One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 34


__ADS_3

Setelah selesai mengobati luka Zio, Bara langsung pamit keluar. Ia rasa, membiarkan Zio sendiri adalah pilihan yang tepat sekarang. Tak perlu lagi mereka ungkit-ungkit soal kesalahan yang sudah Zio lakukan. Apalagi terus memarahinya sampai berlarut-larut. Itu tidak akan merubah apapun.


Nasi sudah menjadi bubur, mau memarahi bahkan menghajar Zio sampai babak belur lagi pun tak akan merubah kenyataan. Yang harus di lakukan sekarang adalah, mengawal putranya tersebut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


"Daddy keluar dulu, masih ada PR buat hilangin marahnya bundamu soalnya," ucap Bara tersenyum miris.


"Hem," sahut Zio sibgjat diiringi anggukan kepalanya."Thanks, dad!" sambungnya.


Bara hanya tersenyum lalu melangkahkan kakinya menjauhi Zio. Namun, langkah kakinya terhenti sebelum mencapai pintu, "Maaf kalau tadi daddy terlalu emosi dan melukaimu. Bukan daddy membencimu, kau lebih tahu seberapa daddy menyayangimu, Nak. Hanya saja, kau terlalu berharga buat melakukan kesalahan fatal seperti itu dan itu sungguh daddy sayangkan. Daddy sempat terlalu kecewa tadi," ujarnya. Di dalam hatinya, ia benar-benar menyesali apa yang sidah ia lakukan tadi.


Zio mengangguk," Zio tahu, Zio tak menyalahkan daddy sama sekali," ucapnya jujur.


"Semoga, wajahmu yang babak belur itu tak membuat Zea makin ilfil ya?" seloroh Bara sebelum ia membuka pintu dan keluar.


"Hei, dad! Meski babak belur, tidak mengurangi ketampanan pria tertampan sekeluarga Osmaro ini!" seru Zio. Ia langsung meringis menahan sudut bibirnya yang terasa perih karena ketarik akibat teriakannya barusan.

__ADS_1


.......


Meski waktu sudah mulai merangkak menuju sore, terik matahari masih terasa menyengat di kulit. Namun, hal itu tak membuat surut langkah seorang pria yang kini berjalan dengan buket bunga mawar merah di tangannya di antara gundukan-gundukan tanah yang berjajar rapi.


Pria tersebut adalah Nathan, dengan langkah tegap, ia terus melangkahkan kakinya hingga berhenti pada sebuah gundukan tanah yang sudah di pugar menjadi sangat cantik. Di tangan kanannya membawa keranjang berisi bunga mawar. Sedang tangan kanannya membawa buket bunga mawar merah.


Ia berjongkok, meletakkan buket bunga tersebut di atas pusara di depannya lalu menabur bunga hingga merata diatas makam tersebut. Selesai melakukannya, Nathan mengusap nissan bertuliskan nama seorang wanita tersebut. Untuk beberapa saat, kepalanya tertunduk dalam.


"Hai, Apa kabar? Maaf, baru sempat ke sini setelah pulang dari london," ucap Nathan tanpa melepas kaca mata hitam yang menutupi kedua matanya yang sendu. meski ia tahu tak akan ada yang menyahut ucapannya tersebut. Karena mereka sudah berada di alam yang berbeda.


Nathan menjeda kalimatnya, bibirnya tersenyum tipis, seolah ia sedang menertawakan dirinya sendiri, "Ya, perasaan yang sejak dulu utuh hanya buatmu, sebulan terakhir juga di isi oleh wanita lain yang di jodohkan denganku, Amanda. Zea namanya. Cantik kan namanya, seperti kamu,"


"Apa kau mengetahuinya dan meurutkiku dari sana, Amanda? Apa kau tak rela jika aku mengingkari janjiku dan perlahan menggantikan posisimu di hatiku?" Nathan kembali tersenyum tipis mewakili kesedihannya.


"Apa ini doamu supaya aku tidak jadi menikahinya. Aku hanya berusaha menerima takdirku, Amanda. Kamu pergi meninggalkanku, dan aku sedang mencoba untuk berdamai dengan diriku sendiri dan melanjutkan langkahku dengan yang lain. Tapi, ternyata takdir berkata lain,

__ADS_1


Dia hamil anak adikku, Amanda," ucapnya lirih pada kalimat terakhir. Senyuman getir menghiasi bibirnya.


"Harusnya aku tak pernah menerima perjodohan ini karena tahu kalau adikku menyimpan rasa terhadapnya, sejak dulu. Tapi, aku pikir karena Zea mencintaiku dan aku bisa berusaha untuk menerimanya sebagai pendamping, tidak ada salahnya kami menikah. Aku tidak ingin membuat bunda dan daddy kecewa. Aku ingin sekali menunjukkan kepada mereka jika aku sudah baik-baik saja tanpamu. Aku tidak ingin melihat mereka khawatir karena aku terus merasa bersalah atas apa yang menimpamu dulu. Apa aku egois, Amanda?"


Di sinilah pria yang biasanya lebih banyak diam tersebut mencurahkan segala rasa yang kini sedang menghinggapinya. Di makam sang kekasih inilah biasanya dia mencurahkan segala keresahan hatinya.


"awalnya aku memang tidak ada rasa sama dia, Amanda. Karena di sini masih selalu penuh nama kamu, aku menerima perjodohan ini karena bunda dan daddy," Nathan menyentuh dadanya sebelum melanjutkan kalimatnya, "Tapi, sebulan terakhir, aku merasakan hal yang berbeda dan entah itu apa. Apa itu cinta, sama seperti rasaku kepadamu, hanya sebatas rasa kagum atau sayang sebagai adik. Entahlah, yang jelas di sini rasanya tetap sesak dan sakit saat aku tahu dia hamil. Dan bodohnya aku sempat tetap ingin menikahinya, meski tahu itu bukan anakku. Apa itu cinta? Kamu marah sama aku, kan Amanda? Karena aku hampir melupakanmu. Maafkan aku, sayang. Andai waktu itu aku datang jemput kamu tepat waktu, pasti kamu masih ada di sisiku," Nathan melepas kaca mata hitamnya lalu mengusap sudut matanya yang sudah menggenang buliran kristal bening.


Kenangan menyakitkan dimana saat dirinya kelas tiga SMA harus kehilangan Amanda, gadis cantik dari panti asuhan tempat orang tuanya menjadi donatur tetap hingga sekaranh. Tak hanya cantik namun juga sangat pintar, bahkan melebihi Nathan kecerdasannya yang mana membuat Nathan jatuh-sejatuh terhadap pesona gadis tersebut. Satu-satunya gadis yang berhasil membuat hatinya bergetar setiap kali ia menatap matanya yang teduh, senyum manisnya dengan lesung pipit menambah debarand di dada Nathan kala menatap gadis tersebut.


Namun, semua impian dan harapan Nathan untuk terus bersama dan bahkan menyunting gadis itu suatu saat nanti harus pupus ketika gadis itu harus pergi untuk selamanya karena menjadi korban pelecehan dan pembunuhan.


Malam itu, Nathan yang seharusnya menjemput Amanda setelah gadis itu selesai mengajar les pada salah satu anak didiknya, datang terlambat menjemputnya. Saat Nathan sampai di rumah anak itu, Amanda sudah pamit pulang. Ia lalu mencari keberadaan gadis tersebut dan akhirnya bertemu dengan keadaan yang begitu mengenaskan di jalan. Nathan langsung membawa Amanda ke rumah sakit, namun gadis itu mengembuskan napas terakhirnya sebelum sampai rumah sakit.


Kejadian itu membuat Nathan sangat terpukul dan merasa bersalah. Andai dirinya datang tepat waktu saat menjemput Amanda, mungkin sampai saat ini Amanda masih baik-baik saja. Sangat sulit untuknya move on dari Amanda. Setelah kematian Amanda, ia menutup hatinya rapat-rapat dari siapapun. Ia merasa hidupnya sebenarnya sudah tak berarti lagi. Sering terbesit di benaknya ingin menyusul gadis itu saja, tapi ia juga masih memiliki tanggung jawab sebagai putra sukung keluarga Osmaro. Ia hanya menghabiskan waktu untuk belajar dan bekerja hingga tercetuslah perjodohannya dengan Zea.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2