One Night Mistake With Calon Ipar

One Night Mistake With Calon Ipar
Chapter 9


__ADS_3

Zio mengendarai mobilnya menuju ke kediaman Zea. Sesampainya di rumah gadis itu, ia di sambut dengan wajah cemberut dan masam. Pasalnya, Zea sudah menunggunya sejak setengah jam yang lalu.


Baru turun dari mobilnya, Zio langsung terpesona melihat kecantikan Zea yang tak ubahnya bidadari di matanya," Kenapa harus dandan cantik-cantik, sih?" batinnya.


"Sory, gue nggak tahu kalau lo mau bareng gue. Gue aja lupa kalau Clody ulang tahun malam ini kalau nggak diingatkan bunda," jelas Zio.


"Bukan aku yang mau bareng sama kamu, tapi daddy yang nyuruh!" ucap Zea. Ia heran, bukankah claudya ceweknya, kenapa bisa sampai lupa sama ulang tahunnya. Benar-benar nih cowok satu!


"Daripada waktu lo habisin buat ngomel sama gue, mending kita berangkat sekarang," kata Zio.


"Aku bawa mobil sendiri!" seru Zea saat Zio hendak membukakan pintu mobil untuknya.


"Terserah!" sahut Zio yang langsung merapatkan kembali pintu mobilnya.


Saat hendak masuk ke mobilnya, Zio melihat Elang keluar. Ia tak jadi masuk dan mendekati pria itu.


"Malam om, Maaf, saya terlambat jemput Zea," ucapnya sopan.


Elang mengangguk paham, "Titip Zea, ya yo?" ucapnya.


Zio mengangguk lalu pamit.


Mobil Zea melaju di depan mobil Zio hingga sampai ke tempat dimana acara ulang tahun claudya di rayakan.


Ini kali pertama Zea menginjakkan kakinya di pub. Rasanya aneh sekali meski di sana banyak teman-teman yang ia kenal. Kakinya ragu untuk melangkah masuk.


Sedangkan Zio yang tak langsung masuk karena bertemu dengan Agas yang juga baru datang. Ya, meski tak seangkatan dengan Claudya, namun teman-teman dekat Zio juga diundang.


"Lo nungguin gue?" tanya Zio saat melihat Zea belum juga masuk ke dalam.


"Nggak, aku nunggu Miranda!" sahut Zea.


"Oh, yaudah. Kirain mau bareng gue masuknya," sahut Zio datar. Ia Melenggang masuk begitu saja.


Zea mendengus, sebenarnya ia tak menunggu Mira. Tapi, terlalu gengsi untuk mengakui jika ia menunggu Zio.

__ADS_1


"Zio tunggu!" Zea segera menyusul Zio dan Agas. Zio hanya menoleh dan melanjutkan langkahnya, "Kalau lo nggak yakin, pulang aja. Tempat ini nggak baik buat lo!" ucap Zio sambil terus berjalan.


"Aku cuma menghargai Claudya sebagai teman aja," ucap Zea.


"Emang dia anggap lo teman?"


Zea tak menjawab. Siapapun tahu mereka tak sedekat itu. Bahkan Claudya sering memusuhinya tanpa sebab. Mungkin karena kalah pamor dari Zea yang hanya diam saja mampu menarik perhatian para cowok di kampus. Sedang Claudya, sudah berpenampilan maksimal, masih saja kalah.


Claudya yang melihat 'kekasihnya' datang langsung menghampiri Zio, "Aku kira kamu nggak bakal datang. Aku udah nungguin dari tadi," ucap Claudya yang mengabaikan keberadaan Zea dan Agas.


Zio hanya tersenyum tipis, "Sory, gue nggak bawa apa-apa buat..."


"Eh ini kado dari Zio!" Zea menyodorkan kado yang ia bawa. Ia tahu, daripada menerima hadiah atas nama dirinya, Claudya akan lebih senang dan menghargai jika mengira kado itu dari Zio.


Zio langsung menatap tajam Zea. Ia tak suka dengan apa yng dilakukan gadis itu.


"Makasih, yo!" Claudya langsung menyambar kado di tangan Zea tersebut dengan sewot, "Beralih jadi babu cowok gue, lo? Pantas sih, jadi kacung!" ucap Claudya.


"Claudya!" bentak Zio dengan suara keras.


Semua orang yang berada dekat dengan mereka langsung menoleh ke arah mereka saat mendengar bentakan keras Zio.


"Happy birth day, Claudya. Hadiah dari gue doa terbaik aja buat lo! Semoga lo segera insyaf!" ucap Agas yang langsung ngeloyor pergi sebelum di cium memakai high heels yang Claudya kenakan.


"Itu bukan kado dari gue, tapi dari Zea, sory gue nggak bawa apa-apa. Lain kali, jaga mulut, lo Di!" ucap Zio penuh penekanan setelah Zea dan Agas pergi.


Claudya tampak kecewa. Ia ingin sekali melempar kotak yang di hias sangat cantik di tangannya tersebu, tapi bisa-bisa Zio marah, "Nggak apa-apa, yo. Kedatangan kamu ke sini aja udah jadi kado terindah malam ini. Aku simpan ini dulu, ya?" ucapnya.


Zio hanya mengangguk. Ia memilih duduk menyendiri di salah satu sofa mengamati Suasana pesta yang benar-benar membosankan baginya.


Tak lama kemudian Claudya duduk di sampingnya," Gimana, yo pestanya? Seru kan?" ucap Claudya yang siap bergelayut manja di lengan Zio. Namun, Zio tak menanggapinya. Pandangannya fokus pada sosok yang paling menarik perhatian para tamu di sana, yaitu Zea. Gadis itu tampak tak nyaman dengan dentuman suara musik yang sangat keras. Bahkan mereka sampai harus sedikit berterik saat bicara.


"Yo! Kamu lihatin apa, sih? Dari tadi aku ajk bicara nggak nyahut! Jangan buat mood aku jelek deh di hari spesial ini!" protes Claudya.


"Sory, gue gak dengar lo ngomong apa tadi? Musiknya terlalu kencang!" ujar Zio beralasan.

__ADS_1


Claudya hanya mendengus sebal. Ia tahu kemana arah pandangan Zio sejak tadi, "Aku tinggal sebentar, mau nemuin teman yang baru datang," pamitnya kemudian. Daripada duduk di sana tapi seperti kambing congek.


"Hem," Sahut Zio mengangguk.


Zio kembali ke fokusnya semula. Beberapa temen laki-laki terlihat mendekati Zea untuk mengajak gadis itu berjoget sembari menikmati musik. Zio beberapa kali mengepalkan tangannya melihat pemandangan itu. Untung saja, Zea selalu menolak mereka.


Tiba-tiba Agas datang dan membisikkan sesuatu kepada Zio. Setelahnya langsung pergi dan kembali bergabung dengan teman lainnya.


Baru saja Zio mengalihkan pandangan dari Zea beberapa saat, gadis itu kini terlihat sudah mengobrol dengan salah satu temannya yang berjenis kelamin laki-laki. Laki-laki itu hanya mengajak Zea, Mira dan lainnya mengobrol. Tapi, terlihat jelas dari gesturnya kalau laki-laki itu menyukai Zea. Ah, siapa memang yang tak terpesona dengan Zea. Mungkin Ziopun masuk dalam list itu. Mungkin loh, ya...


Seorang pelayan datang membawakan minum untuk Zio. Namun, Zio tak meminumnya. Ia membiarkan saja gelas berisi cairan bening itu di depannya. Ia justru mengambil minuman lain.


Semakin malam, acara tersebut semakin ramai. DJ berbaju kurang bahan semakin kencang memainkan musiknya. Para tamu semakin larut dalam suasana pesta tersebut.


Sementara Zio masih memantau Zea yang kini sudah berganti mengobrol dengam temannya yang lain. Yang berjenis kelamin laki-laki. Padahal mereka hanya mengobrol biasa, tapi entah kenapa Zio merasa kesal melihat calon kakak iparnya tersebut tersenyum bahkan tertawa bersama temannya tersebut. Padahal tak hanya Zea, melainkan beberapa temannya yang lain.


Zio bangkit dari duduknya lalu menghampiri Zea, "Ikut gue!" ucapnya sembari menarik tangan Zea.


Zea yang kalah tenaga hanya bisa pasrah melangkah mengikuti Zio. Zio mengempaskan tangan Zea begitu mereka sampai di kursi yang sejak tadi di duduki Zio seorang diri karena Claudya malah asyik berjoget dengan teman-temannya.


"Lo ganjen banget, sih? Sengaja dandan cantik buat narik perhatian mereka?" sindir Zio, matanya menatap tak suka pada ara lelaki yang menatap ke arah Zea.


"Apa sih, orang biasa aja!" timpal Zea. Ia yang memang sejak tadi belum minum dan terus mengobrol, merasa haus melihat ada air putih yang masih utuh di meja.


"Ini belum kamu minum, kan? Buat aku aja, ya?" ucap Zea minta ijin.


"Minum aja!" ucap Zio.


Zea yang memang sudah haus langsung mengambilnya dan langsung menenggaknya sampai habis.


"Ze..." Zio ragu antara ingin mencegah Zea minum, atau membiarkannya.


"Aneh rasanya!" ucap Zea setelah menghabiskan air itu.


Zio terus memeprhatikan Zea setelah minum. Beberapa saat kemudian, ia melihat gelagat aneh pada Zea.

__ADS_1


"Ze, kenapa?"


...----------------...


__ADS_2