One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 28


__ADS_3

Suasana mobil menjadi hening. Sesekali Zio melirik gadis yang duduk di sampingnya tersebut. Zea terlihat gelisah. Ia tahu apa yang ada dalam pikiran Zea. Pasti gadis itu sedang mencari cara untuk memberi tahu kedua orang tuanya soal kehamilannya.


"Pokoknya biar aku saja yang bilang sama mommy daddy. Kamu nggak usah Ikut campur," ucap Zea kemudian.


Zio mendengus, "Oke, terus lo mau jawab apa kalau orang tua lo tanya siapa yang nanam benih ke rahim lo?" tanya Zio santai.


Zea terdiam sejenak, "Itu urusanku, kamu nggak perlu mikirin!" ucapnya.


"Hem," lagi-lagi Zio hanya membalas singkat.


Zio menepikan mobilnya di sebuah rumah makan.


"Kok berhenti di sini, sih?" tanya Zea.


"Gue lapar, gara-gara sibuk nyariin lo, gue nggak sempat makan. Takutnya sebentar lagi, gue pingsan lagi!" jawab Zio.


Lagi? Zea bertanya-tanya, apa tadi Zio pingsan? Ah iya, kepala Zio di perban, apa tadi terjadi sesuatu dengan pria tersebut, tapi ia gengsi untuk bertanya dan memilih diam saja.


Zio melirik perut Zea, "Anak gue juga pasti lapar. Udah niat mau di gugurin, sekarang mau di biarkan kelaparan? Calon Ibu macam apa, lo? Ngebiarin perut lo kosong terus, sama aja lo mau bunuh anak gue perlahan!" ucapnya.


Duh, itu mulut, pengin rasanya Zea timpuk pakai tasnya, "Jangan sebut di anak kamu!" protesnya.


"Lah itu emang anak gue!" timpal Zio tanpa dosa sembari melepas seatbeltnya.


"Turun! Miranda juga pasti lapar dan lelah menghadapi sahabat kayak lo!" ucapnya lalu membuka pintu mobil dan turun.


Zea benar-benar kesal, tapi dia manut untuk turun karena memang ia lapar. Sejak semalam ia belum makan sama sekali.


Zio memilih tempat duduk lesehan yang berada di atas kolom ikan. Ia langsung melihat menu dan memesan makanan tanpa bertanya pada Zea.


"Kok asal pesan sih, nggak tanya dulu aku mau makan apa?" protea Zea.


"Lo ngidam? Pengin apa?" tanya Zio terang-terangan.


Zea langsung membekap mulut Zio, "Bisa diam nggak? Jangan keras-keras. Malu kedengeran orang," ucap Zea.

__ADS_1


Zio menjillat tangan Zea, gadis itu langsung menarik tangannya risih, "Jorok banget sih, pasti kayak gini!" kesal Zea.


Zio masa bodoh, "Lagian lo parnoan, siapa juga yang bakal dengar. Yang dengar cuma Miranda sama ikan-ikan di bawah sana noh!" ucapnya.


Zea langsung berlari ke toilet untuk mencuci tangannya.


"Lo mau pesan apa?" tanya Zio pada Miranda.


"Apa aja kak," sahut Miranda. Ia selalu gagap jika berhadapan dengan Zio. Tak bisa mengontrol diri apalagi dengan jarak sedekat ini. Bodoh banget kalau Zea menolak pertanggung jawaban pria ini. Sudah ganteng, bertanggung jawab pula, pikirnya.


"Thanks ya, lo udah kasih tahu gue tadi," ucap Zio.


"I-iya kak. Zea sahabat aku, aku nggak mau dia salah jalan," ucap Miranda.


Zio hanya tersenyum tipis nyaris tak terlihat nmun itu tetap membuat Miranda meleyot.


Tak lama, Zea kembali dari toilet.


"Takut banget kena rabies karena air liur gue," celetuk Zio.


Zea tak menimpali. Ia memilih mengajak Miranda mengobrol sambil menunggu pesanan datang dan mengabaikan keberadaan pria tersebut.


"Gue khatam apa yang lo suka dan enggak," Zio menjawab tanpa perlu di tanya oleh Zea. Dari sorot matanya, ia sudah tahu jik gadis itu pasti terkejut.


Zea hanya menjeb, "Aku memang suka ini, tapi aku lagi nggak selera lihat makanan ini sekarang," ujarnya.


"Terus lo mau makan apa?" tanya Zio.


Zea menggeleng, "Nggak tahu," jawabnya.


Sabar Zio, sabar... Zio menghela napasnya dalam.


"Kamu mau punyaku, Ze? Kita tukeran kalau mau," tawar Miranda. Dan Zea menggeleng.


"Aku makan itu aja, kayaknya enak," akhirnya Zea menunjuk makanan di depan Zio. Yang Zio tahu, Zea tak menyukainya. Tapi, ya sudahlah, mungkin orang hamil emang suka menguji kesabaran seperti ini, pikirnya.

__ADS_1


"Ya sudah, tukeran. Lo makan ini, gue makan punya lo!" Zio menukar piringnya.


Setelah mereka selesai mengisi perut, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Zio mengantar Miranda terlebih dahulu ke rumahnya.


"Aku bisa pulang sendiri, kamu nggak perlu antar aku. Biar aku yang antar kamu mau turun dimana," ucap Zea setelah Miranda turun dari mobilnya karena sudah sampai.


"Gue bakal nemuin orang tua lo!" jawab Zio, ia segera melajukan mobil milik Zea tersebut.


"Aku udah bilang, nggak usah!" sahut Zea.


"Gue bukan pengecut yang akan lari dari tanggung jawab!" ucap Zio.


Zea tak ingin terjadi kekacauan. Bagaimana hancurnya saat semua tahu jika Zio yang menghamilinya. Sedangkan Zio adalah adik dari Nathan. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kacaunya keluarga Osmaro nanti. Hubungan kakak adik pasti akn menjadi taruhannya.


"Kalau kamu mau aku mempertahankan anak ini, jangan lakukan itu. Atau aku benar-benar akan nekat," ancam Zea.


Zio mendengus, "Terserah lo lah!" ucapnya. Saat ini yang penting Zea mau pulang dulu.


Zio menghentikan mobil Zea, "Gue turun di sini aja, lo bisa balik sendiri, kan?" ucap Zio sebelum akhirnya ia turun.


Zea tak langsung tancap gas. Ia sebenarnya tak tega juga. Apalagi ini sudah gelap, hari mulai malam.


"Halo, Gas! Jemput gue di...."


Setelah mendengar Zio menelepon Agas, barulah Zea tancap Gas. Ia ingin segera sampai di rumah. Rasanya sangat lelah. Lelah hati, pikiran dan badannya juga terasa meriang. Kepalanya pusing luar biasa, mungkin karena kelelahan.


Sampai di rumah, dengan langkah gontai, Zea memasuki ruang tamu. Ia terkejut melihat kedua orang tuanya yang sudah berdiri menunggunya dengan raut yang Zea artikan sebagai kemarahan.


"Apa ini, Ze?" tanya Senja sembari menunjukkan tespeck yang Zea taruh di atas closet kamar mandi. Zea lupa membuangnya.


"Bisa kamu jelaskan sama kami, sayang?" Meski terlihat sudah marah, lebih tepatnya kecewa, Elang masih berusaha menahannya dengan bertanya lembut.


Air mata Zea langsung luruh membasahi wajahnya.


"Maafkan Zea, mom.. Dad...Aku..." Zea tak tahu harus bicara apa. Jujur ia belum siap. Apalagi saat ini ia benar-benar sedang pusing. Tiba-tiba saja semuanya terasa gelap. Ia pingsan tak sadarkan diri. Beruntung dengan sigap Elang langsung menangkap tubuh Zea hingga tak sampai jatuh ke lantai.

__ADS_1


Sontak Senja dan Elang panik, "Sayang, telepon dokter!" titah Elang kepada sang istri. Ia langsung membopong putrinya tersebut untuk di bawa ke kamar.


...----------------...


__ADS_2