One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 37


__ADS_3

Zio mengikuti langkah Zea yang berhenti di taman belakang rumah. Zea hanya berdiri, menatap lurus ke depan sambil memeluk tubuhnya sendiri yang dingin akibat embusan angin malam.


Zio meletakkan makan malam milik Zea di meja yang ada di taman tersebut sebelum akhirnya ia menghampiri Zea.


Zio berdiri di samping Zea tanpa bicara untuk beberapa saat lamanya.


"Mau ngomong apa? Cuma mau diem aja?" tanya Zea pada akhirnya.


Pria yang kini sedang memasukkan kedua tangannya di saku celananya tersebut menoleh dan tersenyum.


Zio melepas jaket yang ia kenakan lalu ia pakaikan ada Zea. Gadis itu sempat menolak tapi Zio paksa," Di sini dingin," ucap Zio dan Zea tak menyahut.


Tiba-tiba, Zio merebahkan diri di atas rerumputan hijau dengan berbantalkan satu tangannya. Zea hanya meliriknya.


"Sini! Kalau di lihat sambil tiduran gini langitnya bagus," ucap Zio.


Zea menggelengkan kepalanya.


Zio bangkit dan duduk, tangannya menarik pelan tangan Zea, "Sini, aman kok. Nggak kotor!" ucap Zio.


Tak sempat protes, Zea akhirnya ikut merebahkan diri di samping Zio, "Benar kan kata gue?" tanya Zio.


Zea diam, tak menyahut. Tapi, ia akui memang sangat menyenangkan tiduran di atas rumput sambil melihat langit yang cerah dengan bertabur bintang tersebut.


Zio merapikan jaketnya yang kini di gunakan untuk menutupi tubuh Zea bagian atas.


" Kenapa kamu lakuin ini?" bukan Zio yang mulai bertanya, melainkan Zea.


Zio menoleh ke samping, menatap gadis yang memandang lurus ke langit tersebut.


"Bukankah sudah ku bilang. Kamu nggak perlu melakukan ini semua. Sekarang lihat, kamu terluka seperti ini," sambung Zea sebelum Zio membuka suara.


Zio kembali menoleh dan tersenyum, "Terima kasih karena udah peduli, tapi ini bukan hanya tentang luka-luka ini yang tidak seberapa, Ze. Ini tentang dia, anak kita," ucap Zio.


Zea sampai tanpa sadar menahan napas saat Zio mengatakan 'ini tentang dia, anak kita'.

__ADS_1


Luruh sudah pertahanan Zea, air matanya kembali menetes. Sedikitnya ia merasa bersalah dengan janin di perutnya. Namun juga belum bisa sepenuhnya menerima.


"Kenapa sih ini harus terjadi sama aku," ucap Zea lirih.


Zio mendengus pelan, ia paling benci melihat Zea menangis seperti ini. Apa sesudah itu mengiyakan, sesusah itu menerima niat baiknya untuk bertanggung jawab.


"gue bakal tanggung jawab, lo nggak usah nangis lagi," ucap Zio.


"Aku nggak butuh tanggungjawab kamu, pergi!" usir Zea.


Zio berdecak," terus, lo mau abang gue yang tanggung jawab? Itu benih gue! gue yang bakal tanggung jawab! Ngeyel di bilangin!" ucapnya.


Tangis Zea semakin pecah,"semua gara-gara kamu, aku benci kamu Zio!"


"Bukannya lo emang udah benci sama gue?" ucap Zio tanpa beban seperti biasa.


"Aku makin benci sama kamu!" teriak Zea sebagai lampiasan amarahanya.


"Kalau begitu ayo menikah!" ucap Zio dengan entengnya.


Hening, hanya sisakan isakan Zea yang terdengar. Yang bisa Zio lakukan hanya membiarkannya hingga berhenti sendiri. Ingin emnawarkan pelukan, pasti di tolak juga. Setelah tangis Zea berangsur reda, gadis itu sudah merasa tenang kembali.


"Aku cuma nggak mau membuat keluargamu ribut berantakan," ujar Zea lirih kemudian.


Zio duduk, "Kamu terlalu khawatir dengan keadaan kami berdua, Ze. Gue tahu itu. Tapi, nyatanya baik-baik saja bukan? Berhenti mencari alasan untuk menghindari tanggung jawabku. Sekarang sudah waktunya kamu Memikirkan dia, calon anak kita. Jika sebelumnya kamu melakukan penolakan demi kami semua, sekarang waktunya kamu menerima demi dia. Dia butuh gue, Ze. Jangan buat dia yang tidak berdosa menanggung apa yang sudah Gue lakuin ke Elo. Kalau memang lo sebenci itu sama gue, lampiasin sama gue, jangan sama anak gue,"


"Kapan?" satu pertanyaan dari Zea ya g membuat Zio melongo.


"Apanya?" tanya Zio.


"Menikah," sahut Zea singkat dan tidak jelas menurut Zio.


"Siapa yang menikah?" tanya Zio yang malah ngeblank.


Zea melirik sinis, sumpah demi daddinya ingin rasanya ia menendang pria di sampingnya ini hingga ke pluto sana.

__ADS_1


"Gue sama lo? Kita maksudnya?" tanya Zio memastikan. Pasalnya, sampai beberapa menit yang lalu, gadis itu masih menolaknya mentah-mentah. Jadi, Zio tidak mau kegeeran dulu.


Tak ada jawaban dari Zea, hanya sebuah dengusan saja yang ia berikan. Dan Zio mengambil kesimpulannya sendiri kali ini.


"Oke, gue akan secepatnya bawa orag tua gue ke orang tua lo. Besok!" ucap Zio mantap.


"Secepat itu?" tanya Zea.


"Lebih cept lebih baik. Gue nggak mau lo berubah pikiran sekilatlo ambil keputusan malam ini," ucap Zio.


"Aku juga memikirkannya dengan matang, bukan spontan saja ambil keputusan," sahut Zea tak terima. Karena memang benar dirinya seharian ini mengurung diri di kamar, ia terus memikirkan hal.


"Ada untungnya juga ternyata lo bgurung diri di kamar seharian," ucap Zio nyengir.


Zea hanya mendengus. Suasana kembali hening, mereka menatapa langit.


"Tapi, aku nggak mau pernikahan kita nanti di ketahui banyak orang. Cukup keluarga saja," ujar Zea tiba-tiba.


Zio yang sudah tiduran di atas rumput lagi dan sedang menikmati embusan angin yang mendamaikan jiwanya malam ini setelah Zea mau menikah dengannya langsung membuka matanya. Menatap punggung wanita yang kini duduk di sampingnya sambil mendongak menatap langit tersebut.


"Kalau kamu nggak mau merahasiakannya, aku nggak jadi mau menikah sama kamu," karena tak ada sahutan, Zea kembali bicara.


"Oke, terseraho aja maunya gimana. Gue ikutin!" sahut Zio kemudian. Apa sememalukn itu menikah dengannya sampai harus di sembunyikan. Tapi, tak apa yang penting nikah dulu pikirnya.


Zea tidak tahu, apakah keputusan yang ia ambil ini adalah yang terbaik untuknya kelak. Ia akan menikah dengan laki-laki yang selama ini ia benci. Entah seperti apa kehidupan mereka nanti setelah menikah karena pasti tidak akan mudah.


Dan pada akhirnya, takdirnya bukanlah Nathan, pria yang selama ini ia gadang-gadang sebagai calon suami idaman. Justru takdir membawanya ke calon adik iparnya sendiri, Zea tersenyum getir membayangkan ia akan bersanding dengan calona dik iparnya sendiri.


Apakah ini cara Tuhan untuk menyadarkannya dari cinta sepihak yang selama ini ia rasakan namun selalu ia tutupi? Entahlah ,Terkadang memang takdir selucu ini, bukan.


"Ternyata jatuh cinta sendiri itu sakit, ya?" gumam Zea tanpa sadar.


Zio tertegun mendengarnya, ia tatak punggung Zea lekat-lekat, "Ya, mencintai sendiri itu memang sakit," gumamnya getir.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2