
Pagi-pagi sekali Olivia dan Felicia sudah bangun dan pergi ke dapur. Ini adalah hari pertama mereka berada dalam rumah keluarga suaminya dan hari pertama sebagai menantu. Seperti yang mereka duga, mereka melihat ibu mertuanya kini tengah sibuk membuat sarapan di dapur. Di rumah mereka masing-masing tentunya.
"Bu. Apa ada yang bisa dibantu?" tanya Felicia pada ibu mertuanya yang sedang sibuk memotong sayur ditemani nenek dan seorang asisten rumah tangga.
Mertuanya itu tersenyum melihat menantunya pagi-pagi sekali sudah bangun dan pergi ke dapur. "Kamu udah bangun? Kamu bisa masak?" tanyanya. Sementara sang nenek hanya diam memperhatikan.
"Jujur saja Feli belum pernah belajar masak bu. Di rumah kita pakai asisten rumah tangga." jawab Felicia.
"Ah. Begitu? Kamu bisa belajar nanti pelan-pelan." ucap Rahma.
"Perempuan kok ndak bisa masak? Piye to? Harusnya sebelum nikah, harus belajar dulu jadi istri yang baik. Biar suaminya betah." ucap Nenek Nani.
Felicia terlihat merasa bersalah dan tak nyaman dengan ucapan sang nenek mertua. Namun gadis itu hanya bisa menahannya.
"Bu. Nanti kan bisa belajar pelan-pelan." tegur Rahma pada ibunya yang dibalas dengusan oleh nenek Nani.
____________
Sementara Olivia pergi ke dapur menemui ibu mertuanya yang hanya sendirian di dapur. "Tante. Ada yang bisa dibantu?" tanyanya.
Farida tertawa mendengar cara Olivia memanggilnya dan membuat Olivia bingung kenapa mertuanya itu tertawa. Memang benar,dia sudah terbiasa memanggil seperti itu sejak lama. "Liv. Jangan memanggil tante lagi dong. Oke? Sekarang panggil, Mama." ucapnya menekankan kata Mama.
"Ah. Maaf tante. Eh, Ma." ucap Olivia merasa bersalah. Dia baru ingat jika wanita itu kini jadi ibu mertuanya.
"Biasakan ya." ucap Farida. Olivia mengangguk. "Apa yang bisa kamu masak?" tanyanya.
"Sejujurnya Oliv nggak pandai masak masakan rumahan ala Indonesia Ma. Oliv cuma bisa masak pasta karena belajar dari teman selama di luar negeri." jawab Olivia jujur.
"Nggak masalah. Kamu bisa belajar pelan-pelan. Shaka makan apa aja kok. Dia nggak rewel soal makanan." ucap Farida.
"Ah. Gitu? Omnivora? Pemakan segala?" tanya Olivia yang membuat Farida tertawa keras dengan candaan menantunya. "Oliv juga bisa membuat pastry dan dessert. Oliv pernah ambil kelas untuk ngisi waktu luang." lanjut Olivia yang tiba-tiba antusias.
"Itu bagus. Suami kamu bakal senang kalau kamu buatin buat dia." ucap Farida.
Rasanya sangat aneh mendengar kata suami bagi Olivia. Selama ini dia hanya menganggap Shaka sebagai adik karena dia juga adik sahabatnya. Dan kini dia jadi suaminya.
Sementara Felicia masih diajari memasak oleh mertuanya. Wanita itu hanya tersenyum melihat menantunya sangat antusias belajar.
Saat itu Sultan keluar dan melihat Felicia di dapur bersama ibunya. Pria itu hanya menoleh sekilas dan pergi keluar rumah untuk pergi joging. Dia memang mengharapkan jika dia akan menikahi wanita yang bisa dekat dengan ibu dan adiknya. Secara, dia sangat menyayangi ibu dan adiknya. Tapi,dia berpikir jika Olivia akan bisa melakukan itu. Terlebih dekat juga dekat dengan Nimas,sang adik. Ini sungguh diluar ekspektasinya.
"Maaf. Tapi, aku belum pernah ketemu dengan Nimas. Tidak di rumah Bu?" tanya Felicia.
"Dia pergi ke Tokyo seminggu yang lalu bersama bibinya. Hari ini dia pulang. Dia pasti senang ketemu kamu. Kalian seumuran." jawab Rahma.
"Kuharap begitu. Kami belum pernah ketemu meski kuliah di Universitas yang sama. Aku hanya denger aja dari kak Oliv." ucap Felicia.
Rahma hanya tersenyum menanggapi ucapan Felicia. Sejujurnya semua berpikir jika Sultan mungkin akan menikahi Olivia namun kini dia menikahi adiknya. Kenyataan ini masih terasa aneh. Cukup lega jika Felicia adalah gadis yang ramah dan sopan. Sepertinya dia juga gadis yang baik. Itulah yang Rahma pikirkan saat ini. Tentu dia juga berharap bahwa dia akan jadi pasangan terbaik untuk putranya. Meski sebelumnya dia masih merasa aneh karena sudah mengenal Olivia lebih lama dan bahkan pernah bepergian bersama.
"Oliv siapa? Olivia temannya Sultan?" tanya Nenek Nani memperhatikan Felicia.
"Iya Bu. Felicia ini adiknya Olivia." jawab Rahma.
"Beda." ucap nenek Nani. Entah apa yang beda menurutnya. Karena setelah berucap, dia beranjak meninggalkan dapur. Felicia menunduk sedih karena merasa dibandingkan. Gadis itu mulai merasa bersalah pada sang kakak yang seringkali dibedakan oleh sang ibu. Ternyata itu menyakitkan.
______________
Sementara Farida sibuk memasak dan Olivia membuatkan dessert. Olivia hanya diam karena masih merasa canggung berbincang dengan mertuanya. Meski mereka sering berbicara dan bahkan melempar candaan. Tapi saat ini sungguh berbeda.
"Shaka belum bangun?" tanya Farida.
__ADS_1
"Kayaknya dia masih tidur. Semalam dia tidurnya larut." jawab Olivia masih fokus dengan dessert buatannya.
Farida tersenyum mendengar jawaban Olivia. Sepertinya mertuanya itu salah mengartikan ucapan menantunya. Tidur larut dengan sebuah hal yang biasa dipikirkan oleh orang dewasa setelah menikah.
"Aku di sini. Aku udah bangun dari tadi. Mama aja terlalu seru sampai nggak tau aku lewat. Aku juga udah berolahraga. Aku juga denger dikatai Omnivora." jawab Shaka yang rupanya sudah selesai olahraga. Tubuhnya sudah penuh dengan keringat. Olivia hanya menoleh sekilas melihat Shaka dengan tawa tertahan melihat raut wajah tak bersahabat Shaka yang sepertinya kesal disebut Omnivora.
Farida tertawa. "Omnivora. Bener sih manusia Omnivora." ucapnya. "Udah, mandi sana. Bentar lagi kita sarapan. Bangunin kakak kamu juga." perintah Farida.
"Nggak perlu dibangunin. Aku udah mandi dan udah cantik." jawab Mikaela baru saja menuruni tangga. "Tumben banget kamu udah bangun pagi begini? Biasanya kalau tidur kayak orang mati. Habis sholat dah ngorok lagi." omel Mikaela.
Shaka mendekati Mikaela dan menyenggolnya. "Jangan deket-deket. Kamu berkeringat." kesal Mikaela pada adiknya.
"Biar kamu mandi lagi." jawab Shaka membuat Mikaela kesal. "Jangan suka membuka rahasia orang!" ucapnya lagi dengan berbisik memberi peringatan.
"Jangan ganggu aku. Ganggu aja istrimu sana. Emang bener kok, kamu kalau tidur sudah kayak orang mati. Susah banget dibangunin." kesal Mikaela. Shaka hanya melewatinya tanpa respon dan pergi ke kamarnya.
_________________
Tak berselang lama suara seorang gadis datang,dia berteriak sejak masuk dari pintu utama rumah keluarga Djayabrata. "Bu..." itu adalah suara Nimas,adik Sultan. Gadis itu meninggalkan kopernya di ruang tamu dan langsung berlari ke dapur memeluk ibunya kemudian menatap Felicia yang berdiri di samping ibunya.
"Kamu harus menyapa. Dia istri kakakmu." ucap Rahma.
Nimas hanya sedikit menunduk sebagai sapaan. Dia sudah diberitahu jika kakaknya menikah. Ibunya memberitahu semuanya di telepon. Tapi rasanya aneh baginya melihat kakak iparnya masih seusia dengannya. Felicia hanya tersenyum pada Nimas.
"Kamu udah pulang?" tanya Sultan melihat adiknya ada di sana.
"Aku baru aja datang." jawab Nimas lalu mengikuti kakaknya. "Kak! Aku nggak mimpi kan?" tanyanya.
"Aku juga berharap ini mimpi." jawab Sultan masih berjalan.
"Lalu, gimana kak Oliv?" tanya Nimas.
"Siapa?" tanya Nimas.
"Teman SMA kamu. Shaka." jawab Sultan.
Seketika gadis itu menghentikan langkahnya. "Shaka? Arshaka Hartanto?" tanyanya. Nimas merasa aneh karena dia tau, di kampus saja dia begitu acuh soal perempuan. Dan sekarang dia menikah dengan wanita yang lebih tua?
"Jangan tanya lebih banyak lagi. Itu ngebuat aku kesal." jawab Sultan.
Tak lama setelahnya, semuanya berkumpul di ruang makan.
"Maaf. Jadi kamu adiknya kak Oliv?" tanya Nimas. Gadis ini merasa aneh karena kakaknya menikahi adik Olivia. Selama ini dia sangat tau jika Sultan sangat mencintai Olivia. Dan Nimas bahkan sering berbincang dengan Olivia saat mereka bertelepon.
"Ya. Namaku Felicia." jawabnya. Sultan hanya diam dan fokus dengan makanan di hadapannya.
"Jadi aku harus manggil kamu gimana? Rasanya nggak sopan kalau cuma manggil nama. Tapi aneh juga kalau aku manggil kakak ipar." ucap Nimas.
"Panggil namaku saja,itu nggak masalah." jawab Felicia.
"Kalau orang tau pasti mereka berpikir kalian cinlok antara dosen dan mahasiswi. Atau mungkin mereka akan berpikir Married by accident." ucap Nimas yang sukses mendapatkan tatapan tajamĀ dari kakaknya.
"Nimas. Bersikap sopan." tegur Hamzah, ayah Sultan.
"Ah. Maaf." ucap Nimas. "Tapi,Fel. Kalau kak Oliv juga udah nikah,itu artinya dia bakal menetap disini dong?" tanyanya.
"Mungkin. Aku nggak tau. Dia seorang yang ambisius dan punya mimpi besar. Aku belum tau rencananya." jawab Felicia.
"Dia teman yang sangat menyenangkan. Aku pengen banget bepergian sama dia lagi. Kira-kira mungkin nggak ya aku bisa pergi sama dia lagi karena dia kan udah nikah?" tanya Nimas yang membuat Felicia merasa sedikit terganggu. Gadis itu sepertinya lebih menyukai Olivia dibanding dirinya.
__ADS_1
"Nimas. Makan dulu. Jangan banyak bicara di meja makan." tegur Sultan yang membuat adiknya kesal hingga menekuk wajahnya.
"Tapi Nimas benar. Olivia terlihat beda. Dia berpengetahuan luas dan sopan. Juga ramah dan menyenangkan." ucap Nenek Nani yang membuat Felicia semakin tertunduk. Sultan seakan nggak peduli.. "Makanya kalau matanya nggak sehat, mesti pakai kacamata biar nggak salah lihat." ucapnya lagi tak ubah sindiran bagi Sultan yang saat itu memang melupakan kacamatanya hingga terjadilah kejadian itu. Hanya Rahma yang peduli pada sang menantu dan mengelus lengannya seperti memintanya bersabar.
__________________
Sementara Olivia juga makan bersama keluarga Hartanto. Shaka duduk di sebelah kanannya dan Mikaela duduk di sebelah kiri Olivia. Mereka memulai sarapan dengan tenang.
"Liv.. Gimana malam pertama kamu? Sukses nggak?" bisik Mikaela yang membuat Olivia sampai tersedak. Beruntung dia tak menyemburkan makanan di mulutnya.
Shaka mencoba menepuk punggung Olivia yang masih terus terbatuk. Sementara Mikaela malah tersenyum seolah tanpa dosa.
"Udah. Aku oke." ucap Olivia saat batuknya perlahan berhenti. Dia menerima gelas berisi air yang diberikan Shaka dan meminumnya sedikit. "Makasih." ucapnya.
"Kayaknya nggak ya?" ucap Mikaela mengejek.
"Mika. Please!" ucap Olivia pelan.
Orangtuanya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat putrinya yang pasti menggoda sang menantu sekarang.
"Kamu nggak berangkat ke kantor?" tanya Farida.
"Aku libur hari ini Ma. Aku lagi ada special project." jawab Mikaela.
"Special project?" tanya Faisal.
"Ada yang minta aku rekomendasi tempat terbaik untuk honeymoon. Karena pengalaman berwisataku yang cukup banyak. Sejujurnya ini membingungkan. Ada banyak tempat bagus di dunia ini." jawab Mikaela yang bekerja untuk perusahaan agen wisata.
"Lalu?" tanya Farida.
"Liv.. Antara Swiss dan Kanada. Mana yang lebih baik?" tanya Mikaela.
"Dua-duanya bagus. Punya daya tarik sendiri." jawab Olivia.
"Maldives atau hawai?" tanyanya lagi.
"Keduanya juga bagus. Tapi kenapa kamu tanya aku? Aneh banget. Harusnya kamu bertanya ke klienmu." jawab Olivia.
"Baiklah. Kalau itu kamu ,tempat mana yang ingin kamu kunjungi untuk honeymoon?" tanya Mikaela.
"Mungkin pergi ke Antartika dan berenang bersama Pinguin. Atau menyelam ke Palung Mariana." jawab Olivia yang membuat sahabatnya itu merengut kesal. Kedua mertuanya sampai tertawa mendengar jawaban menantunya yang sukses mengerjai putrinya. Sementara Shaka terlihat menahan tawa.
"Kamu mau mati atau honeymoon? Aku paham untuk pergi ke Antartika. Tapi berenang bersama pinguin itu." kesal Mikaela tak melanjutkan ucapannya dan malah mendengus kasar. Olivia hanya tersenyum melihat kekesalan sahabatnya.
"Menakjubkan kan kalau bisa pulang hidup-hidup? Tapi,semua orang punya standart liburan masing-masing. Kamu harus mempertimbangkan umur, hobi, dan juga budget mereka.nggak bisa dari pendapat orang lain. Kalau itu kamu,aku yakin jawabanmu adalah Swiss. Benar?" tanya Olivia.
"Hmm. Itu tempat honeymoon yang terbaik menurutku. Saat kau butuh kehangatan ditempat yang dingin. Suasana romantis yang indah. Oh my god." ucap Mikaela dengan ekspresi seperti membayangkan honeymoon impiannya.
"Apa yang sedang kamu bayangkan dalam mimpi tanpa tidurmu? Siapa yang kamu lihat disana?" ejek Olivia dengan tangan menopang dagu menatap sahabatnya itu dengan senyum jahilnya.
"Gi." dia menghentikan ucapannya menyadari jika dia masuk dalam jebakan. Dia menatap Olivia kesal dan Olivia semakin tersenyum lebar.
Olivia menjentikkan jari. "Okay. I got it.." masih dengan tatapan mengarah pada Mikaela yang membeku ditempatnya.
Farida selalu senang melihat interaksi Olivia dan Mikaela sejak dulu. Mereka saling menjahili satu sama lain tapi tak pernah bertengkar. Bagi keduanya, mereka adalah sahabat terbaik satu sama lain.
Pemandangan manis di rumah keluarga Hartanto adalah keberuntungan Olivia. Dan kecanggungan yang dialami Felicia adalah buah dari pilihannya menikahi pria yang tidak mencintainya dan keluarga yang tidak dikenalnya. Seakan dia melabuhkan pilihan yang salah.
Seakan membenarkan kata tetua. Wanita lebih baik dicintai daripada mencintai. Itu yang sering orang katakan. Tentu tidak sepenuhnya benar. Yang terbaik adalah ketika keduanya saling mencintai.
__ADS_1
Apakah mereka akan bahagia? Atau mereka akan terjebak dalam cinta satu arah selamanya? Atau mungkin berjuang kembali pada kekasihnya?