
Shaka lebih dulu turun di depan Olivia yang berada di belakangnya. Shaka tau bukan hal yang mudah melihat mantan kekasih menjadi saudara ipar sendiri dan tinggal di tempat yang sama. Tapi sebagai seorang pria tentu dia juga memiliki rasa cemburu. Terlebih keduanya dipaksa berpisah karena pernikahan mereka ini dan baru terjadi kemarin. Tentu takkan semudah membalikkan telapak tangan. Hingga Shaka menoleh melihat sekilas sang istri yang lebih banyak tertunduk sejak dia melihat Sultan yang duduk di ruang keluarga bersama Gilang dan sang mertua.
"Hei. Liv. Sini." panggil Angga dari arah taman dengan lambaian tangan. Beruntung Angga memanggil hingga Olivia tak harus bertemu Sultan karena taman dan ruang keluarga berlawanan. Sedang Shaka lebih memilih menyapa mertuanya, Gilang dan Sultan tentunya.
"Kenapa?" tanya Olivia saat berjalan mendekat ke arah Angga. Pemuda itu terlihat tersenyum penuh makna hingga Olivia menghentikan langkah karena waspada dengan kejahilan sepupunya itu. Sebenarnya bukan hanya Angga, karena Olivia pun sama jahilnya.
"Sini." panggil Angga dengan lambaian tangan lagi. "Tenang. Kali ini aku nggak bakal ngerjain kamu." ucapnya lagi seraya meyakinkan.
Ragu-ragu,Olivia melangkah selangkah demi selangkah dengan mata menoleh ke kiri dan ke kanan sembari memastikan dirinya aman dari kejahilan Angga yang entah sudah berkurang atau malah lebih parah lagi. Setelah berada dekat dan yakin jika takkan ada kejahilan yang akan dilakukan Angga, Olivia duduk di samping pemuda itu. "Ada apa?" tanyanya.
"Nggak kenapa-napa sih. Cuma sengaja aja pengen misahin pengantin baru." Angga asal menjawab. Olivia mendengus pelan. "Aku tau nggak mudah. Aku tau Sultan baik dan kamu cinta sama dia. Tapi sekarang lupakan. Kamu harus bersyukur dapat Shaka, belajar aja cara biar kamu bisa terima dia dan jatuh cinta. Dia pemuda yang baik. Cocoklah sama kamu. Sama-sama mudah bergaul. Kalian udah halal. Jangan aja ada perpisahan. Karena itu udah keputusan kamu sendiri untuk menerimanya kemarin." ucap Angga tak ubah petuah.
Olivia tersenyum samar. "Liv. Aku denger Gilang ngobrol sama Mika. Udah dari lama. Shaka tuh udah suka sama kamu dari jaman kamu masih SMA dan sering ngerjain tugas ke rumah dia." ucap Angga lagi. Olivia tak mengeluarkan komentar apapun dan hanya diam.
Angga menghela nafas panjang. "Hadeh. Pagi-pagi udah dikasih pemandangan yang bikin keki setengah mati." keluhnya. "Gua jomblo aja kalah sama burung yang bawa pasangan." ucapnya kian keras menatap pohon di kejauhan. Di sana memang ada sepasang burung di atas dahan.
Olivia tertawa mendengar keluhan Angga. "Ngaku juga kalau jomblo." ejeknya. "Tapi by the way. Kali aja itu burung cuma sahabatan." ucapnya lagi masih dengan tawanya.
"Ada gitu persahabatan hewan? Perlu diabadikan." ucap Angga dengan ekspresi lucu dan membuka ponselnya dan mengarahkan kamera akan memotret. Itu membuat Olivia tertawa keras.
"Seru amat." tegur Gilang yang berjalan bersama Sultan dan Shaka.
Ada rasa ngilu di hati Sultan melihat Olivia bisa tertawa saat dirinya masih bersusah payah menata hati dan bersikap normal. Cintanya masih utuh tanpa berkurang sedikitpun.
__ADS_1
Sementara Shaka tersenyum melihat keceriaan Olivia yang tak berubah pagi ini. Dia tau masih ada luka di hatinya. Tapi cukup lega karena dia tak terpuruk dan menerima keadaan. Meski dalam hatinya Olivia sedang sibuk menata hati. Dia berusaha keras menegaskan pada dirinya sendiri jika rasa yang dia miliki pada Sultan harus segera diakhiri.
"Tuh adek kamu tuh. Kumat. Agak gesrek kali. Masak iri sama hewan." jawab Olivia lalu bangkit dari duduknya diikuti Angga yang turut bangkit.
"Romantis amat tuh burung." bisik Angga dengan gelengan kepala pelan masih menatap burung di kejauhan sana yang kini terbang bersama.
"Ketahuan banget kalau kamu jomblo akut." ejek Olivia membalas berbisik dengan senyum lebar penuh kepuasan kemudian melangkahkan kakinya.
"Mau kemana?" tanya Angga.
"Kemana aja asal nggak sama kamu. Bisa ketularan gesrek aku. Bahaya." ejek Olivia terus melangkahkan kakinya.
"Kak." panggil Felicia yang sedang menyiram bunga di sisi lain taman saat melihat Olivia berjalan ke arahnya. Olivia mendekati adiknya. "Kak.. Kamu marah sama aku?" tanya Felicia.
"Kenapa aku harus marah?" tanya Olivia.
Olivia berusaha tersenyum. "Jangan minta maaf. Kuharap kamu akan bahagia bersamanya. Aku juga akan mencari jalanku untuk bahagia. Kupikir ini adalah takdir yang sudah Tuhan rancang untuk kita." ucapnya. "Kuharap dia bersikap baik padamu. Dia cenderung tertutup pada orang yang tidak dekat dengannya. Bersabarlah." ucapnya lagi.
Dalam hati Olivia dia ingin mempermudah segalanya dengan menutup rapat masa lalunya bersama Sultan. Takkan ada gunanya memikirkan hal yang tak lagi bisa dimiliki.
"Shaka bersikap baik padamu? Dia juga pria yang pendiam dan tertutup pada wanita. Dia selalu menjaga jarak dari wanita yang mendekatinya." ucap Felicia Gadis itu tau karna mereka berada di sekolah yang sama sejak SMP meski jarang berinteraksi. Agaknya dia tau dari rumor yang beredar.
"Lebih baik dari yang kuduga. Meski masih sulit nerima dia sebagai pasangan karena selama ini bagiku dia hanya seorang adik dan partner latihan musik. Tapi dia pria yang baik dan membuatku cukup nyaman." jawab Olivia jujur. "Jangan terlalu khawatir. Semua akan baik-baik aja." ucapnya lagi.
__ADS_1
Felicia mengangguk "Makasih kak." ucapnya.
Olivia menghela nafasnya perlahan. Sebenarnya ini memang sulit baginya. Meskipun mereka menjalin hubungan jarak jauh, tapi tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Mereka bertahan dengan hubungan yang ditakuti banyak orang karena hubungan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Dan sekarang mereka harus benar-benar terpisah padahal mereka begitu dekat.
Keduanya kemudian masuk ketika mendengar sang ibu memanggil. Mereka masuk ke dalam kamar sang ibu dan duduk di sofa di dalam sana.
"Liv. Mama tau kamu sangat dekat dengan Sultan. Bisakah kamu membantu Feli untuk lebih dekat dengannya? Bagaimanapun saat ini dia suaminya dan kamu sudah sangat lama mengenalnya. Kamu pasti tau banyak hal tentangnya. Tolong bantu dia." ucap Indah. Wanita ini berpura-pura jika dia hanya tau Olivia dan Sultan hanya berteman. Dia mengabaikan perasaan Olivia dan hanya berpihak pada Felicia.
Olivia terdiam tertunduk. Ada nyeri kembali menyerang hatinya. Kenapa ibunya tak pernah sedikit saja memiliki kepekaan terhadapnya. Seakan tak memiliki naluri ibu untuknya. Kenapa wanita itu begitu tidak adil? Kenapa hanya ada Felicia dan Felicia? Dimana tempat untuknya?
"Ma. Jangan gitu dong Ma. Biar aku lakuin sendiri pelan-pelan." ucap Felicia. Dia tau benar jika saat ini kakaknya itu pasti terluka. Dia tau benar jika Olivia dan Sultan saling mencintai. Dia tak ingin membuat luka sang kakak semakin buruk. Dia sadar jika keegoisannya untuk mendapatkan Sultan sudah menyakitinya dan tak ingin melakukan hal yang akan membuatnya seakan begitu jahat. Biarlah dia melakukan satu kesalahan.
Wajah Olivia terangkat. Dengan sedikit senyuman yang berusaha dia ukir sebaik mungkin. "Aku akan memberitahu apa yang kutahu. Aku akan membantu sebisaku." jawabnya. Menerima pernikahan ini adalah keputusannya. Tak ada gunanya menyimpan hal yang dia tau yang takkan ada gunanya untuk dirinya sendiri.
"Kak." panggil Felicia dengan rasa bersalah.
"Nggak masalah. Aku paham. Kamu dan dia hanya mengenal sebatas guru dan murid atau dosen dan mahasiswi. Aku mungkin nggak mencintai Shaka saat ini, tapi aku kenal dia dengan baik. Akan lebih mudah buatku untuk belajar mencintainya. Jadi,aku bakal ngasih tau yang apa yang aku tahu tentang Sultan yang mungkin akan membantumu." jawab Olivia.
Sang ibu tersenyum lebar. Merasa lega atas jawaban sang putri sulung, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Dia nggak suka gadis yang berpakaian terlalu terbuka dan agresif. Dia lebih suka gadis yang sopan. Dia nggak suka yang pendiam tapi nggak juga yang cerewet. Dia suka gadis yang pandai berkomunikasi dan pandai memulai pembicaraan. Kamu harus menemukan topik yang pas untuk dijadikan bahan obrolan. Dia sedikit dingin tapi dia juga teman yang nyaman diajak bicara. Kamu harus pandai menilai suasana hatinya. Dia nggak suka berisik di meja makan. Dan yang paling penting, dia ingin istrinya dekat dengan ibu dan adiknya. Baginya mereka adalah wanita paling penting di hidupnya. Dia juga suka dengan wanita yang pandai memasak dan bisa diajak masak bareng." jawab Olivia. Dia memberitahu semua yang dia ketahui tentang Sultan meski rasanya sangat berat baginya.
Felicia membawa senyum yang merekah ketika keluar dari kamar sang ibu. Seakan baru saja mendapatkan amunisi untuk memperlancar rencananya.
__ADS_1
Sementara Olivia membawa luka baru di hatinya dari sang ibu. Dan saat keluar dari kamar itu, dia bertemu Shaka, hingga gadis itu terpaksa menyunggingkan senyuman. Dia ingin senyumnya itu membuat orang lain bahagia. Seperti yang Shaka bisikkan semalam. Jika dia bahagia saat melihat senyum Olivia.
Namun sayang, senyum Olivia tak sampai di hati seorang Shaka. Dia tau istrinya itu sedang membawa luka di balik senyumnya yang tak dia ketahui apa. Tapi dia berjanji pada dirinya sendiri jika dirinya akan menghadirkan kembali kebahagiaan untuk Olivia.