
"Kamu mau kemana Liv?" tanya Mikaela saat melihat sahabatnya itu berpenampilan rapi. Olivia dan Shaka sepakat untuk menginap di rumah keluarga Shaka selama seminggu. Niat mereka tentu disambut baik. Keluarga mereka senang jika Olivia akan tinggal lebih lama lagi. Meski ada pengajuan keberatan dari Indah untuk itu, namun akhirnya setuju Olivia tinggal untuk seminggu.
"Aku ada janji ketemu sama pelatih aku dulu." jawab Olivia.
"Dianter Shaka? Kok dia belum nongol?" tanya Farida.
"Enggak Ma. Shaka mau ketemu sama temennya. Katanya juga nanti dia mau ke Gym." jawab Olivia.
"Ya kan bisa anter kamu dulu. Biar dianter aja ya?" ucap Farida terlihat memaksa.
"Oliv naik taxi aja Ma. Nanti Shaka malah capek kalau mesti bolak-balik. Soalnya tujuan Oliv jauh dari sini." jawab Oliv. "Oliv berangkat dulu ya." ucap Oliv yang segera berangkat setelah mencium punggung tangan sang mertua.
Saat Oliv sudah keluar rumah, Shaka baru turun dan bertemu sang ibu untuk pamit pergi. "Kamu gimana sih? Masak istrinya dibiarin pergi sendiri naik taxi? Kalau dia digondol orang baru tau kamu. Katanya cinta, kok ya nggak ada perjuangannya." omel Farida pada sang putra.
Shaka menghela nafas panjang. "Ma. Dia masih butuh waktu buat menyesuaikan diri. Semuanya nggak mudah. Iya aku cinta, tapi dia belum. Kalau aku maksa anter, nanti malah dia merasa aku tekan. Merasa nggak ada kebebasan. Malah bahaya Ma. Makanya aku biarin dia pergi sendiri. Hargai juga privasinya. Aku percaya dia bukan tipe yang aneh-aneh." jawabnya.
"Mama khawatir dia ketemu Sultan." ucap Farida yang mengkhawatirkan rumah tangga putranya yang tak berdasarkan cinta. Meski ucapan Shaka memang benar. Meski dia tau Olivia adalah gadis yang memegang teguh nilai dan norma dan menjaga kehormatannya. Tapi rasa khawatir masih tetap ada.
"Semoga itu hanya ketakutan Mama. Tolong do'akan aja kebaikan kita kedepannya ya Ma. Shaka akan berusaha." jawab Shaka lantas berpamitan dan pergi. Tak menampik kenyataan jika sebenarnya dalam lubuk hatinya Shaka juga khawatir akan hal itu.
Selang beberapa jam kemudian. Saat Shaka berada di Gym bersama temannya. Dia terkejut saat melihat Olivia datang ke sana. "Hey. Kak. Apa kabar?" sapa Olivia pada Julian, seorang pelatih Gym disana.
"Baik. Kamu baik?" tanya Julian memeluk sebentar Olivia dengan tepukan di bahunya. Tentu sukses membuat jiwa Shaka terbakar api cemburu.
"Baik." jawab Olivia dengan senyumnya. Dia bisa menangkap raut berbeda dari tatapan Shaka untuknya.
"Jenny udah cerita semuanya ke aku. Tapi hari ini aku nggak ada jadwal praktik. Hari ini aku ganti profesi jadi pelatih Gym." ucap Julian tertawa. "Kamu ada hasil laporannya?" tanyanya lagi. Olivia mengangguk lalu memberikan berkas yang cukup tebal dengan sampul berwarna kuning pada Julian.
"Kita tunda sebentar ya latihannya." ucap Julian pada Shaka dan temannya.
"Maaf kalau aku datang di waktu kurang tepat." ucap Olivia menatap Shaka. Shaka hanya diam tanpa jawaban. Sementara temannya menatap Olivia tanpa jeda semakin membuat Shaka terbakar. Tapi dia masih belum ingin mengungkap status mereka karena tak ingin Olivia merasa tak nyaman. Dia memutuskan untuk menunggu sampai Olivia benar-benar siap.
Sementara Julian sibuk membuka lembar demi lembar yang ada di tangannya. "Soal kaki kamu?" tanya Shaka. Olivia mengangguk.
"Kalian kenal?" tanya Julian.
__ADS_1
"Kenal. Keluarga kami sangat dekat." jawab Shaka melirik Olivia yang terlihat merasa bersalah dengan jawaban Shaka. Gadis itu mengangguk seperti isyarat jika tak apa memberitahukan kebenaran tentang mereka tapi Shaka menggeleng pelan dan tersenyum samar dengan isyarat jika itu akan dibahas nanti di rumah.
Julian menarik kursi di belakangnya agar Olivia duduk. "Kita lihat dulu kondisi kaki kamu. Bisa kamu lepas dulu sepatu kamu?" ucapnya lalu berjongkok di depan Olivia setelah Olivia melepas sepatunya.
Shaka tak hanya memperhatikan kaki Olivia, tapi juga memperhatikan ekspresi gadis itu yang nampak menggigit bibir sendiri. Entah karena takut atau sakit. Ingin rasanya menggenggam tangannya dan memberi sedikit kekuatan. Shaka menghela nafas panjang yang membuat Olivia menoleh karenanya.
"Kamu abis jatuh lagi Liv?" tanya Julian.
"He'em. Nggak sengaja. Kesandung." jawab Olivia. "Kenapa? Parah?" tanyanya.
"Bukan karena kamu latihan lagi kan?" tanya Julian.
"Aku pergi latihan terakhir setahun lalu sebelum jatuh di ice skating. Dokter bilang semua baik asal nggak berlebihan. Jadi aku pergi latihan." jawab Olivia jujur.
Julian menghela nafas panjang. "Bandel juga ya kamu." ucapnya mendongak menatap Olivia dengan tangan masih bertengger manis di kakinya membuat Shaka berusaha untuk tak cemburu.
Bersabarlah Shaka. Akan ada saat yang indah. Batin Shaka menguatkan dirinya sendiri.
"Bandel sih enggak. Kan dokter udah ijinkan. Penasaran dong aku, seberapa kuat kakiku? Seberapa sukseskah pemulihannya?" jawab Olivia dengan tawa pelan. "Jadi gimana? Parah?" tanyanya.
"Takdir." jawab Olivia begitu santai.
"Ya udah. Kamu naik aja dulu. Jenny ada latihan privat. Kayaknya udah hampir kelar. Naik lantai tiga." ucap Julian. Olivia hanya mengangguk lalu meninggalkan ruangan itu.
Julian menghela nafas panjang menatap kepergian Olivia. "Takdir. Dia sangat percaya takdir." gumamnya pelan namun masih bisa didengar Shaka.
"Cantik banget ya. Kenalin dong." ucap Nugra. Teman Shaka.
"Jangan. Dia udah punya gandengan." jawab Shaka.
"Tapi by the way, kakinya kenapa kak? Kayaknya normal-normal aja." ucap Nugra.
"Jatuh berkuda sekitar delapan tahun lalu. Aku lupa tepatnya." jawab Julian.
"Kok kak Julian tau?" tanya Shaka.
__ADS_1
"Dia murid kakak aku. Balet. Dia dulu ballerina. Tapi karena patah kaki, dia berhenti, padahal berbakat. Papa aku yang tangani terapinya selama bertahun-tahun. Beruntung dia sekarang bisa jalan normal dan sukses." jawab Julian.
"Parah banget kak?" tanya Nugra.
"Kecelakaannya bukan sekali. Yang paling parah waktu berkuda. Kudanya ngamuk dan lari bawa dia ke hutan di area latihan. Baru ketemu setelah hampir dua hari hilang. Ketemunya di jurang lumayan dalam. Patah kaki, pergelangan tangan dan cedera bahu cukup parah. Karena kecelakaan yang terakhir itu dia harus rela menanggalkan mimpinya menjadi ballerina dan violinist. Tangannya akan cepat lelah kalau dipaksa latihan violin. Beruntung dia menemukan impian baru dan sukses." ucap Julian.
"Sukses. Cantik pula. Beruntung pasangannya." ucap Nugra.
Julian menghela nafas panjang. "Bukan hanya cantik, dia juga ramah dan tegar. Nggak pernah menyerah. Bahkan aku yang jauh lebih tua darinya merasa malu mendengar ucapannya saat terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang buruk. Dengan santainya dia tersenyum dan mengatakan kalau menjadi ballerina dan violinist bukan segalanya. Akan ada cara lain untuk sukses. Dan dia bisa buktikan itu." ucapnya dengan ekspresi kagum.
Shaka merasakan nyeri mendengar cerita itu. Tapi juga kagum bersamaan. Ternyata dia pernah melewati perjuangan berat. Dia berjanji akan membahagiakan gadis itu dan mengusahakan dengan cara apapun.
"Kak Julian naksir ya?" tanya Nugra asal. Tapi tentu karena dia tak tau jika ternyata gadis itu adalah istri sahabatnya sendiri.
"Dia adik bagiku." jawab Julian. "Agak ngeri kalau naksir dia. Oma-nya serem. Oma-Oma berkuasa kayak di drama. Nggak yakin akan direstui." lanjutnya menepuk pelan pundak kedua pemuda di hadapannya dan mengajak kembali latihan.
Oma? Bahkan Shaka belum pernah bertemu Omanya. Meski pernikahan mereka memang mendadak, tapi dia sama sekali belum mendengar tentang Oma-nya itu. Sperti apa Omanya? Apa neneknya pemilih kriteria yang akan dijadikan menantu? Apa dirinya sesuai kriteria menantu idaman?
Cukup lama Olivia berbincang bersama Jenny dan Julian. Hingga gadis itu berpamitan. Gadis itu tak menyangka jika Shaka masih menunggunya di depan gedung bersama motor sport hitam kesayangannya.
"Mau kemana? Biar aku anterin." ucap Shaka saat Olivia menghampirinya. Olivia terlihat memperhatikan Shaka. "Kok gitu lihatnya?" tanya Shaka.
"Kamu tadi pas keluar dari rumah perasaan bawa ransel gede. Kamu kemanain?" tanya Olivia penasaran.
"Ada. Tadi aku titipin di rumahnya Nugra. Tuh rumahnya tuh yang pager ijo. Sekalian tadi pinjam helm. Biar bisa anter kamu." jawab Shaka menunjuk rumah berpagar hijau dan menepuk helm di depannya.
Olivia hanya menanggapi dengan senyuman. Shaka juga membantu Olivia memakai helmnya. Bahkan memberikan jaketnya namun Olivia menolaknya karena dia sudah cukup dengan blazer yang dia pakai.
Gadis itu mengantar buku untuk temannya di salah satu Cafe dan Shaka memilih menunggu di luar karena tak ingin membuat Olivia tak nyaman bertemu temannya.
Shaka terkejut saat Olivia keluar dari Cafe bersama seorang perempuan dan Sultan bersamanya.
"Kamu bareng aku aja pulangnya." ucap Sultan yang masih terdengar sampai di telinga Shaka.
Ada rasa tak nyaman karna bertemu secara tak terduga.
__ADS_1