Our Dandelions Destiny

Our Dandelions Destiny
06.Suami dingin


__ADS_3

Sementara di kamar lain, Sultan memilih tidur di sofa. Tak ada percakapan sedikitpun. Sikap Sultan yang terkenal dingin pada wanita, nyata dirasakan oleh Felicia malam ini. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut pria yang berstatus sebagai suaminya itu.


Dalam hati tentu gadis itu merasa resah. Dia melihat dengan jelas Sultan begitu manis bersikap saat bersama Olivia dulu. Sikap yang seringkali membuatnya iri pada sang kakak. Meski dia tau benar, Sultan adalah pria dingin yang antipati pada wanita selain Olivia. Entah apa yang menarik perhatian seorang Sultan hingga bersikap demikian pada Olivia. Atau apa yang dilakukan Olivia pada Sultan hingga membuat pria itu cinta mati padanya.


Felicia hanya menatap Sultan di kejauhan yang terlihat terus merubah posisi tidurnya. Dia sama sekali tak menemukan kenyamanan dan ketenangan. Bagaimana mungkin dia akan tertidur dengan nyaman jika hati dan pikirannya terus tertuju pada gadis pujaannya yang entah sedang apa di balik dinding sana bersama pria lain?


Meski Sultan sadar benar akan posisinya saat ini. Dia adalah suami seseorang sedang gadis pujaannya kini berstatus sebagai istri dari pria lain. Seorang pria muda yang adalah mahasiswa di kampus dia mengajar. Dan begitupun istrinya yang nyatanya adalah mahasiswinya.


Felicia sadar benar jika dirinya sudah mengambil jalan sulit untuk menikahi pria yang tidak mencintainya. Dia sangat sadar jika jalan yang diambilnya ini akan lebih sulit. Mengambil hati seorang pria pasti lebih sulit dibanding wanita. Terlebih dia sadar benar, selama ini Sultan bahkan setia hanya pada seorang gadis yang berada sangat jauh darinya,kakaknya sendiri.


Ada perasaan kecewa yang memenuhi rongga dadanya karena dia tak bisa berbahagia dengan pernikahannya bersama pria pujaannya. Dan tersirat perasaan bersalah seakan dia telah merebut kekasih kakaknya. Tapi nyatanya kakaknya kini juga telah memiliki jalannya sendiri. Sebagian dirinya telah dikuasai oleh keegoisan dan ambisi pada cinta buta.


Gadis itu merasa harus berjuang sesulit apapun jalannya. Dia sangat tau ini takkan semudah yang dia bayangkan. Juga takkan semudah dalam drama.


Gadis itu bangun dan mengambil sebuah selimut kemudian menyelimuti tubuh Sultan yang dipikirnya sudah tertidur karena tak ada lagi pergerakan dari pria itu.


"Saya nggak suka tidur dengan selimut. Karena itu saya nggak ambil. Sebaiknya kamu tidur dan nggak perlu menghiraukan saya." ucap Sultan yang ternyata masih belum tidur. Ucapannya begitu dingin melebihi dinginnya udara malam ini. Sama seperti Sultan sebagai dosen yang terkenal dingin di kampus. Dia bahkan berbicara formal dengan saya-kamu.

__ADS_1


"Tapi kupikir udaranya sedikit dingin malam ini." ucap Felicia yang membuat Sultan langsung membuka matanya dan menatap tajam padanya. Tatapan tajam menukik seakan tatapan itu akan menghujamnya.


"Saya bilang saya nggak suka. Jadi diam saja. kalau saya ngerasa dingin, saya akan ambil sendiri. Nggak perlu repot. Tolong jangan buat saya menjadi pria yang buruk. Saya masih belum bisa menerima kenyataan kalau saya menikahi adik dari perempuan yang saya cintai dan mahasiswi saya sendiri. Saya pikir kamu pasti memahaminya. Maafkan saya, tapi ini adalah pilihan kamu." ucap Sultan kemudian membalikkan badannya. Hatinya masih marah dan pikirannya masih tak bisa berpikir jernih. Kejadian itu begitu aneh dan tiba-tiba meski memang ada sebagian kesalahannya di sana. Niat hati memeluk kekasih yang dirindukan dan malah terjebak dalam kekonyolan.


"Permisi." ucap Felicia dengan suara yang sedikit tertahan karena takut.


"Apa lagi?" tanya Sultan tanpa menoleh. Masih dengan suara dan nada ucapannya yang dingin.


"Aku nggak bisa tidur kalau gelap. Bisakah aku membiarkan lampunya tetap menyala?" tanya Felicia.


"Terserah kamu saja. Sebaiknya cepat tidur. Kamu mengganggu saya." jawab Sultan.


"Maafkan aku." ucap Felicia.


"Aku mengerti." jawab Felicia.


"Saya bahkan hanya memeluk kamu dan kamu menyetujui pernikahan nggak masuk akal ini? Saya nggak memahami jalan pikiran kamu. Apa menurutmu pernikahan adalah lelucon? Bisa-bisanya kamu meminta saya berpura-pura mencintaimu? Apakah saya terlihat seperti pria yang mudah berdrama dengan keadaan? Apakah kamu nggak tau kalau saya adalah dan Olivia memiliki hubungan? Apakah kamu nggak memahami rasa sakitnya?" tanya Sultan dengan rentetan pertanyaan.

__ADS_1


"Maafkan aku." ucap Felicia.


"Berhentilah minta maaf. kalau kamu sungguh ingin minta maaf,harusnya kamu menolak pernikahan ini sejak awal. Kamu tau saya sangat mencintai Olivia lebih dari diri saya sendiri. Saya nggak akan pernah bisa menggantikan dia dengan siapapun. Dia terlalu berharga bagi saya." ucap Sultan.


Rasanya sakit mendengar penuturan itu keluar dari bibir seorang Sultan yang begitu dipujanya. Tapi dia tak bisa berbuat apapun. Selain terlambat dan harapan jika dirinya akan menggerakkan hati seorang pria yang kini adalah suaminya itu. Ingin sekali dia menangis dengan keras atau mengadukan ini pada seseorang, tapi itu hanya akan membuat Sultan semakin tak menyukainya.


Olivia dan Felicia seakan memiliki kehidupan yang sangat berbeda. Pernikahan terpaksa yang keduanya lakukan seperti membawa keduanya kedunia baru yang aneh. Dunia yang sama sekali tak pernah mereka impikan.


Olivia mungkin beruntung menikahi pria yang peduli padanya, seorang pria yang mencintainya meski tak dia cintai. Tapi bagi Felicia,Sultan sangat dingin padanya. Meski Olivia tak mencintai Shaka tapi setidaknya gadis itu masih bersikap baik dan lembut padanya karena masih mempertimbangkan kedekatannya dan keluarganya selama ini. Olivia dan Sultan sama-sama masih bersusah payah melawan hatinya.


Sultan sebenarnya tak ingin bersikap kasar pada Felicia. Tapi kenyataan dan hatinya yang marah nyatanya membuatnya bersikap dingin dan terlihat jahat. Jika sampai Olivia tau sikapnya pada sang adik, mungkin dia akan membencinya. Sultan tak ingin hal itu terjadi. karena dibenci oleh seorang yang dicintai tak ubah neraka baginya.


Sultan menoleh dan mendapati Felicia masih terdiam ditempatnya. "Tidurlah. Jangan membuat saya buruk. Saya mungkin nggak mencintai kamu. Saya mungkin membenci kenyataan kalau kamu adalah istri saya.. Karena kamu membuat saya merasa berada dalam kungkungan sangkar dan menjebak saya berada di sini. Tapi saya masih punya hati. Saya bukan pria kejam yang akan menyakiti seorang wanita. Jadi tolong tidur saja. Saya butuh waktu untuk mencerna situasi ini. Meski saya nggak tau sampai kapan keadaan ini akan terjadi. Saya bukan pria yang mudah jatuh cinta. Dan seumur hidup saya dalam dua puluh delapan tahun ini, sembilan tahun saya hanya mencintai seorang wanita, saya sudah menghabiskan tujuh tahun bersamanya dengan penuh kenangan. Jadi jangan berharap terlalu banyak. Jangan sakiti diri kamu sendiri. Karena saya nggak pernah memintamu datang pada saya apapun caranya." ucap Sultan.


"Dan satu lagi. Jangan pernah bersikap seperti istri di kampus. Di rumah pun tak perlu. Saya tidak suka sandiwara. Saya tidak suka kamu bersikap baik dan mengharap saya akan membalas budi untuk itu." lanjut Sultan, dingin dan menghujam.


Kalimat itu menggema di telinga seorang Felicia yang berjiwa rapuh. Dia adalah gadis yang terbiasa mendapatkan segalanya. Tak pernah kekurangan kasih sayang. Tentu itu bagai pukulan terberat dihidupnya. Pria yang begitu dicintai dan diinginkannya mengatakan hal seperti itu. Sebuah penolakan keras tanpa pemanis. Tak ada kalimat ramah yang halus di dalam sana. Membuat pendengarnya merasakan nyeri yang menusuk kalbu.

__ADS_1


Gadis itu melangkahkan kakinya kembali menuju ranjang dengan rasa sakit di hatinya. Airmata diam-diam mengalir dan jatuh ke pipi. Buah dari keputusan besarnya untuk menikah dengan pria tanpa cinta untuknya.


Apakah Felicia akan bertahan dengan suami dinginnya? Apakah dia akan mampu meluluhkan seorang Sultan? Tidak adakah kesempatan sedikitpun dihati Sultan untuk menimbang rasa yang gadis itu miliki?


__ADS_2