One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 16


__ADS_3

Nathan menyapa Zio dengan mengangkat tangannya sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Zea.


Tatapan Zae dan Zio bertemu beberapa detik dari jarak yang cukup jauh. Keduanya sama-sama memasang wajah datar mereka. Zio menyambar tas ranselnya lalu memilih pergi dari sana dulan. Sementara Zea langsung melakukan hal yang sama.


Saat Zea berjalan menuju kelasnya, tanpa ia sadari Zio mengikutinya.


"Kenapa chat gue nggak lo balas?" tanya Zio tiba-tiba.


Zea terkejut karena Zio sudah berjalan di sampingnya.


"gue bukan Se tan. Lo nggak perlu segitu terkejutnya!" ucap Zio dingin.


Zea acuh, ia sama sekali tak menggubris pria yang berjalan di sampingnya tersebut.


"Lo budek ya? Atau mendadak gagu?" Zio sengaja Memantik kekesalan Zea dan berhasil, gadis itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap Zio dengan tajam,


"urus aja kuliahmu, biar bisa lulus tepat waktu! Kalau datang ke kampus cuma buat tanya itu ke aku, percuma!" ucap Zea.


"Segitu perhatiannya lo sama gue," ucap Zio yang mana membuat Zea semakin gemas rasanya.


"Lo belum jawab pertanyaan gue! Kenapa lo nggak balas chat gue? Lo sengaja ngindarin gue?" tanya Zio.


Zea kembali menatap pria tersebut, jari telunjuknya menuding ke arah muka Zio siap mengumpat.


"Apa?" ucap Zio lembut, tangannya menggenggam jari telunjuk Zea tersebut.


Zea langsung tercekat saat matanya menatap mata Zio. Sorot mata yang sama seperti malam itu.


Zea langsung mundur selangkah. Tangannya ia tarik paksa dari genggaman Zio.


"Kita nggak seakrab itu, jadi nggak ada urusan kenapa aku harus balas chat kamu," ucap Zea lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Zio masih mengikuti Zea,"Tentu saja kita masih ada urusan. Gue bukan pengecut yang bisa lari gitu aja dari tanggung jawab. Apa yang kita lakukan malam itu...."

__ADS_1


Belum selesai Zio bicara, Zea langsung membungkam mulutnya dengan tangan kanannya, lalu menarik tangan pria itu hingga ke tempat yang sepi, "Kamu gila? Ini di tempat umum, kalau ada yang dengar gimana? Pasti mereka salah paham," ucapnya, ia celingak celinguk ke sekitar, takut jika ada yang mendengar ucapan Zio.


Zio tak peduli dengan ucapan Zea, "Mumpung abang gue udah balik, gue bakal bilang sama dia. Perkara dia mau nerusin nikah sama lo setelah tahu apa yang kita lalui malam itu, gue nggak masalah, tapi kita harus jujur di awal, biar nanti lo nggak kena masalah kedepannya. Gue..."


"Stop, yo! Stop! Aku nggak mau dengar apapun!" sentak Zea matanya berkaca - kaca.


"Ze..." Zio berusaha memelankan suaranya.


"Aku nggak nuntut apapun dari kamu, yo. Aku hanya minta, jangan pernah ungkit kejadian paling memalukan dan menjijikkan itu. Dan aku minta, biarkan aku kembali hidup normal tanpa ada bayang-bayang malam itu lagi. Kamu pun begitu. Jalani hidup kamu tanpa menggangguku lagi," ucap Zea.


" Apa lo pikir, abang gue bisa nerima lo gitu aja kalau tahu lo udah nggak... " Zio tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Kata sudah tak perawan tentu sangat sensitif bagi perempuan.


"Biar itu jadi urusanku nanti," timpal Zea cepat.


Ya, mungkin Zea akan jujur kepada Nathan setelah mereka resmi menikah nanti. Ia tahu, cara itu salah, setelah terikat barulah ia akan jujur. Itupun jika Nathan mempertanyakannya. Jika tidak, maka Zea memilih diam dan menguburbya sendiri. Ia benar-benar tidak sanggup dan tidak siap jika Nathan tahu kebenarannya sekarang. Ia tak ingin kehilangan pria itu.


"Tapi, Ze..."


Zio seperti kehabisan kata-kata untuk bicara. Ia mengepalkan tangannya. Memejamkan kedua matanya beberaa detik sembari menghirup oksigen, lalu kembali membuka matanya," Baik kalau itu mau lo! Setidaknya gue udah beriktikad baik sama lo!" ucapnya kemudia dengan nada dingin.


"Terima kasih, kamu udah mau mengerti," ujar Zea.


"Calon laki lo ke sini, sebaiknya lo hapus air mata lo sebelum dia curiga!" ucapan Zio tak langsung bisa di cerna oleh Zea. Pasalnya mereka sebelumnya membahas apa, dan Zio barusan bicara apa.


"Ze.... Jangan sampai gue yang usap air mata lo," peringat Zio tanpa membuka mulutnya.


"Bang," ucap Zio bersikap biasa saja, saat Nathan semakin dekat. Barulah Zea sadar. Ia langsung mengerjap dan mengusap sudut matanya cepat-cepat. Lalu menoleh ke arah mata Zio menatap dimana calon suaminya itu semakin dekat.


Nathan tersenyum, " Ponsel kamu ketinggalan tadi di mobil, makanya abang putar balik. Di cariin ternyata di sini," ucapnya sambil menyodorkan ponsel milik Zea kepada pemiliknya.


"Maaf jadi ngerepotin abang," sahut Zea canggung.


Nathan hanya mengangguk sembri tersenyum lalu menatap Zea dan Zio bergantian. Keningnya langsung mengernyit, "Kalian...." kalimat Nathan menggantung penuh curiga.

__ADS_1


Zea gelagapan, takut jika Nathan curiga


"Nggak sengaja berpapasan tadi pas gue mau ke toilet," ujar Zio beralasan.


"Oh.. Nggak sengaja. Abang kira kalian udah akur," ucap Nathan tersenyum menggoda.


"Ck, mana ada akur. Dia tuh udah ilfil banget sama gue," Zio melirik Zea.


"Makanya jangan kamu godain terus biar nggak makin ilfil," Balas Nathan.


"Karena makiannya, hiburan buat gue. Dah gue cabut!" ucap Zio, matanya sedikit melirik Zea yang terlihat tegang meski gadis itu berusaha bersikap santai.


"Kuliah yang rajin, yo! Biar cepat lulus bisa bantu abang dan daddy. Jangan jahilin Zea terus, kasihan dia," ucap Nathan.


Zio hanya tersenyum tipis, "Lo bisa handle semuanya, tanpa gue Bang," ucapnya lalu memutar badan dan melangkah menjauhi Nathan dan Zea.


Nathan mendengus, "Ntar malam makan malam di rumah, sejak abang pulang kamu keluyuran mulu!" seru Nathan.


"Gue usahain!" timpal Zio tanpa menoleh. Tangannya meremat kuat tali tas ranselnya.


"Abnag pergi sekarang, ya?" pamit Nathan kepada Zea.


Zea mengangguk, "Makasih ponselnya," ucapnya.


"Abang cuma anterin ke sini, bukan ngasih hape. Kok makasih,"


Zea nyengir, "Ya kan abang jadi kebuang waktunya cuma buat bolak-balik ke sini," ujar Zea.


"Nggak masalah, pamit ya?"


Zea mengangguk dan hanya menatap datar Nathan yang sudah langsung meninggalkannya begitu saja.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2