Our Dandelions Destiny

Our Dandelions Destiny
15.Membohongi diri sendiri


__ADS_3

...Olivia melanjutkan langkahnya disusul Shaka.. Sementara Sultan berjalan masuk tanpa ada niat memberikan penjelasan, dia hanya melewati Felicia yang masih berdiri didepan pintu.. Namun langkahnya terhenti dan menoleh.....


..."Dia adalah gadis yang jujur meski dia sangat egois.. Aku akan percaya padanya.. Aku akan mulai belajar membuka diri.. Tapi jangan berharap terlalu banyak padaku.." ucap Sultan.....


..."Jangan lakukan jika itu untuk orang lain.. Aku ingin kamu melakukannya atas keinginanmu sendiri.. Tidak masalah bagiku untuk menunggu lebih lama.. Aku akan menunggu.." jawab Felicia.. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan.. Egonya seakan mengatakan jika dia tak ingin perubahan yang dibuat oleh Olivia.. Dia akan berusaha tanpa kakaknya itu.....


..."Terserah padamu.. Tapi,kamu harus tau jika aku benci kebohongan.. Karna itu aku berkata jujur padamu.. Aku selalu mengatakan apa yang ada dihatiku.." ucap Sultan.. Mereka saling memandang.. Meski bagi Sultan menyesuaikan diri tentang itu sangatlah sulit.. Bahkan hanya menatap saja, dia bisa merasakan perbedaan kepribadian antara Olivia dan gadis dihadapannya itu.. Tak ada tatapan kenyamanan disana.. Dia bahkan melihat mata yang dipenuhi ambisi dan bukan cinta.....


..."Aku menyukaimu sejak lama.. Aku tau ini tidak benar.. Aku tak bisa memilih siapa yang kucintai.. Kenyataannya seperti itu.. Aku takkan berharap terlalu banyak padamu.. Tapi,aku akan menunggu kau membuka hatimu untukku.. Setidaknya bukalah sedikit ruang untuk aku bisa masuk.. Itu akan cukup bagiku.. Ijinkan aku mencintaimu.." ucap Felicia.....


..."Aku akan mengusahakannya.." jawab Sultan.. Dia tau itu tidaklah mudah.. Dia bahkan masih diam-diam mengirim pesan pada Olivia dan berharap gadis itu membalasnya.. Meski dia tau, Olivia adalah gadis teguh yang hanya melakukan apa yang dipikirnya benar.. Dia tak pernah membalas pesan dari Sultan setelah kejadian itu.. Pesan itu bahkan tak pernah dibuka.....


...Sementara Olivia masih berjalan ditepian pantai diikuti Shaka dibelakangnya.. "Kamu tidak bertanya kenapa aku bersamanya?" tanyanya.....


..."Aku mendengar semuanya dan tak ada yang perlu ditanyakan.. Kamu mengatakan semuanya dengan sangat jelas.." jawab Shaka.. "Kamu sungguh sudah menerimaku?" tanyanya.....


..."Kamu bilang mendengar semuanya dan masih bertanya?" tanya Olivia dengan sedikit menoleh dan membuat Shaka mensejajarkan langkah.....


...Shaka tersenyum.. "Terimakasih.." ucapnya.....


...Olivia hanya tersenyum dan tetap berjalan beriringan dengan Shaka disampingnya.. Setelah cukup lama terdiam.. Shaka kembali membuka suaranya saat dirinya berjalan mundur didepan Olivia agar bisa menatap wajah cantik sang istri yang terlihat heran.. "Aku punya panggilan yang menurutku tepat untukmu.. Kupikir lebih baik dari hanya memanggil nama saja.." ucap Shaka memulai pembicaraan.....

__ADS_1


..."Heu.. Apa memangnya?" tanya Olivia heran.....


..."Aku punya beberapa pilihan.." jawab Shaka tersenyum.. "Kamu pilih aja mau dipanggil habibah, Ai, atau Sana?" tanyanya.....


..."Kamu dapat ide darimana sih?" tanya Olivia semakin heran.. Merasa ide nama dari Shaka terdengar aneh.. "Namaku bukan Habibah? Ai? Sana?" tanyanya lagi.....


..."Habibah itu bahasa Arab artinya yang tercinta.. Kalau Ai itu bahasa Jepang artinya cinta.. Kalau Sana itu bahasa Korea.. Kali aja kamu mau dipanggil kayak para cewek yang lagi demam drakor.. Mau tau enggak artinya apa?" tanya Shaka.....


..."Apa?" tanya Olivia dengan pandangan tak lepas dari Shaka.. Heran dengan sikap Shaka yang menurutnya berubah ajaib.....


..."Sana tuh singkatan Saranghaneun Noona.. Noona kesayangan.. Kamu.." jawab Shaka yang membuat Olivia melebarkan mata kemudian tertawa.....


...Shaka mengabaikan saja Olivia kembali memanggilnya dengan Shaka.. Sesuka hatinya saja.. Dia takkan keberatan dipanggil apapun asal Olivia bisa tertawa bahagia.. "Kamu panggil aku Ar, aku panggil kamu Ai.. Aku Shaka, kamu Sana.. Atau mau kupanggil sayang?" tanyanya.....


...Olivia hanya diam.. Matanya yang sebelumnya menatap mata Shaka, kini beralih menatap kejauhan.. Shaka sadar, mungkin istrinya merasa tidak nyaman.. "Aku takkan melakukan apapun yang membuatmu merasa tidak nyaman.. Maaf.." ucap Shaka lagi.....


...Mendengar itu Olivia serba salah dan tak enak hati.. "Kamu bisa panggil dengan apa saja.. Panggilan khusus ataupun panggilan sayang.. Aku takkan keberatan.. Mungkin itu akan mempermudah tumbuhnya rasa.. Tapi.. Lakukan itu hanya saat kita berdua.. Isi dari rumah tangga kita, sebisa mungkin harus dipagari agar tak ada orang lain yang tau atau ikut campur.. Kita jaga dengan cara kita sendiri.. Hmm.." ucap Olivia.....


...Shaka hanya mengangguk dan tersenyum.. Lalu Olivia memegang lengan pemuda dihadapannya yang terus berjalan mundur dan menghentikan langkah keduanya.. "Berhenti berjalan mundur.. Kamu bisa jatuh.." ucapnya.....


..."Aku suka menatap wajahmu.. Terlebih saat tersenyum.." ucap Shaka.....

__ADS_1


...Olivia tersenyum.. "Kamu bisa memintaku diam.. Aku akan diam dan membiarkanmu menatap ku sepuasmu.. Seperti ini.." ucapnya dengan posisi tubuh berdiri tegak tak ubah manekin.. Tentu Shaka merasa senang tapi juga merasa Olivia begitu lucu dengan gayanya yang tampak seperti tombak tertancap ditanah.. Membuat Shaka tertawa.....


..."Kamu bukan patung.. Kenapa seperti itu?" tanya Shaka tertawa yang disusul tawa Olivia.....


...Meski dalam hatinya bertanya-tanya apakah semua akan baik-baik saja, apakah tak masalah jika dia tertawa seperti ini sekarang.. Meski masih tersisa rasa sakit dan sisa rasa dari masa lalu tapi entah kenapa dia juga bahagia dan ingin tertawa bersama pria ini? Apakah dia benar bahagia atau hanya sandiwara? Apa dia sedang membohongi hatinya sendiri?...


...Entahlah.. Setaunya dia hanya ingin menjalani dan melanjutkan hidupnya.. Mencari jalan kebahagiaan setelah takdir Tuhan membawanya pada situasi ini.. Dia akan percaya jika kebahagiaannya adalah nyata.. Meski masih diiringi luka.....


...Sementara Sultan masih terdiam disofa kamarnya.. Berusaha mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh Olivia.. Kalimat dari gadis yang dipercayainya lebih dari dirinya sendiri.. Benar saja, bahkan kalimat yang sama yang diucapkan orang lain akan memiliki makna yang berbeda bagi seorang Sultan.. Baginya kalimat yang keluar dari bibir itu selalu bisa dia terima dan selalu dia lakukan tak ubah perintah.....


...Selama ini Sultan selalu bergantung pada nasehat dari gadis muda itu yang menurutnya selalu benar dan tak pernah membuatnya melakukan kesalahan.. Gadis yang meluluhkan seorang Sultan yang dingin.....


...Sultan menghela nafas panjang menatap Felicia yang sepertinya sudah tertidur diranjang sana.. Pria itu kemudian bangkit dari duduknya dengan membawa bantal yang sedari tadi ada diujung sofa dan membawanya menuju ranjang.....


...Felicia sedikit terkejut saat Sultan meletakkan bantal disampingnya.. "Jangan terlalu banyak berharap untuk pernikahan sempurna.. Aku bahkan takkan menyentuhmu sampai tumbuh cinta dihatiku.. Akan kumulai dengan yang paling sederhana.. Aku akan membiasakan diri dengan kehadiranmu.." ucap Sultan masih berada dingin.....


...Felicia hanya tersenyum tipis.. Merasa lega setidaknya Sultan berniat memulai.. Sementara Sultan merasa ada kesalahan dalam tindakannya.. Dia melakukan hal yang bertentangan dengan hatinya.. Sama sekali bukan kebiasaannya.. Dia merasa seperti seseorang yang sedang membohongi dirinya sendiri.....


...Hampir saja dia melangkah kembali menuju sofa, lalu kembali mengingat ucapan Olivia jika tak boleh berburu sangka pada takdir yang disiapkan Tuhan untuknya.....


...Dia hanya berharap dia tidak sedang melakukan pembodohan pada dirinya sendiri dan tidak melakukan kesalahan yang akan dia sesali dikemudian hari.....

__ADS_1


__ADS_2