One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 15


__ADS_3

Nathan benar-benar berhasil membuat Zea terkejut. Pasalnya pria itu mengatakan jika tidak bisa pulang untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Namun tak di sangka, pria itu tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Memberi kejuatan manis untuknya. Ya, seharusnya terasa indah dan manis Zea rasakan, tapi pada kenyataannya berbeda. Ia belum siap menghadapi Nathan.


Kepulangan Nathan membuat Zea dilema. Antara senang karena memang itu yang ia harapkan sebelumnya. Namun juga menimbulkan kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan di tambah rasa bersalah yang terus bersarang di hatinya setelah kejadian malam itu.


"Abang kenapa bisa di sini? bukankah abang nggak bisa pulang dalam waktu dekat?" tanya Zea setelah mereka duduk dan ia berhasil mengendalikan emosionalnya. Ia memangku buket bunga yang di berikan oleh Nathan untuknya.


"Sengaja bilang begitu untuk buat kejutan, kamu nggak senang abang pulang cepat?" tanya Nathan seraya menyipitkan matanya.


Zea tersenyum, "Tentu saja senang, bang," ucapnya.


Nathan ikut tersenyum," Udah nggak manyun lagi kan sekarang karena abang sudah ada di sini buat mempersiapkan pernikahan kita," ucapnya.


"Siapa yang manyun? Nggak ada ya," elak Zea tersenyum.


"O ya? terus kenapa mommy tadi bilang kalau akhir-akhir ini kamu sering melamun dan murung?" tanya Nathan.


Zea terkesiap,"Enggak, siapa yang begitu, sih? Mommy bohong, bang," ucapnya. Apa memang dia terlihat sekali sedang ada masalah dan orang tuanya mengira jika itu karena Nathan yang tidak bisa pulang untuk persiapan pernikahan mereka. Syukurlah kalau mereka berpikirnya seperti itu, pikirnya


"ohh, jadi nggak senang nih abang pulang? Kayaknya kemarin sempat nangis-nangis deh, sampai Zio ngomel sama abang. Padahal abang sengaja mau buat kejutan. Eh Zionya malah ikutan baper gitu," ucap pria yang sebenarnya irit bicara tersebut. Ia bicara sedikit panjang hanya karena tak ingin terlalu canggung setelah sekian lama tak bertemu gadis yang menjadi calon isterinya tersebut.


"Ya senanglah, kan tadi udah aku bilang, abang. Aku senang abang pulang cepat," balas Zea.


Nathan hanya tersenyum tipis menanggapinya,"Calon suami datang, apa nggak ada di siapkan air? Tenggorokan abang kering, dari tadi bicara terus,"


"Baru juga ngomong berapa paragraf, bang. Udah kering masa? Sebentar Zea ambilkan," Zea tersenyum lalu bangkit dari duduknya. Ia menaruh bunga pemberian Nathan di atas meja lalu pergi ke dapur.


Nathan hanya menatap kepergian Zea ke dapur.


Di dapur, Zea menghela napasnya berkali-kali. Sekarang Nathan sudah kembali dan mereka akan segera menikah. Ia harus bisa melupakan kejadian itu dan menguburnya dalam-dalam. Biarlah itu menjadi rahasianya sendiri seumur hidup tanpa perlu ada yang tahu. Toh dia tidak sengaja melakukannya. Dan juga setelah kejadian itu juga tak merubah apapun pada dirinya. Tak akan ada yang tahu. Semoga saja, si brandal Zio tidak ember mulutnya, pikir Zea.


........


Esok hari....


Zea telah siap pergi ke kampus dengan wajah yang ceria.

__ADS_1


"Cieeee, yang udah kangen-kangenan, jadi ceria gitu mukanya. Ada lope-lope di dadanya," goda Elang saat melihat putrinya datang mendekat.


"Apa sih daddy," Zea cemberut namun detik kemudian ia tersenyum, "Ayuk ah, udah siang!" lanjutnya yang langsung membuka pintu belakang mobil Elang karena hari ini ia akan diantar daddinya tersebut ke kampus.


Elang menyusul masuk ke belakang kemudi. Di sampingnya ada Senja yang juga sudah siap ke kantor.


"Ini ceritanya daddy jadi supir dua bidadari cantik pagi ini?" ucap Elang begitu siap melajukan mobilnya.


"Kenapa? Keberatan, boo?" tanya Senja.


"Enggak sayang, apapun demi kamu," ucap Elang yang langsung mencium bibir sang istri


"Wah... Tuan dan nyonya Erlangga, Please deh, kalau mau mesra-mesraan di kamar, jangan di sini. Kalian yang mesra-mesraan, aku yang malu," ujar Zea seraya menutup wajahnya dengan tangan dan tersenyum.


Elang tergelak sementara Senja hanya tersenyum tipis," Kamu sih, boo!" ucapnya.


" Nggak apa-apa, sebentar lagi juga anak kita kan mau menikah, nanti bisa praktik sama suami. Em... Kok rasanya daddy gak rela ya kamu di ambil anak orang," kata Elang kepada puteri kesayangannya tersebut.


"Ya masa Zea mau dikekepin daddy terus," balas Zea.


"Kok gitu, kan daddy sama om Bara yang maunya Zea sama bang Nathan cepat-cepat nikah? Gimana sih?" omel Zea.


"Iyakah? Masa sih?" ucap Elang nyengir.


"Lah iya, katanya mending cepat nikah aja daripada berbuat dosa, kalau udah nikah kan halal mau ngapain aja," Senja menimpali. Mengingatkan kata-kata sang suami kala itu.


Degh!


Mendengar ucapan momminya membuat Zea langsung merasa tersentil," Nggak, itu kan nggak sengaja. Bukan kemauan aku juga," batinnya sebagai bentuk dukungan pada mentalnya sendiri.


" Jadi mau jalan nggak nih?" ucap Zea mengingatkan.


"Kayaknya nggak jadi deh daddy antar kamu ke kampus, tuh calon suami datang. Kayaknya emang daddy ditakdirkan untuk berduaan sama mommy," Elang menunjuk mobil yang baru saja masuk halaman rumahnya.


Zea melongok ke luar jendela mobil, benar saja itu mobil Nathan. Tanpa ba bi bu, ia langsung turun dari mobil daddinya.

__ADS_1


" Ck, dasar bucin! "ledek Elang.


" kamu juga gitu kan boo?" ucap Senja.


" Ya, kamu bucinku, sayang,"


" Ck, udah nggak pantes boo,"


" Bucin itu nggak kenal usia sayang, "sahut Elang lalu melajukan mobilnya.


Tiiiinnnn


Elang membunyikan klackson mobilnya saat melewati Nathan dan Zea yang masih belum masuk ke mobil Nathan.


" Untung abang datangnya nggak telat. Aku udah mau di antar daddy tadi," kata Zea. Calon suaminya itu memang terkadang misterius, tiba-tiba nongol gitu aja tanpa pemberitahuan terlebih dulu.


"Sekalian mau ke kantor," sahut Nathan singkat. Ia mengisyaratkan kepada Zea untuk masuk ke mobil. Gadis itu pun langsung masuk dan duduk manis di samping kemudi.


Sepanjang jalan menuju kampus, tak banyak obrolan antara mereka. Kecanggunggan kembali terasa, mungkin karena keduanya memang sangat jarang bertemu. Zea sesekali melirik ke arah calon suaminya tersebut dengan perasaan cemas. Takutnya jika Nathan sudah bertemu Zio dan Zio mengatakan sesuatu.


"Kenapa lihatin abang terus dari tadi? Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Nathan tanpa menoleh.


"Nggak boleh ya emang lihatin abang?" tanya Zea. Padahal kn dia kangen, tidak salah bukan jika ingin terus menatap pria tersebut.


Kali Nathan menoleh dan tersenyum, "Boleh," ucapnya singkat tapi lembut.


Zea hanya membalas dengan senyuman juga.


"Lusa kita ke butiknya aunty ya? Kata bunda untuk buat gaun pengantin," ucap Nathan.


"Em," Zea mengangguk.


Tak terasa mobil Nathan sudah sampai di halaman kampus.


Zio yang sedang duduk di atas motornya melihat mobil kakaknya itu lapangan basket yang letaknya dekat dengan area. Tak lama kemudian ia melihat Zea turun setelah Nathan membukakan pintu. Terlihat romantis, tapi itu membuat Zio melepeh permen karet yang sejak tadi ia mainkan di mulutnya dengan kasar.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2