Our Dandelions Destiny

Our Dandelions Destiny
23.Ketemu Eyang


__ADS_3

Kembali ke Jakarta, pagi ini Shaka mengajak Olivia kerumah orangtuanya setelah mendapatkan pesan yang meminta mereka datang.. Dia sudah memberi tahu Olivia setelah sarapan dan saat ini keduanya sedang bersiap berangkat..


Namun rencana mereka harus diundur ketika nenek Olivia dari pihak ayahnya datang berkunjung..


Melihat wanita berusia lanjut dihadapannya membuat Shaka mengingat ucapan Julian jika nenek Olivia adalah wanita menyeramkan seperti dalam drama.. Sedikit ada raut itu disana,karna wanita itu memandang satu persatu orang disana dengan tatapan tajam seakan menuntut penjelasan..


"Kamu mengadakan pernikahan ankmu tanpa mengabari ibu seperti keberadaan sudah tak dianggap lagi.." Bu Sari membuka mulutnya dengan tatapan tajam kearah sang putra tak ubah hakim dipersidangan.. Didengar dari cara bicaranya, sangat jelas jika Bu Sari adalah orang Jawa..


"Bukan begitu Bu.. Semua terjadi mendadak.. Kita bisa jelaskan.." ucap Bu Indah..


Bu Sari mengangkat tangannya seperti menghentikan ucapan Bu Indah.. "Saya tidak bicara sama kamu.." ucapnya tanpa menoleh atau menatap menantunya.. Wanita itu menghela nafas panjang.. "Le.. Jelaskan.." ucapnya lagi.. "Ibu yakin kamu juga tak mengabari Ratna.. Jika sampai dia tau, bisa mati kamu.."


Olivia terlihat menegang.. Begitupun Felicia.. Sementara Shaka dan Sultan merasa bingung dengan situasi apa yang tengah terjadi..


"Bu.. Kita ngobrol diruang kerjaku saja.." ucap Anwar..


"Nggak perlu.. Ngobrol disini aja.. Nggak usah lagi ada yang ditutupi.. Kalau kamu masih nganggep ibu masih hidup, pakai otak kamu itu dengan benar.. Udah tua kok ya masih nggak pinter-pinter aja.." omel Bu Sari..


"Dan kamu.. Biarlah anak pungut, mbok ya ada baktinya sama orangtua.. Pantes si Ratna ogah, lha wong kayak gini sama orangtua.." lanjut Bu Sari yang membuat bu Indah menunduk..


"Kalian masuk aja dulu.. Papa mau ngobrol sama eyang dulu.." ucap Anwar meminta anak dan menantunya masuk.. Tentu semua menuruti begitu saja.. Sadar suasana sepertinya tak kondusif..


Berkali-kali Olivia menghela nafasnya saat berada didalam kamar.. Shaka tentu melihatnya dengan jelas.. Bahkan sesekali Olivia terlihat menengadahkan wajahnya seperti menahan airmata agar tak jatuh..


Sementara Felicia juga melakukan hal yang sama.. Dia menghela nafasnya kasar berkali-kali.. Berkali-kali pula airmatanya luruh..

__ADS_1


Shaka dan Sultan tentu bingung, masih belum memahami apa yang terjadi membuat keduanya tak tau harus apa kecuali jadi pengamat.. Namun cukup membuat resah..


Olivia yang mulai jengah akhirnya beranjak dari duduknya.. Seperti tak ingin diam lebih lama lagi, meski dia tak tau apa yang terjadi diluar sana.. Saat Olivia memegang handle pintu, Shaka menghentikannya.. "Kamu disini aja.. Nggak baik masuk dalam obrolan saat kamu disuruh disini.. Aku rasa aku mengerti apa yang terjadi diluar sana pasti karna pernikahan kita.. Percayakan saja dulu sama Papa dan Mama.." ucap Shaka dengan elusan lembut dibahu Olivia.. Gadis itu menghela nafas panjang lalu duduk kembali disofa..


Sementara itu ponsel Olivia berdering.. Gadis itu menatap layar ponsel dengan gusar dan helaan nafas panjang yang sama.. Gadis itu menggeser duduknya dan mengambil jarak dengan Shaka sebelum mengangkat panggilan video dari sang nenek..


"Iya Oma.." Olivia tersenyum menatap layar ponsel tak ubah pemain peran..


"Kamu sudah ada di Jakarta kok nggak ngabarin Oma?"


"Oliv langsung berangkat ke Bali sama teman-teman Oliv setibanya disini Oma.. Acara Reuni.." Tentu saja itu kebohongan.. Shaka yang mendengarnya merasa sangat buruk..


"Nanti Oma mampir lah.. Oma kangen.."


"Yaudah.. Nanti Oma kirim sopir buat jemput.. Oma ada hadiah buat kamu.. Jangan lagi balik London.. Kalau perlu, kamu tinggal aja bareng Oma ya.. Jangan lagi nurut kata orangtua kamu itu.. Pilih kasih.. Males Oma ketemu mereka.."


Olivia mengusap tengkuknya seakan mencoba mengahalau kegugupan.. Ekor matanya melirik Shaka yang terlihat bingung.. "Nanti Oliv datang sendiri aja Oma.. Nggak perlu kirim sopir.. Ada yang anter kok.. Aman.."


"Oh.. Yaudah.. Oma tunggu dirumah ya.."


"Iya Oma.." dan panggilan berakhir membuat Olivia lega.. Gadis itu menunduk dalam memeluk lutut ya dengan hembusan nafas kasar dari mulutnya..


Shaka merasa heran dengan Eyang dan Oma Olivia yang terlihat seperti tak berpihak pada anak dan menantunya..


Olivia mulai menegakkan badan dan duduk dengan benar lalu menoleh pada Shaka yang menatap seperti bingung dan meminta penjelasan.. "Kamu bisa nganterin aku ke Bogor?"

__ADS_1


"Bisa.. Tapi nggak mungkin kan bawa motor.. Kamu pasti capek.. Kita kerumah dulu.. Pinjam mobil kak Mika.."


"Naik motor juga ngak masalah.. Apa aja lah.. Asal nggak jalan kaki.. Asli capek kalau jalan kaki dari sini ke Bogor.."


Shaka tersenyum mendengar ucapan Olivia.. "Aku kenalin sama Oma.. Tapi kamu jangan kaget, Oma aku serem.. Kamu pasti akan diwawancarai habis atau malah diuji.. Kebalin aja telinga.. Oma tuh bawel.." ucap Olivia yang membuat kening Shaka berkerut..


"Oliv.. Liv.." panggilan itu menggema ditelinga.. Suara sang nenek diluar sana..


Olivia dan Shaka saling pandang sejenak.. Kemudian bangkit dari duduknya dan segera keluar.. Itupun yang dilakukan Sultan dan Felicia..


"Eyang pulang dulu.. Kamu hati-hati dikandang macan.. Kalau ada apa-apa.. Kabari Eyang.. Nanti Eyang tebas leher macannya.." ucap Bu Sari tak ubah sindiran..


Olivia hanya diam tanpa reaksi meski memahami ucapan sang nenek yang seringkali tak setuju dengan keputusan orangtuanya.. Olivia dan Shaka kemudian bergantian mencium punggung tangan Bu Sari.. "Jaga cucu Eyang kalau tak mau lehernya tak babat.." ancamnya menepuk punggung Shaka sedikit kuat..


Ngeri juga rasanya tapi Shaka mengangguk.. "Pasti Shaka jagain Eyang.."


Sultan pun tak ketinggalan mencium punggung tangan Bu Sari.. Tak ada kalimat ancaman atau apapun.. Hanya sebuah tatapan yang tak bisa diartikan.. Namun Bu Sari malah menarik tangannya saat Felicia baru mencium punggung tangannya.. "Jangan berulah.. Jaga sikap.." ucap Bu Sari.. Gadis itu terlihat sangat kecewa.. Sultan yang melihatnya jadi sedikit merasa iba.. Tak memahami apa yang terjadi dikeluarga ini.. Tapi merasa jika pernah terjadi sesuatu yang besar sebagai penyebabnya..


Semua mengantar kepergian Bu Sari.. "Pa.. Oliv mau pergi kerumah Shaka.. Tadi diminta Mama kesana.. Dan nanti Oliv mau kerumah Oma.. Tadi Oma nelpon, mungkin nanti nginep dirumah Oma.." ucap Olivia..


"Sama Shaka kamu kerumah Oma?" tanya Anwar..


Olivia mengangguk.. "Papa tenang aja.. Biar Oliv yang jelaskan.. Mudah-mudahan Oma ngerti.." jawabnya.. Olivia menatap sang adik yang terlihat kecewa..


Tanpa Olivia ketahui jika adiknya yang manis dan terlihat lemah itu sedang menyimpan dendam yang besar untuknya.. Merasa jika Olivia mendapatkan segalanya dan tidak dengan dirinya..

__ADS_1


__ADS_2