
Tubuh Zea langsung merosot ke lantai kamar mandi. Dua garis berwarna merah di tangannya tersebut membumtikan bahwa kini memang ada janin hasil keslahan semalamnya dengan Zio yang sedang tumbuh di perutnya.
Lemas, ia seperti kehilangan semua tulang-tulangnya saat ini. Matany terus mengeluarkan cairanbening itu tanpa henti. Mulutnya ia bungkam dengan tanganny sendiri supaya tangisnya tak mengeluarkan suara.
"Aku harus bagaimana sekarang? Kenapa? Kenapa kamu harus hadir di sini?" Zea menyentuh perutnya. Kenapa kesalahan semalam itu harus membuahkan hasil yang sama sekali tak ia harapkan kehadirannya.
Bahkan, setelah menikh dengan Nathanpun sebensrnya mereka akn menunda memiliki anak setidaknya sampai Zea lulus kuliah. Tapi kini, sesuatu yang akan ia tunda itu justru hadir karena sebuah kesalahan yang tak di sengajanya.
Kalau sudah begini, ia harus bagaimana? Zea benar-benar kacau. Bagaimana ia akan menghadapi esok hari sementara pernikahannya dengan Nathan semakin dekat. Ia merasa kini hidupnya benar-benar sudah hancur.
Zea bangkit setelah ia menemukan solusi apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
"Sayang, kau terlihat pucat. Apa kau baik-baik saja?" tanya Senja khawatir begitu melihat Zea turun.
"Hem, hanya sedikit pusing saja, mom," sahut Zea.
"Istirahatlah, mommy akan memnggilkn dokter untuk memriksamu," ujar Senja.
"No, mom!" Zea langsung menolak. Jika dokter datang memeriksanya, pasti akn ketahuan jika dia sedang hamil. Zea belum siap.
Senja langsung menatap putrinya tersebut curiga. Tidak biasanya Zea menolak seperti ini.
"Maksudku, tidak perlu, mom. Cukup minum obat sakit kepala yang ada, tak perlu dokter," ucap Zea.
"Kau yakin? Mommy khawatir, akhir-akhir ini kau terlihat tidak baik-baik saja. Jngan terlalu memikirkan pernikahanmu dengan Nathan sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Memang banyak pikiran itu pasti namanya juga akan menikah, tapi kau juga harus menjaga kesehatan. Mommy tidak mau kamu sakit," ujar Senja.
Zea tersenyum yang sebenarnya ia menahan tangis. Ia langsung memeluk Senja.
" Sayang, kamu kenapa?" tanya Senja yang merasa sedikit aneh dengan sikap putrinya tersebut.
" Nggak apa-apa, cuma mau meluk mommy aja, boleh kan?" jawab Zea.
Senja tersenyum, "Tentu saja boleh, dong sayang. Kalau ada masalah, kamu bisa cerita sama mommy, jangan di pendam sendiri," ucap Senja. Nalurinya sebagai ibu mengatakn jika putrinya itu sedang tidak baik-baik saja. Tapi, ia tak akan Memaksa Zea untuk cerita jika memang putrinya tersebut belum mau bercerita.
" Nggak ada masalah kok, mom!" sahut Zea. Namun, air matanya menetes begitu saja tanpa sepengetahun sang mommy.
__ADS_1
"Kau ada kukiah hari ini?" tanya Senja.
"Nggak ada, mom. Tapi, Senja akan pergi dengan Miranda," jawab Zea, "Mommy mau berangkat ke kantor?" tanyanya kemudian.
"Hem, sebentar lagi mommy berangkat. Sarapanmu sudah di siapkan oleh bibi, kamu makan ya? Mommy mau ambil tas di atas," jawab Senja.
Zea mengangguk, "Daddy?" ia menanyakan cinta pertamanya tersebut.
"Daddimu sudah berangkat duluan tadi, ada meeting penting pagi ini. Jadi kami berangkat sendiri-sendiri," jelas Senja.
Zea hanya tersenyum menanggapinya. Ia langsung menuju ke meja makan lalu duduk. Ia terpaksa harus sarapan sendiri karena ia terlambat turun untuk sarapan tadi.
..........
Meski tak ada jadwal kukiah hari ini, Zea tetap datang ke kampus untuk mencari Zio. Sayangnya pria itu tak ia temukan di sana.
Akhirnya Zea ke rumah Miranda. Ia tak tahu lagi harus bercerita sama siapa selain Miranda. Tentu saja Miranda shock mendengar cerita Zea kalau dirinya kemungkinan besar sedang hamil anak Zio.
"Aku harus bagaimana, Mir. Harus bagaimana? Aku nggak mau anak ini, nggak mau!" tangis Zea pecah di pelukan Miranda.
Tiba-tiba Zea pamit begitu saja kepada Miranda. Karena tak tenang, Miranda akhirnya ikut kemana Zea akan pergi.
Zea melajukan mobilnya ke sebuah studi musik. Ia yakin jika saat ini Zio sedang berada di sana.
Dugaan Zea benar adanya, karena Zio kini sedang berada di studio musiknya bersama para sahabatnya. Tapi, sejak datang tadi, Zio hanya duduk diam bahkan banyak melamun. Pikirannya gelisah. Sejujurnya ia juga sangat kepikiran dengan Zea. Apakah gadis itu sudah mengecek hamil atau tidak. Sejak semalam, ia terus memikirkan bagaimana seandainya Zea benar-benar hamil anaknya.
Bagaimana kacaunya keluarganya nanti. Membayangkan betapa kecewa dan sedihnya sang bunda jika tahu kelakuannya membuat Zio menggeram kesal memikirkannya, "Kenapa gue gegabah waktu itu? Sedangkal itukah logika gue waktu itu?" batin Zio. Ia menjambak rambutnya yang sedikit panjang.
"Yo, lo nggak main? Melamun aja dari tadi," suara Agas membuat Zio mendongak, "Lagi nggak mood gue!" jawabnya.
Teman-temannya kembali memainkan alat musik mereka masing-masing. Hanya saja tak ada vokalnya karena sang tuan muda yang menjadi vokalis sekaligus pemain gitar sedang badmood.
........
"Kamu tunggu di sini, Mir. Aku nggak lama!" ucap Zea setelah sampai di depan studio musik.
__ADS_1
"Kamu yakin , Ze?"
Zea mengangguk lalu melepas seatbeltnya dan turun.
Dengan perasaan campur aduk yang di tahannya, Zea masuk begitu saja ke ruang studio musik tersebut.
Brak!
Zea membuka kasar pintu studio tersebut nmun masih belum ada yang ngej dengan kedatangannya kecuali Zio. Pria itu langsung berdiri begitu melihat Zae masuk dan berjalan ke arahnya.
Plak!
Tanpa basa basi, Zea langsung melayangkan sebuh tamparan di pipi Zio. Yang mana hal itu membuat teman-teman Zio berhenti bermain musik karena terkejut dengan apa yang terjadi, Zea tiba-tiba datang dan menampar Zio suasana menjadi hening dan tegang.
"Ada apa?" tanya Zio, ia menatap Zea yang sudah berkaca-kaca sembari menatapnya penuh amarah dan luka. Tangannya mengepal kuat.
Terlihat jelas jika Ze aingin mengumoat, mengatakan sesuatu, tapi gadis itu tahan karena di sana ada teman-temannya Zio.
Zio menoleh kepada teman-temannya, dan mengisyaratkan kepada mereka untuk pergi dari sana. Mereka langsung menyudahi kegiatan mereka dan beranjak dari sana, "Kita cabut dulu, yo!" ucap Agas sembari menepuk bahu sahabatnya tersebut di ikuti yang lainnya.
"Lo kenapa? Mau ngomong apa? Duduk dulu, lo bisa bicara setelah tenang," kata Zio setelah semuanya keluar menyisakan mereka berdua.
Plak!
Sekali lagi Zea menampar Zio. Zio sama sekali tak terpancing. Ia hanya menyentuh pipinya dimana sudut bibirnya sedikit berdarah karena Zea sangat kencang menamparnya.
"Lakuin sampai lo puas, kalau itu bisa buat lo merasa lebih baik," ucap Zio. Dan ucapannya tersebut jsteu membuat Zea semakin kesal namun tak berniat menamparnya lagi.
"Puas sekarang? Puas udah hancurin hidup aku? PUAS?! Kenapa, yo? Kenapa kamu harus lakuin itu sama aku. Sekarang semuanya hancur, kamu jahat, yo JAHAT! Kenapa ini harus terjadi, kenapa kamu tega hancurin hidup aku, yo!" umpat Zea berderi air mata. Ia terus memukul dada Zio.
Zio menahan tangan Zea yang terus memukulnya tersebut," L-lo beneran hamil?" tanya Zio dengan perasaan yang sudah campur aduk sekarang.
Zea menatap Zio tajam mendengar pertanyaan pria di depannya tersebut, "Ya, dan aku akan menggugurkannyaa!" ucapnya bergetar.
...----------------...
__ADS_1