One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 20


__ADS_3

"Bukan urusan kamu! Awas!" Zea meminta Zio untuk menggeser tubuhnya yang menghalanginya untuk jalan ke kasir.


"Gue antar ke dokter kalau lo gak enak badan," ucap Zio yang mengikuti Zea ke meja kasir. Gadis itu mengacuhkannya, seolah kehadirannya hanyalah angin lalu.


Setelah membayar bukunya, Zea langsung bergegas ke luar karena Miranda sudah tak terlihat batang hidungnya di sana.


Zio mendnegus lalu menyusul Zea keluar, ia meraih tangan Zea begitu saja, yang mn membuat gadis itu menghentikan langkah dan menatapnya tajam, "Lepas, yo!" ucapnya.


"Kita ke dokter!" ucap Zio yang mengabaikan ucapan Zea.


Dengan kasar, Zea menghentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Zio, "Kenapa kamu selalu muncul dan muncul lagi, yo? Udah benar kemarin kmu menghilang dari hidupku, kenapa tiba-tiba muncul lagi? Tidak bisakah kamu buat hidupku tenangsedikit?" ucap Zea. Karena dengan melihat Zio, ia akan selalu ingat peristiwa malam itu.


"Gue hanya nggak mau lo sakit, karena masih banyak yabg harus lo lakukan menjelang pernikahan lo sama abang!" sahut Zio.


Mata Zea berkaca-kaca, "Harusnya kamu tidak membawaku ke hotel malam itu, harusnya kamu tidak melakukan itu padaku, yo. Sehingga rasa ini berdosa dan bersalah ini tak perlu ada," ujarnya tak lagi bisa membendung air matanya. Emosionalnya benar-benar sedang tidak baik saat ini.


Jiwanya yang kemarin menggebu-gebu tetap ingin menikah dengan Nathan tiba-tiba kini seakan tak punya nyali. Zea benar-benar dilema.


Zio tertegun. Sesak Zio rasakan melihat Zea mennagis seperti ini. Gue yang salah, lo nggak perlu merasa bersalah, Ze," ucapnya. Ia berusaha meraih Zea ke dalam pelukannya namun Zea justru mendorongnya," Nyatanya aku juga salah! Mau mengelak seperti apapun, aku tetap salah!" sentaknya lalu berlari ke mobilnya dimana Miranda sudah menunggunya.


Zea kaget melihat Miranda, ia langsung menghapus air matanya dan berusaha bersikap biasa saja,"Kok ninggalin aku sih, Mir?" ucapnya.


Namun, Miranda tak sebodoh itu untuk tidak bisa menangkap hal yang aneh. Apalagi saat Zio masuk ke toko buku tadi, pria itu langsung menyuruhnya pergi dengan raut yang serius.


"Kamu sama Zio, sebenarnya ada apa, Ze?" tanya Miranda penuh curiga. Ia menoleh ke arah Zio yang masih memating di tempatnya berdiri.


Zea tergagap mendengar pertanyaan Miranda yang terdengar mengintimidasi,"Eng...nggak ada apa-apa, emangnya ada apa? Ya seperti biasalah, dia buat aku kesal," ucapnya.


Miranda tak percaya begitu saja, tadi Zea sampai menangis, tidak mungkin hanya perdebatan seperti biasa. Apalagi Zea sudah kebal dengan keisengan seorang Ziovan.

__ADS_1


" Kamu jangan bohong, Ze. Pasti ada sesuatu kan? Kalau butuh teman buat cerita, ada aku Ze. Jangan pendam sendiri," ucap Miranda dan seketika tangis Zea pecah.


Miranda mengajak Zea masuk ke dalam mobil supaya Zea bisa cerita dan tak terdengar orang lain.


Zea terpaksa membuka lukanya dengan menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Zio malam itu. Bahkan silsilah keluarga Zio pun Zea ceritakan. Yang membuat Miranda terkejut karena ternyata Zio adalah adik dari calon suami Zea. Selama ini ia tak pernah tahu nama calon suami Zea, hanya tahu nama panggilannya saja. Dan ternyata kedua pria itu sama-sama menyandang nama Osmaro di belakang mereka.


" Ya ampun, Ze. Kenapa bisa sampai seperti itu. Kenapa Zio setega itu? Terus sekarang kamu mau bagaimana?" Miranda merasa prihatin dengan sahabatnya tersebut. Laki-laki yang di bencinya justru laki-laki yang telah merenggut kehormatannya. Dan laki-laki yang dicintainya adalah kakak dari laki-laki yang di bencinya dan telah merenggut kehormatannya. Tak terbayang bagaimana perasaan Zea saat ini.


"Entahlah, Mir. Aku tetap ingin menikah dengan Bang Nathan, tapi aku takut," ucap Zea.


Miranda merengkuh Zea ke pelukannya, benar-benar bagai makan buah simalakama sahabatnya tersebut, pikirnya.


"Please Mir, rahasiain ini. Aku tahu tak seharusnya aku cerita sama siapapun, tapi jujur aku nggak kuat memendamnya sendirian," ujar Zea.


"Ya ampun, Ze. Aku nggak bakal cerita ke siapapun. Kamu kenal aku lebih dari diriku sendiri, Ze," ucap Miranda.


.......


Hari berikutnya, Zio terus mengawasi gerak gerik Zea dari kejauhan. Sedikitnya apa yang ia dengar dari Agas soal celotehan Miranda kalau Zea mengidam itu mengusik likirannya semalaman penuh hingga ia tam bisa tidur. Ia bahkan sampai browsing mencari artikel-artikel soal ciri-ciri wanita hamil dan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan.


Beberapa hari mengamati Zea dan berbekal artikel-artikel yang ia baca, ciri-ciri sikap Zea mirip dengan wanita yang sedang hamil muda. Tapi, Zio Belum yakin seratus persen, karena ia bekum melihat Zea muntah-muntah atau lebih akurat lagi jika Zea telat datang bulan. Tapi, masa iya dia harus bertanya soal hal itu. Bisa-bisa di gampar langsung sama Zea. Apalagi gadis itu lagi sensi-sensinya sekarang terhadap dirinya.


"Kalau benar dia hamil anak gue, fiks anak gue bakal mirip gue nanti. Yang mengandung aja segitu jijiknya lihat muka gue," barin Zio saat mengamati Zea dan gadis itu menyadarinya langsung melengos, malas menatapnya.


......


Sore hari....


Zio memarkir motor sportnya di depan sebuah apotik. Ia sedikit ragu untuk masuk taoi ada akhirnya ia melangkahkan kakinya juga ke dalam.

__ADS_1


"Mau cari apa, mas?" tanya apoteker.


"Alat buat tes kehamilan," jawab Zio dengan gayanya yang cuek. Tak peduli dengan tanggapan orang-orang yanh melihatnya.


Bahkan, apoteker sedikit tercengang. Cowok serampan itu mau membeki tespeck? Apa dia menghamili pacarnya, atau beli untuk istrinya. Bermacam spekulasi langsung Apoteker tuduhkan padanya dalam hati tentunya.


"Mbak..." tegur Zio.


"Eh maaf, tespeck maksud mas?" apoteker memastikan.


"Mungkin," sahut Zio. Ia sudah browsing tapi tak terlalu menyimak bagian nama alat untuk mengecek kehamilan tersebut.


"Mau berapa, mas?" tanya apoteker.


"Biasanya berapa?" tanya Zio balik.


"Ya ada yang satu saja cukup, tapi ada yang belum yakin dan beli banyak,"


Zio diam dan berpikir, berapa ia harus beli kira-kira.


"Dua saja, mbak," ujar Zio kemudian.


Zio langsung menyodorkan menyodorkan uang ke apoteker dan mengambil tespeck yang sudah di tarus paltik kecil oleh apoteker dan langsung pergi begitu saja tanpa menunggu kembalian. Ia bahkan tak tanya harganya berapa tadi. Tapi yakin uang itu lebih dari cukup.


Setelah Zio melangkah untuk keluar, kasak kusuk di dalam apoteker pun terjadi. Tapi, Zio tak peduli.


Zio memasukkan tespeck itu ke dalam tasnya. Setelah naik ke motornya, ia terdiam sejenak, "Bagaimana caranya buat kasih benda ini ke Zea. Apa dia mau melakukannya," batinnya bertanya.


......

__ADS_1


__ADS_2