
Dandelion.
Dia tak bermahkota dan tak semerbak seperti bunga lainnya. Tapi dia punya keindahan tersendiri. Dia menjadi istimewa karena keunikannya sendiri.
Beberapa orang menyebutnya bunga rumput. Mereka tumbuh dimanapun tanpa memilih. Mereka akan tumbuh dengan cantik. Entah ladang rumput yang luas atau bahkan di celah bebatuan.
Namun, hanya sesaat setelah mereka mekar, angin akan membawa mereka ke tempat baru. Apa mereka pernah mengeluh? Tidak. Mereka membiarkan angin membawa mereka meski mereka tak pernah tau ke mana mereka akan pergi. Entah itu padang rumput hijau ataukah padang gersang. Mereka tak pernah tau.
Bunga yang anggun. Lihatlah saat angin membawa mereka dan terbang bertebaran seakan menuju langit. Sangat cantik. Mereka terbang seolah mereka sedang berbahagia dan pergi tanpa beban. Percaya bahwa kemanapun mereka pergi, mereka akan tumbuh cantik dan bahagia. Selalu seperti itu. Sungguh sederhana.
Dia terlihat rapuh dan lemah. Tapi dia bunga yang kuat. Mereka tetap utuh saat angin membawa mereka dan tumbuh di tempat lain. Sungguh luar biasa.
...****************...
Perkenalkan, Aku Olivia Sudira. Aku sangat menyukai Dandelion. Karena aku percaya jika kemanapun aku pergi, aku akan bisa mencapai sesuatu. Seseorang selalu bisa sukses seiring langkah membawanya. Tentu dengan usaha dan perjuangan yang mungkin tidak mudah. Tapi aku percaya jika usahaku akan membuahkan hasil suatu hari nanti. Seperti saat dandelion pergi dan tumbuh ditempat lain. Dia akan selalu bisa berbunga. Dia akan menjadi indah dimanapun dia tumbuh.
Seperti dandelion yang sering dianggap sebagai rumput pengganggu, dia mungkin tak sempurna tanpa kelopak dan aroma. Tapi tidakkah dia tetap indah? Jadi aku merasa jika seseorang tak perlu mendengarkan ucapan orang yang menghinamu. Karena kamu istimewa dengan caramu sendiri. Tetaplah kuat apapun yang terjadi. Tetaplah tersenyum walau harimu berat.
...****************...
"Apakah kamu tau apa arti bunga ini?" aku bertanya pada sosok di hadapanku yang kini tengah sibuk merekam dengan kamera di tangannya. Dia adalah kekasihku, Sultan.
"Apa?" tanyanya tapi tetap sibuk dengan kameranya. Dia mengatakan padaku jika hari ini dia menginginkan kencan istimewa sesaat sebelum keberangkatanku untuk menimba ilmu dinegri asing.
"Harapan,cinta,kebahagiaan,keceriaan dan kesetiaan." aku menjawab dengan sebuah senyuman dan mengarahkan setangkai dandelion di depan lensa kameranya.
"Benarkah?" tanyanya seakan tak percaya.
"Hmm.. Itu yang kudengar dari Mama dan aku mempercayainya. Lihatlah." aku meniup dandelion di tanganku hingga berhamburan dan terbang. "Cantik sekali." Aku tersenyum menatap dandelion yang terbawa angin.
__ADS_1
"Hmm.. Cantik." jawab pemuda itu.
Dia mulai mengalihkan tatapannya dan tersenyum padaku.
"Aku tidak tau apa itu benar. Tapi aku ingin mempercayainya. Harapan tentang cinta, kebahagiaan dan kesetiaan." kukatakan untuk meyakinkan jika aku akan setia padanya meski jarak akan membentang di antara kami.
"Aku akan jadi dandelionmu. Yang menjadi harapan,cinta,kebahagiaan dan kesetiaan untukmu. Aku akan mencintaimu dan setia sampai kamu kembali. Dan saat itu tiba,mari berbahagia bersama." ucapnya dengan senyumnya yang menawan. Senyuman itu terbingkai manis dalam wajahnya yang tampan. Pria yang kucintai karena sikapnya yang manis dan perhatian.
"Benarkah?" tanyaku memastikan seakan tak percaya padanya. Meski aku tau, dia pemuda yang setia. Karena ini bukanlah perpisahan pertama kami. Sebelumnya kami juga sempat terpisah karna sama-sama melanjutkan pendidikan di tempat berbeda yang sangat jauh. Dan aku akan pergi untuk kedua kalinya.
"Hmm.. I promise. Trust me." jawabnya penuh keyakinan.
...****************...
Dua tahun kemudian..
Perancis
"Hmm.. Dandelion." jawabku berdiri di sampingnya.
"Liv.. Apa maknanya masih sama?" Sultan melepaskan tatapan dari bingkai di sana dan menatapku.
"Hmmm. Sebuah harapan tentang cinta,kesetiaan dan kebahagiaan. Dan juga kerinduan." jawab ku dengan senyum membalas tatapannya yang kian hangat.
"Sungguh?" Dia sahabatku yang bertanya, Mikaela. "Tan. Kamu percaya?" tanyanya lagi.
"Mika. Sudahlah. Mereka punya sudut pandang sendiri tentang itu. Semua orang berhak menentukan keinginan dan harapan mereka masing-masing." Dia saudara sepupuku. Gilang. Dia adalah kekasih Mikaela.
"Kak Gilang benar. Semua orang punya harapan dan tujuan masing-masing. Dan di antara semua tujuan yang dimiliki,semua tujuan yang mereka miliki hanya satu. Mereka hanya ingin bahagia." jawabku.
__ADS_1
"Kamu benar. Dan kebahagiaan akan datang di saat yang tepat." Sultan menatapku dengan tatapan sendu tapi bibirnya tersungging senyuman. Aku tau pria ini sedang rindu. Ini pertemuan pertama kami setelah dua tahun lamanya hanya berkomunikasi melalui sambungan telpon ataupun video. Hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Dan kami sudah melewatinya lebih dari enam tahun lamanya.
"Aku percaya bahwa semua orang berhak bahagia dengan cara mereka sendiri." ucapku.
"Ya. Kuharap waktu untuk kita akan segera tiba. Aku membutuhkanmu di sisiku. Segeralah kembali." ucapnya membelai lembut rambut panjangku dengan senyuman dan tatapannya yang teduh.
"Bulan depan aku akan pulang dan nggak pergi lagi. Aku akan segera kembali." jawabku tersenyum. Aku menjanjikan itu untuknya. Ya, itu memang rencanaku.
...****************...
Hingga semuanya berantakan sejak aku kembali menapakkan kakiku di tanah kelahiranku. Impian yang dengan susah payah kudapatkan berada dalam genggaman. Tapi nasib cintaku bagai dandelion yang terbawa angin.
"Papa akan menikahkan kamu dengan Shaka. Dan Sultan akan menikahi Felicia." ucapan itu menggema memenuhi ruang telinga. Tanpa teriakan, namun sanggup membuat dentuman hebat di telinga menuju hati dan seperti direspon lambat oleh otak.
Sekian menit aku terdiam tanpa suara, tanpa gerakan dan bahkan tanpa airmata. Tapi bisa kudengar dengan jelas jika kekasihku akan menikahi adikku dan aku harus menikah dengan adik sahabatku yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Seorang pemuda yang berusia lebih muda empat tahun dariku dan saat ini bahkan masih berstatus sebagai mahasiswa dimana aku akan segera menjadi pengajar di sana. Ingin rasanya aku menangis, tapi itu tidak kulakukan. Atau mungkin stok airmataku memang sudah habis sejak perdebatanku dan kedua orang tuaku sebelumnya.
Aku menarik nafasku dalam seakan menarik seluruh pasukan oksigen di dunia hingga dadaku terasa nyeri lalu menghembuskannya dengan kasar seakan seluruh beban di dadaku akan menguap bersama udara yang keluar dari rongga dada ini. Namun sialnya, mereka tetap di sana. Rasa sakitnya tetap menghujam bak pisau tak kasat mata yang tertancap dan membuat luka menganga di sana. Sayangnya tak ada darah yang mampu menunjukkan seberapa besar luka dan rasa sakitnya.
"Jadi bagaimana keputusan kalian?" tanya Papaku kembali.
"Aku akan menikah dengannya." Felicia menjawab demikian. Rasa sakitku bertambah. Adikku tau jika Sultan adalah kekasihku dan dia bersedia menikah dengannya. Tidakkah dia menyadari segala konsekuensi menikahi seorang pria yang tidak mencintainya? Aku tak mengerti apa yang sedang dia pikirkan.
"Aku juga akan menikahinya. Aku akan bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi meski ini hanyalah kesalah pahaman." Shaka berucap demikian. Pemuda yang kuanggap sebagai adikku itu bersedia menikah denganku. Aku tak mengerti jalan pikirannya. Meski aku tau jika dia pemuda yang baik, tapi hatiku menolaknya. Dan entah kenapa ucapannya membuat airmataku luruh dan kemudian memejamkan mata sesaat dan berharap semua adalah mimpi.
"Anda membuatku seperti seorang kriminal yang menodai seorang gadis. Jika anda ingin aku menikah dengannya, aku akan melakukannya. Tapi jangan berharap jika aku akan bisa mencintainya." ucapan itu membangunkanku dan membuatku kembali membuka mata. Kalimat persetujuan dari kekasihku untuk menikahi adikku dengan lontaran kalimat dinginnya. Membuat hatiku terasa nyeri. Aku bisa merasakan penolakan yang besar di hatinya. Seperti Sultan yang dikatakan kebanyakan orang. Sultan yang dingin dan antipati pada perempuan sebelum mengenalku. Tak lagi kurasa ada kehangatan dalam suara itu yang biasa manis ditelingaku. Dan itu membuatku takut jika dia akan melakukan hal yang di luar kendali.
"Sultan sudah setuju. Hanya Olivia yang belum menjawab." ucapan Mama terdengar mengintimidasi. Tidak tahukah dia jika aku sedang terluka? Ya, memang Mama tak begitu banyak tau tentang hubunganku dan Sultan. Karena aku tak pernah memberitahukan hubunganku padanya. Karena dia tak begitu ingin tau tentangku kecuali keinginannya yang selalu berharap aku berada di luar negri untuk belajar dengan alasan kebaikanku. Hal yang selalu berhasil membuatku merasa diasingkan dari keluarga sendiri. Dan hari ini, dia membuat semua semakin nyata jika dia tak menyayangiku sebagai anaknya.
Saat itu aku baru menyadari jika hari ini, dandelionku benar-benar terbawa angin. Tanpa tau apa dia akan bisa kembali. Tanpa tau kemana angin akan membawanya. Dan tak tau apakah dia akan bisa tumbuh di tempat baru. Hari ini, cintaku menjadi dandelion yang terbawa angin.
__ADS_1
Aku tak tau. Bagaimana nasib cinta kami akan berlanjut? Apakah aku benar-benar harus merelakan? Ataukah aku masih bisa berjuang?