
Zea langsung mematung di tempatnya gara-gara apa yang Zio lakukan barusan terhadapnya.. Namun detik kemudian ia tersadar. Saat itu juga ia menyadari jika pria itu jalannya agak sedikit pincang. Keningnya mengernyit, "Kenapa, dia?" batinnya bertanya.
Zea mengambil ikat rambut di tasnya karena yang tadi di bawa oleh Zio. Ia hendak mencepol kembali rambutnya. Namun, ia tampak berpikir sebentar lalu memilih memasukkan kembali ikat rambutnya ke dalam tas.
Zio terlebih dahulu sampai di meja makan dimana semua orang baru akan mukai acara makan malam tersebut setelah acara diskusi selesai.
"Yo, lihat Zea? Dia udah dari tadi pamit ke toilet tapi belum juga kembali," tanya Senja.
Zio menatap calon mertua abangnya tersebut, "Tidak tante, Zio kan dsri kuar cari udara tadi. Apa mau Zio carikan anak tante?" ucapnya.
"Jangan! Biar Nala saja, kamu tidak boleh sembarang masuk ke toilet wanita sembarangan," ujar Nathan. Pria yang bersifat dingin dan pendiam itu yang menyahut.
"Ya sudah kalau gitu," Zio memilih duduk.
Nala yang baru akan beranjak dari duduknya, Zea sudah kembali, "Maaf," ucap Zea yang menyadari jika semuanya sedang menunggunya.
Selama berlangsungnya makan malam, Zea sama sekali sudah tak bisa fokus dan konsentrasi dengan makanan di depannya. Selain karena ia masih merasa mual saat menyantap makanan di depannya, ia juga kepikiran soal ucapan Zio tadi.
Diliriknya Zio yang terlihat tetap tennag dan cuek. Pria itu begitu santai menikmayi makan malamnya. Sangat berbeda dengannya yang mentalnya benar-benar sedang tak baik-baik saja saat ini.
"Si al banget sih, dia udah bikin aku khawatir dan ketar-ketir gara-gara ucapannya, malah aekarang kayak gak punya dosa begitu," geruru Zea dalam hati sambil melirik sebal pada Zio.
Tanpa sengaja, Zio melihat ke arah Zea yang sedang meliriknya, ia tersenyum tipis seolah benar-benar sedang mengejek dan sengaja mempermainkan psikis Zea. Yang mana membuat Zea semakin kesal.
Selesai makan malam, Zio pamit terlebih dahulu saat semuanya masih melanjutkan dengan obrolan santai sambil menikmati dessert mereka.
"Kok buru-buru, sayang?" tanya Syafira.
Zio tersenyum, "Ada urusan setelah ini, bund!" sahutnya lalu mencium kening sng bunda untuk pamitan.
__ADS_1
"Jangan cemburu, dad," kata Zio mengerling ke arah daddinya saat pria itu menatapnya karena mencium bundanya. Sembari melangkah pergi. Tak lupa ia mengacak rambut Zea saat melewati gadis itu.
Yang ada di sana hanya bisa menghela napas mereka melihat keisengan Zio kepada Zea, karena itu bukan hal aneh lagi. Sehingga mereka memakkumi jika Zea begitu sebal bahkan membencinya.
........
Keesokan harinya....
Hari ini Zio sengaja datang lebih awal hanya untuk menunggu Zea. Ia sengaja menunggu wanita itu di parkiran mobil dimana Zea biasa parkir.
Pria itu bersender pada mobil orang dengan tangan bersedekap sambil memperhatikan mobil Zea yang barus aja datang dan parkir di depannya.
Zea cukup terkejut dengan keberadaan Zio. Sudah semalaman membuatnya tak bisa tidur karena pikiran. Kini baris aja tiba di kampus, pria itu sudah menggentayanginya.
Zea acuh dengan keberadaan Zio. Ia melenggang begitu saja. Zio mengikutinya dalam diam.
Zea yang merasa risih karena Zio memgikutinya mendadak menghentikan langkahnya dan berbalik. Hampir saja Zio menabraknya kalau saja remnya tidak pakem.
"Jangan GR, gue ngikutin lo cuma mau kasih..." Zio membuka tasnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Memastikan tak ada yang melihat apa yang akan ia berikan kepada Zea.
"Ini..." kata Zio sambil menyodorkan tespek yang kemarin ia beli. Tapi, di depannya sudah tak ada Zea. Rupanya wanita itu pergi saat dirinya sibuk mengaduk-aduk isi tasnya mencari tespek tersebut.
Zio mendengus. Bagaimanapun ia harus bisa membuat Zea melakukan tes pada urinnya. Supaya ia juga tahu langkah apa yang akan ia lakukan setelah ini. Karena jujur, Ziopun sebenarnya akhir-akhir ini di buat pusing oleh hal ini. Ia juga tak bisa tidir dengan nyenyak.
Dari siang hingga sore hari, Zio benar-benar kehilangan jejak Zea. Entah kemana gadis itu, atau jangan-jangan sudah pulang. Padahal Zio sengaja nongkrongin kampus hanya untuk memberikan tespek itu.
Baru juga Zio ingin mencari keberadaan Zea lagi, tapi gadis itu sudah muncul terlebih dahulu. Zio buru-buru berjalan cepat untuk mendekat.
"Aku duluan ya, Ze!" ucap Miranda pamit pulang duluan karena ada urusan.
__ADS_1
Zea mengangguk dan melambaikan tangnnya. Detik kemudian Zio menepuk pundaknya dan ia menoleh. Zio lagi Zio lagi, kenapa pria itu jadi semakin rajin mengganggunya, pikirnya.
Zea tetap acuh, dia melanjutkan langkahnya. Namun, Zio menahannya dengan menarik tas milik Zea.
Zio memasukkan tespek di tangannya ke dalam tas gadis tersebut.
"Yo...!" Zea menatap Zio tajam sebagi tanda protesnya.
"Gue yakin lo ham...aw!" Zio tak melanjutkan kalimatnya dan malah memekik karena Zea menendang benda pusakanya. Zea tak suka Zio bicara secara frobtal seperti itu. Takut jika ada yang mendnegarnya.
"Oke, gue gak akan 'frontal'. Tapi gue benar-benar yakin ada hasil dari apa yang kita lakukan malam itu,"
Zea tak menanggapinya karena jujur ia sendiri juga kepikiran akan hal itu.
"Kalau lo nggak mau gue ganggu lagi, seenggaknya lo buktiin dulu beneran hamil atau enggak. Kalau lo nggak hamil, gue janji. Gue bakal ngindarin lo dan ngebiarin lo nikah sama abang gue, bahkan gue doain buat kebaikan lo dan abang gue. Tapi, kalau lo hamil, gue yang akan nikahin lo!" lanjutnya dengan suara rendah namun serius.
Zea ingin abai dengan benda yang Zio selipkan di dalam tasnya tadi di kampus tersebut. Tapi, ia benar-benar tak tenang sekarang. Apalagi ia merasa sudah lama i tak databg bulan. Ia pun melihat kalender di meja belajarnya dan sialnya ini memang sudah telat biasa dari jadwal mensnya. Semakin menjadilah ketakutannya. Bahkan ia melewatkan makan malam karena benar-benar kehilabgan selera makannya. Meski ia selalu mensugesti dirinya sendiri kalau telat datang bulan biasa terjadi. Namun, itu tak serta merta menghilangkan rasa takutnya.
Karena melewatkan makan malam, tengah malam Zea teraksa bangun karena ia sangat lapar. Padahal biasanya ia tidak akan terpengaruh jika hanya melewatkan makan malam. Tapi, kali ini ia sangat kelaparan. Bahkan sudah beberapa hari ini ia selalu saja terbangun untuk mencari makan, padahal sebelumnya ia sangat menjaga pola makannya untuk menjaga bentuk tubuhnya.
.......
Pagi-pagi sekali, dengan ragu Zea mengambil tespek di tasnya tersebut. Ia menggenggamnya erat saat masuk ke dalam kamar mandi. Menurut keterangan dari tespek itu, akan lebih bagus jika ia melakukan tes di pagi hari. Karena pada pagi hormon HCGnya lebih tinggi sehingga lebih mudah untuk mengeceknya.
Sempat ragu untuk memulainya. Tapi, ia juga penasaran dan supaya yakin jika dirinya memang tak hamil dan keanehan yang ia alami akhir-akhir ini hanya masuk anhin biasa efek dari stresnya memikirkan rencana pernikahannya dengan Nathan.
Zea masih memegang gelas berukuran sangat kecil yang sudah berisi air seninya. Ia masih saja ragu, bukan, lebih kepada takut akan hasilnya sebenarnya.
Setelah menghela napas berkali-kali, Zea memberanikan diri mencelupkan tespek di tangannya ke dalam gelas berisi urinnya tersebut.
__ADS_1
Ia menunggu alat itu bekerja beberapa saat lamanya lalu ia ambil dan ia langsung membekap mulutnya sendiri begitu melihat hasilnya. Air matanya langsung mengalir begitu saja, "Bagaimana ini?"
...----------------...