One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 29


__ADS_3

Zio tak hentinya mengumpat karena Agas tak kunjung datang menjemputnya. Ingin pergi naik taksi tapi ia sudah terlanjur menghubungi Agas dan sahabatnya itu sanggup untuk menjemputnya. Saat ia mencoba menghubungi Agas kembali untuk meminta tak jadi menjemputnya tapi nomor Agas tidak aktif. Takutnya Agas sudah di jalan untuk menjemputnya. Jadilah Zio putuskan untuk tetap menunggu.


Zio sampai harus berkali-kali ganti posisi dari berdiri, jongkok, berdiri lagi, jongkok lagi karena kakinya kesemutan jika teris berdiri atau jongkok.


"Gila tuh anak! Ikut-ikutan nyiksa gue!" umpat Zio lirih.


Ia putuskan untuk menyusuri jalan yang sepi itu sembari menunggu Agas datang. Setelah cukup jauh melangkah, terdengar suara klackson mobil yang mengikutinya di belakang. Zio menoleh, ternyata itu mobil Agas.


"Lo ngapain jalan sendiri di tempat sepi begini, udah kayak gembel aja!" ucap Agas sembari menemudikan mobilnya pelan di samping Zio. Kepalanya nyembul keluar dari dalam mobil tanpa menghentikan laju mobilnya. Hanya di perlombat menyesuaikan langkah Zio yang tak langsung berhenti meski sudah tahu jika Agas sudah tiba.


" Ngambek? Kayak bocah lo!" ejek Agas.


"Ba cot lo!" balas Zio. Tidak tahu apa sahabatnya itu kalau dia hampir kering menunggu.


"Sorry gue tadi lagi jenguk nenek gue yang lagi sakit, lo tahu kan jaraknya ke sini seberapa jauh?" jelas Agas.


"Kenapa nggak bilang dari tadi? Tahu gitu gue minta yang lain buat jemput," ucap Zio. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena membuat Agas terpaksa pamit dari rumah neneknya yang sedang sakit.


"Buruan masuk! Udah kayak cewek lagi ngambek ama cowoknya aja pakai minta di rayu-rayu, ogah gue!"


Zio berdecak, "Ck, gue juga jijik di rayu, lo!" sarkasnya sembari masuk ke dalam mobil Agas.


"kepala lo kenapa?" tanya Agas.


"Biasa," sahut Zio singkat dan santai. Ia menyadarkan kepalanya ada sandaran jok mobil lalu matanya terpejam. Jujur, ia sangat lelah hari ini, "Jalan," ucapnya memberi komando Agas.


Agas yang melihat Zio hanya mendesahh sembari menggelengkan kepalanya lalu kembali melajukan mobilnya.


"Lo tadi tanya-tanya alamat tempat praktek begituan mau ngapain?" tanya Agas. Kini nadanya terdengar serius.


"Gue lagi nggak mau bahas. Gue capek," sahut Zio tanpa membuka matanya. Kepalanya terasa pening sekarang. Belum lagi harus memikirkan langkah yang harus ia ambil esok hari. Karena, ia sadar dengan batalnya rencana Zea menggugurkan kandungannya, masalah tak selesai sampai di sini. Melinkan baru akan di mulai ke depannya.


"Ck..." Zio berdecak pelan mengingat ucapan Zea yang melarangnya untuk mengakui jika janin yang ia kandung adalah anaknya. Gadis itu juga bilang akan mengurus semuanya sendiri tanpa melibatkan dirinya sehingga ia tak hadus bertanggung jawab. Bahkan Zea melarang Zio mengaku dirinya yang menghamili gadis itu.


" Ck, Dasar gadis Aneh, lalu mau mengaku jika tiba-tiba saja dia hamil tanpa laki-laki, begitu? Memangnya dia Partenogenesis, yang bisa memproduksi sel telur tanpa proses fertilisasi yang nggak butuh pejantan?" batinnya berdecak heran dengan keras kepalanya Zea.

__ADS_1


"Lo kenapa, Yo? Kesambet?" tanya Agas yang merasa sahabatnya itu aneh.


Zio membuka matanya dan hanya menatap sinis Agas tanpa berniat menyahut.


"Tanda-tanda gangguan kejiwaan ringan kayaknya," ledek Agas.


"Ba cot lo!" timpal Zio yang kini sudah memejamkan matanya kembali.


"Suruh orang lo buat ambil motor Gue, gas. Gue tinggal di Xxx tadi," ujar Zio.


"Nggak lo sedekahin aja tuh motor di sana? Senang amat ninggalin motor sembarangan," sindir Agas. Namun, ia tetap melakukan apa yang Zio minta. Selain sahabat, Zio adalah anak dari atasan orang tua Agas yang di percaya untuk memimpin salah satu hotel milik keluarga Osmaro.


"Lo tahu kan perjuangan gue buat beli tuh motor kayak gimana. Soal sedekah, itu urusan gue!" sahut Zio.


Agas diam. Ya, dia tahu kalau Zio membeli motor itu dengan uangnya sendiri, hasil keringatnya sendiri. Bukan dari orang tuanya yang kaya raya itu.


Ngomong-ngomong soal sedekah, Zio jadi ingat sesuatu.


"Antar gue ke anak-anak, Gas," ucap Zio.


Saat Zio datang, mereka semua langsung menyambutnya. Zio tersenyum sembari mengusap kepala anak-ank itu satu persatu. Agas yang menenteng beberapa kantong plastik berisi makanan langsung meletakkannya di satu tempat. Lalu ikit bergabung dengan Zio dan lainnya.


"Abang kenapa baru datang?" tanya salah seorang anak laki-laki.


"Maaf, akhir-akhir ini abang sedang sibuk. Klian gimana? Tetap semangat kan belajarnya?" tanya Zio.


"Semangat dong!" Mereka menjawab serempak.


"Good....!" balas Zio.


Zio dan Agas tak lama di kolong jembatan tersebut. Hanya mampir sebentar sekalian memberikan uang untuk keperluan anak-anak itu yang Zio serahkan untuk anak tertua yang bisa di percaya sebagai perwakilan mereka.


..........


Sementara di kediaman Erlangga, kegaduhan sedang terjadi dimana dokter dengan jelas menyatakan jika Zea memang benar-benar sedang mengandung. Saat dokter datang, Zea sudah sadar dan langsung di periksa oleh dokter tersebut.

__ADS_1


Zea tak bisa mengelak lagi saat dokter memintanya untuk tes urinnya dan dinyatakan positif hamil oleh dokter tersebut.


"Untuk lebih jelasnya, sebaiknya besok nona Zea periksa di obgyn," kata dokter yang memang tak membawa peralatan memadai dan dia juga bukan dokter khusus kandungan.


Zea tak menyahut, tak perlu ke dokter pun dirinya sudah jelas dan tahu karen tadi sudah di lakukan pemeriksaan saat di tempat aborsii.


Tentu saja, Senja dan Elang tak bisa mnyembunyikan keterkejutan mereka setelah dokter meyakinkan jika putri mereka memang sedang hamil.


Jika selama masih ada dokter, Elang dan senja masih bisa menahan diri untuk tetap sabar, Setelah dokter pamit, Elang dan Senja tak bisa lagi menyembunyikan kekecewaan mereka terhadap Zea.


"Maafin Zea, mom, dad...." ucap Zea penuh sesal. Air mata tak berhenti membasahi wajahnya. Melihat kedua orang tuanya yng terlihat begitu kecewa membuat Zea semakin merasa bersalah.


Melihat orang tuanya hanya diam namun terlihat sekali mereka menahan sesak di dada, justru membuat Zea semakin pilu. Lebih baik daddinya melampiaskan kekecewaannya dengan memarahinya atau mengamuknya. Itu jauh lebih baik, setidaknya sedikit mengurngi rasa bersalah Zea.


Tapi, baik Elang maupun Senja tak melakukannya. Mereka terdiam kehabisan kata untuk bicara. Terutama Elang, dia sangat syok dan terpukul saat mendapati putri kesayangannya tersebut kini tengah mengandung.


"Kenapa kamu tidak bisa menahan diri, Zea? Setidaknya sabarlah sebentar lagi sampai kamu dan Nathan sah menjadi suami istri," ucap Senja di sela tangis kecewanya.


"Maafin Zea, mom. Zea benar-benar menyesal," ucap Zea.


Mendengar ucapan istrinya, Elang berpikir jika Zea hamil anak Nathan. Karena memang hanya laki-laki itu yang dekat dengan Zea. Dan kehamilan itu terjadi setelah calon menantunya itu kembali dan mereka sering pergi berdua untuk persiapan pernikahan.


Ingin rasanya Elang dan Senja marah bahkan mengamuk, tapi mereka kembali berpikir jika itu tak akan menyelesaikan masalah. Menjaga mental Zea lebih mereka utamakan, takutnya akan berimbas pada janin yang Zea kandung jika mereka terus memarahinya.


Mereka kecewa, sangat kecewa tapi lebih kepada menyalahkan diri mereka sendiri yang mungkin salah dalam mendidik anak atau kurang protect terhadap putri mereka sehingga bisa kecolongan seperti ini. Introspeksi diri lebih mereka pilih dari pada mengamuk putri mereka. Toh bisa saja ini terjadi karena kelalaian mereka sebagai orang tua.


"Sekarang istirahatlah, besok daddy akan menemui ayah dari anak itu dan sebaiknya pernikahan klian di percepat kalau sudh seperti ini," kata Elang dingin kepada Zea dan langsung keluar dari kamar putri sulungnya tersebut dengan membawa kepedihan dan kekecewaannya.


Senja masih diam di tempatnya saat Elang melangkah keluar.


" Sayang!" panggil Elang mengkode istrinya untuk ikut keluar dan membiarkan putri mereka merenungi kesalahannya sendiri.


" Renungkan kesalahanmu. Kamu tahu kan daddy pasti sangat kecewa dan terluka atas apa yang terjadi. Istirahatlah, mommy keluar dulu," kata Senja dan langsung keluar. Iapun tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.


...----------------...

__ADS_1


Yang mau lihat visualnya versi author, bisa follow ig author @embunpagi544


__ADS_2