
Semalaman Zea tak bisa tidur. Ia terus memikirkan apa yang di katakan oleh daddinya bahwa esok hari mereka akan menemui laki-laki yang harus bertanggung jawab atas kehamilannya. Ia berpikir apakah daddinya tahu jika ayah dari janin yang ia kandung adalah Zio? lantas tahu darimana mereka, pikirnya.
Hal itu benar-benar membuatnya tak bisa terlelap. Ia sama sekali tak berniat melanjutkan pernikahan dengan Nathan. Tapi, juga tidak dengan Zio. Ia putuskan akan merawatnya sendiri meski ia tahu itu akan sulit. Tapi, menikah dengan zio juga bukan solusi, ia tak mau membuat persaudaraan Nathan dan Zio hancur.
Barulah keesokan harinya, Zea tahu kalau tujuan orang tuanya bukanlah Zio . Melainkan Nathan. Semakin tak karuanlah perasaan Zea saat tahu orang tuanya akan menuntut pertanggung jawaban dari tunangannya tersebut. Ah, bahkan status mereka saja masih sebagai tunangan. Jadi, wajar jika Elang dan Senja berpikir kalau Nathan yang menghamilinya.
Zea sudah berusaha melarang kedua orang tuanya untuk datang ke rumah Bara. Namun, kedua orang tuanya tak mau mendengarkannya kecuali dirinya memberikan alasan yang membuat mereka batal ke sana.
"Bukan abang yang harus bertanggung jawab," alasana yang Zea katakan.
"Lalu siapa? Siapa yang harus kami mintai pertanggung jawaban?" desak Senja.
Zea terdiam, ia tak mungkin juga bilang Zio.
"Pokoknya bukan, abang. Kita balik saja, dad. Biar ini menjadi urusan Zea. Zea yang akan membesarkannya,"
"Sayang, membesarkan anak seorang diri itu tidak akan mudah! kmau masih harus menyelesaikan kuliahmu, belum lagi omongan orang yang tidak akan ada habisnya," ucap Senja.
"Daddy sangat mengenalmu, tidak mungkin kamu dekat dan melakukannya dengan pria lain sedangkan kamu mencintai Natha. Jangan melindunginya dengan menutupi kesalahannya," ucap Elang.
"Ya, mommy setuju dengan daddy. Lebih baik sekarang kita bicara baik-baik dengan om Bara dan lainnya untuk segera memajukan tanggal pernikahan kalian, toh juga memang sudah di rencanakan, hanya memajukannya saja," imbuh Senja.
"Tapi..." belum Zea selesai bicara, mobil sudah berhenti di halaman kediaman Bara.
"Dad Please....." Zea memohon untuk mengurungkan niat mereka tapi sepertinya tekad Elang sudah bulat. Senja juga demikian, ia mengikuti suaminya turun dari mobil.
"Ayo sayang! Percayalah. Daddy akan mengajak mereka diskusi bukan untuk menghakimi kalian berdua," ucap Senja ya g tetap penuh kasih sayang seperti biasa. Sekecewa apapun, ia tetaplah seorang ibu.
.....
Keluarga Bara baru saja selesai sarapan dan bersiap untuk aktivitas masing-masing selanjutnya saat Elang datang bertamu. Kecuali Zio, pria itu semalam pulang larut malam hingga pagi ini ia melewatkan sarapan. Selain karen lelah, ia tak ingin bundanya tahu soal luka di kepalanya. Pulang secara diam-diam dan tidak ketahuan saja sudah ia syukuri.
Elang, Senja dan Zea di suruh menunggu sebentar oleh pelayan untuk di panggilkan tuan mereka yang kini berada di kamar, mungkin bersiap untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Bara dan Syafira turun ke ruang tamu dimana calon besan mereka sudah menunggu dengan perasaan yang sudah tak menentu. Terutama Zea yang duduk diantara kedua orang tuanya. Ia sudah harap-harap cemas. Menyiapkan diri jika Nathan akan marah, bahkan menghardiknya setelah tahu jika dirinya hamil. Ia juga sedang menyiapkan mentalnya untuk mendengar keputusan Nathan membatalkan pernikahan mereka setelah tahu dirinya hamil.
Bara yang memang bekum tahu tujuan Elang dan keluarga datang sepagi ini ke kediamannya menyunggingnkan senyum menyapa calon besannya tersebut.
"Kami tidak menyangka kedatangan tamu agung sepagi ini. Pantas tadi burung peliharaan saya terus berkicau, rupanya karena akan ada tamu spesial," seloroh Bara saat menyapa tamunya tersebut untuk mencairkan suasana. Ia tahu pasti ada hal penting sampai calon besannya tersebut datang sepagi ini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Syafira dan Senja saling berpelukan, bergantian dengan Zea.
" Apa kabar sayang? Kau terlihat kurang sehat? Wajahmu pucat," tanya Syafira saat ia memeluk Zea. Gadis itu hanya tersenyum dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Setelah acara ramah tamah selesai, kini mereka mulai ke pembicaraan serius.
"Maaf sebelumnya mas Bara. Kedatangan kami ke sini sepagi ini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu karena ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan," sebenarnya Elang sudah tak sabar ingin langsung ke intinya dan meluapkan amarah, tapi ia masih berusaha untuk menahan diri dengan mencoba bicara baik-baik.
" Maaf El, hal penting apa? Bukankah semuanya sudah kita bicarakan dan sepakati malam itu? Em, saya kira ini soal pernikahan anak-anak kita, kan?" tebak Bara langsung.
Zea meremat-remat jari jemarinya terus menerus. Senja berusaha menenangkannya dengan menyentuh tangan putrinya tersebut, mengisyaratkan jika semuanya akan baik-baik saja. Tapi, bukan soal dirinya yang Zea takutkan sekarang, tapi soal harga diri daddinya yang pasti akan malu karena salah tuduh. Tapi, untuk membuka mukut dan jujur di depan semua orang ia tak seberani itu.
"Memang soal putra putri kita, mas. Dan karena maslah ini menyangkut Nathan juga, sebaiknya Nathan juga ikut dalam diskusi kita kali ini," ujar Elang.
Nathan menyalami Elang dan Senja bergantian, ia juga memgusap kepala Zea lembut dan tersenyum. Membuat hati gadis itu semakin kalut saja, rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi ini.
"Kebetulan Nathan juga sudah ada di sini, langsung saja saya katakan apa yang menjadi ganjalan saya dan istri saya sampai mendadak datang ke sini,"
Bara dan lainnya menanti Elang melanjutkan bicaranya.
"Ada apa, om?" tanya Nathan agak bingung.
" Saya rasa, Nathan sudah cukup dewasa untuk bisa mengakui kesalahan dan mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan dengan putri saya. Mereka sudah sama-sama dewasa, tentu tahu resiko yang mereka akan hadapi karena tidak bisa menahan diri untuk tidak kebablasan sampai hari pernikahan tiba. Maaf jika saya terpaksa mengatakan ini, sebaiknya pernikahan Nathan dan Zea kita majukan, mas Bara. Karena Zea tengah hamil anak Nathan," ucap Elang dengan mengesampingkan segala rasa dalam dadanya, marah, kecewa, sedih dan juga malu.
Tentu saja Bara dan keluarganya terkejut mendengar ucapan Elang barusan. Bara dan Syafira saling tatap dengan raut terkejut mereka. Sementara Nathan, ia langsung menatap Zea tak percaya. Gadis itu menunduk tak berani menatapnya.
"Maafkan saya karena tidak bisa menjaga putri saya dengan baik, mas," ucap Elang lagi. Bagaimanapun ia sangat menghormati Bara yang usianya lebih tua darinya.
__ADS_1
"Kami sangat terkejut mendengarnya, El. Tapi, kami juga tak akan menyalahkan Zea secara sepihak karena putraku ikit andil dalam kesalahan itu. Harusnya saya yang meminta maaf karena lalai mengawasi putra saya hingga dia berbuat di luar batas seperti ini," ucap Bara. Lalu, ia menatap putra sulungnya tersebut yang sedang berusaha menerka apa yang terjadi terhadap tunanganbya karena ia merasa tak oernah melakukannya.
Kecewa, sudah pasti Nathan rasakan saat ini. Lebih ke sakit rasa di dadanya, sesak karena Zea memilih untuk meminta pertanggungjawaban darinya padahal wanita itu sudah mengkhianati nya dengan pria lain jika benar saat ini Zea tengah hamil.
"Bagaimana, Nathan? Apa kau mengakui kesalahanmu?" Bara bertanya pada putra sulungnya tersebut.
Beberapa saat Nathan masih bergeming sembari terus menatap Zea yang terus saja menunduk sambil terisak.
"Lihat abang, Ze!" ucap Nathan.
Zea refleks mengangkat kepalanya, ia menatap Nathan dengan derai air mata, "Maafkan Zea, bang," kalimat itu ingin zea ucapkan namun begitu tercekat hingga hanya bisa keluar sebagai isyarat.
"Benar itu anak abang?" tanya Nathan lembut, masih berusaha tenang.
Zea semakin meremat tangannya sendiri. Ia kembali menunduk, terlalu sakit menatap mata tunangannya tersebut. Namun, ia jarus jujur jika itu bukan anaknya.
Saat ia akan menggelengkan kepala, Nathan terlebih dahulu bersuara, "Iya, dad. Nathan akui, Nathan salah. Nathan lalai dan akan bertanggung jawab," ucap Nathan menatap daddinya.
Zea mengangkat kepalanya menatap tak percaya pada Nathan. Dalam benaknya justru bertanya, kenapa... Kenapa Nathan mau bertanggung jawab, padahal bisa saja ia menyangkal dan marah. Tapi, ini benar-benar di luar dugaannya.
"Bukankah ini mau kamu, Ze?" tatapan Nathan seolah mengatakan demikian.
belum juga keterkejutan Zea mereda, suara dari pria yang tak diinginkan kehadirannya disana berhasil menyita perhatian semua orang.
"Saya Yang seharusnya bertanggung jawab, om. Bukan bang Nathan...." seru Zio yang sedang menuruni anak tangga. Membuat semua orang menoleh kearahnya.
"Karena saya yang menghamili Zea, bukan abang saya," lanjut Zio setelah sampai di depan semua orang.
Semua orang sangat terkejut, mereka bahkan sampai berdiri kecuali Zea.
Bugh!
Satu bogeman meluncur di wajah Zio, bukan dari Nathan maupun Elang. Namun dari daddinya sendiri, Bara.
__ADS_1
...----------------...
💕Follow ig author @embunpagi544 dan tik tok embunpagi545 💕