
Zea tersentak kaget dari lamunannya saat kata 'sah' menggema di ruangan tersebut. Akhirnya kini ia telah sah menjadi istri dari seorang Ziovan. Pria yang sama sekali tidak masuk ke daftar listnya sebagai laki-laki yang memenuhi kriterianya sebagai calon suami.
Zea lalu menatap sekeliling hingga pandangannya bertemu denga Nathan. Pria itu langsung mengalihkan pandangannya. Zea pun melakukan hal yang sama. Setetes air mata jatuh begitu saja mewakilkan perasaan Zea saat ini, namun buru-buru di seka oleh Zio sebelum ada orang yang menyadarinya.
Zea langsung menatap Zio, pria itu tak berkomentar apapun dan tetap bersikap tenang seolah tak terjadi apapun hingga penghulu meminta keduanya untuk saling berjabat tangan dan Zea mencium punggung tangan Zio.
Zea ragu untuk melakukannya. Sehingga Zio yang berinisiatif untuk mengulurkan tangannya kepada Zea yang mau tak mau Zea harus menyambutnya.
Tak tahan melihat pemandangan di depamnya, Nathan memilih untuk pergi dari ruangan tersebut untuk menenangkan diri. Sekuat apapun ia berusaha, sekuat apapun ia mencoba ikhlas, namun untuk merasa biasa dan baik-baik saja, ternyata tidak semudah itu. Ia butuh waktu untuk menata hatinya kembali.
Benar kata orang, jika sudah tiada, barulah kita akan merasa kehilangan. Mungkin sebekumnya, Nathan terlalu cuek dengan hubungannya dengan Zea, barulah detik-detik terkahir hingga insiden itu terjadi ia baru menyadari jika dirinya benar-benar sudah jatuh cinta dengan mantan tunangannya tersebut.
Ze yang melihat Nathan pergi, refleks ingin berdiri daei duduknya namun segera Zio tahan. Lagi-lagi tanpa kata, pria tersebut memohon dengan sorot matanya untuk Zea tetap di sana. Zeapun mengurungkan niatnya. Ia sadar apa yang ia lakukan bisa saja mengundang kecurigaan semua orang yang ada di sana.
Meski beberapa orang yang hadir memnag sudah bergunjing sebelumnya, mengingat hal ganjil yang terjadi dimana seharusnya Nathanlah yang menjadi pengantin prianya. Di tambah tak ada pesta layaknya pernikahan putra putri para pengusaha kaya raya lainnya bahkan bisa di bilang sangat sederhana. Ini tentu saja aneh buat mereka yang masih kerabat dekat kedua keluarga. Namun, tak ada satupun yang berani mempertanyakan kejanggalan tersebut.
"Setidaknya untuk hari ini," bisik Zio penuh arti.
Ya, Zea hny perlu bertahan setidaknya hingga semua orang yang ada di ruangan tersebut pergi satu persatu meninggalkan acara yang hampir seleaai tersebut.
Setelah acara sakral tersebut selesai, seluruh keluarga langsung berpamitan, termasuk keluarga Osmaro dan hanya menyisakan Keluarga Erlangga dan menantu baru mereka-Zio.
Zea langsung masuk ke dalam kamarnya, sementara Zio yang bingung harus bagaimana, mengikuti Zea ke kamarnya atau bagaimana langsung menghela napas lega ketika Elang mengajaknya untuk mengobrol santai sambil menikmati teh di sore hari menjelang petang tersebut di halaman belakang.
"Daddy minta kamu lebih bersabar lagi menghadapi Zea ke depannya. Kamu tahu, kalau ini tidak mudah untuk dia. Setidaknya untuk saat ini," ucap Elang di sela obrolan mereka.
"Ya, Zio tahu. Ini pasti sangat berat buat dia. Zio akan berusaha sebisa mungkin, om," balas Zio.
"Ck, om? Kau ini, apa setidak bahagia itu menjadi menantuku hingga memanggilku Daddy saja mulutmu kelu," protes Elang.
Zio langsung meneguk tehnya, "Maaf, dad. Masih belum terbiasa," ucapnya.
__ADS_1
Elang tersenyum, "Apapun alasan kalian hingga sampai pada titik ini, terlepas dari bagaimana caramu masuk ke keluarga kami, tak ada yang berbeda, kau tetap menantu daddy, daddy tetap menganggapmu sebagai anak daddy, bagian dari keluarga ini. Jadi, jangan pernah ragu ataupun sungkan dengan kami. Anggap aku dan mommy seperti orang tuamu sendiri," ucapnya.
Zio hanya tersenyum lalu mengangguk. Memang sebaik itu kedua mertuanya. Dan itu justru yang membuatnya merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi.
.......
Makan malam tiba, semua sudah siap di meja makan kecuali Zea yang belum turun dari kamarnya. Zio berkali-kali melongok ke tangga, namun Zea tak juga muncul.
"Biar momny panggil, istrimu. Kalian bisa makan lebih dulu," ujar Senja.
"Biar Zio saja yang manggil, mom!" sergah Zio. Senja tersenyum dan kembali duduk.
"Tidak perlu!" sebelum Zio beranjak dsri duduknya, Zea sudah terlihat menuruni anak tangga. Ia langsung duduk di kursi sebelah Zio.
"Monmy kira kamu nggak mau turun, sayang," ucap Senja.
"Tadi Zayn telepon, mom. Dia minta maaf karena tidak bisa pulang untuk acara hari ini yang mendadak," jelas Zea. Adik kandung Zea Tersebut saat ini memang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Senja langsung melayani Elang seperti biasanya. Zea sibuk mengambil makan malamnya sendiri. Sementara Zio masih belum menyentuh apapun di depannya.
"Ambilkan buat suami kamu, sayang," titah Senja.
Zea hanya menatap ibunya tanpa menyahut.
"Seperti yang mommy lakukan buat daddy," lanjut Senja sembari tersenyum. Berharap Zea mulai belajar menjadi istri yang baik buat Zio terlepas dari alasan pernikahan mereka.
Zea tetap bergeming. Masih sangat berat ia melakukannya.
"Biar Zio ambil sendiri, mom!" sergah Zio cepat sebelum Senja kembali bicara kepada putri sulungnya tersebut.
Zio langsung mengambil nasi dan lauk di meja sedangkan Zea hanya memerhatikannya.
__ADS_1
"Makan!" ucap Zio menatap Zea yang masih belum menyentuh makanannya, "Atau mau aku suapin?" lanjutnya.
Zea langsung melotot ke arahnya namun Zio cuek saja dan malah mengajak mertuanya untuk makan.
Beberapa saat lamanya, Zea masih tetap bergeming. Sama sekali belum menyentuh makanannya. Justru ia malah meneteskn air mata sembari menatap nasi di atas piringnya.
"Loh, kok malah nangis?" ucap Elang yang menyadari putrinya menangis.
Ziopun langsung menghentikan makannya, "Gue, em maksudnya aku cuma becanda tadi. Nggak beneran mau nyuapin kamu, nggak usah di ambil hati. Kayak nggak tahu aja aku gimana," ucapnya. Ia pikir Zea menangis karena ucapannya tadi.
"Iya, nggak usah nangis sayang. Mommy tahu lagi hamil itu bawaannya sensitif," ucap Senja.
"Bukan gitu, mom...." sahut Zea yang masih terisak.
"Terus kenapa, sayang?" tanya Senja lembut.
"Nggak tahu! Zea lapar, tapi lihat nasinya malah mual. Kayaknya nasinya bergerak-gerak. Jijik lihatnya. Tapi, lapar... Hiks!" ujar Zea.
Semua yang ada di meja makan saling pandang satu sama lain lalu menghela napas. Inilah momen pertama kali Zea mengidam. Dan Zio sebagai tersngka penyebab ngidamnya sang istri harus siaga mesji sebenarnya ia juga bingung mesti gimana.
" Terus maunya makan apa? Biar gue cariin!" ucap Zio.
"Mau nasi!" jawab Zea.
"Ya itu nasi udah ada,"
"Tapi nggak mau! Mau muntah lihatinnya aja,"
Di situlah seorang Zio di buat pusing untuk pertama kalinya oleh kehamilan wanita yang baru beberapa jam lalu sah menjadi istrinya tersebut.
...****************...
__ADS_1