
Nathan yang baru saja akan keluar berpapasan dengan Bara yang akan ke kamar Zio dengan membawa kotak obat di tangannya.
Nathan membiarkan saja daddinya itu membawa kotak obat, ia tak memberi tahu jika ia sudah membawa kotak obat untuk Zio. Biarkan anak dan ayah itu bicara empat mata, pikirnya. Jika ia bilang sudah membawa kotak obat untuk Zio, pasti daddinya akan canggung untuk meneruskan langkahnya.
Bara terlihat segan saat Nathan melihat kotak obat di tangannya. Ia takut putra sulungnya itu berpikir jika Bara pilih kasih. Padahal tak ada pikiran itu sama sekali di benak Nathan.
"Mau kemana, nak?" tanya Bara.
"Mau keluar sebentar, dad. Zio ada di kamarnya, aku barusan dari sana," ucap Nathan dan Bara mengangguk, "Maafkan adikmu, Nathan," ucap Bara.
Nathan tak mengiyakan maupun menolak untuk memaafkan Zio. Ia hanya tersenyum tipis, "Aku sedang berusaha, dad," ucapnya.
Bara mengangguk, ia menepuk bahu Nathan sembari berjalan.
Mereka sama-sama melanjutkan langkah mereka. Namun, langkah Nathan terhenti saat ia ingat sesuatu, "Dad!" panggilnya. Yang mana membuat Bara berhenti dan menoleh.
"Jujur, Nathan kecewa dengan kata-kata daddy ucapkan tadi pagi. Buatku, ibuku dan Nala adalah bunda. Ibu yang kami tahu, yang mengurus kami dari kecil adalah bunda. Bahkan kami tak pernah tahu rasanya menjadi anak mommy Olivia," ucap Nathan. Bukannya ia ingin mengingkari kenyataan jika Olivia yang melahirkannya. Tapi, memang kenyataannya seperti itu, Syafiralah yang menjadi ibu secara nyata untuknya dan Nala.
"Zio sudah dewasa untuk tahu salah dan benar. Jadi jika dia salah, salahkan dia Yang seharusnya sudah bisa bertanggung jawab atas kesalahannya. Jangan salahkan bunda," imbuh Nathan penuh penekanan.
Ucapan Nathan serasa menampar Bara, ia tersenyum tipis dan mengangguk, "Maafkan daddy. Daddy tahu sudah salah sama bunda dan daddy sedang berusaha mendapat mmaafnya sekarang,"
Nathan hanya mengangguk tipis dan melanjutkan langkah. Ia tidak jadi keluar rumah, melainkan mencari keberadaan bundanya di kamar utama.
Tok tok tok!
Nathan mengetuk pintu yang terbuka tersebut.
Syafira yang sedang duduk melamun menoleh. Ia tersenyum melihay Nathan berdiri di depan pintu, "Masuk, nak!" ucapnya.
Nathan balas tersenyum. Ia melangkah masuk. Syafira berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Nathan langsung memeluk Syafira.
"Maafin adikmu ya, nak? Maafin bunda juga karena gagal menjadi...."
"Bunda nggak salah. Nathan mohon jangan seperti ini, jangan meminta maaf. Ini bukan salah bunda. Maaf atas ucapan daddy tadi, bunda. Daddy hanya sedang emosi. Ya, walaupun Nathan tahu, dalam keadaan emosipun tak seharusnya daddy bicara seperti itu. Tapi, tolong jangan bunda ambil hati. Buat Nathan, bunda segalanya. Bunda Nathan hanya bunda Syafira. Bunda tahu kan, sesayang apa Nathan sama bunda?" Nathan mengurai pelukannya lalu ia mengusap air mata yang membasahi pipi Syafira menggunakan ibu jarinya.
Syafira mengangguk, ia membelai pipi Nathan penuh sayang," Iya, bunda tahu. Nathan juga tahu kan, kalau bunda sayang sama Nathan sama seperti bunda sayang sama Zio dan Zack? Kalian semua anak bunda. Jujur bunda terluka dengan ucapan Daddy tadi," ucap Syafira.
"Kalau bunda mau, biar daddy nanti di marahi sama Nala, aku akan mengadukannya pada Nala karena sudah menyakiti bundaku," ucap Nathan.
"Jangan, kasihan daddy. Tahu sendiri kalau Nala sudah merepet kayak gimana," ucap Syafira.
__ADS_1
"Biar saja daddy kena omel tujuh oktafnya Nala,"
Syafira tersenyum.
"Nah gitu donk, senyum. Bodo amat dengan daddy, yang jelas bunda adalah bundanya Nathan," Nathan menuntun Syafira supaya duduk di tepi ranjang. Ia lalu duduk di lantai dan meletakkan kepalanya di pangkuan Syafira.
Jujur, di sini Nathan juga sedih, kecewa dan terluka. Tapi, diantara anak Bara dan Syafira yang lain, Nathan paling tidak bisa menunjukkan ekspresi apa yang g sedang ia rasakan. Ia selalu memendam kersahan dan kesedihannya sendiri. Namun, sebagai seorang ibu, Syafira paling tahu seperti apa keempat anaknya tersebut. Termasuk Nathan.
Syafira mengusap lembut kepala Nathan. Ia tahu, hanya belaian kasih sayangnya yang di butuhkan Nathan saat ini.
Marah, kecewa, sudah pasti Nathan rasakan. Apapun alasannya, apa yang di lakukan Zio terhadapnya tetap tidaklah benar. Tetaplah melukai perasaannya.
Tapi, Nathan lebih memikirkan perasaan Syafira. Ia paling tidak bisa menyakiti perasaan wanita yang sudah merawatnya sejak kecil tersebut.
"Kalau kamu mau marah, boleh, nak. Jangan di pendam," ucap Syafira lembut. Sekali-kali ia ingin melihat Nathan mengekspresikan perasaannya. Bahkan saat kehilang seseorang yang sangat berarti untuknya, Nathan sama sekali tak menunjukkan kesedihannya di depan orang lain.
" Sudah tadi, satu bogeman aku hadiahkan buat Zio," batin Nathan.
"Dan itu akan semakin membuat bunda sedih dan merasa bersalah?" ucap Nathan kemudian.
Syafira terus mengusap kepala Nathan, "Bunda hanya tidak ingin anak-anak bunda saling menyakiti. Bunda ingin kalian selalu akur dan saling menyayangi," ujarnya.
Nathan diam tak menyahut. Ia lebih memilih menikmati belaian bundanya tersebut. Memejamkan matanya, bayangan masa lalunya terlintas dalam kepalanya. Bibirnya tersenyum tipis," Apa ini karena rutukanmu?" batinnya.
Bara melihat ada kotak obat yang teronggok di atas meja. Tapi, ia melihat luka di wajah Zio belum di obati. Hanya di bersihkan saja lukanya.
"Abang udah bawain obat, tapi malas mau ngobatin," ujar Zio, menjawab pertanyaan yang tak terucap dari daddinya.
Bara menghela napas, duduk di sebelah Zio. Zio menggeser sedikit duduknya supaya Bara bisa duduk di sampingnya.
Keduanya masih saling diam. Bara mulai mengambil kapas dan juga obat untuk mengobati luka di bibir Zio.
"Zio bisa lakukan sendiri," sergah Zio saat Bara hendak menempelkan kapas yang sudah di tetesi obat tersebut ke lukanya.
"Dari dulu selalu bunda yang mengobati luka kamu kalai jatuh atau berantem sama teman sekolahmu, biar kali ini daddy yang melakukannya," ucap Bara.
"Musuh! Mana ada teman tonjok-tonjokan!" protes Zio.
"Bukankah dia temen baikmu di sekolah? Atau daddy ketinggalan cerita?" Bara berusaha mencairkan suasana.
"Awalnya. Tapi, dia gangguin anak cewek, cemen! Beraninya sama perempuan!" ucap Zio yang tetap kesal kalau ingat teman SMPnya yang suka sekali menjahili Zea dulu. Dan sampai sekarang tak ada yang tahu alasan pasti dia dan temannya itu berantem dengan berakhirnya temannya tersebut di rumah sakit. Alhasil, Zio di skors. Tidak sampai di keluarkan karena pengaruh orang tuanya.
__ADS_1
"Oh gara-gara cewek ternyata. Daddy kok baru tahu, ya? Apa bunda tahu?"
"Ck, jangan kasih tahu bunda! Nanti bunda ngomel, padahal itu udah lama kejadian. Tapi, kalau bunda tahu, pasti diungkit-ungkit lagi," ucap Zio.
"Yaaah, padahal ini bisa buat bunda maafin daddy. Kalau daddy cerita, pasti bunda penasaran dan merayu daddy buat cerita dan...."
"Daaadd!"
Bara mengatup, "Oke oke! Daddy tidak akan bilang mommy. Ini rahasia kita berdua," ucap Bara seperti bicara pada anaknya yang masih TK.
"Ck, geli dengarnya!" sahut Zio dan Bara terkekeh. Tanpa Zio sadari, sedari tadi Bata sudah mengobati lukanya yang ada di sudut bibirnya dan sekarang beralih ke salep untuk lebam-lebam di wajahnya.
"Maafin Zio, dad!" ucap Zio tiba-tiba.
Bara yang sedang membuka tutup salep, berhenti sejenak hanya untuk menghela napas lalu melanjutkannya.
"Daddy kecewa, tapi daddy juga bangga karen kamu mau mengakui kesalahanmu," ucap Bara.
"Tapi, gara-gara Zio, daddy jadi melukai perasaan bunda," ucap Zio.
Bara tersenyum, "Dan kalian semua marah sama daddy karena itu," ucapnya.
"Karena ini murni kesalahan Zio, bunda sama sekali tak salah. Tapi, justru bunda yang sangat terlukai perasaannya,"
"Beruntungnya istriku karena anak-anaknya semua begitu menyayanginya,"
"Ya, jangankan daddy, semutpun tidak aku ijinkan menggigitnya," ujar Zio.
"Hei, anak muda. Bundamu senang jika daddy menggigitnya," protes Bara. Yang mana membuat Zio mendelik, "Terlalu frontal!"
Bara mengatup, "Tak masalah, kamu sudah dewasa bahkan sudah..." Bara tak melanjutkan kalimatnya.
"Daddy tidak tahu aoa yang terjadi dengan kalian hingga hal ini bisa terjadi. Tapi, Jadilah laki-laki bertanggung jawab, bogeman daddy tak cukup menebus kesalahanmu. Kau tahu maksud daddy, bukan?" ucap Bara kemudian.
"Zio akan menikahinya, dad," ucap Zio tanpa keraguan.
"Memang seharusnya begitu. Lalu, kapan daddy harus kesana. Ah rasanya aneh, ke sana untuk melamarnya lagi, tapi kali ini buat kamu, bukan abangmu," ucap Bara.
"Biar Zio selesaikan dulu urusan dengan Zea," sahut Zio.
Bara mengerti, jika lihat sikap Zea tadi pagi. Sepertinya wanita itu tidak mau menerima pertanggung jawaban putranya.
__ADS_1
...----------------...
Untuk visual versi author bisa lihay di ig @embunpagi544. Follow juga tik tok author embunpagi545