Our Dandelions Destiny

Our Dandelions Destiny
12.Pengakuan


__ADS_3

Ucapan Sultan yang masih terdengar sampai di telinga Shaka yang mulai terbakar cemburu.


"Aku kesini sama Shaka. Dia nunggu aku. Aku bakal pulang sama dia." jawab Olivia menunjuk ke arah Shaka.


Sultan menoleh memperhatikan. "Naik motor? Panas-panasan gini?" tanyanya yang terdengar seperti ejekan di telinga Shaka. Bahkan Olivia terkesiap mendengar ucapan Sultan yang tak biasa. Pria itu sepertinya merasakan perubahan raut wajah Olivia dan baru sadar jika ucapannya menyinggung. "Sorry. Bukan maksudku menyinggung. Aku hanya takut kamu kepanasan." ucap Sultan lagi.


Olivia hanya mengangguk. "Maaf. Aku balik duluan. Terimakasih tawarannya." lanjutnya bergegas menghampiri Shaka yang sudah menunggu. Pemuda itu masih bersikap sopan untuk menyapa meski hatinya mulai terbakar. Hingga mereka pergi dengan Sultan yang masih terdiam melihat keduanya.


Rasanya Sultan masih tak bisa begitu saja mengikhlaskan kekasihnya menikah dengan Shaka. Hatinya terasa sakit melihat Olivia bersama pria lain. Hatinya tak seluas Olivia yang mampu bersikap biasa dan menutupi perasaannya dan juga menerima kenyataan.


"Kamu nggak masalah naik motor panas-panasan gini?" tanya Shaka setelah motornya melaju menjauh dari tempat itu.


"Maksud kamu? Harus aku pulang dianter dia?" Olivia menjawab dengan pertanyaan yang membuat Shaka cukup kecewa dengan jawaban sang istri. Dia bahkan berharap Olivia akan menjawab 'Tak masalah apapun yang terjadi asal bersamamu.' tapi dia sadar itu tak mungkin. Hati Olivia masih belum untuknya.


"Maaf. Aku hanya punya motor. Itupun masih pemberian orangtua." ucap Shaka merasa rendah diri.


Olivia menghela nafas berat. "Kita duduk dulu di taman depan." ucap Olivia mengalihkan pembicaraan. Shaka hanya menuruti ucapan Olivia. Kebetulan taman sudah ada di depan mata.


Gadis itu turun dan duduk di bangku taman. Shaka hanya duduk diam di samping Olivia dengan kedua siku bertumpu di atas lututnya. Pemuda itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dengan beberapa kali helaan nafas perlahan menahan deru dalam hatinya yang kini bergejolak.


Siang ini situasi di taman itu terlihat sepi. Tak ada orang yang lewat atau duduk. Mungkin karena siang ini begitu terik.


"Jadi gimana? Harus aku pulang bareng dia? Aku masih ada nomer telponnya. Mungkin dia bakal balik kalau aku telpon dan minta jemput." ucap Olivia dengan ponsel di tangannya yang diarahkan ke Shaka. Membuat hati Shaka berdenyut nyeri. Jiwa mudanya seringkali masih menuruti ego hingga tak bisa mengontrol emosi. Dia hanya tertunduk karena merasa tak pantas dan bahkan tak bisa menatap Olivia.

__ADS_1


"Bukan naik apa, tapi dengan siapa. Aku paham siapa kamu, dan siapa dia. Bahkan kalau kamu jalan kaki dan dia naik pesawat, masih cukup buat aku sadar statusku. Kecuali kamu yang nyuruh aku pergi sama dia." ucap Olivia yang membuat Shaka menoleh. Olivia memang masih mencintai Sultan tapi dia juga sadar akan statusnya. Dan Olivia tau jika dalam diamnya, pemuda di sampingnya sedang menahan cemburu. Dia tau Shaka memiliki perasaan khusus meski tak pernah mengatakannya. Dia sudah mendengar pernyataan pemuda itu meski tak terang-terangan di hadapannya.


Tentu tak mungkin Shaka menyuruhnya pergi. Bahkan rasa ingin memiliki kian menggebu dalam hati pria muda itu setelah menikahinya.


"Kemarin kamu membuatku merasa nyaman dan kagum dengan kedewasaan kamu. Sekarang, aku kecewa." ucap Olivia.


"Maaf." ucap Shaka.


"Kamu tau, situasiku tidak mudah. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Hubungan jarak jauh yang berusaha dijaga harus berakhir dengan cara seperti ini bukan hal mudah. Apa kamu nggak bisa ngasih aku waktu untuk semuanya? Buat aku jatuh cinta dan melupakannya? Tolong jangan buat aku melihatnya dan ingin kembali. Buat aku hanya ingin melihatmu saja. Tentu saja kalau kamu mau mempertahankan pernikahan kita selamanya. Aku cuma ingin menikah sekali." ucap Olivia dengan air mata yang menetes.


Shaka berjongkok di depan Olivia dan menghapus airmatanya.. "Maaf. Bukan maksudku kayak gitu." ucap Shaka.


"Bangun. Jangan duduk di sana." ucap Olivia.


Olivia menghela nafas perlahan. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Kalau ada yang mau kamu katakan. Katakan. Aku siap mendengarkan." ucapnya.


Shaka sempat terdiam lalu menghela nafas perlahan. "Aku cinta sama kamu. Sejak sangat lama." ucap Shaka. Olivia tak tau harus menjawab dan bereaksi seperti apa. Dia hanya diam tanpa komentar namun menatap lurus pada bola manik hitam milik Shaka. Tatapan itu sangat meneduhkan dan terlihat begitu tulus.


"Kamu nggak terkejut?" tanya Shaka tapi tak mendapat jawaban apapun dari Olivia. "Apa kamu udah tau tentang itu?" tanyanya lagi.


Olivia menggangguk. "Maaf.." ucap Olivia akhirnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku mengatakannya bukan untuk mendengar permintaan maaf. Tapi ingin memberitahu banyak hal dengan satu kalimat itu." ucap Shaka mengusap bulir airmata Olivia yang terlanjur jatuh dengan ujung jarinya kemudian meraih kedua tangan Olivia dan menatap matanya yang terus dibasahi airmata dan mengalir pelan.

__ADS_1


"Apa kamu tau? Rasanya sakit lihat kamu menangis. Dan kenyataan jika aku udah membuatmu menangis karena pernikahan ini. Aku terlalu egois untuk memilikimu. Maaf." ucap Shaka menghapus airmata Olivia kemudian tertunduk. Keningnya diletakkan di atas lutut wanita yang baru dua hari lalu menjadi istrinya itu.


"Jangan begini. Bangun. Atau aku bakal ninggalin kamu." ancam Olivia yang membuat Shaka mengangkat wajahnya.


"Kamu mau pergi?" tanya Shaka dengan tatapan kecewa.


"Kalau kamu mau aku pergi, aku bakal pergi. Sejauh mungkin. Bukan ke Sultan, karena itu nggak mungkin. Kalau kamu mau aku pergi, aku mau menghilang selamanya." ucap Olivia.


"Tolong biarkan aku tetap tinggal. Jangan pergi padanya. Jadikan aku satu-satunya. Jadikan aku sandaran tempatmu mencurahkan segalanya. Aku mungkin jauh dari sempurna, tapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik. Akan kuberikan seluruh cintaku dan apapun akan kuusahakan agar kamu bahagia." ucap Shaka.


Olivia mengangguk pelan. "Makasih karena kamu selalu berusaha membuatku nyaman dan bahagia. Tapi tolong beri aku waktu. Aku akan berusaha. Bagaimanapun kamu adalah suamiku sekarang. Aku nggak mau jadi istri durhaka yang membuat suaminya berlutut kayak gini. Tapi beri aku waktu untuk belajar." ucap Olivia dan Shaka hanya mengangguk. "Aku suka Shaka yang bijak dan dewasa seperti kemarin. Dan ya,kamu bilang ingin dijadikan sandaran, tapi kalau kamu di sana dan aku di sini, memang bisa?" tanyanya.


Pertanyaan itu membuat Shaka mendongak. Sedang Olivia memberi kode agar pemuda itu tak duduk di bawah. Shaka pun berpindah dan kembali duduk di samping Olivia.


Olivia tersenyum. "Kalau kayak gini, kamu masih kelihatan kayak adik." ejeknya menatap raut sendu Shaka. "Kamu nggak malu gitu punya istri tua?" tanyanya.


"Tua apa? Kamu bahkan masih pantes pake seragam putih abu." jawab Shaka. "Usia hanya angka." lanjutnya. Olivia hanya tersenyum.


"Aku dan Sultan sama sekali nggak janjian. Hanya kebetulan ketemu. Dan setelah ini kamu juga harus siap, mulai minggu depan kita semua akan tinggal serumah. Dan bahkan aku akan mengajar di kampus yang sama dengannya. Tempat kamu dan Felicia kuliah." ucap Olivia.


Shaka menghela nafas panjang lalu mengangguk. "Maaf atas sikapku tadi. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa kecil. Aku akan belajar lebih dewasa. Ingatkan aku saat aku melakukan kesalahan. Jangan ragu menegur." ucap Shaka.


Olivia tersenyum dan mengangguk. Shaka menggenggam erat tangan Olivia dan memberikan sentuhan lembut dengan ibu jarinya. Lalu mendapati ponselnya berdering tanda pesan. Gadis itu membukanya dan menunjukkan pada Shaka. Mereka diminta pulang karena ada tamu yang mencari. Entah siapa, karena sang ibu tak menyebutkan siapa tamu di sana.

__ADS_1


__ADS_2