Our Dandelions Destiny

Our Dandelions Destiny
09.Bumi dan langit


__ADS_3

Olivia pergi bersama Shaka menuju rumah keluarganya. Sedangkan Felicia pergi bersama Sultan ke kediaman keluarganya.


Felicia masuk ke rumah yang sungguh asing baginya. Entah kenapa rumah keluarga Djayabrata terlihat menakutkan baginya. Entah karena pertama kali atau karena rumah besar itu terlihat seperti rumah keluarga yang kental dengan adat istiadat karena Sultan memang lahir dari keluarga berdarah ningrat. Ditambah tatapan asing dari nenek Sultan meski kedua orang tuanya bersikap hangat.


"Sekarang,ini adalah rumah kamu juga. Masuklah dan beristirahatlah." ucap Rahma tersenyum. Sultan hanya diam kemudian masuk ke dalam kamarnya diikuti Felicia. Kamar Sultan bergaya Jawa klasik dan masih satu tema dengan gaya rumahnya.


"Kamu tau apa yang terjadi. Pernikahan ini terjadi karena kesalah pahaman. Jadi jangan berharap terlalu banyak tentang pernikahan ini. Saya harap kamu mengerti." ucap Sultan dingin.


Felicia hanya diam tak menjawab. Gadis itu bahkan ragu melangkahkan kakinya masuk lebih dalam.


"Masuk aja. Kamu bisa tidur di sana. Jangan ragu. Kamu dengan berani masuk ke dalam hidup saya masak masuk ke kamar takut?" ucap Sultan menunjuk ranjang miliknya dengan kalimat yang pedas dan tajam. "Saya akan tidur di sini. Kamu tenang aja. Saya nggak akan sentuh kamu. Kita bahkan nggak saling mencintai." ucap Sultan lalu membaringkan dirinya di sofa di dalam kamar itu.


Felicia menghela nafas panjang perlahan. Meski dia sudah memiliki bekal apa yang Sultan suka dan tidak dari sang kakak. Tapi rasanya begitu sulit bahkan hanya untuk mendapat sedikit perhatian dari suaminya itu.


____________________


Sementara Olivia disambut hangat dalam rumah yang sungguh tak asing baginya. Dulu semasa SMA,dia sering berkunjung setelah pulang sekolah untuk mengerjakan tugas bersama Mikaela. Keluarga ini sangat terbuka dan modern.


"Liv. Selamat datang kembali di rumah keluarga kita." ucap Farida.


"Iya tente. Terima kasih." ucap Olivia. Farida bahkan memeluk dan menepuk pundak Olivia. Mereka sudah seperti keluarga bagi Olivia. Entah kenapa penyambutan ini membuatnya terharu hingga sebulis air matanya jatuh dan segera dihapus.


"Kamu tau, keluarga ini udah anggap kamu anak sendiri. Jangan sungkan. Dulu kamu sahabatnya Mika. Sekarang kamu sudah masuk sebagai menantu keluarga ini. Kita semua sayang sama kamu. Kalau Shaka macem-macem, bilang ya. Biar kita gebukin itu bocah." ucap Farida yang membuat Olivia tersenyum lebar.


Shaka hanya mengawasi interaksi manis antara ibu mertua dan menantu itu.


"Dia nggak macem-macem kok tante. Kasihan kalau digebukin. Kalau bonyok, kita juga yang repot." jawab Olivia tersenyum sementara Farida dan suaminya tertawa.


"Cieee. Ada yang seneng nih dibelain." ejek Mikaela. Shaka hanya membalas dengan cengiran.


"Oh ya. Manggilnya jangan tante dong! Mama." ucap Farida yang dibalas dengan anggukan oleh Olivia dengan senyumnya. Tentu bukan hal asing lagi dengan sikap keluarga barunya itu.


"Ya udah. Masuk dulu gih. Kalian pasti capek." kali ini pak Faisal yang berucap. Olivia dan Sultan menurut dan berjalan beriringan menaiki anak tangga dan ternyata Mikaela mengikuti keduanya.


"Jangan lupa kunci pintu kamar kalian." bisik Mikaela berjalan menyalip Olivia dan menoleh dengan senyum jahil.

__ADS_1


"Mika." panggil Olivia dengan suara sedikit keras. Mikaela tertawa melihatnya. Olivia membolakan matanya pada sahabatnya itu. Sementara Shaka hanya menahan senyumnya. Mereka masih berjalan dan kemudian masuk ke dalam kamar.


Kamar Shaka didominasi warna putih dan hitam khas pria kebanyakan. Ada sebuah gitar terpajang dalam kamar itu.


"Istirahatlah." ucap Shaka mengambil bantal dan meletakkannya di sofa saat Olivia duduk di tepian ranjang.


"Kamu ngapain? Kamu mau tidur di sana?" tanya Olivia heran.


"Kenapa?" tanya Shaka heran menatap Olivia.


"Ini kamar kamu. Kenapa kamu tidur di sana? Kamu bisa tidur di ranjang kamu." ucap Olivia yang merasa aneh padahal kemarin juga mereka tidur di ranjang yang sama.


"Enggak. Badan kamu pasti nyeri dan nggak nyaman. Aku aja yang tidur di sini." ucap Shaka. Dia masih ingin menjaga perasaan Olivia yang mungkin merasa tidak nyaman. Terlebih ukuran ranjangnya lebih kecil jika dibandingkan dengan ranjang di kamar Olivia yang mereka tempati di villa kemarin.


"Siapa bilang aku akan tidur di sana? Ranjang ini cukup luas, jangan khawatir. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu kok. Aku bukan singa yang akan menerkammu." ucap Olivia yang merasa lucu mengingat percakapan mereka tentang panggilan baru Shaka hingga mengikuti sertakan hewan.


Shaka semakin heran. Kenapa jadi berbalik? Kesannya seperti Shaka yang takut Olivia akan melakukan sesuatu padanya. Padahal biasanya dalam kasus ini,si gadis yang takut si pria melakukan sesuatu padanya. Tapi memang sejak kemarin Olivia memang tak keberatan membagi tempat tidur bersamanya. Tidakkah itu bagus untuknya?


Shaka membawa kembali bantalnya dan meletakkan di atas ranjang. Keduanya naik dan duduk di atas ranjang. Olivia terlihat sangat santai memainkan ponselnya dan memasang earphone di sebelah telinganya. Sedang Shaka sibuk memainkan game di ponselnya. Dia sedang berusaha menghilangkan kegugupannya karena meski ini bukan pertama kalinya dia berada dalam satu kamar bersama seorang wanita dan wanita itu bahkan masih wanita yang sama. Kenapa debarannya berbeda saat berada di kamar milik sendiri? Padahal kemarin dia bahkan melontarkan kalimat candaan untuk istrinya itu.


Olivia menoleh dan merasakan gelagat aneh seorang Shaka dan tak bisa menahan senyum dengan panggilannya yang terdengar aneh namun menggemaskan. Meski dia juga merasa ada degup aneh yang merasukinya, ada perasaan takut jika Shaka menginginkan sesuatu darinya. Dan mungkin itu tak bisa dihindarinya.


"Apa belajar di luar negeri sangat menyenangkan sampai kamu berada di sana dalam waktu yang lama?" tanya Shaka memulai perbincangan. Ingin memulai dari hal sederhana yang mungkin tak banyak dia tau.


"Belajar dimanapun terasa menyenangkan. Tapi untuk sampai di sana bukan hal mudah dan ketika bisa kesana, sayang untuk dilewatkan." jawab Olivia.


"Tapi aku heran. Kenapa kamu pilih seni desain lalu melukis dan menulis buku padahal dulu kupikir kamu bermimpi menjadi seorang pianis?" tanya Shaka.


"Keinginanku berubah seiring waktu. Saat aku kecil, aku ingin menjadi ballerina. Aku juga pernah belajar bermain violin, lalu piano. Kupikir itu hanya ketertarikan sementara. Lalu saat mulai beranjak dewasa, mulai ada pemikiran tentang masa depan. Kalau aku menjadi ballerina, violinist, pianis maka mungkin aku akan menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah kalau ada kompetisi dan pertunjukan. Tapi dengan menjadi pelukis dan penulis itu lebih flexibel. Bisa bekerja di rumah." jawab Olivia.


"Pendidikan dan pekerjaan. Keduanya memiliki arti yang berbeda. Kalau aku berpendidikan tinggi, aku ingin keluargaku bangga. Orangtuaku,pasangan,dan mungkin nanti anak-anakku. Begitu juga soal pekerjaan. Lebih baik bisa dikerjakan di rumah dan bisa menjalankan peran dalam keluarga dengan baik. Di masa depan, aku ingin menjadi istri dan ibu yang baik yang nggak kehilangan moment berharga." lanjut Olivia.


Rasanya sangat menyenangkan mendengar itu. Bagi Shaka wanita ini ternyata memiliki rencana luar biasa. Meski dia sadar benar, mungkin dirinya tak termasuk dalam rencana itu. Berharap suatu hari dia bisa merasakan kebahagiaan itu menjadi bagian hidup dari wanita yang selalu tampak mengagumkan di matanya.


"Lalu apa impian kamu?" tanya Olivia.

__ADS_1


"Nggak banyak. Aku ingin menjadi video editor dan animator handal yang masih berusaha kuwujudkan. Dan untuk keluarga dan masa depan. Aku ingin menjadi kepala rumah tangga yang baik dan bisa membuat rumah yang hangat dan nyaman untuk keluargaku dengan jerih payahku sendiri. Aku ingin rumah yang membuat istri dan anak-anakku bahagia. Rumah yang akan diisi tawa mereka." jawab Shaka dengan tatapan menerawang masa depan yang dia impikan.


Olivia tersenyum mendengarnya. Rupanya pemuda di sampingnya itu begitu dewasa dan hangat.


____________________


Sedangkan di rumah kediaman Djayabrata. Felicia tak bisa tidur karna tempat itu sangat asing. Benar saja,dia kesulitan tidur jika bukan dikamarnya. Sementara Sultan,dia gusar dan tak bisa tidur karna masih memikirkan gadis yang dicintainya kini bersama pria lain yang entah apa yang mereka lakukan. Dia terus merubah posisi tidurnya dengan hati tak karuan dan tak tenang. Baginya,itu sangat menyiksa. Mungkin malam-malamnya akan dilalui dengan hal buruk itu selama cintanya masih ada dihati. Seperti mimpi buruk baginya.


Felicia hanya bisa menatap dari kejauhan, sang suami yang terus merubah posisi tidurnya karena merasa tidak nyaman. "Mas.." panggilnya ragu. Sultan yang mendengarnya mendengus kesal. Tak menyukai panggilan yang disematkan untuknya.


"Jangan membuat saya kesal karna panggilan baru kamu itu. Sangat tidak nyaman di telinga." ucap Sultan.


Rasanya menyedihkan mendengar perlakuan seperti itu. Felicia mulai memahami ucapan sang kakak jika tak dicintai itu menyiksa. Bahkan untuk berpura-pura mencintai saja Sultan enggan. Padahal sempat Felicia berpikir jika mungkin sikap Sultan akan membaik setelah berpura-pura mencintainya. Dia percaya jika cinta ada karena terbiasa. Tapi ternyata dia memulai dengan langkah yang salah dan dengan orang yang keras dengan perasaanya sendiri hingga enggan bahkan sekedar berpura-pura.


Felicia memberanikan diri mengatakan sesuatu. "Haruskah aku saja yang tidur di sana? Itu sepertinya sangat tidak nyaman untukmu?" tanyanya.


"Berhentilah berusaha membuat saya merasa bersalah pada kamu. Berhentilah mencari perhatian. Tidur saja. Saya nggak suka diganggu." ucap Sultan masih dengan nada dingin. Pria itu bahkan kemudian menutup kepalanya dengan bantal seakan benar-benar tak ingin diganggu.


___________________


Setelah lama berbincang seputar pendidikan, Shaka dan Olivia sama-sama berbaring. Seperti sibuk dengan dunianya sendiri. Keduanya menatap langit-langit dan masih belum memejamkan matanya.


"Kenapa belum tidur? Atau sedang ada yang dipikirkan?" tanya Shaka memiringkan badannya menatap Olivia.


"Jujur aja. Aku khawatir tentang Felicia. Dia biasanya akan kesulitan tidur kalau bukan di kamarnya. Bahkan saat pergi, dia akan tidur bersama Mama." jawab Olivia jujur. Tapi bagi Shaka itu terdengar seperti pertanyaan apa yang mereka lakukan saat ini?


"Kenapa khawatir? Bagaimanapun cepat atau lambat, dia harus keluar dari zona nyamannya dan bersama orang lain. Dan dia sedang bersama suaminya sekarang. Sudah tugas suaminya menjaga dan melindunginya. Juga memberikan kenyamanan untuknya." jawab Shaka.


Ucapan Shaka sukses membuat Olivia merasa tak enak hati. Gadis itu berpikir jika saat ini Shaka sedang menegurnya. Gadis itu turut memiringkan badannya menatap Shaka. "Kamu benar. Maaf..Tapi tolong jangan salah paham." ucap Olivia.


Shaka tersenyum. "Aku paham. Kupikir Kak Sultan akan melakukan hal yang sama sepertiku. Berusaha memberi kenyamanan dan melindungi istrinya. Dia bahkan jauh lebih dewasa dariku, tentu dia lebih tau apa yang harus dia lakukan sebagai seorang suami." ucap Shaka.


Olivia semakin kagum pada sosok suami muda yang dianggap tak ubah adik baginya yang ternyata begitu bijak dan dewasa dalam bersikap.


Kehidupan kedua pasangan itu tak ubah bumi dan langit. Mereka memiliki cara yang sangat berbeda untuk menyikapi situasi yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2