One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 8


__ADS_3

"Beneran dia bukan cewek lo?" selidik Barista bernama Fero tersebut kepada laki-laki yang berdiri di depannya.


Zio melihat ke arah Zea sebentar lalu kembali ke Fero, "Kenapa? Lo ngerasa dia lebih cocok jadi kekasih daripada musuh gue?" tanyanya.


"Sayang, cewek secantik itu kalau cuma di jadiin musuh. Harusnya sih musuh 'dalam selimut'," Fero sedikit tergelak saat mengatakannya.


Zio berdecak, "Mulut, lo! Buruan!" ucapnya.


"Nih, spesial buat cewek cantik si pembenci sang pangeran Ziovan. Kayaknya dia bukan cewek biasa, tuh mobil pasti mobilnya kan? Nggak mungkin mobil lo. Lo Motor sebiji aja kredit nggak kelar-kelar," Fero berucap sambil menyodorkan apa yang Zio pesan.


Zio hanya terenyum smirk tanpa membantah apapun ucapan Fero. Biarlah temannya itu tahunya kalau Zio adalah seorang gembel. Ziovan Argantara tanpa embel-embel Osmaro di belakangnya. Zio lebih nyaman seperti itu, dimana orang berteman dengannya bukan karena siapa keluarganya, terutama ayahnya.


Zea tak tahu apa yang Zio dan Barista cafe itu obrolkan. Sesekali ia melihat ke arah mereka.


"Nih!" Zio meletakkan minuman berkomposisi campuran espresso, susu, dan cokelat. Dimana rasa cokelat dan susu lebih mendominasi dibanding kopinya.


"Moccacino?" kening Zea mengkerut.


"Iya, sesuai suasana hati lo!" ucap Zio sembari duduk di depan Zea.


"Aku nggak suka kopi," ucap Zea.


"Gue tahu lo sukanya orange juice. Coba aja dulu, nggak ada salahnya coba sesuatu yang baru. Jangan takut bayangan," kata Zio.


Daripada protes dan akhirnya malah menjadi debat berkepanjangan, Zea memilih minum es moccacino di depannya. Dan rasanya... Enak.


"Enak, yo!" ucap Zea dengan mata berbinar.


"Habisin! Biar suasana hati lo lebih baik. Sumoek gue lihat wajah lo yang mendung!" timpal Zio.


Zea mencebik, "Bisa nggak sih buat nggak ngeselin?"


"Takutnya lo terpesona sama gue kalau gue tiba-tiba nggak ngeselin," sahut Zio.


Zea memutar bola matanya malas.


"Kamu sering ke sini?" tanya Zea.


"Lo mau ikut kalau gue ke sini lagi?" bukannya menjawab, Zio malah bertanya.


"Bukan gitu. Aku lihat kamu akrab sama karyawan sini. Pasti sering nongkrong di sini sampai pagi, kan? Bunda sering cariin kamu kalau nggak pulang," ujar Zea.


Zio tak menjawab. Ia bersedekap dada, dengan ujung kaki kanan ia tumpangkan di paha kirinya sambil menatap Zea dengan tatapan yang hanya dirinya yang tahu artinya.


"Nggak mungkin kan kamu kerja di sini? tebak Zea kemudian. Tidak mungkinlah seorang Ziovan yang ia kenal brandalan bekerja di sana. Buat apa? Harta orang tuanya saja tak akan habis tujuh turunan, pikir Zea.


"Nggak usah kepo sama hidup gue, kecuali lo udah siap buat berhenti jadi pembenci gue dan lo siap buat jatuh cinta sama gue!" ujar Zio.


"Apaan sih, siapa juga yang kepo. Aku cuma tanya!" sanggah Zea.

__ADS_1


"Nggak usah tanya. Semakin banyak tanya, lo akan semakin penasaran sama gue," jawab Zio.


Zea memilih diam. Jika terus di ladeni, hanya akan membuat tekanan darahnya melonjak naik.


......................


"Ze, ntar malam mau ke ulang tahunya Claudya, nggak?" tanya Mira saat mereka keluar dari kelas.


"Kalau mommy ijinin, soalnya kan di club rayainnya," ucap Zea.


"Kalau gitu, kita cari kado dulu habis ini gimana?" Mira memberi ide.


"Boleh," sahut Zea.


Setelah membeli kado untuk Claudya, Ze langsung pulang.


"Bawa apa itu sayang?" tanya Senja saat melihat putri sulungnya pulang dengan membawa paperbag berisi kado.


"Oh ini, kado buat teman Zea, mom. Claudya namanya. Nanti malam dia bgerayain ulang tahun dan Zea di undang," jawab Zea.


"Claudya? Kayaknya mommy nggak pernah dengar teman kamu yang itu?" selidik Senja.


"Memang nggak begitu akrab, mom. Tapi jita seangkatan, satu jurusan juga. Dia... Pacarnya Zio," jelas Zea.


"Ohhh, di rayainnya dimana?" tanya Senja. Ia harus tahu karena anak gadisnya akan pergi malam.


"Di club, mom," jawab Zea.


"Ayola, dad. Zea bukan anak kecil lagi. Ini cuma perayaan ulang tahun. Zea nggak enak kalau nggak datang, dad. Lagian ada Mira juga nanti, rame banyak teman-teman juga. Ijinkan ya, dad. Plese?" mohon Zea, ia mengatupkan kedua tangannya dengan mata memelasnya. Biasanya itu akan berhasil meluluhkan daddinya.


" Nggak!" tegas Elang.


" Daddy nggak asyik. Masa iya udah segede ini masih aja di larang ini itu. Zea nggak akan macam-macam, Zea udah dewasa bisa jaga diri. Biasanya daddy gak oernh kasih ijin, kali ini ijinin ya, dad? Masa Zea di ledekin terus sebagai anak mommy, manja katanya,"


"Bagi daddy, mau berapapun usia kamu, kamu tetap gadis kecil daddy. Biarkan saja temanmu meledek, toh kamu memang anak mommy, kan? Bukan anak bi Surti," ucap Elang.


"Mom... Please!" Zea meminta bantuan sang mommy. Namun Senja kali ini berpihak pada Elang.


Zea memberengut. Ia tahu daddy dan momminya terlalu sayang dengannya sehingga mereka begitu protective.


"Kalau di hotel atau lainnya, daddy ijinkan. Tapi ini club sayang," Elang tak tega juga melihat anaknya memberengut sedih.


"Apa bedanya, dad? Baik di hotel maupun club, sama saja. Tergantung kita bagaimana membawa diri. Di hotel kalau di sediakan miras juga sama saja, kan?"


"Baiklah, biar daddy suruh om Kendra buat kirim bodyguard buat kamu,"


"Zea nggak mau. Zea bisa jaga diri, dad. Tolong percaya sama Zea, ya?"


Elang mendengus, "Zio akan menjemputmu,"

__ADS_1


"Ih nggak mau! Zea bareng Mira aja!" tolak Zea langsung.


"pergi sama Zio, atau tidak sama sekali?" tegas Elang sebelum akhirnya ia meninggalkan putri kesayangannya tersebut.


"Mommy rasa, ide daddimu tidak buruk. Zio akan menjagamu di sana. Bagaimana pun kan adiknya Nathan, calon adik ipar kamu," ucap Senja.


Zea mengembuskan napasnya kasar.


.......


Malam tiba....


Zea sudah bersiap, tinggal menunggu Zio datang.


Padahl yang di tunggu malah sedang tiduran santai di kamarnya. Sepertinya pria itu sedang memikirkan sesuatu. Hal yang jarang laki-laki itu lakukan. Karena baisanya ia suka 'keluyuran'.


Syafira yang menyadari motor dan mobil Zio masih terparkir di carport, langsung mendatangi sang putra ke kamarnya.


Tok tok tok, "Sayang, ini bunda!" ucap Syafira.


Zio yang sedang menatap langit-langit kamarnya dengan berantalkan kedua tangannya menoleh kearah pintu, "Masuk, hund!" serunya.


Syafira pun langsung membuka pintu kamar Zio dan melangkah masuk, "Loh, kok masih santai di rumah, Nak?" tanyanya lembut seraya mendekati putra ketiganya tersebut.


"Zio di rumah, bunda malah ngusir? Nggak senang anaknya ini di rumah?" tanya Zio. Ia mengalihkan kepalanya ke pangkuan Syafira.


Tentu saja, Syafira senang kalau putranya di rumah. Ia kadang merasa sepi karena Dua putranya yang lain berada di luar Negeri. Nathan yang harus mengurus perusahaan keluarga yang ada di London dan Zack yang menuntut ilmu di Swiss. Sementara Nala-kembaran Nathan, pasti sibuk mengurus kedua buah hatinya dan hanya sesekali berkunjung ke rumah Utama. Rasanya ia dan Bara menjadi seperti pengantin baru lagi jika hanya berdua di rumah.


"Bukan begitu, sayang. Bunda sangat senang kalau kamu di rumah. Tapi, bukannya kamu ada undangan ke ulang tahun teman kamu malam ini?" tanya Syafira.


Ah iya, Zio ingat sekarang. Malam ini kan dia diundang ke acara 'pacarnya', eh malah lupa.


"Malaslah, bund. Besok tinggal minta maaf saja," ucap Zio.


"Kamu ini, kalau nggak mau datang bikang dong dari tadi. Pasti Zea nungguin kamu ini!" ucap Syafira.


"Si nur ngapain nunggu Zio, bund? Dia bukan anak TK, busa berangkat sendiri,"


"Daddinya kan nggak ngijinin kalau nggak pergi sama calon adik iparnya supaya ada yang jagain. Tadi Momminya telepon bunda, lah bunda kira Zea nya udah konfirmasi sama kamu. Makanya bunda nggak bilang sama kamu," jelas Syafira.


"Yang benar, bund? Mana mau Si Nur mau berangkat sama Zio," ia masih tak percaya.


"Masa bunda bohong sama anak sendiri?" sahut Syafira.


Zio langsung bangun dari pangkuan bundanya, "Ah kenapa nggak bilang dari tadi, sih? Pasti Nur udah keluar tanduknya nih sekarang!" Zio langsung menuju walk ini closetnya.


"Nggak mandi dulu?" tanya Syafira. Pasalnya anak laki-lakinya itu masih memakai baju yang sama sejak pulang sore tadi.


"Gini aja banyak yang terpesona, bund. Gimana kalau mandi?" kata Zio penuh percaya diri sambil mengancingkan kemeja berwarna putih di badannya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2