One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 12


__ADS_3

Zio tertegun untuk beberapa saat setelah melihat mobil Zea menghilang dari pandangannya. Ia tahu, pasti setelah ini akan terjadi masalah yang lebih besar lagi. Ia sudah siap menanggung segala resikonya karena memang dirinya bersalah dalam hal ini.


Ia mencoba menghubungi Zea, namun gadis itu sama sekali tak mau menjawab teleponnya.


"Gas, lo dimana? Jemput gue di xxx!" akhirnya Zio menghubungi Agas untuk menjemputnya. Biarlah Ze menenangkan diri terlebih dahulu, pikirnya. Ia pun butuh waktu untuk menenangkan diri atas apa yang sudah terlanjur terjadi.


Sementara itu, Zea bingung harus kemana ia melajukan mobilnya. Rasajya terlalu takut untuk pulang ke rumah. Tapi, jika ia tak pulang, tentulah kedua orang tuanya akan semakin khawatir.


Beruntung, di mobilnya, Zea selalu menyimpan baju ganti di mobilnya. Ia segera mengganti kemeja milik Zio dengan pakaiannya yang ada di mobil.


Sekitar setengah jam kemudian, mobil yang Zea kendarai memasuki halaman rumahnya. Ia tak langsung turun dari mobil. Ia berusaha mengendalikan emosinya terlebih dahulu. Beberapa kali ia menghela napas dalam sebelum akhirnya turun dari mobil.


Senja langsung menyambut kepulangan putri sulungnya tersebut, "Sayang, dari semla mommy telepon kanu nggak diangkat? Daddy hampir saja menyurih orang buat cari kamu takutnya kamu kenapa-kenapa. Untung saja Mira keburu bilang kalau kamu menginap di rumahnya, kalau tidak pasti daddy buat gempar di luar sana," ucapnya.


Zea berusaha bersikap biasa saja seokah tak ada sesuatu yang terjadi, ia tersenyum," Maaf mom, semalam Zea udah tidur nggak tahu mommy telepon," ujarnya.


" Iya, semalam juga Miranda bilang begitu. Tapi tahu sendiri daddimu bagaimana. Dia sampai nggak bisa tidur semalam. Malah mau nyusul kamu segala ke rumah Miranda. Mommy bilang saja jangan buat malu anak gadisnya dengan sikap posesifnya itu. Akhirnya daddy urung. Dan pagi ini malah tidur orangnya," jelas Senja.


Zea memejamkan matanya sejenak, menikmati rasa bersalahnya terhadap kedua orang tuanya, terutama daddinya yang selama ini begitu menjaganya karena dia adalah berlian paling berharga bagi Elang," Maafin Zea, dad," batinnya teriris, mengingat kesalahan semalam yang ia lakukan.


"Wajar sih kami khawatir, habisnya Zio juga di telepon nggak diangkat, kalian kan berangkatnya barenga. Daddy sempat mikir sempit yang enggak-enggak jadinya," ucap Senja lagi.


Mendengar nama itu di sebut, membuat Zea kembali teringat peristiwa semalam. Ia mengepalkan tangannya demi meredam rasa sesak di dadanya," Zea ke kamar dulu, ya mom," pamitnya kemudian, karena ia tak saggup berlama-lama menatap kedua nata wanita yang telah melahirkannya tersebut.

__ADS_1


"Iya, nanti temui daddimu kalau sudah bangun. Sekalian sarapan," ucap Senja.


Zea hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia segera berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua rumah tersebut. Ia berusaha berjalan biasa saja meski harus menahan sakit di area intinya.


Sampai di kamar, Ze langsung mengunci pintu kamarnya. Ia bersandar pada pintu itu. Matanya memanas mengingat kembali kesalahan itu. Ia melihat ponselnya berdering, sejak tadi Zio tak berhenti meneleponnya. Ia sama sekali tak berniat mengangkat panggilan dari pria yang telah menidurinya semalam tersebut.


"Aaarrrghhhhh!" Zea melempar ponselnya ke atas ranjang, "Zio breng sek! Ba jing an!" umpatnya dan langsung pergi ke kamar mandi. Ia langsung menayalakan shower dan merosot ke lantai.


Zea terus merutuki dirinya sendiri, merutuki kebodohannya hingga terjadi kesalahan besar itu. Kenapa Zio begitu tega. Padahal mereka adalah calon saudara ipar.


Nathan? rasanya semakin sesak ia rasakan saat mengingat tunangannnya yang jauh di luar negeri sana. Ia telah menodai hubungan mereka yang sudah terjalin sekian tahun lamanya. Bagaimana ia akan menghadapi pria yang dalam waktu dekat ini akan menikahinya tersebut.


Menikah? teringat hal itu, Zea semakin lemas di buatnya. Ia memeluk lututnya sambil menggigil di bawah guyuran shower," Abang... Maafin Zea.... Zea salah..."gumamnya lirih.


Namun, sesak kembali menghujam dadanya saat ia melihat bayangan tubuhnya di depan cermin yang ada di kamar mandi tersebut. Ada begitu banyak tanda merah hampir di seluruh dadanya. Membuatnya merasakan jijik yang amat sangat terhadap dirinya sendiri dan juga pria yang memberikan tanda-tanda merah kedunguan di tubuhnya yang semula putih seputih susu itu.


Air mata Zea kembali luruh. Betapa ia merasa menjadi wanita paling ja-lang dan murahan saat ini. Ia menggosok kasar tubuhnya yang ada tanda kissmark tersebut dengan sangat kasar, berharap tanda itu bisa menghilang dalam sekejap. Namun, sekasar apapun ia menggosoknya, tanda-tanda itu tak juga memudar. Zea benar-benar merasa risih dan jijik. Ia merasa sangat kotor, "Aku benci kamu, yo. Sangat benci!" gumamnya sambil terus berusaha menggosok tubuhnya hingga ia merasa frustrasi sendiri.


Demi apapun, ia semakin membenci pria itu. Rasanya sangat sakit dan kecewa ia rasakan.


.......


Zio memarkirkan mobilnya di carport rumahnya.

__ADS_1


" Baru pulang, sayang?" sapa Syafira.


Zio tersenyum, tampak jelas oleh sang bunda wajahnya yang kelelahan dan tak semangat.


"Semalam tante senja telepon bunda, katanya Zea belum pulang sampai larut malam. Kalian pergi bersama, kan?"


Degh!


Zio merasa tenggorokannya tercekat mendengar ucapan sang bunda,"Kami pulang sendiri-sendiri, bund," hanya itu yang bisa Zio katakan.


Rasanya Syafira belum puas berbincang dengan Zio namun putranya tersebut keburu pamit, "Zio ke kamar dulu, capek!"


Dengan langkah malas, Zio naik ke kamarnya.


Sampai di kamar, Zio langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia memejamkan matanya. Adegan panas semalam Dengan Zea kembali terngiang di kepalanya.


Zio menghela napasnya beberapa kali. Ia merasa bersalah pada Zea. Ia meraba ponselnya yang tergeletak di samping tubuhnya dan kembali mencoba menghubungi gadis itu namun tak juga di angkat.


Zio bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia terus menatap layar ponselnya. Ia menyugar rambutnya yang terasa pening. Sekali lagi ia berusaha menelepon Zea, hanya ingin memastikan jika gadis itu baik-baik saja dan memastikan jika Gadis itu sudah berada di rumahnya. Dan kali ini di angkat. Zio segera menempelkan gawainya di telinga.


"Jangan pernah telepon aku lagi! Breng sek!" sebelum ia berbicara, sudah terdengar suara Zea mengumpat di seberang sana dan panggilan langsung berakhir.


Zio mencoba menghubungi Zea lagi, namun kali ini ponsel gadi itu malah tidak aktif, "Lo pasti makin benci sama gue, kan?gumamnya sambil menyugar rambutnya kembali.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2