
Meski hati Zea menolak mentah-mentah, pada kenyataannya pernikahan antara dirinya dan Zio tetaplah harus berjalan.
Tak akan ada pesta meriah seperti rencana pernikahannya dengan Nathan. Pernikahannya dengan Zio kali ini di gelar sangat sederhana. Bahkan, awalnya Zea sama sekali tak mau di make up dan hanya ingin memakai gaun biasa saja yang ia punya.
Hanya akan di lakuian akad nikah saja di kediaman Erlangga sore itu. Tak banyak tamu undangan yang hadir, hanya keluarga inti dari kedua belah pihak saja. Bukan karena para orang tua tak ingin mengundang dan mengumumkan pernikahan Zea dan Zio yang di lakukan secara mendadak ini, namun semua ini memang atas kemauan mempelai perempuan.
Meski dengan berat hati karena sebagai orang tua Senja dan Elang ingin memberikan yang terbaik buat putri mereka di hari pernikahannya namun mereka hanya bisa menuruti keinginan putri sukung mereka tersebut.
Untuk maharpun, Zea sama sekali tak memberikan jawaban apa yang ia inginkan. Gadis itu hanya pasrah saja dengan apa yang akan ia terima sebagai maharnya<. Toh itu juga tak akan membuatnya merasa lebih baik, pikirnya.
Sebagai lelaki sejati, Zio tetap akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Zea. Bahkan ia sama sekali tak mau menerima bantuan dari kedua orang tuanya untuk seserahan. Hal itu membuat kedua orang tuanya ketar-ketir. Khawatir jika Zio memberikan mahar yang ala kadarnya dengan alasan karena Zea tak menentukan apa yang harus ia bawa.
"Apa salahnya menerima bantuan kami, nak? Bagaimanapun kamu juga masih tanggung jawab kami. Mana mungkin kami lepas begitu saja," ucap Syafira.
"Tenang saja bund, Zio akan mengusahakan yang terbaik," ucap Zio menenangkan sang bunda.
Kata-kata Zio tentu tak serta merta membuat Syafira tenang. Pasalnya, ia tak tahu pasti sebanyak apa tabungan yang dimiliki oleh putranya tersebut.
Kekhawatiran Syafira dan Bara semakin menjadi saat seharian ini Zio tak terlihat batang hidungnya. Anak itu menghilang sejak pagi tadi. Padahal sore ini akan di laksanakan akad di kediaman Erlangga.
"Gimana ini mas? Zio belum pulang juga, ini udah hampir sore, udah waktunya kita berangkat," ucap Syafira yang sama sekali tak bisa menyembunyikam kecemasannya.
"Anak itu, selalu saja bikin ulah. Maunya apa, dia yang ngebet pengin tanggung jawab dan itu memang harus, sekarang malah ngilang gini," balas Bara yang sebensrnya tak kalah cemasnya dengan Syafira.
"Ck, Jangan bilang nanti ada drama pengantin pria kabur dan ada pengantin penggantinya, emang Nathan mau gantiin Zio?" celetuk Nala yang langsung di bekap mulutnya oleh Sagara-suaminya.
"Sstt, kamu tuh kalau ngomong. Di saring dulu. Untung Nathannya belum turun. Keadaan udah mendekati gawat gini, jangan buat tambah runyam," peringat Sagara.
"Ih, Gara... Kok galak sih? Udah nggak cibta ya? Udah nggak sayang?" protes Nala.
Sagara hanya mendengus mendengar drama sang istri.
"Garaaaa," rengek Nala.
__ADS_1
"Iya, sayang. Nggak ada yang berubah, masih sama dan malah nambah. Udah jangan bawel! Kasihan tuh daddy sama bunda, lagi pusing. Jangan nambah pening mereka dengan rengekan kamu," ujar SaGara.
Nala manyun, namun ucapan Suaminya barusan mampu membuatnya diam. Bagaimanapun, ia hanya ingin mencairkan suasana. Namun, ia sadar kata-katanya tadi memang tidak tepat.
Nala mendekati Syafira, ia menyentuh kedua bahu sng bunda," Sebentar lagi Zio pasti tiba, bund. Jangan khawatir. Ita semua tahu bagaimana dia, tidak mungkin dia lari dsri tanggung jawab," ucap Nala. Meski sebenarnya ia juga memiliki kekhawatiran.
Tak bisa di bayangkan jika Zio benar-benar lari, akan seperti apa malunya keluarga besar Osmaro kepada Keluarga Erlangga.
" Zio belum datang juga?" tanya Nathan yang baru saja turun. Meski ia masih merasakan sakit yang teramat pada hatinya, namun ia berusaha tegar dan akan menghadiri pernikahan sang adik demi kedua orang tuanya. Ia ingin terlihat baik-baik saja di depan keluarganya. Biarlah luka di hatinya cukup menjadi konsumsinya sendiri kedepannya.
"Belum, coba kamu telepon dia, sayang!" ucap Bara pada Syafira.
"Udah aku coba berkali-kali, mas. Tapi nggak diangkat," jawab Syafira.
"Dia lagi di jalan, sebentar lagi juga sampai," ucap Nathan yang mana membuat semua orang menoleh padanya.
"Dia menghubungimu?" tanya Bara.
Nathan hanya menjawab dengan anggukan. Sebenarnya beberapa saat yang lalu ia sudah menghubungi Zio. Saat tahu kedua orang tuanya begitu khawatir, Nathan tak lantas tinggal diam. Ia mencari tahu keberadaan adiknya tersebut dan sempat memarahinya. Namun, dengan santainya Zio menjawab sedang di jalan.
Bara mengatur napasnya, "cepat kamu bersiap! Kita akan berangkat," ucapnya.
Zio mengangguk dan langsung menuju ke kamarnya.
"Maaf sudah buat kalian khawatir," ucap Zio sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.
Atas perintah sang suami, Nala mengikuti Zio. Ia yakin adik iparnya tersebut butuh bantuan seseorang untuk bersiap.
Saat Zio keluar sudah lengkap dengan blangkon di kepalanya, Syafira langsung berkaca-kaca. Putranya itu terlihat gagah dalam balutan baju pengantin. Ia sama sekali tak terlihat seperti Zio yang suka seenaknya dan slengekan. Auranya begitu keluar dan tampak bercahaya.
"Jangan lihatin Zio kayak gitu, bund. Nanti daddy cemburu!" ucap Zio.
Bukannya menjawab, Syafira malah memeluk Zio, "Anak bunda udah dewasa sekarang. Mulai hari ini, kamu bukan lagi anak kecil bunda, kamu akan memiliki tanggung jawab besar kepada istri dan calon anakmu kelak. Jadilah pria sejati yang selalu memegang teguh janjimu di depan penghulu karena pertanggung jawabanmu nanti langsung kepada Allah," ucap Syafira.
__ADS_1
Zio mengangguk," Doain Zio, ya bund?" ucapnya.
"Pasti," sahut Syafira.
Setelah pelukan Syafira terurai, Zio mendekati Bara. Ayahnya itu tak banyak bicara, ia langsung mendekap sang putra, "Jangn biarkan pengorbanan abangmu sia-sia. Daddy percaya kamu bisa melakukannya," ucapnya dan Zio kembali menganggukkan kepala.
Zio menatap Nathan, orang yang paling terluka di sini.
"Buruan berangkat, udah hampir telat!" ucap Nathan. Ia tak ingin terjadi drama melow sebelum berangkat. Ia sudah berusaha sangat keras untuk menyaksikan acara adiknya sore ini.
.......
Dengan kepercayaan yang mereka berikan kepada Zio dengan datang hanya membawa badan saja tanpa membawa apapun, Syafira dan Bara mengiringi langkah kaki sang putra memasuki kediaman Erlangga.
Elang dan Senja menyambut kedatangan calon besan mereka ramah. Meski sempat terjadi ketegangan di antara mereka kemarin-kemarin, namun kini mereka sudah ikhlas menerima takdir.
Syafira dan Bara terkejut melihat seserahan yang di bawa oleh orang-orang yang di di tugaskan oleh Zio untuk membawa seserahan yang sudah ia siapkan. Semuanya barang-barang kesukaan Zea dan semuanya dengan brand terbaik.
"Adiku habis ngerampok di mana, Gara?" bisik Nala yang juga tercengang melihat orang-orang hilir mudik membawa seserahan.
"Jangan-jangan jual ginjal?" balas Sagara.
"Ih serem. Tapi benar juga, seharian dia ngilang. Tahu-tahu bawa barang sebanyak dan semewah ini. Aduh mau berpikir positif kok jadi susah! Takutnya dia jual diri atau jual Narkoboy!" celoteh Nala.
Syafira yang mendengar bisik-bisik putrinya langsung menyenggol lengan Bara," Mas... "
" Nanti akan mas cari tahu, tenanglah dulu," balas Bara menenangkan sang istri. Hanya Nathan yang tampak tidak terkejut dengan semua itu. Terlihat dari datarnya ekspresinya saat ini.
Yang lebih mengejutkn lagi, bukan hanya seserahan itu, namun juga mas kawin yang di berikan oleh Zio. Satu set berlian yang terlihat minimalis namun begitu elegan sesuai karakter Zea dan juga sejumlah uang yang banyak nominalnya.
Rupanya, Zio menghilang seharian ini untuk mempersiapkan semua ini.
Zea yang mendengar Zio menyebutkan mas kawinnya saat akad, juga sangat terkejut. Ia langsung menoleh pada pria yang duduk di sebelahnya mengucapkan ijab qabul dengan begitu tenangnya.
__ADS_1
...****************...