
..."Liv.." panggil seorang pria saat mereka berempat baru saja selesai membeli oleh-oleh.. Membuat semua menoleh kesumber suara.. Disana ada dua orang pria yang mendekat.....
..."Oh.. Kak Evan.." sapa Olivia dengan ramah.. Tangannya terulur membalas ukuran tangan pria bernama Evan itu.. "Apa kabar? Lama tak bertemu.." ucapnya.....
...Evan mengangguk dengan senyuman diwajahnya.. "Baik.. Aku yakin kamu juga baik karna sekarang lagi disini.." jawabnya dan Olivia tertawa samar dengan anggukan kepala.. "Masih inget dia dong.. Masak udah lupa sih?" tanya Evan menunjuk rekan yang berdiri dibelakangnya.....
...Olivia mengangguk dengan tatapan sekilas dengan senyum hambar.. "Inget.. Inget kok.. Hai.. Ar.. Apa-kabar?" tanyanya terlihat begitu canggung.. Mendengar nama panggilan yang sama, Shaka menatap istrinya yang terlihat tak begitu nyaman.. Tatapan pria yang dipanggil Ar itupun terlihat sangat berbeda.. Seperti tatapan cinta dan rindu.....
...Sementara Olivia mulai merasakan kejanggalan panggilannya untuk Shaka yang baru dia ingat jika itu pernah menjadi panggilan untuk seseorang.....
..."Aku.. Cukup baik.. Meski tak sebaik terakhir kali kita bertemu.. Tapi sepertinya Tuhan memberikanku kesempatan untuk ketemu kamu lagi.." ucap pria yang sebenarnya bernama Arbani itu.. Olivia hanya diam dan bahkan mengalihkan pandangan.....
..."Gini amat obrolannya.. Astaga.." ucap Evan tertawa pelan yang dibalas senyum canggung Arbani.. "Kita ngobrol dicafe aku.. Tuh.. Disana.. Ajak teman kamu sekalian.. Ada banyak yang harus kalian selesaikan.." ucap Evan.....
...Olivia terlihat serba salah hingga menghembuskan nafas panjang yang sangat ketara dimata Shaka.. Merasa cemburu karna melihat ada api cinta dimata pria asing itu dan juga penasaran tentang ada apa diantara keduanya.. Jika mereka memiliki hubungan dimasa lalu, artinya sebelum Sultan.. Sultan bahkan memperhatikan dengan seksama dan terlihat tak tau menahu.....
...Mereka akhirnya memutuskan duduk bersama di Cafe Evan.. Shaka semakin heran saat pria yang dia belum ketahui namanya itu duduk disamping kiri Olivia.. Dan dirinya ada disamping kanannya.. Dia hanya berusaha tenang dan bersabar.. Menahan rasa cemburu dan penasaran.....
..."Ini kesempatan kamu buat jelasin sejelas-jelasnya kedia Ban.. Ya meskipun menurutku ini sudah sangat terlalu lama.." ucap Evan.....
...Arbani mengangguk kemudian menatap Olivia.. "Aku nggak akan nutupin apapun meski disini ada orang lain yang tak tau apapun tentangku.. Tapi Liv.. Aku pergi tanpa kabar bukan tanpa alasan.. Dan aku juga sempat nyariin kamu dijakarta, ternyata kamu pergi belajar diluar negri.." ucap Arbani memulai pembicaraan.. "Aku tau kamu pasti kecewa.. Tapi aku merasa aku nggak akan bisa berdiri disamping kamu lagi saat itu.." lanjutnya dengan tatapan sendu menatap Olivia.. Sementara Olivia hanya menatap lurus dinding kosong dengan satu tangan diatas meja.....
..."Bahkan hanya sebagai partner bermain musik.." ucap Arbani dengan tangan kiri terulur menyentuh tangan Olivia dan membuat Olivia menoleh terkejut.. Tatapannya bahkan terarah pada wajah Arbani yang terlihat berkaca-kaca.. Semua mata terlihat menatap kearah yang sama.. Pria itu ternyata kehilangan jari manis dan jari kelingkingnya.. Dan jari tengah yang terlihat tinggal setengah.....
...Olivia pun sama terkejut.. Ekspresi wajahnya terlihat antara sedih, kecewa, iba dan entah apa.. Sulit diartikan.....
..."Aku nggak ngabarin kamu.. Aku malu.. Nggak percaya diri.. Karna kupikir aku sudah tak bisa apa-apa lagi Liv.. Aku terpuruk.. Kita pernah mengatakan kalau kita akan meraih mimpi bersama.. Kamu dengan violin kamu dan aku dengan celloku.. Aku rindu saat latihan bersama.. Piano diruangan Bu Emma yang sering kita mainkan.. Tapi tak mungkin lagi dengan kondisiku yang seperti ini.." ucap Arbani.....
__ADS_1
..."Itu hanya kenangan Ar.. Ban.. Semua sudah berubah.. Jika boleh dikata, dimasa lalu aku kecewa, ya aku kecewa.. Aku tiba-tiba kehilangan partner, sahabat terbaikku.. Tapi percuma.. Waktu tak bisa diputar ulang.. Jikapun bisa, kupikir aku akan tetap berada dalam jalanku sekarang.. Aku percaya jalan ini yang terbaik.. Kalau pun saat itu kamu tetap disana, mungkin aku yang nggak disana.." ucap Olivia akhirnya membuka suara.....
..."Apa maksud kamu kalau mungkin kamu juga nggak disana?" tanya Arbani.. Olivia hanya diam.. Rasanya seperti membuka luka lama.. "Dan ya, saat kamu diluar negri.. Aku nitip pesan ke Feli.." ucap Bani yang membuat semua menatap Feli yang terlihat gugup ketika namanya disebut.....
..."Kak Oliv juga udah berhenti main musik.. Kupikir masa lalu adalah masa lalu dan tak perlu diungkit lagi.. Dan saat kak Bani datang, kak Oliv juga udah punya pacar.." ucap Feli beralasan.....
..."Kamu berhenti main violin? Kenapa?" tanya Arbani yang setaunya sangat menyukai violin.....
..."Kak Olivia kecelakaan.. Berkuda.. Patah kaki dan tangan.. Cedera bahu.. Nggak bisa main musik lagi.. Aku nggak yakin kalau kak Bani nggak tau.." ucap Felicia ketus.....
..."Kapan?" tanya Arbani.....
..."Tepat sehari setelah latihan terakhir kita.. Tepat seminggu sebelum kompetisi.." kali ini Olivia yang menjawab.....
..."Dan Bani kecelakaan empat hari sebelum kompetisi.." ucap Evan.....
..."Maafin aku Liv.. Aku sama sekali tak tau apapun soal itu.." ucap Arbani akan memegang tangan Olivia namun ditepis.....
..."Sudahlah Ban.. Tak perlu diperpanjang.. Itu hanya masa lalu.. Kita sama-sama tak tau apapun.. Semua sudah berlalu.." ucap Olivia.. Raut wajahnya seperti tanpa beban.....
...Arbani mengangguk.. "Aku menemukan cara yang membuatku kembali percaya diri tanpa melupakan kamu Liv.. Jika bisa kita mulai lagi bersama,aku masih berharap kita akan kembali.." ucapnya.....
..."Antara kita nggak pernah ada yang lebih dari sahabat.. Partner bermain musik yang punya sama tujuan.. Ingin sukses bersama.." ucap Olivia dan Arbani seperti akan memberikan sanggahan.. "Jikapun dulu pernah ada cinta dan peduli, tapi waktu berlalu begitupun rasa yang tak diasah.. Dan sembilan tahun adalah waktu yang lama.. Sekarang.. Aku sudah menikah.. Maaf baru diperkenalkan.. Dia suami aku.. Kita baru menikah beberapa hari lalu.." ucap Olivia menatap Shaka yang terlihat menahan rasa cemburu.. Sementara Arbani terkejut menatap Shaka.. Sama sekali tak menyangka jika pria disamping Olivia adalah suaminya.....
..."Maaf.. Aku sama sekali tak berniat melakukan hal semacam ini didepan suami kamu.." ucap Arbani serba salah.. Namun yang lebih terlihat adalah raut kecewa.....
...Pria disampingnya itu tersenyum.. "Aku paham jika semua orang punya masa lalu.. Tapi aku percaya sekarang dan masa depan kamu adalah aku.." ucap Shaka menatap mesra sang istri dan Olivia terlihat tersenyum tipis.. "Maaf Bung.. Kuharap hanya tersisa persahabatan diantara kalian.. Aku masih mentoleransi persahabatan,tapi tentunya berbatas.. Tak apa kalau sekedar bertanya kabar dan menyapa.." ucap Shaka lagi.. Dia mencoba bersikap wajar.. Ingin terlihat dewasa dimata Olivia dan tak ingin diremehkan oleh para mantan Olivia.. Ternyata istrinya punya banyak penggemar rasanya berat juga batin Shaka.....
__ADS_1
..."Aku pikir adik sepupu kamu Liv.." ucap Evan.....
..."Saya memang lebih muda.. Usia lebih kecil tapi cinta jangan diragukan.." ucap Shaka percaya diri.....
..."Maaf.. Bukan menyinggung.. Tapi selama ini dia menghindari hubungan dengan yang lebih muda.." ucap Evan.....
..."Cinta membuat seseorang tak melihat apapun.. Buta.. Anggap aja aku ketemu karma.. Menghindari lebih muda tapi malah jatuh cinta dan menikah dengan yang lebih muda.. Ah tidak, ini bukan karma.. Takdir Tuhan yang tak terduga.. Dan ternyata takdir lebih indah dari rencana manusia.." jawab Olivia tersenyum menatap Shaka yang juga tersenyum padanya.. Shaka terlihat sangat bahagia, meski sadar jika ucapan Olivia tak ubah sandiwara yang menutupi kisah pernikahan mereka yang mungkin hanya cinta bertepuk sebelah tangan.. Setidaknya dia tak menjatuhkan harga diri Shaka sebagai suami dengan mengatakan jika dirinya mencintainya.. Sedang Sultan dan Arbani seperti dimusnahkan bersamaan.....
..."Maaf Ban.. Dan terimakasih atas semuanya.. Mungkin kita dipertemukan untuk meluruskan semuanya.. Tak baik jika pikiran kamu masih berdiri diwaktu lampau sedang raga sudah ada dimasa kini.. Kita masih bisa bersahabat.." ucap Olivia tersenyum.. "Maaf kalau dimasa lalu, aku bukan sahabat terbaik yang mendukung kamu disaat kamu menghadapi fase yang berat.." lanjutnya.....
...Arbani mengangguk.. "Aku juga minta maaf, aku tak disana saat kamu ada dimasa sulit.. Maaf jika semua sikapku membuat kamu tak nyaman dan benci.. Aku senang sekarang setidaknya semua udah clear.." ucapnya dengan senyum tipis yang masih dipaksakan.....
...Evan menghela nafas panjang.. "Takdir memang diluar sangkaan.. Penuh kejutan.. Apalagi lepas sembilan tahun pasti banyak yang berubah.." ucap Evan menepuk pundak Arbani yang tertunduk.....
..."Jadi kalian berdua tinggal diBali?" tanya Olivia mencoba memulai pembicaraan yang tak terlalu serius agar tak lagi canggung.....
..."Setelah kecelakaan aku tinggal di Surabaya selama tiga tahun.. Sempat balik Jakarta setidaknya setahun.. Baru pindah disini,coba usaha.. Kamu kuliah dimana? Ambil jurusan apa?"...
..."London, jurusan art design.. Aku dan dia ambil jurusan kuliah yang sama.. Meski diuniversitas berbeda.." ucap Olivia menoleh kearah Shaka yang hanya tersenyum.. Mereka kemudian berbincang ringan.....
..."Kita mau balik villa.. Nanti malam balik jakarta.. Sekali lagi maaf.." ucap Olivia yang kemudian bangkit dari duduknya bersamaan dengan Shaka.....
..."Semoga kalian bahagia.. Selamat.." ucap Arbani terlihat mencoba berbesar hati mengulurkan tangan pada Shaka.. Shaka pun membalasnya dan mengucapkan terimakasih.....
..."Semoga kalian sama bahagia dan selalu sukses.. Sampai jumpa.." ucap Olivia.....
..."Maaf kak.. Aku nggak bermaksud ikut campur urusan pribadi.. Tapi sebagai saudara kak Oliv, saat itu aku cuma pengen kak Oliv tenang tanpa beban masa lalu.. Harusnya aku nggak ngasih kak Bani harapan.. Maaf.." ucap Felicia yang membuat Sultan mneggerutu dalam hati.. Dia memisahkan dua orang yang saling mencintai sebanyak dua kali dengan korban yang sama.. Olivia.. Sultan merasa Felicia hanya diisi dengan rasa iri.. Meski dulu dirinya juga menikmati kebersamaan dengan Olivia mungkin karna ulah Felicia yang tak mengungkap kebenaran tentang Arbani.. Dan sayangnya, kebahagiaan itu direnggut juga.....
__ADS_1
...Mereka pun kembali ke Villa.. Shaka sepertinya akan membicarakan banyak hal dengan istrinya.. Terlebih tentang panggilan mereka yang sama.....