
Zio terus membelah kemacetan ibukota malam itu dengan motor sportnya. Ia mengabaikan perutnya yang sebebarnya terasa lapar karena sejak pagi sama sekali tak terisi makanan. Bagaimana ia bisa makan jika pikirannya masih begitu kalutnya.
Zio benar-benar tak menyangka, Zea akan sekeras kepala ini. Bahkan saat semua orang sudah tahu keadaannya yang tengah berbadan dua, anak dari seorang Ziovan. Namun, gadis itu masih saja kekeuh dengan keputusannya untuk tidak mau menikah dengannya.
Tidak, Zio tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. Ia ingin menyelesaikannya malam ini juga dengan hasil akhir yang seperti ia harapkan, yaitu menikahi Zea.
Zio sampai di kediaman Erlangga saat keluarga tersebut menyelesaikan makan malam mereka.
Elang dan Senja sama sekali tak terlihat terkejut dengan kehadiran Zio di sana, "Saya tahu kamu akan datang, tapi tidak menyangka akan secepat ini," ucap Elang pada Zio.
"Maafkan saya, om. Tapi, ijinkan saya untuk menemui Zea sekarang," ujar Zio.
Elang tersenyum tipis, di wajahnya masih terlihat sekali kekecewaan terhadap Zio. Sikapnya juga kini menjadi sedikit dingin dan angkuh.
"Saya akan lihat sejauh mana usahamu, dia ada di kamarnya," ucap Elang kemudian, masih dengan nada dingin.
Zio mengangguk, "Saya sudah berusaha tanpa om tahu, dan malam ini saya ingin semuanya selesai,"
Elang mundur selangkah untuk memberi jalan kepada Zio untuk menuju kamar Zea.
"Ijin ke atas, om, tante!" ucap Zio.
"Jangan macam-macam! Saya pasang cctv di setiap sudut rumah ini, termasuk kamar putriku!" peringat Elang.
Zio tersenyum dan mengngguk.
"Mas, emang beneran di kamar Zea ada cctv?" tanya Senja polos setelah Zio mengayunkan langkahnya menapaki anak tangga.
"Ya enggaklah! Masa aku mau lihat privasi putriku di kamarnya, dia udah gadis, bahkan sekarang udah hamil,"
__ADS_1
Elang langsung menghentikan ucapannya ketik raut wajah Senja berubah saat ia mengatakan kalau Zea sudah hamil, rasanya masih membuatnya sesak. Bukannya mereka tak ingin memiliki cucu, bahkan sangat ingin. Tapi, tidak dengan cara salah seperti ini.
" Cuma di depan kamarnya aja yang sampai ke pengawasan mas, sayang," lanjut Elang langsung ke intinya.
"Mas yakin negbiarin Zio masuk ke kamar Zea?" tanya Senja.
"Dia nggak akan berani macam-macam lagi, sayang. Percayalah!"
"Bukan itu maksudnya? Tapi, tahu sendiri putrimu itu seperti apa. Dari tadi aja kita gak diijinin buat ke ke kamarnya, ini malah Zio nekad,"
"Biarin aja, siapa tahu kan Zio kurang puas mendapat bogeman, mau di tambahin sama Zea...." timpal Elang santai.
"Boo..." Senja gemas dengan ucapan suaminya barusan.
Elang tersenyum nyengir, "Mereka sudah cukup dewasa, apalagi Zio. Mas lihat dia gigih mau bertanggungjawab, biarkan meteka menyelesaikan masalah mereka kali ini," ucapnya.
Senja mengangguk, setuju saja dengan ucapan suaminya tersebut. Ia juga sama, berharap yang terbaik untuk putrinya, meski entah Zio memang laki-laki baik yang di kirim untuk putrinya atau bukan. Tapi, ia berharap pria itu adalah yang terbaik.
Sementara itu, Zea masih saja mengurung diri di kamarnya. Tak lagi menangis, namun masih terus diam dan melamun, merutuki nasibnya.
Ceklek!
"Sudah ku bilang, jangan ada yang ganggu aku dulu!" seru Zea saat ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Ia menoleh dan melihat Zio berdiri di sana. Zea langsung memalingkan wajahnya, "Ngapain ke sini?" tanyanya sembari melengos.
Tanpa meminta ijin masuk, Zio melangkahkan kakinya ke dalam. Meski tak melihatnya, Zea bisa merasakan jika pria itu semakin mendekat kearahnya.
"Siapa yang ijinin kamu masuk. Jangan macam-macam. Atu aku teriak" ancam Zea.
Tak ada sahutan. Untuk beberapa saat suasana hening, yang mana membuat Zea penasaran lalu menoleh. Rupanya Zio masih berada di sana.
__ADS_1
Zio menoleh ke atas nakas, lalu menghela napas saat melihat makanan di atasnya. Sudah dipastikan jika Zea sama sekali belum menyentuh makanan tersebut.
"Kenapa nggak di makan? Ini udah lewat jam makan malam," ucap Zio.
"Nggak lapar!" sahut Zea acuh.
Zio mendengus ia lebih mendekati ke arah Zio. Zea hampir terlonjak kaget ketika Zio berjongkok di depannya, "Ma-mau ngapain?" tanyanya. Saat itu, pandangan merek bertemu karena Zio mendongak, menatap wajahnya. Dari jarak sedekat itu, Zea bisa melihay lebam-lebam di wajah tampan teman masa balitanya tersebut.
Ada rasa bersalah dan sedih mendera. Namun, segera Zea tepis.
"Kamu udah hebat banget dengan tidak jadi menghilangkannya. Tapi, kamu juga harus menjaganya dengan tetap makan supaya tumbuh dengan baik di sini," Zio menunjuk perut Zea. Ia tak berani menyentuhnya atau akan kena amukan gadis di depannya tersebut.
Zea masih tetap bergeming.
"Terus terang aja, kamu ke sini mau ngomong apa? Tidak perlu basa-basi," ucap Zea yang seolah tak mengindahkan ucapan Zio barusan.
"Boleh ngobrol sebentar? Gue cuma masih mau usaha, Ze," sahut Zio.
Setelah diam beberapa saat, akhirnya Zea mengangguk.
Zio tersenyum sembari menahan perih di ujung bibirnya karena ketarik jika tersenyum.
"Mau tetap di sini, atau cari tempat lebih nyaman ngobrolnya?" tanya Zio.
"Di luar aja gimana? Sambil lihat bintang, cerah banget langitnya tadi gue lihat, bintangnya banyak, lo paling suka bintang, kan?," ujar Zio sebelum Zea menjawab pertanyaannya.
Zea menatap Zio, lalu mengangguk setuju. Zio langsung memutar badannya dengan tetap berjongkok, ia lalu menepuk punggungnya sendiri," Ayo gue gendong, lo pasti lemas kan seharian nggak makan, sampai nggak kuat buat keluar kamar," ucapnya.
Zea hany berdecak, ia turun dari ranjang dan berjalan mendahului Zio, "Buat mukul kamu juga aku masih kuat!" omelnya sembari berjalan.
__ADS_1
Zio tersenyum. Ia berdiri dan melihat makanan di atas nakas. Inisiatif ia mengmbil nampan berisi makan malam Zea tersebut bersamanya. Berharap nanti Zea mau makan meski sedikit.
...****************...