
Suara bising menyusup ke telinga kedua insan yang tengah tertidur di dalam pondok..l Beberapa orang masuk ke dalam pondok saat Shaka dan Olivia masih tertidur setelah semalaman berusaha keluar dari bangunan itu hingga terlalu lelah.
Keduanya begitu terkejut saat mendengar umpatan dan makian yang tak enak didengar dan mengatakan jika mereka melakukan hal tak senonoh ditempat itu tanpa adanya bukti.
Dan di saat yang sama pula keluarga mereka datang menemukan mereka. Terkejut tentu saja. Shaka dan Olivia berusaha menjelaskan keadaan yang menimpa mereka. Namun sama sekali tak didengar. Mereka semua menuntut keduanya agar menikah. Dan keluarga mereka mengatakan pada warga jika keluarga mereka akan mengurus pernikahan mereka dan berjanji melakukannya. Tentu membuat Olivia dan Shaka kecewa. Shaka mungkin memendam rasa dan ingin memiliki seorang Olivia, tapi sama sekali bukan cara yang benar untuk berbahagia di saat seperti ini.
Keduanya akhirnya dibawa kembali ke Villa. Keduanya terkejut saat di villa ada begitu banyak orang. Bukan hanya keluarga Mika dan Shaka. Tapi di sana juga ada keluarga Sultan. Olivia tentu paham betapa kecewanya pria itu padanya. Karena kekecewaan itulah Sultan tertunduk kian dalam dan enggan menatap Olivia.
Tapi tidak, itu hanya dalam bayangan Olivia. Karena kenyataan berkata lain jika Sultan tertunduk karena tak bisa menatap wajah kekasihnya saat dirinya melakukan kesalahan.
Semua berkumpul dalam satu ruangan. Seluruh wajah menegang tak ubah seorang yang sedang duduk di kursi pesakitan dan menunggu diadili.
"Papa kecewa kenapa kedua putri papa bisa melakukan ini dalam satu waktu." ucap Anwar.
"Apa maksud Papa?" tanya Olivia tak memahami ucapan sang ayah. "Pa. Papa sudah mendengar kami. Ini semua hanya salah paham." ucapnya tegas penuh penekanan.
"Ini juga salah paham di antara kami. Sama sekali nggak seperti yang Om duga." ucap Sultan.
"Tunggu. Tunggu. Aku nggak paham apa maksudnya. " ucap Olivia meminta penjelasan.
Mika yang juga duduk di sana menjelaskan apa yang terjadi.
Olivia dan Sultan saling pandang. Nafas keduanya seakan tercekat dengan apa yang baru saja di dengarnya. Mendengar jika orang yang dicintai melakukan hal tak terduga dengan orang yang dikenalnya. Bak badai yang datang tanpa aba-aba. Tanpa mendung atau gerimis. Dan menenggelamkan ladang dandelion.
"Papa akan menikahkan kamu dengan Shaka. Dan Sultan akan menikahi Felicia." ucap Anwar.
"Pa. Ini murni kecelakaan." ucap Olivia masih berusaha membela diri. "Shaka. Please. Katakan sesuatu. Katakan yang sebenarnya." ucapnya terdengar memohon.
"Fel. Kamu juga jangan diam saja." ucap Sultan. Pria ini terlihat emosi dengan kesalahpahaman yang terjadi.
"Maafkan aku." ucap Shaka. Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya.
"Aku nggak tau harus berkata apa." jawab Felicia. Airmata gadis itu mulai menetes, padahal sedari tadi dia diam dan terlihat tenang.
Olivia tak percaya mendengar ucapan adiknya dan Shaka yang bahkan tak mencari pembelaan. Gadis itu menghela nafasnya dan menutup matanya sesaat. "Oke. Kalian bertemu setiap hari di kampus. Bukan nggak mungkin perasaan akan tumbuh. Mungkin saja tanpa diketahui siapapun ada hubungan yang terjalin. Kalian bisa menikah. Tapi, bagaimana bisa aku menikah dengannya? Kami bahkan tak melakukan apapun. Kalian tak punya bukti apapun." ucap Olivia mencoba membela diri dan mencoba berpikir berdasarkan logika. Tapi bagi Sultan itu tak ubah tuduhan jika dirinya telah berkhianat.
"Bukti apa lagi yang ingin kamu bantah. Semua orang mengatakan kalian tertidur sembari berpelukan di sana" ucap Anwar. Pria itu terlalu berpikiran buruk dan mengkhawatirkan putrinya dengan berlebihan. Menurutnya pernikahan adalah jalan terbaik tanpa mau tau kebenaran yang terjadi.
Kalimat itu sungguh tak dimengerti oleh Sultan. "Tunggu. Kamu nyuruh aku menikahi adik kamu sedang aku nggak mencintainya? Apa kamu nggak mikir seberapa banyak yang akan terluka karena hal nggak masuk akal ini? Kamu pikir aku apa Oliv?" tanyanya. Pria itu tak habis pikir mendengar ucapan kekasihnya.
"Aku nggak tau apa yang terjadi. Tapi semua terasa aneh. Kamu melakukan tindakan ceroboh karena masuk ke kamar seorang gadis. Bukan nggak mungkin kamu akan bertindak lebih jauh kalau nggak ada yang memergokimu. Aku sudah berusaha berpikir jernih tapi otakku terasa membatu. Ini sangat aneh. Bagaimana ini bisa terjadi dalam satu waktu?" tanya Olivia dengan kesal. Dia berusaha mencerna perkataannya sendiri yang entah benar atau tidak. Tapi,itu adalah hal paling masuk akal yang bisa dia katakan menurutnya.
"Liv." panggil Sultan lirih. Pemuda itu masih mencoba mencari pembelaan dari Olivia. Matanya menatap sendu sang kekasih yang duduk di seberang sana.
"Jadi gimana keputusan kalian?" tanya Anwar.
__ADS_1
"Aku akan menikah dengannya." jawab Felicia yang membuat Sultan semakin kesal dan tak mengerti. Yang ada dalam pikirannya hanya keegoisan yang menginginkan pria yang disukainya.
"Saya juga akan menikahinya. Saya akan bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi meski ini hanyalah kesalah pahaman." ucap Shaka yang membuat airmata Olivia luruh. Gadis itu sungguh tak habis pikir dengan jawaban-jawaban yang baru saja dia dengar. Kekecewaan dan sakit hati menyeruak tak terkendali.
Sungguh ini keputusan yang entah harus disebut apa. Bodoh? Gegabah? Sembrono? Atau mungkin gila?
"Aku tau aku hanya memelukmu karna keadaan. Tapi,ini adalah keputusanku. Aku akan menikah denganmu jika harus. Aku bersungguh-sungguh." tambah Shaka.
Hati Olivia dan Sultan bak dihujam dengan pisau tak kasat mata. Rasanya sungguh sakit. Seperti akan mati saat itu juga. Apa yang terjadi saat ini sungguh di luar kendali.
Olivia menghela nafasnya seakan ingin mengatakan sesuatu. "Kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Anwar pada putrinya.
"Maaf. Ini mungkin terdengar tidak sopan. Tapi,ini sungguh tidak masuk akal bagiku. Bagaimana hal seperti ini bisa jadi alasan pernikahan?" tanya Olivia. "Seseorang mungkin saling berpelukan di luar sana dan itu bukan hal aneh. Entah itu Eropa atau Amerika atau di negara kita, banyak yang pelukan hanya seperti sapaan. Haruskah kami menikah hanya karena itu? Kolot sekali. Tidak masuk akal." kesalnya mulai kehilangan kendali.
"Hanya pelukan? Kamu akan bilang kalau kalian akan menikah hanya kalau kalian tidur bersama lalu hamil begitu? Seperti yang kebanyakan orang barat lakukan? Kamu terpengaruh gaya mereka?" tanya Indah sudah dengan airmatanya yang hampir tumpah.
"Ma." kesal Olivia. Gadis itu terlihat semakin frustasi dan bahkan menjambak rambutnya sendiri. "Bagaimana- Situasi ini? Astaga." kesal Olivia hampir tak sanggup bicara dan tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Apa kamu pulang dari luar negeri hanya untuk mendebat orangtuamu? Itu yang kamu pelajari di sana?" tanya Indah.
Gadis itu menghela nafas kasar mendengar tuduhan yang terlontar dari mulut ibunya. Dia menatap ibunya dengan raut wajah yang terlihat sedih dan kecewa. "Ma. Aku nggak pernah ingin mendebat kalian. Tapi,ini bukanlah hal yang sederhana. Menikah itu adalah hal yang besar. Bukan sehari atau dua hari. Ini tentang masa depan kami semua." jawabnya.
"Kalau begitu,harusnya kalian berhati-hati. Kamu nggak paham betapa khawatirnya kami." ucap Indah.
"Kamu menyesal bertemu keluargamu dan kembali kemari?" tanya Anwar.
"Ya. Aku seorang trouble maker sekarang. Aku datang dengan badai." jawab Olivia. "Maaf." jawabnya lagi. Terdengar isakan yang tertahan di dalamnya yang terdengar memilukan. "Kenapa harus di sini? Kenapa tempat ini? Kenapa semua harus terjadi? God."
"Kak." panggil Felicia.
"Katakan saja apa yang kamu pikirkan. Urus sendiri perasaanmu. Aku udah nggak tau lagi." ucap Olivia pelan.
"Maafkan aku." ucap Felicia.
"Kamu tak menyukaiku?" tanya Shaka tiba-tiba yang membuat Olivia mengangkat wajahnya yang tertunduk.
"Bukan karena aku nggak suka sama kamu. Nggak ada alasan untuk itu." jawab Olivia kembali tertunduk. "Tapi,pernikahan nggak sesederhana itu. Itu bukan hanya soal suka atau tidak suka. Tidakkah kalian semua memahami situasi macam apa ini?" ucapnya dengan suara yang mulai berat menahan tangisnya. Ada airmata yang mengalir pelan di sana.
"Lalu, apa karena aku lebih muda darimu? Atau kamu berpikir aku pria jahat?" tanya Shaka.
Olivia kembali menatap Shaka dan menghela nafasnya. "Bukan juga soal itu. Bukan juga soal materi atau apapun itu. Tolong jangan memaksaku berbicara saat ini." jawabnya pelan.
"Apa anda akan membiarkan putri anda menikah dengan pria yang tidak mencintainya?" tanya Sultan membuka suaranya.
"Kamu bisa belajar mencintainya. Cinta bisa tumbuh seiring waktu." jawab Anwar.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku nggak bisa?" tanya Sultan.
"Berpura-puralah mencintaiku. Aku nggak butuh banyak hal. Aku hanya ingin hidup yang sederhana." jawab Felicia.
Jawaban itu terdengar aneh. Gadis ini seakan dipenuhi oleh ambisi dan obsesi. Semua menatap heran. Dan Sultan terlihat emosi dan sangat kesal.
"Kamu gila?" tanya Olivia heran menatap adiknya dengan airmata menetes pelan di pipinya. Dia mendengus kesal, heran dan juga dipenuhi amarah. Dia tidak menyangka dengan ucapan adiknya. Dia bahkan mengabaikan peringatan sang ayah yang memanggil namanya.
"Kutanya, apa kamu gila? Tidak waras? Atau bodoh? Hei. Pikirkan ucapanmu dan katakan hal yang logis. Apa kamu benar-benar hilang akal?" tanya Olivia sudah dipenuhi kekesalan dan emosi mendengar ucapan adiknya yang menurutnya diluar akal sehat. Matanya menatap tajam ke arah adiknya yang menurutnya sudah gila.
"Oliv." tegur Anwar entah sudah keberapa.
"Kak." panggil Felicia dengan tangisannya. Gadis itu terlihat takut mendengar ucapan kakaknya yang terlihat emosi.
"Berpura-pura mencintai katamu? Apa itu cukup membuatmu bahagia? Bahkan jika kamu mencintainya, tidak dicintai akan menyiksa. Harusnya kamu memahaminya." ucap Olivia dengan kesal. "Dan bisa-bisanya Papa setuju dengannya? Papa akan mengirim putri Papa ke dalam neraka?" tanyanya.
"Oliv. Kamu berlebihan." ucap Indah.
"Berbicaralah dengan sopan. Ini sama sekali bukan Oliv yang kukenal." ucap Anwar.
"Menikahi seseorang yang tidak mencintainya dan menyuruhnya berpura-pura mencintai? Apa itu masuk akal? Bahkan kalau kamu kehilangan harga dirimu, apa kamu akan merelakan hidupmu hanya untuk menderita hidup tanpa cinta? Lalu kamu akan mengatakan bahwa kamu akan berpura-pura bahagia? Apa itu hal yang sama? Come on. Katakan sesuatu yang masuk akal. Jangan mengatakan hal yang terdengar gila. Kalimat yang kamu ucapkan itu bukanlah kalimat yang benar. Jauh dari kata benar." teriak Olivia.
Felicia hanya menangis mendengar ucapan sang kakak.
"Sorry liv. Aku nggak mengatakan akan mengatakan kalau yang kamu katakan itu salah dan aku nggak sedang memihak siapapun disini. Tapi kamu terlalu menyudutkannya." ucap Mikaela.
"Sorry." ucap Olivia singkat. Terdengar seakan dia menahan tangis dan isakannya.
"Mungkin ini adalah takdir. Seperti yang kamu katakan dalam buku yang kamu tulis. Beberapa hal terjadi sesuai takdir. Ada yang bahagia dan tidak. Tapi kamu percaya bahwa semua orang berhak bahagia." ucap Indah.
Olivia masih terlihat penuh amarah yang membara. Tatapan matanya sungguh terlihat penuh kekecewaan.
"Dandelion. Kupikir aku memahaminya tapi ternyata tidak. Kupikir aku menulis kutipan terbaik yang memberi orang lain semangat dan harapan, tapi nyatanya aku sama sekali nol dalam hal itu. Menyedihkan." ucap Olivia dengan airmata yang mengalir pelan.
"Liv.. Kamu percaya pada takdir kalau takdir itu indah." ucap Mikaela mengingatkan apa yang sahabatnya sering katakan tentang dandelion dan takdir.
"Ya.. Dan yang tersisa hanya dandelion yang tenggelam. Menyedihkan." jawab Olivia dengan raut penuh kehancuran. Dia terdiam sesaat. "Aku tidak memahami kenapa kalian semua hanya diam. Apa hanya aku yang menganggap ini kesalahan?" tanyanya.
Sesaat mereka semua hanya diam. Begitu juga Olivia yang hanya menatap adiknya yang menurutnya terlihat berbeda dan tak masuk akal baginya.
"Anda membuatku seperti seorang kriminal yang menodai seorang gadis. Jika anda ingin aku menikah dengannya, aku akan melakukannya. Tapi jangan berharap jika aku akan bisa mencintainya." ucap Sultan akhirnya menyerah. Olivia hanya memejamkan mata dengan kekecewaan memenuhi dirinya.
"Sultan sudah menjawab. Hanya Olivia yang belum mengambil keputusan." ucap Indah bahkan tak peduli dengan ucapan Sultan yang mengatakan untuk tidak berharap. Dalam pikirannya cinta akan tumbuh begitu saja.
"Lakukan saja apapun itu hari ini juga. Aku nggak menyesal kalau aku menikah hari ini. Tapi akan sangat menyesal kalau itu terjadi besok atau hari selanjutnya." ucap Olivia dengan kekesalan dalam hatinya yang dipenuhi amarah. Keputusan tergila itu akhirnya keluar dari mulutnya. Semua orang bahkan menatap ke arahnya. Gadis yang sedari tadi menolak dan mencoba menghindar malah bertindak diluar dugaan. Kegilaan semua orang dijawab dengan hal yang lebih gila.
__ADS_1