Our Dandelions Destiny

Our Dandelions Destiny
02.Kegembiraan sebelum badai datang


__ADS_3

"Liiiv.. I miss you so much." Mikaela dengan semangat berlari menyambut dan memeluk sahabatnya yang selama lebih dari enam tahun ini berada di London. Mereka sangat dekat bahkan lebih dari saudara. Gadis itu bahkan tak memberi kesempatan sang sahabat untuk memeluk keluarganya lebih dulu.


Olivia tersenyum dan membalas pelukan sahabatnya itu yang kini membawa tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan riang tak ubah anak kecil. "I Miss you too." jawabnya.


"Dua gadis ini berlebihan sekali. Padahal mereka baru bertemu beberapa waktu lalu." komentar Gilang.


"Sebulan sangat lama. Dan saat itu dia hanya sibuk dengan pamerannya." jawab Mikaela tak terima namun melepas tubuh sang sahabat yang tertawa melihat perdebatan kedua manusia yang pernah memadu kasih itu. Setau Olivia mereka berpisah beberapa saat lalu. Meski dia sangat tau keduanya akan kembali bersama beberapa saat kemudian. Hobi putus nyambung karena masih sama-sama egois.


"Setidaknya biarkan dia memeluk keluarganya lebih dulu." omel Gilang yang membuat Mikaela memberengut kesal..Sementara Olivia sudah memeluk kedua orangtua dan adiknya.


"Bagaimana perjalananmu? Menyenangkan?" tanya Felicia dengan kedua tangannya menggenggam jemari sang kakak dengan wajah berbinar.


Olivia mengangguk dengan sudut bibir terangkat. "Kamu semakin cantik." pujinya pada sang adik.


Gadis cantik itu tersenyum mendengar pujian kakaknya. "Kak Oliv sama saja. Wajahmu bahkan tak berubah sejak terakhir kali aku melihatmu di bandara. Maaf,aku tak pernah berkunjung." ucap Felicia penuh sesal.


"Tidak masalah. Aku memahaminya." ucap Olivia dengan senyum merekah.


"Kamu nggak pengen meluk kami juga?" protes Gilang yang berdiri bersebelahan dengan Angga, sepupu Olivia yang adalah adik Gilang.


"Ouw.. I'm so sorry." jawab Olivia lantas memeluk sebentar kedua sepupunya itu.


"Welcome to Indonesia." ucap Angga saat memeluk Olivia dengan elusan di punggung gadis itu.


"Thank you." jawab Olivia tersenyum ketika melepas pelukannya dan menepuk pelan punggung Angga.


"Oh. Shaka. Kamu disini juga?" ucap Olivia menyapa adik dari sahabatnya itu. Baginya Shaka adalah adiknya juga. Olivia cukup dekat dengan keluarga Mikaela yang membuat Shaka juga dekat dengannya. Terlebih Shaka dan Olivia memiliki guru musik yang sama dan membuat keduanya lebih akrab karena memiliki hobi dan kesukaan yang sama terhadap seni.


"Aku datang bersama kak Mika." jawab Shaka dengan senyumnya.


"Terakhir aku melihatmu masih berseragam SMA. Kamu semakin tampan. Kamu bahkan punya tubuh tinggi dan atletis." puji Olivia yang membuat Shaka tertunduk dengan senyumnya yang mengembang. Tanpa Olivia ketahui jika pemuda itu menaruh rasa padanya sejak lama.


"Pasti ada banyak gadis yang berlomba menarik perhatianmu dan ingin dijadikan pacar." lanjut Olivia yang membuat senyum Shaka memudar. Sadar jika dirinya takkan mendapatkan hati seorang Olivia yang telah memiliki tambatan hati.

__ADS_1


Olivia memperhatikan sekelilingnya. Sedikit kecewa karena Sultan tak ada di sana untuk menyambutnya. Padahal Olivia bermaksud mengatakan jika keduanya memiliki hubungan sejak lama pada orang tuanya. Selama ini kedua orang tuanya hanya tau jika mereka bersahabat.


"Kamu pasti lelah. Ayo masuk lebih dulu. Maaf,kami memilih tempat ini untuk menyambutmu. Kupikir suasana tenang akan bagus. Selama ini kita banyak menghabiskan waktu di tengah perkotaan. Hutan hijau ini terasa sejuk dan damai" ucap Indah memeluk pundak sang putri tertua.


"Tempat seperti ini sangat nyaman. Terimakasih Ma." ucap Olivia merasa senang kedatangannya disambut oleh sang ibu. Dia berharap kali ini ibunya takkan memintanya melanjutkan pendidikan atau berkarir di negeri asing. Karena dia bahkan sudah bersiap dengan karier barunya sebagai pengajar dimana Sultan juga mengajar. Tempat yang sama dengan tempat Felicia dan Shaka menimba ilmu.


Mereka memilih villa milik keluarga di daerah pegunungan yang sejuk dan damai. Suasana ini membawa ketenangan. Mereka semua masuk ke dalam villa bersama lalu duduk di ruang tamu besar di sana.


"Tapi Liv. Kamu datang dari Kanada? Kamu tidak tau betapa kami merindukanmu? Kepulanganmu bahkan terlambat seminggu dari seharusnya?" tanya Mikaela.


"Hmm. Aku pergi menghadiri pernikahan temanku. Maaf aku terlambat pulang karena aku perlu menyelesaikan beberapa lukisan yang akan dikirim untuk acara amal." jawab Olivia.


"Apa disana sangat dingin? Pakaianmu tebal sekali." ucap Indah membantu Olivia melepas mantel tebalnya.


"Dua hari lalu badai salju. Suhu mencapai minus tiga puluh lima derajat di sana. Bandara ditutup dan bahkan semua orang tak boleh keluar rumah." keluh Olivia dengan gelengan kepala.


"Beruntung kamu nggak flu. Kalau kamu flu, ingusmu akan membeku." ucap Angga tertawa dan mendapat tatapan tajam dari Olivia hingga pria muda itu menghentikan tawanya.


"Kamu sama sekali nggak berubah. Masih sama." ucap Angga.


Olivia menatap sepupunya itu. "Hei.. Aku masih Olivia Sudira. Bukan Wonder Girl. Memangnya aku harus bisa berubah seperti karakter fantasi dalam film? Aku mempelajarinya bukan untuk merubah diriku. Benar?" tanya Olivia.


"Hmm.. Kamu benar. Tapi bukan itu maksudku." ucap Angga akan menyanggah. "Ah! Sudahlah. Tak ada gunanya mendebatmu." ucapnya lagi. Keduanya sebenarnya sangat dekat. Mereka menjadi sering menelpon dan saling merindukan saat jauh dan akan berdebat dan bertengkar tak ubah Tom and Jerry saat dekat.


Olivia tertawa penuh kemenangan. "Tuan muda kita selalu kalah sebelum bertempur denganku." ucap Olivia terlihat mengejek.


"Aku tidak kalah. Aku hanya mengalah. Dasar, senang sekali membuat orang kesal. Masih saja. Aku heran, tak ada kata damai diantara kita. Dan anehnya, aku merindukanmu saat kamu jauh." omel Angga. Sementara yang lain hanya menggelengkan kepala mendengar perdebatan keduanya.


Olivia tertawa mendengar kekesalan sepupunya itu. "Sorry.." ucapnya tapi terlihat tanpa penyesalan membuat Angga menggerutu pelan. "Tapi, Tuan muda. Apa kamu sudah punya pacar sekarang? Atau Tuan muda kita ini masih betah menjomblo?" tanyanya kemudian.


"Berhenti memanggilku Tuan muda." kesal Angga. "Aku nggak punya pacar juga bukannya betah menjomblo.. Aku hanya sedang menikmati masa mudaku dengan bebas dengan status single." jawab Angga membela diri dengan mata melotot.


Olivia semakin tertawa mendengar jawaban Angga karena memang senang membuatnya marah. "Tidakkah itu sama saja?" tanyanya.

__ADS_1


"Hmm. Terserah saja." ucap Angga memilih mengalah. Jika dilanjutkan mereka takkan berhenti entah sampai kapan.


"Tapi,ada apa dengan mantan sepasang kekasih ini? Rujuk?" tanya Olivia menatap Mikaela dan Gilang bergantian.


"Rujuk apanya? Kami kan tidak menikah." jawab Mikaela tak terima.


"Hanya berteman. Itu lebih baik. Bagaimanapun kami pernah menjalin hubungan baik. Jadi jika berakhir juga harus dengan cara yang baik." jawab Gilang.


"Oke. Pilihan yang bijak. Aku kira aku hanya akan ketemu salah satu dari kalian hari ini. Terimakasih sudah datang bersama." ucap Olivia dengan kepala menunduk seperti memberi penghormatan.


"Kami nggak datang bersama. Aku datang bersama adikku." ucap Mikaela mengelak. Olivia hanya mengangguk-angguk.


"Lihatlah dia. Cepat sekali dapat target. Siapa saja bisa jadi korban sifat usilnya yang menjengkelkan." keluh Angga.


"Sifat usil yang selalu dirindukan semua orang. Dan si usil yang berubah jadi bijaksana hingga jadi sasaran curhat semua orang. Jangan mengeluh atau kubuka semua rahasia kalian." ucap Olivia sok mengancam.


Angga tertawa mendengar ucapan Olivia lalu perlahan menghilang dan berganti ekspresi aneh. "Dia mengancam." ucapnya.


"Oh my god." ucap Mikaela dengan wajah menegang. Sementara Gilang terlihat menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu mengusap tengkuk lehernya.


"Lihatlah. Mereka semua takut rahasianya terbongkar." ejek Olivia. "Tapi tenang saja..l Diantara milyaran manusia di muka bumi ini nggak akan ada yang tau rahasia kalian dari mulutku." ucapnya lagi. Semua hanya bisa menggeleng kepala. Namun Shaka tersenyum menatap Olivia seakan baru saja mendapat suplai energi.


"Tapi kak. Kamu nggak kabari temanmu yang lain kalau kamu pulang?" tanya Felicia.


"Mereka sedang sibuk dengan pekerjaan dan pendidikan mereka. Hanya Mika yang bisa datang saat ini." jawab Olivia.


"Nggak mungkin aku nggak datang. Sesibuk apapun aku." timpal Mikaela.


"Sultan?" tanya Indah.


"Dia sedang pergi ke Surabaya. Dia akan datang sore nanti." jawab Olivia.


Namun hingga hari hampir sore, Sultan tak juga menampakkan batang hidungnya. Sementara Olivia masih menikmati pertemuan dan kegembiraan bersama keluarga dan orang terdekatnya tanpa sadar jika badai akan segera datang dalam kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2