Our Dandelions Destiny

Our Dandelions Destiny
07.Panggilan baru


__ADS_3

Olivia terbangun dan melihat jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. Dia merasa sudah terlalu lama tertidur, padahal terakhir kali dia melihat jam menunjukkan pukul dua belas malam. Mungkin karena pikirannya yang kacau membuat tidurnya diselimuti mimpi buruk dan terasa begitu lama.


Olivia menghela nafas perlahan, sedikit menoleh pada pemuda di sampingnya yang masih tertidur nyenyak tanpa pergerakan dengan posisi yang masih sama seperti terakhir kali dia melihatnya.


Rintik gerimis di luar sana menarik perhatian Olivia hingga gadis itu memutuskan keluar menuju balkon. Gadis itu berdiri di tepian balkon dengan tangan terulur hingga tetesan air jatuh di telapak tangannya.


Kilasan masa lalu kembali menyapanya saat dia merasakan nyeri di pergelangan tangannya yang terkena air hujan. Dia masih ingat saat semua impiannya terenggut dalam satu waktu.


Saat itu usianya sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun dan sedang berlatih kuda bersama keluarganya. Entah apa yang membuat kuda Olivia tiba-tiba mengamuk dan hilang kendali. Kuda itu membawa Olivia keluar dari jalur dan bahkan membawanya pergi jauh ke area hutan di sekitarnya. Saat itu Olivia berharap seseorang akan datang menolongnya tapi tak ada siapapun hingga dirinya terjatuh dan masuk ke dalam jurang yang sangat dalam.


Entah bagaimana dia ditemukan dan siapa yang menemukannya saat itu. Yang dia tau dia terbangun dengan kondisi yang buruk di rumah sakit.


"Putri anda mengalami cedera pergelangan tangan kanan dan cedera bahu yang cukup buruk. Kondisi kakinya juga semakin buruk. Cideranya tahun lalu masih belum pulih sepenuhnya, dan kali ini kecelakaan yang dia alami semakin memperburuk kondisinya. Anda mengatakan jika dia seorang ballerina. Saya rasa dia takkan lagi bisa melakukannya. Bahkan setelah operasi ini, dia masih harus menjalani terapi agar bisa kembali berjalan dengan normal seperti sebelumnya." Itu adalah hal yang dikatakan dokter saat pertama kali Olivia membuka mata dan tak sengaja mendengar percakapan itu.


"Dia nggak bisa menjadi ballerina? Itu adalah impianya sejak kecil. Tapi, dia juga berlatih violin akhir-akhir ini. Apa tangannya masih bisa melakukan itu?" tanya Anwar.


"Cederanya akan sembuh. Setidaknya butuh waktu dua atau tiga bulan dengan pengobatan yang tepat. Tapi anda masih harus berhati-hati tentang itu. Cedera tulang bisa kambuh dan meninggalkan rasa nyeri jika terlalu dipaksakan. Saya akan mengupayakan yang terbaik." jawab sang dokter.


Terdengar helaan nafas panjang dan berat keluar dari mulut sang ayah dengan usapan kasar ke wajahnya yang bisa dilihat Olivia. Ingin rasanya dia menangis, tapi hari itu dia tak melakukannya. Dia tak ingin membuat orang-orang disekitarnya menjadi sedih karena keadaannya. Bermain violin atau menjadi ballerina bukanlah segalanya.


Gadis itu berjuang dengan segala pengobatan dan terapi yang diberikan hingga berhasil pulih. Meski dirinya seringkali mengalami nyeri saat udara begitu dingin dan saat terlalu lelah. Gadis itu tak pernah mengeluh. Namun hal yang paling dia harapkan adalah dukungan dari sang ibu saat dia mengalami hal-hal buruk yang nyatanya tak pernah dia dapatnkan. Dia tak lagi bisa melakukan hal yang dia sukai. Bermain violin dan impiannya sebagai ballerina. Setidaknya dia berharap wanita itu menemaninya pergi ke rumah terapi yang sama sekali tak pernah dilakukan. Dia hanya fokus pada Felicia.


Dia bahkan masih ingat dengan jelas saat sang ibu menyodorkan formulir pendaftaran untuk seleksi Universitas di London bertahun-tahun lalu seakan wanita itu tak menginginkan dia ada di dekatnya. Dengan alasan kebaikannya, lebih dari enam tahun lamanya dia berada di negri asing seorang diri. Hampir tak pernah sang ibu menelponnya lebih dulu. Tak ada perbincangan berarti kecuali pertanyaan tentang pendidikannya, seolah hanya itu yang berarti baginya.


Ditambah dengan tak adanya pembelaan darinya sejak kejadian kemarin membuat Olivia meragukan jika ibunya menyayanginya.


Udara memang terasa dingin dan membuat pergelangan tangan dan kaki Olivia terasa nyeri. Tapi gadis itu masih terdiam di tempatnya. Masih dengan tangan menengadah dan membiarkan tangannya basah. Seakan berharap nyeri badannya akan mengalihkan nyeri di hatinya. Tapi ternyata itu hanya membuat tubuh dan hatinya sama-sama sakit.


Olivia menghela nafas panjang dan memejamkan matanya, dan saat itulah Shaka datang dan menyelimuti tubuh Olivia dengan jaket miliknya. Membuat Olivia sedikit terperanjat dan kemudian menoleh. Gadis itu membuang nafas lega saat melihat Shaka.


"Maaf aku mengagetkanmu. Kenapa? Berpikir aku hantu?" tanya Shaka dengan ekspresi wajah yang lucu terlihat seperti ingin bergurau.

__ADS_1


"Aku nggak takut pada hantu atau setan yang tak kasat mata. Aku lebih takut pada setan berwujud manusia. Manusia dengan hati yang jahat seperti setan." jawab Olivia. "Kuharap kamu bukan yang seperti itu. Aku harap kamu pemuda yang baik seperti yang selama ini ku kenal. Meski aku yakin kamu juga bukan malaikat." lanjutnya melirik Shaka yang berdiri di sampingnya dan turut memainkan air hujan di tangannya.


Shaka tersenyum mendengar ucapan Olivia. "Aku bukan manusia berhati setan seperti yang kamu bilang. Tapi aku juga bukan yang berhati malaikat. Aku hanya manusia biasa yang masih berusaha menjadi baik." jawabnya.


Olivia tersenyum mendengar ucapan Shaka. Membuat pemuda itu merasa cukup lega bisa melihat senyum di wajah sang istri di saat bangun tidur seperti ini. Cantik sekali.


"Udara dingin. Kenapa keluar? Nggak bisa tidur atau udah bangun?" tanya Shaka.


"Udah bangun. Maaf kalau aku ganggu tidur kamu. Aku lupa nutup pintu. Pasti kamu merasa dingin dan terbangun karena itu." ucap Olivia.


"Dingin memang. Mungkin akan ada yang memeluk dan memberi kehangatan." ucap Shaka yang membuat senyum di wajah Olivia sedikit memudar. Shaka bisa melihat itu. "Aku tau butuh waktu untuk semuanya. Aku nggak akan melakukan apapun tanpa ijinmu. Jadi jangan terlalu khawatir. Lihat kamu senyum aja udah ngebuat aku merasa hangat." ucap Shaka tersenyum.


"Heu. Gombal." ucap Olivia dengan tatapan terlihat kesal dan tak percaya. "Bahaya. Jangan-jangan hobi gombalin cewek? Atau jangan-jangan punya pacar? Gimana dong pacar kamu?" tanya Olivia dengan matanya yang melebar.


"Heu. Istriku kayaknya udah ada bibit posesif nih." ucap Shaka dengan senyumnya dan alis yang sengaja diangkat-angkat seakan menggoda yang membuat Olivia mencebik kesal karena tak terima. Mendengar kalimat istriku saja terasa sangat aneh bagi Olivia.


Namun Shaka tersenyum kian lebar.. "Tenang aja. Aku belum pernah pacaran. Belum pernah gombalin cewek. Kamu adalah satu-satunya dan nggak kuduakan sampai kapanpun." lanjutnya.


Namun Shaka memegang lengan Olivia saat menyadari istrinya itu berjalan sedikit memincang. "Kaki kamu sakit?" tanyanya dan Olivia hanya mengangguk kecil. "Maaf kalau aku lancang, aku cuma ingin bantu kamu." ucapnya lalu menggendong Olivia dan mendudukkannya di tepian ranjang. Pemuda itu berjongkok di depannya dan melihat kondisi kaki Olivia yang merah dan bengkak dengan sedikit luka lecet.


"Harusnya kamu bilang kalau kaki kamu luka." ucap Shaka. "Apa ini karena terjatuh kemarin?" tanyanya mendongak menatap wajah Olivia.


"Hanya goresan kecil. Nggak papa. Jangan duduk di bawah. Kamu kayak dayang aja." ucap Olivia berusaha bersikap biasa karena tak ingin merasa canggung. Dia pun tau, rasanya tabu saat seorang suami duduk di bawah dan menyentuh kaki istrinya. Olivia berusaha meraih lengan Shaka agar pemuda itu bangkit dari sana. Tapi Shaka masih diam di sana dan enggan bergerak.


"Maaf. Harusnya aku tau kalau kamu terluka." ucap Shaka dengan rasa bersalah.


"Kok kamu jadi menyalahkan diri sendiri? Kan aku yang masuk ke hutan lebih dulu? Harusnya aku berterimakasih karena kamu ada di sana sama aku. Kalau enggak, mungkin aku nggak akan pernah kembali." ucap Olivia.


"Jangan ngomong yang enggak-enggak. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Bahkan nggak mau cuma denger aja. Jadi jangan ngomongin hal buruk apapun." ucap Shaka penuh penekanan.


Olivia merasa ada yang berbeda dengan Shaka. Hingga hatinya bertanya-tanya apakah benar pemuda itu mencintainya?

__ADS_1


"Jangan merasa bersalah. Karena kenyataannya kakiku akan seperti ini saat terlalu lelah. Dan kadang juga tiba-tiba sakit saat udara terlalu dingin. Ini efek kecelakaan di masa lalu. Akan hilang sendiri. Jangan khawatir." ucap Olivia.


Shaka kembali mendongak menatap Olivia lalu bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar mandi. Tak lama dia kembali kemudian mengangkat tubuh Olivia yang membuat gadis itu kaget dan bingung. Shaka menggendong Olivia dan kemudian mendudukkannya di sandaran bathtube dan memasukkan kaki Olivia ke dalamnya yang ternyata sudah diisi dengan air hangat. "Kalau itu karena udara dingin. Setidaknya akan lebih baik kalau kena air hangat. Semoga ini membantu." ucap Shaka yang kini bahkan sibuk mengusap luka di kaki Olivia.


Ini bahkan belum genap sehari mereka menikah. Dan pemuda ini begitu perhatian membuat hati Olivia turut terasa hangat karena merasa diperhatikan dan dicintai. Selama ini dia bahkan tak mendapatkan sebanyak ini dari orang lain.


Olivia terus dibuat kagum dengan sikap seorang Shaka yang baginya tak ubah seorang adik kecil sebelum kejadian ini. Ternyata dia sangat dewasa, perhatian dan begitu manis. Haruskah Olivia berbahagia menikah dengannya? Apakah secepat ini dia akan berpindah hati? Apakah ini nyata baginya? Haruskah Olivia jatuh cinta padanya?


Olivia menarik kakinya perlahan dan membuat Shaka menatapnya. "Jangan membuatku merasa buruk karena membiarkan seorang pria menyentuh kakiku. Terlebih dia adalah suamiku. Maaf Ar. Mungkin aku belum bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya. Tapi biarkan aku belajar perlahan-lahan." ucapnya.


Shaka tersenyum dengan anggukan mantap. Dia merasa senang dengan ucapan Olivia jika dirinya akan belajar. Lalu pemuda itu merasa ada yang aneh. Apa? Ar? Baru saja Olivia memanggilnya berbeda? Ar?


"Ar? Apa ini panggilan kesayangan?" tanya Shaka penuh harap.


"Bukan. Auman singa. Kamu tau. Arrr." ucap Olivia dengan kedua tangan seperti singa yang akan mencakar dengan ekspresi serupa yang membuat Shaka tertawa.


"Kamu tau. Namaku Olivia dan seringkali dipermudah dengan dipanggil,Liv. Kamu Shaka. Shak? Ka? Kan nama kamu Arshaka. Harus gitu kupanggil kamu Hartanto. Bisa sekeluarga kamu salah paham. Biar aja aku panggil seperti itu. Lebih mudah. Ar. Kayak singa mau nangkap mangsa." ucap Olivia yang membuat senyuman Shaka terukir sempurna di wajahnya yang tampan.


"Oke." jawab Shaka setuju. "Aku akan pasrah dijadikan mangsa." lanjutnya.


"Mau gitu dicakar?" tanya Olivia.


"Asal jangan di wajah lah ya. Nanti wajah tampanku rusak kamu juga yang rugi, suaminya nggak tampan lagi." ucap Shaka. Olivia hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Terus aku harus panggil kamu apa? Masak iya aku panggil istriku Kak Oliv kayak sebelumnya?" tanya Shaka.


"Cukup Oliv aja. Biarpun aku lebih tua, tapi sepertinya dengan wajahku ini, orang masih percaya kalau aku lebih muda dari kamu." jawab Olivia. Shaka mengangguk setuju.. Kenyataannya wajah Olivia memang masih terlihat sangat muda. Mungkin karena bentuk wajahnya yang kecil. Shaka tersenyum lebar begitu bahagia melihat senyum Olivia.


"Pede banget ya aku?" tanya Olivia dengan tawa. Shaka tersenyum lebar.


Terasa lega bagi Shaka, mereka masih bisa bercanda dan tertawa seperti sekarang. Setidaknya mereka tak berada dalam kecanggungan. Dia bahkan mendapatkan panggilan baru berkat ini. Yang selama ini belum pernah orang lakukan meski dua huruf itu juga melekat dalam namanya. 'Ar.' Membuat senyum Shaka merekah pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2