Our Dandelions Destiny

Our Dandelions Destiny
03.Awal dari badai


__ADS_3

Langit mulai berwarna jingga, tanda hari akan segera berganti malam. Namun tak ada tanda kehadiran Sultan. Olivia bahkan tak bisa menghubungi kekasihnya itu. Gadis itu sedang duduk seorang diri di halaman belakang setelah berusaha menelpon.


"Nak. Boleh nenek minta air?" tanya seorang nenek yang tiba-tiba datang entah dari mana.


Sempat Olivia terkejut namun kemudian tersenyum. "Tentu. Nenek bisa menunggu di sini. Akan saya ambilkan." ucapnya tanpa bertanya dimana rumahnya dan tak menaruh curiga sedikitpun. Olivia hanya masuk dan mengambil sebotol air mineral barangkali air itu akan dibawa oleh wanita tua itu.


Namun saat kembali, Olivia melihat nenek tua itu pergi meninggalkan halaman belakang dengan tangan dengan membawa bungkusan kain yang Olivia yakin sebelumnya wanita itu tak membawa apapun. Dan Olivia juga baru menyadari jika dirinya meletakkan ponselnya di atas meja yang turut menghilang. Dengan cepat Olivia menyusul wanita itu yang terlihat berjalan tak begitu cepat.


Disanalah Shaka melihat Olivia yang terburu-buru masuk ke dalam hutan akhirnya menyusul gadis pujaannya tersebut.


"Kamu ngapain disini?" tanya Shaka dengan nafas terengah. Pria itu menumpukan kedua tangannya di atas lutut setelah berlari menyusul Olivia.


"Aku mengejar seorang nenek yang sepertinya pencuri dan sekarang menghilang. Dia menjatuhkan ponselku di sini. Sedang apa kamu disini?" tanya Olivia sama lelahnya. Gadis itu berusaha mengatur nafasnya dengan mata yang masih sibuk mencari ke segala penjuru.


"Aku melihatmu masuk kemari sendirian dan mengikutimu. Berbahaya masuk ke sini sendirian. Kita tidak tau apa saja yang ada di sini. Hutan adalah tempat yang berbahaya." jawab Shaka masih berusaha mengatur nafas.


"Sebaiknya kamu kembalilah." ucap Olivia mengingatkan.


"Aku akan kembali kalau kamu juga kembali. Matahari hampir terbenam. Tempat ini pasti berbahaya. Hari akan gelap sebentar lagi." jawab Shaka memperhatikan sekitarnya.


Olivia pun melihat sekelilingnya. Benar saja, matahari memang sudah hampir terbenam. Hutan yang tertutup dedaunan ini sudah semakin gelap.


"Kamu tau jalan kembali? Kenapa pohon-pohon ini terlihat sama? Apakah kita sudah terlalu jauh dari villa?" tanya Olivia. Gadis itu terlihat mulai takut. Dia tak terpikirkan akan pergi sejauh ini ke dalam hutan.


Shaka melihat sekitarnya. "Benar.Pepohonan ini terlihat sama. Sebaiknya kita cepat kembali sebelum sangat gelap." ucapnya masih memperhatikan sekitarnya. Semua pohon berjajar begitu rapi dan terlihat serupa seperti sebuah tempat dalam film misteri yang menakutkan dengan adegan siapa yang ada di sana akan tersesat dan terjebak. Mengerikan sekali bayangan itu.


"Berjalanlah didepanku. Jangan terlalu jauh." ucap Shaka lagi.


Olivia melangkah maju ke arah sebaliknya. Mereka berjalan cukup lama tapi tak juga bertemu dengan villa bahkan tak ada lampu atau apapun terlihat. Sementara hari semakin gelap. Mereka bahkan hampir tak melihat apapun.


"Sepertinya kita tersesat. Tempat ini gelap dan dingin. Aku akan mencoba menelpon seseorang." ucap Olivia menatap ponsel di tangannya dan mencoba menelpon tapi sepertinya signal sulit di daerah itu. "Nggak bisa. Nggak ada signal di sini. Coba pakai hape kamu." ucapnya.


"Aku juga nggak bawa hape. Aku tadi tinggalin di meja ruang makan dan nggak sempat ambil waktu lihat kamu berlari ke sini." jawab Shaka.

__ADS_1


"Lalu,gimana sekarang?" tanya Olivia mulai panik.


"Asal kita nggak terpisah,aku yakin akan baik-baik aja. Kita temukan jalan kembali bersama." ucap Shaka sok pemberani. Padahal dia sudah ngeri dengan kegelapan di tempat itu. Tapi demi Olivia, rasa takut itu menghilang seakan terbawa angin.


___________


Sementara di villa. Sultan datang dan masuk ke dalam. Pria itu sebenarnya berpikir untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk melamar Olivia. Meski sebelumnya mereka tak pernah memberitahu tentang hubungan mereka pada orangtua mereka. Ditambah Olivia yang cukup lama di luar negeri.


"Sultan. Duduk. Sebentar lagi Oliv pasti turun. Tadi dia antar Mika ke kamar. Kepalanya pusing katanya." ucap Anwar, Papa Olivia.


Hari semakin gelap. Mereka masih sibuk menyiapkan berbagai macam bahan untuk membuat makan malam. Mereka berencana membuat barbeque. Dan tak ada satupun yang menyadari jika dua anggota tak berada di dalam villa.


_____________


Olivia dan Shaka masih berjuang menemukan jalan kembali. Hujan sangat deras dan juga kilatan petir dilangit terlihat sangat menakutkan bagi Olivia.


"Aku nggak ngerasa lewat jalan kayak gini tadi. Dimana kita sekarang?" tanya Olivia. Suaranya bergetar karena kedinginan dan juga ketakutan yang tak bisa dibendungnya. Dia sungguh ingin menangis sekarang. Kilatan di langit terlihat menakutkan baginya. Jalan setapak yang sedari tadi mereka ikuti bahkan berakhir dan berubah menjadi semak dan bebatuan.


"Anggap aja aku baik. Aku nggak mau terdampar di sini semalaman. Tempat ini sangat menakutkan." jawab Olivia terdengar menahan tangis tapi masih terus berjalan. Dia bahkan sampai terjatuh karena terlalu cepat berjalan. "Aagghh." pekiknya saat dirinya terjatuh.


"Apa kamu baik-baik aja? Nggak terluka?" tanya Shaka mencoba membantu Olivia bangun. Sekilas dia melihat wajah Olivia karena cahaya kilatan di sana,gadis itu sepertinya sangat ketakutan dan wajahnya terlihat pucat karena udara yang dingin.


"Seharusnya kamu nggak ikuti aku kemari. Gimana kalau kamu mati karena bersamaku?" tanya Olivia dengan suara bergetar menahan tangis. Ini adalah pengalaman pertamanya berada di dalam hutan seperti ini.


"Jangan mengatakan hal buruk.. Aku akan merasa bersalah kalau nggak ikuti kamu dan biarin kamu di sini sendirian. Semua akan baik-baik aja." ucap Shaka berusaha meyakinkan. Sebenarnya tadi dia juga sempat takut. Ini pengalaman pertamanya berjalan di tengah hutan di cuaca seperti ini tanpa bekal apapun. "Sepertinya ada pondok di sana." ucapnya lagi lalu membantu Olivia berjalan ke arah pondok itu.


"Kalian tersesat di hutan ini?" tanya seorang pria paruh baya saat melihat keduanya berteduh di depan pondok.


"Kami tersesat dan tidak menemukan jalan kembali. Bisakah anda membantu kami turun?" tanya Shaka.


"Terlalu berbahaya. Hujannya sangat deras. Sisi gunung bahkan longsor saat ini. Setidaknya tempat ini masih aman untuk kalian berteduh. Kalian suami istri? Aku bisa membuka pondok ini dan membiarkan kalian menginap di sini sampai besok pagi." pria itu bertanya dan menawarkan.


"Ya. Kami pasangan." jawab Shaka tanpa berpikir panjang. Setidaknya mereka bisa berteduh pikirnya.

__ADS_1


Pria itu lantas membukakan gembok pintu itu dan menyuruh mereka masuk. "Aku akan kembali dan membantu kalian turun besok. Terlalu berbahaya karena kalian bahkan tak membawa peralatan apapun. Tunggulah sampai matahari terbit. Sekarang aku harus pergi ke sisi gunung untuk memeriksa longsor. Di dalam sana ada selimut yang bisa kalian pakai." ucapnya lalu meninggalkan mereka.


"Terimakasih." ucap Shaka dengan senyumnya.


"Kenapa kamu bilang kita pasangan?" tanya Olivia heran dengan ucapan pemuda itu.


"Jangan pikirin itu. Aku pikir kita harus mendapatkan tempat berteduh lebih dulu. Dia nggak akan mengijinkan kita di sini kalau kita bukan pasangan. Aku nggak mau kamu kedinginan dan sampai sakit. Terlalu lama berada di bawah guyuran air hujan dengan petir seperti itu cukup berbahaya. Aku nggak mau ambil resiko semakin tersesat atau kita mungkin akan menemukan bahaya lebih besar." jawab Shaka.


"Apa kita sungguh akan menunggu sampai besok?" tanya Olivia. Sangat terlihat jika gadis itu sangat ketakutan.


"Setidaknya kita tunggu sampai hujannya reda. Tenanglah dulu dan jangan takut. Ada aku di sini." jawab Shaka mencoba menenangkan.


Keduanya masih menunggu hujan reda yang entah kapan. Hujannya deras sekali dengan gemuruh petir dan halilintar bersahutan.


________________


Sultan menunggu cukup lama,tapi Olivia tak juga kembali. Dia terlalu lama menunggu gadis pujaannya yang tak juga menampakkan diri. Tak ada satupun yang menyadari jika gadis itu meninggalkan villa dan mengalami kesulitan di tengah hujan di dalam hutan.


"Sultan. Panggil dia di lantai atas. Dia lama sekali." ucap Indah.


Sultan masuk ke dalam dan pergi ke lantai atas. Dia melihat seorang gadis di sana, tampak belakang di salah satu ruangan yang tak ditutup pintunya. Sultan yang merindukan kekasihnya itu langsung saja memeluknya tanpa menyadari jika gadis itu adalah Felicia dan bukan Olivia.


"Apa yang kalian lakukan didalam kamar?" teriak Indah yang sontak mengagetkan keduanya. "Feli." panggil ibunya.


"Feli?" tanya Sultan membolakan matanya memperjelas pandangannya pada gadis di depannya. Benar saja,Sultan tidak memakai kacamatanya dan pandangannya buruk tanpa benda itu.


"Beraninya kalian berpelukan di dalam kamar? Apa yang akan kalian lakukan kalau aku nggak ada disini?" teriak Indah sudah membayangkan yang tidak-tidak. Banyak sekali di luar sana dilakukan oleh muda-mudi yang lupa diri dan terjerumus dalam hubungan di luar pernikahan.


"Om. Olivia kemana? Dia nggak ada dimanapun di villa. Shaka juga menghilang." ucap Angga menyadari sepupunya menghilang.


Semua bingung dan khawatir. Angga dan Gilang bahkan ke luar dari Villa untuk mencari keduanya. Namun tak berhasil menemukan mereka. Hingga malam cukup larut. Tanpa kabar apapun.


Sementara di dalam hutan, Olivia mengajak Shaka pergi saat hujan perlahan mulai reda. Namun keduanya tak bisa membuka pintu pondok yang ternyata terkunci dari luar.

__ADS_1


__ADS_2