
Tak ada resepsi pernikahan yang mewah. Hanya ada pernikahan sederhana yang disaksikan keluarga dan beberapa orang disekitar villa sebagai saksi. Sore itu ditemani rintik gerimis yang masih menyapa. Olivia dan Sultan resmi berpisah dan kini berstatus sebagai suami juga istri dari orang lain. Mereka dipaksa berpisah dan merelakan indahnya hubungan mereka selama lebih dari tujuh tahun lamanya.
"Boleh aku duduk?" tanya Shaka pada Olivia yang duduk di tepian ranjang. Pemuda itu masih ragu mengajak Olivia berbicara. Meski dia sudah berstatus istrinya, tapi Shaka merasa jika pasti ada kekecewaan di hatinya.
Olivia mengangguk dengan sebuah senyuman tipis yang sedikit dipaksakan. "Duduklah. Kamu nggak harus minta izin dariku." jawabnya.
Shaka duduk di samping Olivia. Ada rasa canggung menguar bagi keduanya. Padahal sebelumnya tak jarang Olivia mengejeknya seperti kakak pada adiknya. Seringkali Olivia melempar candaan saat dia sedang melakukan panggilan video dan berbincang bersama keluarga Mikaela yang juga keluarga Shaka.
Status baru ini terasa aneh. Meski sebisa mungkin Shaka menekankan dirinya agar bersikap wajar. Terlebih gadis yang adalah istrinya itu adalah seorang yang sudah disukainya sejak lama. Seharusnya dia bersyukur bisa menikahinya.
Shaka menatap wajah cantik sang istri yang memiliki wajah kecil dengan hidung mancung dan bulu mata yang lentik. Bibirnya tipis dan terlihat mungil berwarna pink alami. Kulitnya putih dengan pipi yang kemerahan. Belum lagi bola matanya yang berwarna coklat terang dan lesung di kedua pipinya saat tersenyum. Ingin sekali Shaka melihat wajah tersenyum itu yang kini terlihat sendu.
"Maaf kalau aku nggak bisa melakukan apapun untuk membantumu menghindar dari kejadian ini. Tapi kamu perlu tau. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Bagiku ini adalah pernikahan nyata dan nggak akan bermain-main dengannya." ucap Shaka.
Olivia hanya terdiam tanpa jawaban apapun. Bagi Olivia, masih sulit menerima kenyataan jika Shaka sudah menjadi suaminya sekarang. Sama sekali bukan impiannya menikahi pria lebih muda. Ada banyak sekali pertimbangan kenapa dia tak ingin menikah atau menjalin hubungan dengan pria yang lebih muda. Seperti yang selama ini dia lakukan. Baginya pria yang lebih muda hanya akan menjadi teman atau adik baginya. Dan kini, dia harus menerima Shaka yang lebih muda empat tahun sebagai suaminya.
__ADS_1
"Apa kamu masih meragukanku? Merasa takut aku nggak akan bisa memberikan nafkah untukmu? Takut aku nggak bisa buat kamu bahagia? Karena aku lebih muda?" tanya Shaka.
Mendengar ucapan Shaka, Olivia menggeser duduknya agar dia bisa melihat wajah pemuda di sampingnya yang selalu dia anggap sebagai adik dan kini berstatus sebagai suaminya. Sejujurnya jika soal penampilan fisik, siapa yang akan menolak pesona seorang Arshaka Hartanto yang begitu tampan dengan tubuh tingginya yang atletis. Bahkan dibalik pakaiannya saja, otot lengan dan dada bidangnya tercetak jelas dan membuat seorang ingin bersandar dan bergelayut manja disana. Tapi bagi Olivia, hal itu sama sekali tak dia pikirkan.
"Shaka. Ini sama sekali nghak seperti yang kamu pikirkan. Apakah kamu memahami jika pernikahan nggak sesederhana kelihatannya? Bukan berakhir ketika ijab qabul dengan kata sah dari para saksi. Tapi ini baru awal dari perjalanan dua orang dengan perbedaan-perbedaan yang mereka miliki yang baru saja disatukan. Kamu paham itu?" tanya Olivia.
"Aku memahaminya. Segala tugas dan tanggung jawab pasangan suami istri. Hak dan kewajiban. Aku yang nggak sempurna ini,aku yang mungkin masih kamu anggap sebagai bocah ini akan siap memikul beban tanggung jawab sebagai seorang imam dalam rumah tangga kita. Akan kulaksanakan tanggung jawabku sebagai suami dan kuberi kan hakmu sebagai istri secara penuh. Kuharap kamu akan menerimanya." ucap Shaka dengan sungguh-sungguh. Tak ada keraguan dalam kalimatnya. Bahkan belum pernah Olivia mendengar kalimat seserius itu selama hubungannya dengan Sultan selama hampir tujuh tahun ini.
Olivia sempat tertegun sejenak menatap wajah Shaka yang begitu tegas tanpa keraguan saat mengatakan itu. Seakan tak ada beban yang memberatkannya pada pernikahan dadakan ini. Ucapan suami mudanya itu terdengar begitu meyakinkan. Tapi tentu tak membuat Olivia lantas yakin dengan semuanya.
"Tentu aku nggak akan menyesalinya." jawab Shaka. Tentu saja pemuda itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Karena dirinya memang memiliki rasa spesial untuk Olivia meski tak pernah menunjukkan. Dan kejadian ini seperti takdir yang berpihak padanya. Seakan Tuhan mempermudahkan apa yang dia inginkan. Meski saat ini dia sangat tau jika Olivia takkan mencintainya dengan mudah. Tapi dirinya akan berjuang.
"Kuharap kamu juga nggak menyesali keputusan finalmu. Tolong terima pernikahan ini sepenuh hati. Mari sama-sama belajar mulai sekarang." ucap Shaka lagi yang hanya dibalas anggukan oleh Olivia. Gadis itu tersenyum tipis dan dibalas sebuah senyuman yang manis oleh Shaka.
Olivia melihat sisi berbeda dari seorang Shaka yang dia kenal hari ini. Tak menyangka jika pemuda yang dianggap adiknya itu punya pemikiran yang dewasa.
__ADS_1
"Tidur dulu. Hari sudah larut. Kamu bahkan nggak punya waktu istirahat yang benar setelah sampai di sini." ucap Shaka dengan senyumnya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju sofa di salah satu sisi kamar.
"Kamu juga harus tidur." ucap Olivia yang membuat Shaka menoleh dan tersenyum. Pemuda itu mengangguk dan melanjutkan langkahnya lalu duduk di sofa. "Jangan tidur di sana. Kakimu akan menggantung dan tubuhmu akan terasa sakit. Ranjang ini terlalu luas untuk ditempati sendiri. Nggak masalah kalau kamu tidur di sini." ucap Olivia lagi.
Lagi, Shaka mengangguk dan tersenyum. Ada hangat menjalar di hatinya. Meski pernikahan itu mungkin terpaksa bagi Olivia, setidaknya dia tak menolak keberadaannya sebagai suaminya. Dia memperhatikan Olivia yang mulai membaringkan dirinya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Setelah cukup lama terdiam, Shaka mendekat ke arah Olivia berbaring. Gadis itu tertidur dengan tenang dengan wajah yang begitu damai. Shaka yakin gadis itu sangat lelah. Ditambah beban dalam pikirannya dan luka di hatinya. Shaka memandangi wajah cantik itu sejenak lalu mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Lalu perlahan membenahi selimut Olivia. Ingin sekali dia menyentuh wajah cantik itu dengan ujung jemarinya. Tapi dia sadar, ini bukanlah saat yang tepat. Dia juga tak ingin mengganggu tidurnya yang nyenyak.
Padahal sesungguhnya Olivia belum sepenuhnya tertidur saat ini. Pikirannya masih berkelana jauh. Tapi dia cukup tersentuh dengan apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Shaka. Pemuda baik yang selama ini dia anggap sebagai seorang adik.
Olivia bisa merasakan jika Shaka masuk ke dalam selimut yang sama dengannya dan berbaring di sisi lain ranjang dengan sangat pelan. Pemuda itu benar-benar tak ingin mengganggunya. Atau entah khawatir jika Olivia merasa tak nyaman tidur bersama pria asing yang tak dicintainya.
Suara hembusan nafas terdengar jelas ditelinga Olivia meski samar. Juga terasa ada gerakan kecil di sebelah sana. Benar saja, Shaka merubah posisi tidurnya menghadap Olivia yang dikiranya sudah tertidur nyenyak dan memandanginya dengan jarak cukup jauh di antara keduanya.
"Aku memang sejak lama ingin mengatakan jika aku menyukaimu. Tapi aku menahannya sekuat yang kubisa karena aku tau kamu mencintai pria lain. Dan Tuhan mengarahkanku pada takdir ini. Tanpa ucapan cinta yang pernah keluar dari bibir ini. Tanpa kejutan romantis yang pernah kuimpikan untuk melamarmu. Aku harus menikahimu dengan cara seperti ini. Seharusnya aku bahagia benar? Tapi entah kenapa melihat kamu bersedih dan terluka membuatku merasa perih. Aku harap esok aku akan melihat senyum indahmu seperti biasanya. Itu akan cukup membuatku bahagia. Selamat malam. Semoga mimpi indah. Bidadari hatiku." ucap Shaka berbisik dengan suara sangat pelan.
__ADS_1
Bisik itu tak ubah gema di telinga Olivia. Ada rasa nyeri mendengarnya. Dia tak pernah menyangka jika Shaka memiliki perasaan seperti itu untuknya. Kalimat panjang dan manis itu seperti mimpi indah tapi membuat hatinya terasa nyeri. Kalimat yang terucap dari bibir suami mudanya tanpa berharap didengar. Haruskah Olivia berbahagia bersuamikan pemuda ini?