One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 26


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Zio yang sudah berkeliling mencari Zea tak juga menemukan gadis itu. Semua tempat yang biasa Zea kunjungi ia datangi tapi tidak ketemu.


"Halo, gas! Lo tahu tempat-tempat yang bisa buat gugurin kandungan, nggak?" tanya Zio melalui telepon.


"Lo mau ngapain tanya begituan? Jangan-jangan..."


"Nggak usah banyak ba cot! Buruan kirim ke gue kalau lo tahu!"


"Jangan nekat, yo! Bisa di bicarakan baik-baik,"


"Cepat lo kirim atau gue..."


"Oke-oke! Tapi gue nggak ikut-ikutan!"


Zio langsung mematikan ponselnya. Langsung kembali melajukan motornya setelah memdapat chat dari Agas.


Sudah semua alamat yang Agas berikan Zio datangi, tapi ia sama sekali tak menemukan Zea. Dengan perasaan gusar dan hampir putus asa, Zio melangkah meninggalkan sebuah klinik. Tempat terakhir yang ia datangi dan hasilnya tetap nihil.


Zio kembali menaiki motornya lalu memakai helm fullfacenya. Baru akan menyalakan motornya, ia urung melakukannya. Ia kembali menurunkan standar motornya lalu membuka kaca helmnya. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Zea.


"Eh copot-copot!" Miranda yang sudah putus asa karena ia tak bisa membuka ponsel Zea yang di pasword. Terkejut melihat layar ponsel itu menyala dan memperlihatkan nama Zio di sana.


Mendadak ia merasa tremor untuk mengangkat panggilan itu. Padahal ia tadi menggebu-gebu ingin menghubungi Zio.


"Halo, Ze. Lo dimana?" tanya Zio langsung begitu panggilan terhubung. Ia sedikit lega karena Zea mau mengangkat teleponnya.


"Ini, Miranda temannya Zea. Ini benar kak Zio, kan?" tanya Miranda. Bagaimanapun Zio kakak tingkatnya jadi dia panggil 'kak'.


"Ya ini gue. Dimana Zea? Lo lagi sama dia? Kalian dimana?" tanya Zio tak sabar.


Miranda menceritakan tentang rencana Zea, membuat Zio menggeram. Gadis itu benar-benar serius dengan ucapannya yang ingin menggugurkan kandungannya.


"Kalian dimana sekarang?" tanya Zio.


"Ini masih di jalan menuju ke kota B, kak. Aku lagi berusaha buat umur waktu, siapa tahu kak Zio mau jadi pahlawan buat anak kak Zio, kan? Kita udah sampai daerah xxx,"


Zio mengusap wajahnya gusar, "Kalau sampai Zea benar-benar nekat, lo yang tanggung jawab!"


"eh kok aku?" Miranda terkejut.


"Makanya sebisa mungkin lo cegah! Setidaknya sampai gue nemuin kalian!" ucap Zio.


Miranda kaget saat melihat Zea keluar dari minimarket sampai ponsel milik Zea jatuh. Ia segera mengambil ponsel itu lalu dengan gusar menghilangkan jejak dan mengembalikan ponsel tersebut ke tempat semula.

__ADS_1


"Udah enakan, Mir?" tanya Zea begitu masuk ke mobil.


"Sedikit, Ze,"


"Ini makan dulu, terus minum obatnya. Aku juga beliin air mineral,"


"Makasih ya, Ze," kata Miranda. Ia jadi terpaksa minum obat padahal sehat wal afiat.


Zea kembali melajukan mobilnya.


....


Sementara Zio, ia langsung tancap gas. Meski kini Zea sudah sangat jauh dan entah bisa terkejar atau tidak, tapi ia tak menyerah. Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Untung saja ia seorang pembalap meskipun liar. Setidaknya itu berguna di saat genting seperti ini.


Sialnya, Zio tak tahu persis alamat yang di tuju oleh Zea dan Miranda. Itu membuatnya kesulitan. Ia kembali menelepon Agas dan meminta di carikan alamat yang biasa di datangi oleh orang-orang yang berpikir pendek seperti Zea saat ini di kota tersebut. Dan beruntung, Agas bisa di andalkan. Meskipun Zio sedikt heran, kenapa sahabatnya itu bisa tahu tempat seperti itu. Jangan-jangan.... Tapi masa bodohlah, yang penting ia bisa menyusul Zea sebelum terlambat.


.....


Miranda semakin cemas tatkala mobil Zea memasuki sebuah klinik. Jantungnya berdegub kencang, padahal bukan dia yang ingin melakukan hal terlarang itu. Tapi, ia merasa akan ikut berdosa jika sampai hal itu terjadi.


"Ze, kamu yakin? Nggak mau mikir ulang? Aku nyakain ceramah ustad dulu gimana? Mungkin bisa buat pencerahan kamu," ucap Miranda.


Zea hanya diam untuk sesaat. Ia tahu apa yang ia lakukan salah. Tapi, karena pikirannya benar-benar sedang kacau dan tak bisa berpikir jernih, ia pikir ini solusi terbaik untuk masalahnya saat ini.


Tanpa menyahut ucapan Miranda, Zea melepas seatbeltnya dan turun dari mobil. Miranda mengikutinya dengan perasaan ketar-ketir. Ia celingak-celinguk, berharap Zio segera tiba. Namun, ia juga sadar jarak yang harus Zio tempuh sangat jauh. Kalau ngebut, syukur-syukur pria itu bisa sampai dengan selamat. Takutnya malah terjadi hal yang tak diingnkan lainnya. Kecelakaan misalnya. Astaga, Miranda semakin merasa susah hatinya saat ini.


Setelah mendapat nomor antrean, Zea memilih keluar terlebih dahulu. Menunggu di dalam membuatnya merinding rasanya. Ia dan Miranda duduk di bawah pohon yang ada di di halaman bangunan yang menyerupai rumah tersebut.


Baru saja mereka duduk, terlihat sepasang muda mudi keluar dimana yang laki-laki memapah yang perempuan. Bisa Zea dan Miranda tebak kalau mereka baru saja menambah dosa mereka dengan menggugurkan kandungan. Terlihat sekali mereka juga masih sangat muda.


Miranda meringis ngeri melihatnya. Sementara Zea hanya diam mematung memperhatikan pasangan itu.


Baru juga Zea dan Miranda menoleh dan tak lagi memperhatikan pasangan tadi, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh suara sang pria yang berteriak memanggil perempuannya yang bisa di tebak berstatus kekasihnya atau mungkin selingkuhannya itu.


Zea dan Miranda langsung menoleh, wanita itu jatuh tak sadarkan diri. Beberapa orang langsung datang untuk menolong. Tapi, wanita itu tak tertolong.


Zea tanpa terasa menitikkan air matanya. Apa yang barusan dia lihat begitu menakutkan. Selentingan yang ia dengar, jika wanita tadi hamil sudah cukup besar tapi nekat.


Miranda yang sejak tadi juga terbengong, shock dengan apa yang baru saja ia lihat menolah. Ia meraih tangan Zea yang terlihat saling meremat demi mengurangi kecemasan.


"Ze..." panggil Miranda menggenggam tangan sahabatnya.


Zea menoleh, matanya berkaca-kaca, tapi ia tak berkata apapun saat ini.

__ADS_1


"Lihat tadi kan? Mereka sudah salah, di tambah salah lagi karena menghilangkan nyawa calon bayi yang tak berdosa dan akhirnya mereka tak dapat apa-apa. Perempuannya meninggal sehabis membunuh janinnya sendiri. Bisa di bayangkan seperti apa dia di alam sana," ucap Miranda.


Zea meremat tangan Miranda, tapi masih tanpa kata. Hanya tangisnya yang tumpah.


"Masih ada waktu buat berpikir ulang, Ze,"


Zea menggelengkan kepalanya. Ia dilema, tapi mempertahankan janin itu juga bukan pilihannya.


......


Apa yang Miranda takutkan benar-benar terjadi. Sepandai-pandainya tupai melmpat, pasti bakal jatuh juga. Pun dengan Zio, Sepandai-pandainya dia ngebut, tetap ada apesnya juga. Jalan yang tak ia hapal dengan benar, di tambah licin karena habis di guyur hujan membuat Zio hilang kendali.


Seingat Zio terakhir tadi, motornya terpeleset dan hampir menabrak mobil, tapi ia berusaha menghindari dan setelahnya semuanya terasa gelap.


Ya, Zio pingsan dan kini ia berada di sebuah puskesmas.


"Syukurlah sudah sadar," ucap seorang fokter di ruang ugd puskemas.


Zio sedikit mendesis, ia menyentuh keningnya yang di perban.


"Kepalamu tadi terbentur dan sedikit bocor jadi saya perban," jelas dokter.


"Ini dimana dokter? Jam berapa sekarang?" tanya Zio. Ia ingat Zea.


"Di kota xxx, dan sekarang baru jam dua. Kamu nggak kama kok pingsannya. Lain kali hati-hati kalau bawa motor jangan ngebut. Untung cuma pingsan, kalau bablas ke alam lain gimana?" canda dokter.


Zio hanya meringis, "Terima kasih sudah mengibati saya, tapi saya harus pergi sekarang, dok," Zio buru-buru turun dari


brankar.


"Tunggulah sampai membaik. Setidaknya sampai infusnya habis, baru boleh pergi," kaya dokter.


Tapi, Zio tak bisa lebih lama lagi di sana. Ia harus segera mencari Zea sebelum terlambat. Atau sudah terlambat? Ah, Zio ingin mengumpat rasanya. Tapi, keningnya pening.


"Tuh, kan. Istirahat saja dulu," ucap dokter yang melihat Zio meringis menahan sakit di keningnya.


"Tidak, dok. Saya harus segera pergi. Ada hal penting yang harus saya urus. Ini menyangkut nyawa yang sama sekali tak berdosa. Saya permisi!" Zio melepas paksa jarum infus di tangannya namun di tahan dokter, "Biar saua bantu,"


Zio menurut, ia membiarkan dokter jaga tersebut melepas dan menambal bekas suntikan infus di tangannya dengan plester


Setelah infus di leas, Zio mengambil ponselnya dan ternyata ada chat masuk dari nomor tak di kenal.


"Ini Miranda, kak Zio dimana? Zea baru saja masuk, kak. Kenapa belum sampai?" isi pesan yang ternyata dari Miranda.

__ADS_1


Luruh sudah pertahanan Zio kali ini, air matanya jatuh. Ia terlambat.


...----------------...


__ADS_2