axel segera duduk di bangku besarnya, memainkan komputer kerjanya untuk melihat CCTV, siapa orang yang telah berani masuk dengan diam-diam ke ruangan kerjanya seorang diri.
Tidak butuh waktu lama, Axel menemukan Celine yang diam-diam masuk ke ruangannya saat dirinya pergi ke rumah sakit lebih cepat untuk bertemu ke dua anaknya.
Rendy pun tak kalah terkejut melihat siapa sosok orang yang telah berani melakukan hal seperti ini pada Axel yang tidak pernah menerima pengampunan dari siapapun.
"Selesaikan hari ini, bawa kasus ini ke jalur hukum! Tidak papanya, tidak anaknya sama liciknya!" geram Axel melihat kelakukan Celine yang licik yang tidak jauh dari sosok papanya Celine.
"Tapi..." ucap Rendy yang bimbang, karena mereka bersahabat sejak SMA.
"Dia yang memulai Ren, jangan ragu soal ini. Wanita itu bisa menyebabkan kerugian bagi perusahaan ini" ucap Axel yang menahan amarahnya sejak tadi.
Rendy segera mengumpulkan beberapa dokumen untuk menuntut Celine.
Sedangkan Axel harus membuat perhitungan pada Tim IT nya yang sudah kecolongan oleh virus tadi.
"Kalian disini dulu, Daddy ingin mengurus masalah ini dulu" ucap Axel dengan pembawaan tenang terhadap putra dan putrinya. Membuat Aydin dan Alev menganggukan kepala mereka.
Axel berjalan ke arah lift dan menuruni 2 lantai menuju Tim ruang IT, dan mereka semua sedang duduk sambil mengambil nafas. Namun saat mata mereka melihat kedatangan CEOnya. seluruh staff hingga managernya berdiri dengan tetap, dan mereka tau bahwa akan kena omelan dari atasannya.
"Kalian semua tau, masalah virus sudah terkendali?" ucap Axel dengan ucapan tegas, dingin dan sorot mata yang tajam.
"Tau Pak" ucap beberapa karyawan dan beberapa karyawan lain hanya menganggukkan kepalanya.
"Menurut kalian siapa orang yang telah menangani virus ini?" tanya Axel membuat seluruh karyawan terdiam. "Kenapa diam?!" sengitnya.
"Maaf Pak saya dan tim saya kurang tau" ucap Manager IT dengan sopan.
"Dia adalah putra saya yang masih kecil, kalian hidup sampai sekarang dan bekerja disini bagaimana tidak bisa menangani hal itu?! Kalian mau saya pecat semuanya?!" amarah Axel meledak-ledak.
"Tidak Pak, kami minta maaf atas pekerjaan kami atas hal ini" ucap manager IT.
Rendy yang melihat situasi yang sulit seperti ini, memilih solusi cepat untuk mengirim chat Aurel meminta wanita itu membawa kedua anak kembar itu untuk meredam amarah Axel, sebelum terjadinya pemecatan masal.
Tidak butuh waktu lama wajah Aurel muncul dengan kedua anak yang digandeng tangan kanan dan kirinya. Saat anak kembar itu melihat punggung sang Daddy, Aydin dan Alev melepas genggaman tangan Aurel dan berlari ke arah Daddy mereka.
__ADS_1
"Mau saya pecat?!" tegas Axel.
"Tidak Pak, kami tidak akan mengulanginya lagi" ucap manager IT yang berusia paruh baya.
"Daddy!!!" teriak riang suara Alev dari belakang punggung Axel. Membuat laki-laki itu memutar balikkan tubuhnya.
"Jangan lari-lari nanti jatuh sayang" ucap Axel menasehati anak kembarnya.
Alev berlari dan berhasil ditangkap Axel untuk masuk gendongannya, sedangkan Aydin hanya menggandeng tangan Axel.
"Siapa yang mau dipecat Daddy?" tanya Aydin yang mendengar penuturan kata Axel saat dia baru keluar dari lift.
"Ini putranya Pak Axel yang mengatasi virus di komputer?" tanya manager IT itu dengan ragu, karena usia Aydin yang terbilang masih kecil.
"Iya, Om ga perlu ragu dengan kejeniusan aku, karena Daddy ku jenius bisa menampung kalian bekerja di perusahaannya" ucap Aydin dengan dingin persis seperti wajah Axel.
Jadi sekarang Aurel tau mulut pedas Aydin dan Alev menurunkan dari DNA seorang Axel, bahkan berbicara tanpa ekspresi serta dingin.
"Saya tidak meragukan tuan muda, saya berterimakasih karena sudah membantu saya dan tim saya menangani virus" ucap Manager IT.
"Sudahlah kalian kembali bekerja saja" ucap Aurel yang menengahi agar tidak ada pemecatan.
"Tapi saya lapar! Kalau saya disuruh menunggu anda untuk mengomel saja, saya pulang dulu sama anak kembar ini untuk makan, karena kami lapar" ketus Aurel membalikkan tubuhnya.
"Ayo Aydin dan Alev" ucap Aurel yang membuat Axel tidak berkutik dan mengikuti langkah kaki wanita itu.
Saat pintu lift tertutup seluruh ruang IT bersujud syukur akhirnya tidak ada pemecatan atas masalah besar ini, dan bisa bernafas lega.
...****************...
Saat masuk ke dalam mobil, emosi Axel masih tertahan sejak tadi karena sikap Aurel seenaknya seperti itu pada dirinya seorang atasannya.
"Kamu sengaja tadi ke ruang IT untuk saya tidak memecat mereka?" tegas Axel dengan nada dingin.
"Untuk apa? Saya ke ruang IT karena untuk samperin anda, karena perut saya lapar" ucap Aurel mengeles.
__ADS_1
"Saya tidak suka kamu mencampuri urusan pekerjaan kantor dan pribadi, professional lah" ketus Axel.
"Jadi maksud anda saya tidak profesional? Yaudah pecat saya aja!" ketus Aurel menantang Axel. "Pak tolong ke berhenti mobilnya" ucapnya pada sang supir.
"Tidak, terus jalan" ucap Axel pada supirnya. Axel mencoba meredam amarahnya, sangat tidak mungkin Axel memecat Aurel.
"Tidak, saya mau turun disini aja, atau saya lompat" ancam Aurel yang membuat sang supir memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Diamlah dan duduk dengan tenang, kita cari makan" ucap Axel dengan tenang, menahan amarahnya dengan Aurel
Aurel menurut untuk duduk dan diam sambil menatap jalanan dari dalam mobil.
Aydin dan Alev hanya diam melihat kedua orangtuanya sedang perang dingin.
"Kita jalan" ucap Axel, membuat supirnya menancapkan gas mobil.
Sudah hal yang lumrah jika mommy dan Daddy mereka perang dingin, dan sudah dipastikan yang akan menang adalah Mommy bukan Daddy.
Hingga Aurel tersadar bahwa jalanan yang biasa dilewatinya bukanlah jalanan menuju apartemennya, mulut Aurel hanya bisa bungkam, dia malas berdebat dengan bosnya yang menyebalkan.
"Tenang dan sabarlah aurel, kita makan enak hari ini" batin Aurel.
"Mommy, aku mengantuk" ucap Aydin dengan mengucek-ucekkan matanya.
"Sini tidur dipangkuan mommy" ucap Aurel yang memangku tubuh kecil putranya sambil memeluk dengan penuh cinta membuat anaknya tertidur.
Aurel menatap wajah Aydin yang sudah tertidur pulas, membuat senyuman terukir diwajah Aurel melihat wajah yang memenangkan hatinya dan juga putranya sangat tampan sekali.
"Jangan cepat besar dulu ya Aydin, mommy belum siap liat kamu yang biasanya gandengan sama mommy jadi gandengan sama cewek lain" ucap Aurel pelan sambil menoel hidung mancung putranya.
Cetak!
Sentilan pelan tepat didahi Aurel, menyadarkan wanita itu dengan adanya Axel.
"Sakit tau!" omel Aurel.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu, biarkan Aydin cepat tumbuh dewasa, kalo kamu mau putra lagi, kita bisa bikin" ucap Axel dengan entengnya.
"Ogah! Siapa yang mau melahirkan anakmu lagi?!" ketus Aurel membuatnya memilih untuk melihat jalan, dibanding laki-laki menyebalkan disebelahnya.