
Zea berusaha bersikap biasa saja di deoan kedua orang tuanya saat mereka sarapan bersama. Meski sudah berusaha, namun nyatanya wajahnya tak bisa menyembunyikan jika kini ia sedang tak baik-baik saja. Hal itu tertangkap jelas oleh daddinya.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Elang pada putri sulungnya tersebut.
Zea tak mendengar pertanyaan Elang karena melamun, hingga Senja memangilnya sedikit keras.
"Eh apa, mom?" tanya Zea gelagapan.
"Daddimu tanya, apa kau baik-baik saja?" Senja mengulangi pertanyaan suaminya.
Zea langsung menatap pria yang menjadi cinta pertamanya tersebut, "I'm okay daddy," ucapnya berusaha menampilkan senyum termanisnya.
Namun, senyum manis itu ternyata tak mampu membuat Elang berhenti penasaran.
"Sejak tadi putri daddy hanya melamun saja, itu makanannya sampai dingin. Kasihan loh nggak kamu makan. Apa ada masalah, sayang?" tanya Elang hati-hati. Jika di paksa, pasti putri kesayangannya itu akan merajuk dan itu benar-benar akan menyiksanya.
Zea tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Zea hanya sedikit tidak enak badan aja, dad. But, I'm okay. Really!" sahut Zea meyakinkan Elang.
"Sayang, panggilkan Dokter untuk memeriksa putriku," titah Elang langsung pada istrinya- Senja, karena ia khawatir jika putrinya itu sakit.
"Tidak perlu, dad. Hanya sedikit meriang. Nanti buat istirahat juga enakan," tolak Zea cepat-cepat sebelum sang mommy mengiyakan perintah daddinya.
"Tapi, sayang..."
"Ayolah, dad. Aku paling benci obat. Daddy tahu itu, kan?" rengek Zea manja.
Elang menghela napas, "Baiklah, tapi kalau tak enakan juga sampai siang nanti, dokter akan periksa kamu. Jangan buat daddy sedih dengan sakit," ucap Elang.
Zea mengangguk. Ya, dia harus bisa melupakan kejadian semalm dan kembaki menjalani hidup seperti sebelumnya.
.......
Hingga siang, Zio berulang kali menatap ponselnya. Berharap ada balasan chat dari Zea. Tapi, nyatanya hanya centangs satu saja sejak terakhir wanita itu mengangkat panggilannya pagi tadi.
"Gue cuma mastiin lo baik-baik saja, Ze!" gumamnya frustrasi.
Entahlah, setan apa yang sudah merasukinya semalam hingga ia bisa melakukan hal sebejad itu. Ia seharusnya bisa berpikir dengan menggunakan akal sehatnya. Bukan malah mengesampingkan akhlak dan moral yang selama ini ia pertahankan. Meski terkenal brandal, tapi ia tak pernah berpikir sedangkal ini untuk melakukan hal terlarang. Dan seperti sudah di butakan oleh sebuah rasa yang selama ini bersarang di dadanya, ia dengan kesadaran penuh menodai calon iparnya itu.
Zio lalu menyambar jaket dan kunci motornya.
Zio datang ke kampus hari ini dengan harapan Zea juga datang. Namun, nyatanya wanita itu tidak berangkat kuliah hari ini.
__ADS_1
"Mau kemana lo? Baru juga datang, udah mau pergi aja?" tanya Agas.
Sahut Zio enggan menjelaskan apapun kepada sahabatnya tersebut.
"Yo!" panggil Agas. Zio menatapnya.
"Lo nggak benar-benar...."
"Gue cabut duluan!" Zio langsung memotong ucapan Agas dan melajukans sepeda motornya.
Tiba-tiba, Claudya menghadang di depan Zio. Untung saja Zio sigap langsung mengerem motornya, "Lo gila, ya?" umpatnya.
Claudya tak peduli dengan umpatan Zio barusan, ia berjalan mendekati Zio, "Semalam kok pulang nggak pamit sama aku, sih? Aku nyariin tahu!" sungut Claudya manja.
"Di, gue lagi nggak mood buat bahas apapun sama lo, minggir!" usir Zio.
Claudya menggeleng, "Nggak mau, mau kemana emang? Nggak ada mata kuliah hari ini?" tanyanya.
"Sejak kapan gue rajin kuliah? Gue ada urusan," sahut Zio.
"Tetap di sini aja, yo. Temenin aku, ya?" rengek Claudya.
Zio malah menggeber sepeda motornya, "Minggir atau jangan salahin gue kalau kulit mulus lo lecet karena kesenggol motor gue!" ucapnya tegas.
Entah dorongan darimana, Zio melajukan sepeda motornya menuju kediaman Zea. Tentu saja saat siang begini pemilik rumah tersebut sedang sibuk bekerja. Tinggal Zea seorang yang tinggal kata pelayan yang Zio temui.
"Non Zea, ada di kamarnya, den. Katanya sedang tidak enak badan. Sebentar, bibi panggilkan!" ucap. Bibi yang menyambut kedatangan Zio.
"Tidak perlu, bi. Biar saja dia istirahat biar cepat sehat. Saya pamit saja. Permisi!" pamit Zio sopan. Memaksa bertemu Zea pun hanya akan menambah masalah. Gadis itu pasti tidak mau menemui dirinya. Zio harus bisa menahan diri, setidaknya untuk saat ini.
Pada akhirnya, ia memilih pergi dari kediaman Zea tersebut. Di jalan, terlintas rasa bersalah terhadap kakak sulungnya, "Harusnya abang nggak buat dia nangis, dan ini nggak perlu terjadi!" batinnya.
........
Beberapa hari kemudian, Zio kembali datang ke kampus. Kali ini ia benar-benar kuliah, namun sebenarnya juga untuk menemui Zea.
Saat tengah mengobrol dengan teman-temannya, Zio melihat Zea datang. Ada rasa lega Zio rasakan saat melihat gadis itu tersenyum, meski senyum itu bukan untuknya. Setidaknya, Zea sudah baik-baik saja dan kembali ceria setelah kejadian malam itu.
Zea hanya melirik sinis saat melewati Zio dan teman-temannya.
"Apaan soh, lirik-lirik gak jelas. Lo suka sama cowok gue?" sarkas Claudya. Namun, Zea acuh. Ia memilih terus berlalu dengan terus bergurau dengan Miranda.
__ADS_1
"Yo, mau kemana?" tanya Clauday saat Zio tiba-tiba bangkit dari duduknya.
"toilet!" sahut Zio singkat.
.......
"Aku ke toilet dulu, kamu ke kelas aja duluan, Mir!" ucap Zea setelah mereka jauh dari tempat Zio dan lainnya.
"Aku ke kantin aja dulu ah, kelas masih lama ini!" sahut Miranda.
"Oke, ntar aku nyusul!" Zea langsung bergegas ke toilet. Disana, ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa gugupnya saat melihat Zio tadi. Ia terpaksa lewat sana karena itu jalan satu-satunya yang bisa ia lewati. Unrung saja ia bisa meguasai diri tadi, padahal sebenarnya ia merasa gemetar. Tangannya yang sejak tadi mengepal berkeringat dingin. Bagaimana tidak, melihat Zio membuatnya ingat kejadian malam naas itu.
Zea mencuci mukanya beberapa kali demi menghilangkan rasa gugupnya. Setelah berhasil mengendalikan emosionalnya, ia keluar dari toilet.
Tiba-tiba, tangannya di cekal seseorng. Zea menoleh, dan orang itu ternyata Zio. Sentuhan tangan Zio, membuat Zea kembali ingat sentuhannya pada malam itu.
"Lepas!" sentak Zea sembari mengempaskan tangan Zio.
Zea memilih terus berjalan, Zio mengikutinya, "Tunggu Ze, kita harus bicara!" ucapnya. Namun, Zea tak peduli.
"Ze!" Zio berusaha menyentuh tangan Zea untuk menghentikannya.
"Jangan sekalipun berani nyentuh aku!" ucap Zea menatap jengah pada Zio. Lebih tepatnya menatap penuh kebencian. Membuat Zio langsung menarik tangannya.
"Kita harus bicara, Ze!" ucap Zio.
"Nggak ada yang perlu di bicarakan!" sahut Zea ketus.
"Soal malam itu...."
Zea tak ingin mendengar apapun dari mulut Zio. Ia memilih memepercepat langkahnya.
"Gue bakal tanggung jawab!" ucap Zio sedikit berteriak. Yang mana berhasil menghentikan langkah kaki Zea. Gadis itu memutar badannya dengan tangan mengepal kuat, menahan gemuruh sesak di dadanya.
"Dengar, yo! Di antara kita tidak pernah terjadi apa-apa. Anggaplah begitu. Kita lupakan apapun yang terjadi malam itu dan kembaki jalani hidup masing-masing seperti sebelumnya, jadi kamu tidak perlu omong kosong seperti itu," ucapnya penuh penekanan. Sorot matanya mengisyaratkan kebencian mendalam pada pria di depannya.
" Tapi, Ze... "
" Yo! PLEASE....!" Zea begitu mengiba kepada Zio. Ia benar-benar tak ingin mengingat dan mengungkit kejadian itu sama sekali," Sebentar lagi, aku akan menikah dengan Bang Nathan, jadi tolong, yo, jangan gaanggu aku. Kita jalani hidup masing-masing. Biarkan aku melanjutkan hidup dengan tenang bersama dengan Bang Nathan, yo!" lanjutnya memohon.
Zio diam tak memberi tanggapan dan Zea tak peduli, ia memilih pergi meninggalkan Zio.
__ADS_1
" Lo tetep milih lanjut sama abang gue, Ze..." Zio memejamkan.
...----------------...