
Zio benar-benar menepati janjinya. Ia sama sekali tak mengusik Zea lagi. Ia tak peduli meski Zea melintas di depannya saat hendak pulang.
"Yo, Zea tuh! Kayaknya mau pulang tapi nggak bawa mobil, anterin gih!" Agas yang selalu menjadi kompor enam belas sumbu memang tahu bagaimana perasaan Zio sebenarnya, meski Zio sering mengelak. Bagaimana tidak, mereka bersahabat sejak TK.
"Bukan urusan gue!" sahut Zio. Ia bangkit dari duduknya dan langsung menuju motornya. Bukan untuk memberi tumpangan kepada Zea, melainkan melewati gadis itu begitu saja.
Kembali menjadi Zio yang menyebalkan dan suka iseng sengaja memancing kekesalan Zea. Zea hanya sedikit mendengus saat Zio sengaja menggeber motornya saat, melintas di depannya. Ia sama sekali acuh tak peduli.
Meski sudah berjarak beberapa meter, Zio bisa melihat Zea dari spion motornya. Beberapa saat melirik spionnya, Zio menambah kecepatan motornya menuju ke cafe.
Ia turun setelah motornya terparkir di halaman cafe.
"Wuih, kusut amat muka lo. Kayak habis di putusin pacar aja. Siapa yang bisa buat Lo patah hati? Ah gue tebak, pasti cewek tempo hari kan?" tebak Fero, sang barista cafe begitu Zio mendekat kearahnya.
"Si al lo!" umpat Zio. Ia langsung memakai apron yang sama dengan Fero.
Fero nyengir, "Lihat tuh, para cewek-cewek abege pada lihatin lo! Tinggal lo tunjuk pilih satu, mau yang mana. Nggak usahlah galau-galauan segala!" ucapnya.
"Ck, mulut lo, bang!" sungut Zio.
Fero terkekeh, "Mereka kan kesini sebenarnya cuma buat ngecengin lo, yo. Mereka udah nanyai n dsri yadi kapan lo datang, kapan lo manggung lagi, gue jawab aja tahun depan! Haha!"
Zio masa bodoh dengan ucapan Fero, ia lebih memilih untuk melayani pelanggan yang baru saja datang. Meski dengan perangai dingin, sedingin kulkas enam belas pintu.
" Yo, cewek yang kemarin datang sama lo datang lagi!" ujar Fero di tengah kesibukan mereka sebagai Barista.
Zio langsung menoleh ke arah pintu, sontak saja Fero kembali terbahak melihat respon Zio, "Cepat banget respon lo! Padahal gue cuma bercanda!" ucapnya.
Zio mengembuskan napasnya, "Bisa nggak, bang. Lo nggak usah bahas dia terus," sungutnya.
"Dia siapa maksud lo?" pancing Fero.
"Ya dia, siapapun itu!" sahut Zio.
"Itu siapa?"
"Ya Zea, bang. Siapa lagi, dari tadi gue datang, lo bahas dia terus!" ucap Zio muli menunjukkan kekesalannya.
"Oh, Zea toh namanya," Fero manggut-manggut sembari tersenyum jahil.
"Apa?" tanya Zio.
"Cewek yang bikin lo kusut mukanya gini, Zea kan namanya?"
Zia hanya mendengus tak menyahut.
__ADS_1
.........
Keesokan harinya, Zio tak lagi datang ke kampus. Dan itu sama sekalibtak berpengaruh dengan hidup Zea. Justru ia merasa aman dan damai saat Zio tak nampak batang hidungnya sama sekali. Setidaknya dia tak perlu narik uratnya hari ini karena menahan kesal.
Namun, ketenangan Zea itu tak berlangsung lama, hanya bertahan sehari. Karena di hari berikutnya, saat Zio sedang nongkrong dengan teman-temannya di studio musik yang letaknya tak jauh dari kampusnya, ponselnya berdering. Ia mengisyaratkan kepada teman-temannya untuk berhenti memainkan alat musik.
"Halo, bang. Ada apa?" tanya Zio setelah ia mengangkat panggilan.
"Yo, kamu lagi di kampus nggak?" tanya Nathan dari seberang telepon.
"Nggak, gue nggak ada kuliah hari ini, tapi gue lagi di dekat kamous sih. Kenapa emang?" tanya Zio.
"Berarti hari ini free, kan?" tanya Nathan.
"Hem, katakan!" sahut Zio.
"Abang minta tolong, kamu jemput Zea ke kampus terus kamu antar ke butiknya aunty Adel, ya?" ucap Nathan.
"Kok gue, sih? Lo kan calon suaminya," timpal Zio.
"Abang masih ada meeting penting dan belum selesai, makanya abang minta kamu jemput dan antar Zea ke butik aunty dulu. Nanti abang baru ke sana setelah meeting kelar. Soalnya hari ini jadwal buat ukur baju pengantin," ucap Nathan.
Zio memejamkan matanya sebentar saat mendengar ucapan abangnya tersebut, lalu kembali membukanya," Gue sibuk, bang," ucapnya kemudian. Ia tak ingin berurusan lagi dengan Zea.
"Ayolah, yo! Abang tahu, paling kamu sibuk nongkrong kan sama teman-teman kamu? Bantu abang sekali ini saja. Lagian tempat abang meeting lebih dekat butik aunty daripada kampus kalian. Buat ke kampus kalian, abang harus melewati butik, sekalian kamu yang antar aja, jadi hemat waktu,"
"Abang lebih percaya sama kamu, tolong ya, yo? Abang tutup dulu teleponnya, ntar abang langsung ke butik aunty kalau sudah beres," tanpa menunggu persetujuan Zio, Nathan mematikan panggilannya sepihak.
Zio menghela napasnya kasar, "Gus cabut dulu!" pamitnya langsung pada teman-temannya.
"Kemana, lo?" tanya Agas.
"Kepo lo!" sahut Zio. Ia langsung keluar studio dan menuju kampus.
Tak butuh waktu lama untuk Zio sampai di kampus. Di belakangnya ada taksi yang mengikuti, "Tunggu sebentar, ya pak? Saya cari dulu orangnya!" ucap Zio pada sopir taksi.
"Hai, yo! Kangen!" seru Claudya saat melihat Zio. Ia langsung bergelayut manja di lengan Zio. Namun, seperti biasa Zio menepisnya,"Lo lihat Zea, gak?" tanya Zio.
Claudya langsung cemberut, "Kok malah cari Zea, sih? Cewek kamu kan aku, harusnya aku yang di cari," protesnya.
"Gue ada urusan sama dia, lo tahu dia dimana nggak?"
"Nggak! Kalaupun tahu, ku nggak mau kasih tahu kamu!" ucap Claudya.
"Gue bisa cari sendiri!" sahut Zio. Ia meneruskan langkahnya hingga ke perpustakaan, dan di sanalah ia menemukan Zea
__ADS_1
Zio langsung menarik tangan Zea, "Ikut gue!" ucapnya.
"Apaan, sih. Lepas!" seru Zea, yang mana membuat pengunjung lain menoleh kepadanya. Zea menunduk karena merasa tak enak sudah mengganggu ketenangan.
"Kalau lo nggak mau buat keributan di sini, lo ikurmt aja gue!" ucap Zio setengah berbisik. Brandal-brandal dia tahu aturan. Karena tak mau ribut, Zea manut saja.
"Lepas!" Zea menghentakkan tangannya begitu sampai depan pintu perpustakaan.
"Oh, lo mau gue gendong aja?" ucap Zio santai.
"Nggak sudi" ucap Zea.
"Kakau gitu lo nurut! Kalau bukan karena Bang Nathan yang nyuruh buat jemput dan antar lo ke butik aunty, gue juga ogah!" kata Zio.
"Bang Nathan?"
"Ntar lo tanya sendiri sama orangnya, gue malas jelasin. Yang jelas sekarang lo ikut gue. Kasihan taksinya nunggu kelamaan!"
"Apa sih, nggak jelas!" Zea mengambil ponselnya untuk menghubungi Nathan. Namun tak di angkat. Akhirnya ia terpaksa mengikuti Zio.
"Naik!" titah Zio saat mereka sudah sampai di taksi.
Zea menatap sebal pada Zio.
"Gue nggak mungkin bincengin lo pakai motor gue. Ntar lo alergi kalau naik motor gue! Buruan masuk, gue kawal dari belakang," ucap Zio.
"Nggak perlu!" seru Zea.
"Itu amanah dari abang gue, gue nggak peduli ma pendapat, lo!"
Blam! Zea masuk dan menutup pintu taksi dengan keras sebagai luapan kekesalannya hingga sopir taksi berjengit kaget.
"Yang sopan woi! Kalau marah sama gue, lampiasin ke gue, bukan ke taksinya!" teriak Zio. Dan Zea masa bodoh, "Jalan pak!" titahnya pada sopir taksi.
"Lagi marahan ya, neng sama pacarnya? Dia udah bela-belain cariin taksi loh neng, tak mau eneng naik motor, sangking menjaganya si eneng. Udah atih ngambeknya, kasihan cowoknya," ucap sopir taksi sok tahu.
"Bapak kalau tidak tahu apa-apa mending diam, dan nyupir dengan tenang. Lagian siapa juga yang pacarnya," ucap Zea. Yang mana membuat sopir taksi langsung mengatup.
Sampai di butik auntinya, ternyata Nathan juga baru sampai. Rupanya meetingnya selesi lebih cepat dadi dugaannya.
Zea langsung turun dari taksi dan menghampiri Nathan. Sementara Zio menghentikan motornya tepat di depan Nathan, "Udah gue antar calon istri lo, bang dengan selamat!" ucapnya sambil melirik Zea.
"Thanks ya, yo?" ucap Nathan.
Zio tak menyahut, ia langsung menggeber motornya dan pergi dari sana.
__ADS_1
...----------------...