One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 18


__ADS_3

"Anak itu, sama sekali nggak berubah," ucap Nathan begitu melihat Zio ngebut.


"Bang,,," Panggil Zea dan Nathan langsung menoleh kearahnya.


"Lain kali kalau abang idak bisa jemput atua antar aku, jangan Suruh Zio lagi. Aku bisa pulang atau pergi sendiri, bnag," ucap Zea hati-hati.


Nathan tersenyum, "Emang kenapa sih? Nggak bisa gitu kalian damai aja?" ucapnya.


"Abang kan tahu, kalau Zio itu brandal, ngeselin banget pokonya, suka jahil sama aku dari dulu. Aku benci sama dia," ucap Zea.


"Emang sejahil apa sih, dia udah ngapain aja ke kamu sampai kamu sebenci itu sama dia?" tanya Nathan.


Zea gelagapan, tidak mungkin dia bilang dulu Zio suka menciumnya, tidak mungkin lagi mengatakan apa yang terjadi di malam itu antara dirinya dan Zio.


"Ya, gitulah, ngeselin aja. Brandal banget, aku gak suka,"


Nathan tersenyum, "Hati-hati loh, jangan terlalu benci, nanti malah jatuh cinta. Cinta dan benci itu hampir tak bisa di bedakan, loh," ucapnya.


Zea cemberut, "Abang kok bilang gitu, sih," ucapnya.


"Kok nggak langsung masuk sih, kalian? Onty Dari tadi nungguin, loh!" sosok wanita cantik di usianya yang tak lagi muda berjalan mendekat


Keduanya menoleh lalu tersenyum menyambut pemilik butik yang tak lain adalah tantenya Nathan, aunty Adelia.


Nathan langsung menyalami autinya tersebut dan memeluknya," Onty apa kabar? Nathan kangen banget," ucap Nathan tanpa melepas pelukannya. Senjak pulang, mereka memang belum sempat bertemu.


"Alhamdulillah onty sehat, kamu pulang-pulang udah langsung sibuk aja, jadi nggak sempat ke rumah onty, mumpung onty lagi di Jakarta," kata Adelia.


"Tahu sendiri, onty, semuanya Nathan yang handle, Zio belum mau membantu, dan Zack? Dia sama saja, mau fokus sama kuliahnya dulu katanya. Nanti Nathan sempetin ke rumah, Onty," timpal Nathan lembut.


Tante dan keponakannya tersebut mengurai pelukan mereka dan giliran Zea yang menyalami Adelia, "Apa kabar sayang?" tanya Adelia.


"Baik, onty. Onty sehat?" tanya Zea balik dan Adelia mengangguk.


Setelah saling melepas rindu, mereka bertiga masuk ke butik dan mulai membiacarakan gaun pengantin yang Zea inginkan.


"Keren nih, ownernya langsung loh yang turun tangan. Padahal kan susah banget kalau mau ketemu langsung ownernya ini," seloroh Nathan.


Adelia hanya berdecak, keponakan sulungnya itu memang paling pendiam, kalem, cool tapi jika dengan keluarga, dia paling peka dan perhatian.


"Jadi, kamu maunya gaunnya yang sederhana tapi terlihat elegan begitu, kan?" tebak Adelia melihat katakter Zea. .

__ADS_1


"Iya, aunty. Kayak style ala-ala artis korea gitu," sahut Zea.


"Baiklah, nanti akan Aunty buatkan yang spesial buat kamu. Yang akan buat kamu terlihat sangat cantik dan elegan, sampai keponakan aunty ini tidak akan berkedip lihatin kamu," ujar Adelia melirik Nathan yang sudah kembali di sibukkan dengan ponselnya.


Yang di lirik hanya berdehem tanpa mengalihkan pandangannya dari layar pipih di tangannya.


"Heh, kurang-kurangin sibuknya, kuangin waktu buat calon istri. Ini mau konsul buat gaun pengantin, pikiran masih aja kemana-mana. Pekerjaan biar di handel orang dulu, kamu fokuslah dengan rencana pernikahan kalian, Nathan," Adelia menasihati keponakannya tersebut karena melihat Zea yang kurang nyaman dengan apa yang Nathan lakukan.


" Onty tenang saja, aku bisa menghandle semuanya, kok. Untuk gaun pengantin, aku serahkan semuanya sama Zea sesuai dengan impiannya. Aku ikut aja," kata Nathan.


Padahal bukan begitu yang Zea inginkan. Ia ingin Nathan ikut memberikan ide dan masukan untuk gaunnya.


"Kamu nggak ada masukan, penginnya bagaimana gaunnya Zea nanti?" tanya Adelia.


Nathan menyudahi memainkam ponselnya lalu menatap Adelia, "Aku percaya dengan pilihannya, onty. Untuk jas dan lainnya, aku serahkan sama Onty, sesuaikan saja sama gaunnya Zea," jelasnya.


Adelia mendengus, "Okelah kalau gitu," ucapnya. Ia beralih menatap Zea, "Untuk perhiasan, nanti kamu bisa sesuaikan dengan gaun yang kamu inginkan ya? Supaya terlihat nyambung dan nyatu sama gaunnya,"


Zea mengangguk, "Iya, onty. Nanti perhiasaanya onty Gisel yang akan buatkan, Zea udah bilang kok mau seperti apa," ucap Zea.


"Enak ya, punya onty-onty yang desainer, dapat gratisan gaun, perhiasan juga," suara Zio yang baru saja tiba membuat ketiganya menoleh.


Zio melenggang masuk dan menyalami ontinya, "Kangen onty!" ucapnya manja pada tantenya.


"Ck, kamu sibuk main mulu, sampai gak ada waktu bertemu onty," cebik Adelia.


"Maklumlah, anak muda, onty," ucap Zio.


Zea meremat ujung bajunya, kenapa Zio malah balik lagi, bukannya tadi pria itu sudah pergi, pikirnya.


"Aku ke sini di suruh bunda buat ambil kebaya pesanannya, keburu mau di pakai buat kondangan besok katanya," ucap Zio seolah tahu apa yang Zea pikirkan tentang kedatangannya kesana.


"padahal nanti onty antar ke rumah, bundamu emang nggak sabaran," Adelia tersenyum.


"Tahu gitu Zio nggak perlu putar balik tadi. Tahu sendiri titah bunda adalah mutlak bagi Zio," ucap Zio.


"Putar balik, emang tadi kamu kesini? Kok Onty nggak tahu? Perasaan onty dari pagi gak kemana-mana,"


"Iya, cuma sampai depan. Jadi tukang ojek si nur tadi!" Zio menatap Zea. Yang di tatap berusaha datar tapi terlihat sebal.


Nathan hanya menggeleng melihat kelakuan adiknya tersebut.

__ADS_1


"Sssst, kurangi jahilmu, yo!" ucap Adel dan Zio malah terkekeh, "Jadi, mau di bawa aku atau onty mau antar sendiri ke rumah nih?" tanyanya.


"Karena kamu udah kesini ya, sekalian di bawa kamu aja. Biar kamu ada alasan buat pulang nanti," ucap Adelia.


Zio hanya nyengir, "Ya sudah, mana?"


"Sebentar!" Adelia mengambil pesanan kakaknya tersehut yang di simpan khusus di ruangannya karena yang memesan orang spesial.


"Wuih couple sama daddy? Memang ya, mereka udah tuan masih bucin," ucap Zio saat menerima.


"Biarin aja kenapa, sih? Mereka lagi menikmati masa-masa pacaran lagi karena anak-anaknya udah dewasa, udah pada sibuk sendiri," ucap Adelia.


"Dih di belain, percaya yang sesama bucin, kan? Kayak onty sama uncle," goda Zio.


"Suatu saat kamu akan tahu gimana romantisnya bucin di usia yang tak lagi nuda. Sensasinya beda," balas Adelia.


"Ehem!" Nathan berdehem untuk menghentikan obrolan tante dan adiknya tersebut, "Kita kayak obat nyamuk, ya Ze?" ucapnya kepada Zea. Dan Zea hanya nyengir kuda.


"Ck, iya iya, gue pergi! Lanjutin diskusinya!" ucap Zio.


"Onty pamit ya?" Zio menyalami Adelia.


"Kapan-kapan luangin waktu buat ukur baju seragam keluarga, buat pernikahan Nathan dan Zea," ucap Adelia.


"Harus banget pakai seragam? Kayak bicah TK aja," cibir Zio.


"Bilang sama hundamu kalau berani!" tantang Adelia dan Zio langsung mengatup.


"Dah ah, Zio pamit beneran!" pamit Zio.


Namun, baru akan memutar badannya, Zio melihat desain gaun yang tadi sempat Adelia buat sesuai dengan yang Zea inginkan, "Bagus ini, tapi untuk belahan dadanya terlalu turun, kalau di pakai orang luar sih gak apa-apa. Tapi, kalau nur yang pakai pasti dia nggak pede nanti. Sama ini terlalu glamour kayaknya, lebih di buat elegan lagi aja, jangan pakai kayak gini....ini gak cocok buat Zea, terlalu terbuka, dia nggak akan nyaman, lebih tertutup aja,.... " Zio memberi beberapa masukan untuk desain gaun itu," Tapi, terserah yang mau pakai sih, hanya saran aja, " lanjutnya sebelum dia pergi.


Baik Zea maupun Adelia saling bengong," Itu anak kesambet apa?" gumam Adelia.


" Kesambet jin penunggu butik ini mungkin, bisa detail gitu," ucap Nathan dan Adelia terkekeh mendengarnya.


Zea hanya mematung, kenapa malah Zio yang memberi masukan untuk apa yang pantas dan tidak pantas untuk dia pakai karena memang tadi dia masih belum puas dengan hasil gambarannya. Dan setelah Adelia coba di perbaiki sesuai masukan Zio, Zea terlihat puas dan benar-benar sesuai dengan ekspetasinya meski belum menjadi wujud gaun sebenarnya.


"Wah diam-diam Zio tahu apa yang terbaik buat kamu ternyata, kirain hanya bisa buat kamu kesal..." ucap Adelia terkekeh.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2