
Sedikit lega, itu yang Zio rasakan saat ini karena pada akhirnya ia akan menikahi Zea. Ia tahu keputusannya ini akan melukai abangnya sendiri.
Tapi, ia tak punya pilihan lain sekarang. Nasi sudah menjadi bubur, andai saja Nathan bisa mencintai Zea sejak dulu, bukan sekarang.
Mungkin Zio masih sama, memilih merelakan gadis itu untuknya. Karena seperti yang di katakan Zea tadi, mencintai sendiri itu menyakitkan, sangat. Jika Nathan menyadari perasaannya lebih awal tentu cinta sendiri itu hanya dia yang merasakan sedangkan Zea dan Nathan saling mencintai.
Zio masih menatap punggung Zea, "Cinta sendiri memang menyakitkan, Ze. Dan gue bersumpah, akan buat cinta sendiri itu menjadi saling mencintai," ucapnya dalam hati.
"Apa?" Zea menoleh, seolah ia mendengar suara hati Zio barusan.
Zio sedikit gelagapan, namun ia segera mengatasi situasi dengan bangun dan mengambik makanan di meja, "Sekarang lo makan, gue suapi!" ucapnya.
Zea menggeleng, "Aku nggak lapar, yo,"
"Bohong! Dari tadi gue dengar anak gue demo di dalam perut lo, katanya gak di kasih makan sama mamanya. Atau... Mau makan apa? Gue cariin!" ucap Zio. Ia lekas ancang-ancang untuk pergi jika Zea menginginkan sesuatu.
"Nggak usah, itu aja!" sergah Zea.
Zio langsung mengambil piring berisi makanan itu dan membawanya ke samping Zea, "Udah dingin, gue minta ganti sama bibi aja, ya?" tawar Zio dan Zea menggeleng, "Nggak apa-apa ini aja," ucapnya.
Zio lekas menyendok makanannya dan menyodorkannya ke mulut Zea. Gadis itu langsung memundurkan kepalanya, "Mau ngapain?" tanyanya waspada.
"Buka mulut lo!" ucap Zio.
Zea menggeleng, "Aku bisa sendiri!" ucapnya.
"Makan dari tangan gue lebih enak, coba aja!" ujar Zio.
Sempat ragu, namun akhirnya Zea membukan mulutnya.
"Gimana, gue gak bohong kan?" tanya Zio.
"Sama aja rasanya," kilah Zea yang mana membuat Zio berdecak sebal.
"Yaudah nih makan sendiri!" Zio memberikan piring di tanganjya kepada Zea.
"Lukanya udah di obati?" tanya Zea tiba-tiba. Ia tak langsung makan setelah menerima makanan dari tangan Zio.
__ADS_1
Zio menoleh, "Nggak usah peduliin gue, Gue udah di stel jadi pria tangguh. Lecet-lecet gini mah biasa, cowok! Yabg penting tuh elo, jaga kesehatan dan kewarasan biar bayi gue juga sehat dan nyaman di dalam sana, sampai waktunya di lahir nanti," ucapnya.
Ze mendengus, sekali menyebalkan, tetap menyebalkan pria di sampingnya ini. Lalu bagaimana jika mereka menikah nanti. Kehidupan seperti apa yang akan mereka jalani. Entahlah, Zea sama sekali tak memiliki bayangan.
Ia memutuskan untuk menikah dengan Zio karena untuk menjaga nama baik keluarga dan juga rasa yang tiba-tiba muncul begitu kuat kepada janin di perutnya yang ia sendiri tak tahu rasa apa itu. Yang jelas, ia hanya berusaha melakukan yang terbaik.
"Malah lihatin gue, makan!" omel Zio.
"Iya iya, ini juga sambil makan! Galak!" omel balik Zea.
Zio tersenyum tipis.
"Kira-kira bagaimana endingnya, boo?" tanya Senja yang sejak tadi mengamati Zea dan Zio dari kejauhan.
"Sepertinya sih, deal!" sahut Elang.
"Deal apa?"
"Menikahlah, sayang. Lihat! Putrimu akhirnya mau makan juga. Kayaknya Pria tengil itu berhasil," Elang menunjuk ke arah zea dan Zio yang membelakangi mereka dengan dagunya.
"Sssat, jangan berprasangka buruk. Mas yakin, brandal-brandal begitu, Zio itu punya sisi penyayang," serobot Elang sebelum Senja melanjutkan kalimatnya.
"Tapi, kasihan Zea kalau harus menikah dengan laki-laki yang tidak di cintai," Senja mengutarakan kekhawatirannya sebagai seorang ibu.
"Hei, jangan lupakan kisah kita sayang. Dulu kita menikah juga karena sebuah accident, bukan? Kau bahkan membenci suamimu ini yang sudah menyebabkan kamu kehilangan kakek," ucap Elang.
"Tapi kamu beda mas,"
"Apa bedanya? Kami sama-sama laki-laki. Bisa buat wanita hamil juga, bedanya dia nabung duluan, Mas tanam saham duluan,"
Senja mencubit pinggang suaminya gemas
"Kamu tuh ya, maksud aku tuh bukan itu, kamu baik, mas. Kamu laki-laki bertanggung jawab. Yang bisa buat aku jatuh cinta sampai detik ini dan selanjutnya," sahut Senja.
"Terua Zio jahat begitu?"
"Kalau dia baik, dia tidak akan melakukannya kepada Zea apapun alasannya," jawab Senja.
__ADS_1
Elang tersenyum, "Mas tahu kekhawatiranmu, sayang. Tapi, tak ada slahnya kan kita memberi kesempatan untuk Zio membuktikan kalau dia memang laki-laki bertanggung jawab. Bukankah setiap orang punya kekhilafan dan kesalahan. Yang paling penting dia mau memperbaiki diri,"
Senja mengangguk. Bagaimanapun ia harus ikhlas menerima niat baik Zio untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan.
Elang mengubah posisi berdirinya menghadap Senja lalu merentangkan kedua tangannya," Udah tua juga, boo," ucap Senja tersenyum malu, namun dia tetap masuk ke dalam pelukan suaminya.
"Tetap romantis tidak salah, bukan?" ucap Elang dan Senja mengangguk, "Cuma agak malu sama uban," ucapnya.
Elang tergelak mendengarnya, ia semakin mengeratkan pelukannya.
" Om, tante?" tiba-tiba suara Zio mengagetkan sepasang suami istri yang sedang berpelukan tersebut.
Salah tingkah keduanya mengurai pelukan mereka, "Ada apa?" tanya Elang angsung mode tegas.
"Zio mau pamit, mom, dad!" ucap Zea yang menahan senyum.
"Oh, udah selesai urusan kalian?" tanya Elang sok dingin dan langsung di cubit gemas oleh Senja pinggangnya.
"Udah om, besok kebetulan kami sama-sama tidak ada jadwal kuliah. Saya akan datang buat melamar Zea sekalian bawa penghulu," ucap Zio mantap. Yang mana membuat Elang dan Senja saling tatap. Mereka memang ingin segera diadakan pernikahan tapi tidak sekilat ini juga kali. Seminggu lagi kek, pikir mereka. Mau menikah udah kayak mau beli cilok saja tinggal besok nunggu tukan jualnya datang.
" Apa tidak terlalu cepat?" tanya Senja.
"Tidak tante, lebih cepat lebih baik. Sebelum perut Zea semakin besar," jawab Zio tanpa ragu.
"Tapi, kami juga butuh persiapan untuk pernikahan kalian..."
"Kami sepakat untuk acara sederhana saja, om sesuai keinginan Zea," Zio menoleh kepada Zea.
Zea mengngguk, mengiyakan ucapan Zio.
"Ya sudah mau gimana lagi," ucap Elang.
"Kalau begitu, saya permisi pulang om!" pamit Zio lalu menyalami calon mertuanya yang masih agak ngeblank itu bergantian.
Lalu, Zio menatap Zea, "Besok, mau mas kawin apa dari gue?" tanyanya.
...----------------...
__ADS_1