One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 31


__ADS_3

Belum juga keterkejutana karena pernyataan Zio, apa yang di lakukan oleh Bara menambah keterkejutan semua yang ada di sana. Tangis Zea semakin pecah. Ini alasannya kenapa dia memilih ingin memendamnya sendiri. Karena tidak ingin membuat kacau keluarga Osmaro.


"Mas...." Syafira berusaha menenangkan suaminya untuk tidak gegabah. Ia tak tega melihat putranya babak belur di tangan ayahnya sendiri.


Sementara Zio mengusap sudut bibirnya yang berdarah akibat hantaman Bara. Ia sama sekali tk sakit hati maupun menyalahkan sikap ayahnya tersebut karena ia akui ia memang salah.


"Apa maksudmu? Kau sengaja ingin menyakiti abangmu sendiri? Kau ingin membuat keluarga kita malu karena ulahmu?" tanya Bara dingin. Bahkan ia belum mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada Zea kebenarannya. Tapi, ia tahu jika Zio tak akan berbohong untuk hal sepenting ini.


"Maafkan Zio, dad. Zio akui Zio salah dan akan memertanggubgjawabkan apa yang sudah Zio lakukan," kata Zio tak gentar. Ia melihat ke arah Zea, "Sudah ku bilang, itu tanggung jawabku, kenapa kau malah memiarkan orng tuamu mendatangi abangku?" ucapnya pada gadis itu.


Hal itu menguatkan kepercayaan semua orang jika memang Ziolah yang menghamili Zea.


"Breng sek!" Nathan berdiri, ingin sekali ia menghajar adiknya tersebut namun, doa tahan oleh Syafira. Ia tahu, Zio salah tapi tidak harus dengan kekerasan. Melihat kepala Zio yang di perban dan bibirnya yang sudah berdarah, hati Syafira sangat sakit. Tapi, ia tak bisa terang-terangan membela Zio yang jelas-jelas bersalah.


"Sayang, ayo katakan sesuatu. Benar yang di katakan Zio?" Senja bertanya pada Zea. Gadis itu hanya bisa mengangguk dalam tangisnya, "Kami tidak sengaja melakukannya waktu itu, maafkan Zea," ujar Zea.


Rumit, puyeng orang tua mereka rasakan. Harusnya mereka sedang bahagia menyiapkan pernikahan Nathan dan Zea


"Kau tahu sebesar apa salahmu? Hah? Lihat! Dia abangmu!" Bara menunjuk Nathan yang terlihat sangat shock dan kecewa.


Zio menatap Nathan, "Aku tahu aku salah, makanya aku mau menanggung kesalahanku itu, tidak perlu abang yang melakukannya," ucapnya tegas.


Bara hendak kembali memukul Zio namun di tahan oleh Elang.

__ADS_1


"Mas, tenang dulu... Kita tanya mereka baik-baik," Elang berusaha menenangkan Bara meski ia sendiri shock dan bingung dengan keadaan saat ini.


"Anak ini selalu seperti ini, bikin ulah! Buat malu! Apa tidak bisa kamu sebentar saja tidak membuat daddy pusing, yo? Apa karena kamu dan Nathan lahir dari wanita berbeda sampai kamu setega ini? Didikian terhadap kalian tidak pernah kami bedakan, tapi mungkin memang karena kalian lahir dari rahim wanita yang berbeda makanya sikap kalian jauh berbeda juga!" bentak Bara emosi.


Terlalu emosi, Bara tanpa sadar bicara yang menyakiti hati istrinya. Dimana secara tidak langsung ia mengatakan jika anak yang lahir dari rahim Syafira memiliki sifat yang lebih buruk. Jujur, Syafira merasa sakit mendengarnya. Ia pun hanya bisa menitikkan air matanya.


"Dad..." Nathan mencoba menenangkan daddinya. Ia tahu daddinya sudah salah bicara Dan menyakiti bundanya.


"Aku memang salah, dad. Tapi, ini bukan salah bunda yang mengandung dan melahirkanku! Salahkan saja aku dan jangan bawa-bawa bunda dalam kesalahanku!" ucap Zio lantang. Ini jauh lebih sakit dari pukulan daddinya tadi.


Bara melihat Syafira dan langsung terdiam, ia sadar sudah salah bicara dan melukai perasaan istrinya.


Nathan berdiri dan ingin melayangkan bogem kepada Zio, namun ia urungkan. Tangannya hanya mengepal di udara, "Lihat kekacauan yang kau buat?" ucapnya penuh penekanan karena menahan emosi.


"Seharusnya abang senang karena aku membantu abang," ucap Zio. Yang mana ucapannya justru membuat Nathan melayakan pukulan kepadanya, "Jangan sok tahu kamu! Karena kadang apa yang kamu pikit benar, adalah sebih kebenaran!" ucapnya.


"Jangan saling menyalahkan! Aku yang salah! Aku yang menyebabkan kekacauan ini. Aku yang salah dalam hal ini dan Aku tidak akan menuntut apapun! Aku tidak akan menikah dengan bang Nathan, dan aku juga tidak akan menikah dengan Zio! Ini salahku, tolong bunda maafkan Zea, Zea permisi!" Zea langsung lari keluar dari kediaman Osmaro. Senja yang tak bis berkata-kata sejak tadi karena shock dengan kenyataan ini langsung pamit untuk mengejar putrinya.


"Maaf mas, saya tidak tahu kalau jadi seperti ini. Jujur saya sangat terkejut, alangkah lebih baik jika kita semua saling mendinginkan pikiran masing-masing terlebih dahulu. Karena jujur ini membuat saya sangat pusing. Kita bicarakan ini lagi, nanti. Saya permisi dulu," ucap Elang dan langsung beranjak.


"Maafkan saya, El... Maafkan atas kekacauan ini," ucap Bara penuh sesal.


"Kta bicarakan ini lagi nanti, mas. Ada hal yang harus kita urus masing-masing dulu," ucap Elang bijak. Ia sadar, Bara perlu meluruskan sesuatu dengan Syafira terlebih dahulu. Pun dengannya, ia tahu Senja sebenarnya marah dengannya karena ia terkesan lebih diam dan tak menyalahkan Zio, padahal ia hanya ingin semuanya di bicarakan dengan baik-baik tanpa harus menimbulkan kegaduhan seperti ini meski sebenarnya dirinya sendiri sangat pusing terluka saat ini. Tapi, ia memilih berusaha untuk tetap berpikir dengan kepala dingin.

__ADS_1


Saat melewati Zio, Elang berhenti," Saya kecewa sama kamu. Ingin sekali saya memukul kamu. Tapi, sepertinya sudah tak ada ruang di wajahmu untuk bisa saya pukul,"


"Maafkan saya, om," ujar Zio.


"Daripada permintaan maafmu, pertanggung jawabanmu lebih saya harapkan," ucapnya dingin Zio lalu beranjak pergi.


"Puas kamu sudah membuat kekacauan di rumah ini?" ucap Bara dan langsung pergi ke ruang kerjanya untuk menenangkan diri.


Syafira langsung tergugu begitu keluarga Elang dan suaminya pergi. Ia terus menyebut nama Tuhannya dan meminta ampun.


"Kenapa kamu melakukan ini sama abangmu, Nak? Kenapa?" ucap Syafira. Napasnya tersengal-sengal menahan sesak di dada. Dua putranya yang sebelumnya saling menyayangi kini menjadi saling menyakiti.


Tidak, Zio yang menyakiti Nathan. Syafira menatap putra sulungnya tersebut," Nathan, maafkan adikmu, sayang. Maafkan bunda juga karena..."


"Tidak bund, ini bukan salah bunda," ucap Nathan.


"Iya bund, ini salahku. Bunda jangan seperti ini, bukan bunda yang harus minta maaf, tapi Zio," Zio berusaha mendekati bundanya tapi di cegah oleh Nathan.


"Jangan menambah luka di hati bunda, pergi!" ucap Nathan.


Zio seolah tak peduli, ia tetap ingin mendekati Syafira, "Bunda butuh waktu sendiri. Sebaiknya kamu juga renungkan kesalahan kamu, Yo," ucap Syafira yang menolak di sentuh oleh Zio. Bukannya tidak mau, tapi untuk saat ini ia bekum bisa menerima kekecewaan yang di berikan oleh putranya tersebut.


Syafira memilih beranjak ke kamarnya. Selain karena kecewa dengan Zio, ia juga terluka okeh ucapan suaminya tadi.

__ADS_1


"Mbak, Olive... Maafkan aku mbak, aku sudah berusaha, tapi aku gagal," tangis Syafira kembali pecah saat menyebutkan nama ibu kandung dari putra sulungnya tersebut.


...----------------...


__ADS_2