
Sepulang kerja, kaki Aurel seakan letih sekali karena harus mengikuti Axel yang menuruti semua keinginan tunangannya itu dengan banyak berkas yang harus dikerjakan juga disetiap jalan.
Dengan tubuh yang gontai, Aurel terkejut melihat Alev menangis dengan darah yang keluar dari lutut kanan milik putrinya dan juga tangan sedikit lecet.
"Aydin, Alev kenapa?"teriak Aurel yang langsung berlari menggendong putrinya kedalam dekapannya.
"Huhuhu sakit Mommy"tangis Alev yang masih terus menangis.
"Mom, lebih baik kita bersihkan dulu luka Alev"ucap Aydin dengan bijak yang langsung menarik tangan Aydin untuk keluar dari apartemen kecil milik mereka dan menguncinya.
Untunglah nasib baik berpihak pada Aurel, dengan cepat dia bisa mendapatkan taksi kosong dan pergi ke rumah sakit terdekat dari apartemennya untuk mengecek secara menyeluruh tentang kesehatan putri kecilnya.
Tidak butuh waktu lama, mereka sampai dirumah sakit terbesar dan jaraknya sangat strategis serta dekat dari apartemen miliknya, yang ternyata disana sudah terdapat sang adik yang menunggunya, Satya.
Sepulang kerja saat mengetahui Aurel sudah tiba dan tinggal di Indonesia, Satya dengan segera dan cepat berlari ke mobilnya untuk mengunjungi sang kakak, namun Aurel justru memintanya untuk menemuinya dirumah sakit, karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan oleh kakaknya, Satya dengan cepat mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit yang diberitahukan Aurel padanya.
"Kak, dia siapa?"tanya Satya yang terkejut melihat Aurel panik dan begitu tergesa-gesa menggendong anak perempuan dan menuntun satu anak kecil laki-laki yang terlihat mirip.
"Sudahlah, nanti saja didalam aku beritahunya"ucap Aurel yang segera memasuki rumah sakit yang sudah meminta jadwal pribadi untuk putrinya tanpa harus mengantri lama-lama.
Setelah Alev diobati oleh seorang dokter dan diberi obat oleh seorang perawat, anak kecil itu tertidur lelap karena capek dan kehabisan tenaga untuk menangis, menahan perihnya darah yang terus keluar dari lututnya dan beruntungnya kaki Alev tidak mengalami infeksi.
Sekarang Aurel menatap pada bocah kecil laki-laki dihadapannya seakan meminta jawaban pada bocah kecil itu yang sedari tadi diam dan tidak mengatakan apapun itu.
"Mom, maafkan Aydin. Tadi aku sedang mengajaknya ke supermarket, dan aku sudah tidak melihat adik disampingku lagi, saat aku ketemu dia, Alev sedang dimarahi oleh tante galak kaya singa"ucap Aydin yang tidak tega melihat Alev sedari tadi menangis kesakitan.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak melihat kejadiannya?"tanya Aurel yang dibalas oleh gelengan kepala kecil itu.
"Kak, dia memanggilmu Mommy? Maksudmu mereka anakmu?"tanya Satya yang terkejut menatap kedua bocah kecil itu secara bergantian.
"Iya, mereka anak-anakku"ucap Aurel.
"Baguslah kalau begitu!"ucap Satya dengan senang. "Namamu Aydinkan?"tanyanya pada bocah kecil yang berdiri dekatnya.
"Iya"ucap Aydin seadanya.
"Kamu panggil aku Om Ganteng! tapi kalo kamu malu, panggil Om Satya juga gapapa"ucap Satya dengan senyumnya yang dibalas dengan wajah datar Aydin.
Seolah tidak mengerti sama sekali dengan posisinya, Aydin hanya menatap ke arah Mommynya meminta penjelasan tentang laki-laki dewasa yang sangat narsis dihadapannya saat ini.
"Dia itu adik kandung Mommy, namanya Satya Agatha, kamu panggil dia om ya"ucap Aurel yang memberikan penjelasan lebih detail pada putranya.
"Satya, tolong titip Aydin. Bawa dia makan malam, kakak ga mau Aydin sakit"ucap Aurel.
"Siap kak!"ucap Satya dengan senang, "Ayo Aydin!"ucapnya yang langsung menggendong tubuh bocah kecil itu keluar ruangan Alev dirawat.
...✴️...
Semalaman dirawat dirumah sakit untuk menemani Alev yang sedang terlelap dalam tidurnya, bahkan Aurel sudah meminta izin sakit untuk mencari alasan menemani putrinya dirumah sakit, dan merawat Alev yang hari ini sudah dirumah.
Bahkan Satya juga ikut menemani dan menajaga Alev dirumah sakit, karena ada kebutuhan kantor yang mendadak, Satya harus pergi pagi-pagi sekali tanpa mengantar kakak dan kedua keponakannya yang lucu.
__ADS_1
"Alev makan ya sayang"bujuk Aurel yang entah sudah berapa kali untuk membujuk putrinya yang masih sangat keras kepala tidak ingin sarapan bubur.
"Aku mau Daddy! Daddy! Daddy!"ucap Alev dengan pipi tembemnya yang membuat Aurel gemas.
"Nanti Daddy akan datang, kalo Alev mau makan dan juga minum obat"bujuk Aurel bohong, karena dalam hati Aurel bagaimana mungkin dia merusak hubungan Axel yang sudah memiliki tunangan yang ditentukan keluarganya.
"Tidak! Mommy bohong! Mommy apa aku dan Kak Aydin itu anak yang tidak diharapkan sama Daddy kehadirannya? Kenapa Daddy tidak bertemu dengan kita?"oceh Alev yang merindukan kumpul bersama, seperti teman-teman seusianya saat di Playground ditemani Ayah dan ibu yang lengkap disisi mereka.
Lidah terasa sangat kaku hanya ingin mengucapkan beberapa kalimat untuk menenangkan hati putrinya, namun Aurel tidak mengatakan apapun untuk membuat putri kecilnya berharap lebih padanya untuk menjanjikan sesuatu yang sangat sulit untuk Aurel lakukan.
Alev dan Aydin menunggu jawaban dari sang ibu, namun Aurel sama sekali diam hingga membuat Alev menangis kembali dengan sangat pecah karena dia kecewa dengan ibunya yang sama sekali tidak memberikan jawaban apapun padanya.
"Mommy, sebenarnya ada apa sih antara Daddy dan Mommy?"tanya Aydin yang juga ingin tau keberadaan sang ayah yang tak pernah mereka temui hingga seusia 5 tahun ini.
"Begini, kita bicarakan pindahan TK kalian dulu saja ya, nanti baru bicara tentang Daddy"ucap Aurel yang mengalihkan pembicaraan mereka dengan sekolah.
"Ga mau! Aku mau Daddy! Alev mau Daddy!"ucap Alev yang menangis, bahkan merengek hingga mengguncang-guncangkan tubuh Aurel yang duduk diranjang besar milik mereka.
Aurel yang dipegang tangannya dengan Alev merasakan bahwa suhu tubuh putrinya panas tinggi dan tak berhenti-hentinya menangis terus dalam waktu yang cukup lama.
"Ya ampun sayang! Tubuhmu demam kembali! Ayo sayang kamu tidur, Mommy suapin buburnya ya"ucap Aurel yang segera menggendong Alev dan membenarkan posisi tidur putri kecilnya agar nyaman.
"Ga mau! Aku mau Daddy! Aku ga mau makan kalo ga ada Daddy!"ucap Alev yang tetap kekeh pada pendiriannya sendiri.
"Apa cuma punya Mommy itu yang tidak diinginkan kalian? Kalian lebih mau sama Daddy dibanding Mommy yang melahirkan kalian?"tanya Aurel menundukkan wajahnya sedih karena bingung harus membujuk putrinya makan harus dengan apa lagi.
__ADS_1
"Bukan gitu, Mom. Kami ingin keluarga yang lengkap! Ada Mommy dan Daddy itu yang diinginkan aku dan juga Alev"ucap Aydin yang tidak tega melihat wajah sang ibu yang menundukkan wajahnya karena sedih dengan kelakuan Alev yang sedang sakit saat ini kelewatan pada ibu mereka.