Painful Love

Painful Love
Akhirnya akur


__ADS_3

Setelah mertuanya pulang, Farah pun segera ke rumah sakit. Ia menenteng kotak bekal untuk ia berikan kepada wanita paru baya yang baru ia kenal baru baru ini, ya siapa lagi kalau bukan tante Lastri.


Dan disinilah Farah sekarang, ia berada di rumah sakit. Ia segera menuju ke ruangannya dan sesekali ada rekan sesama dokter dan suster yang menyapanya dan tentu Farah membalasnya dengan ramah.


" Selamat pagi dok " sapa seorang suster wanita.


" Pagi juga Indri "


" Sekitar 5 menit yang lalu, ada seorang wanita paru baya yang menanyakan dokter. Kalau tidak salah, namanya tante Lastri " ucap suster yang di ketahui bernama Indri. Farah pun hanya tersenyum menganggukan kepalanya.


" Baiklah, saya sudah tau. Terima kasih Indri "


" Sama sama dok. Kalau begitu saya lanjutkan tugas saya dulu ya dok " ucap Indri. Farah pun menganggukan kepalanya. Lalu Suster yang masih muda itu pun pergi. Sedangkan Farah kini sudah masuk ke dalam ruangannya.


Di dalam ruangannya Farah segera bersiap untuk bekerja. Ia memakai jas dokternya dan mengambil alat alat untuk memeriksa pasiennya. Saat Farah hendak keluar lagi, Ia menghentikan langkahnya. Ia mengambil kotak bekal yang tadi ia bawa, setelah itu ia pun pergi untuk kunjungan pasien


Setelah menemui beberapa pasien, akhirnya ia kini akan memeriksa pasien yang mamanya ia kenal baru baru ini.


" Selamat pagi tante " Ucap Farah yang melihat Lastri sedang duduk di dalam ruang inap anaknya. Wajah Lastri tampak tak baik.


" Pagi Farah " Jawab Lastri dengan tak semangat. Farah yang melihat hal itu pun bingung, tapi ia tak mau bertanya. Farah pun semakin masuk ke dalam ruangan itu dan terkejut melihat pasien yang merupakan anak tante Lastri itu sudah bangun. Kini kedua anak dan ibu itu terlihat tidak baik, anak tante Lastri ia memandang ke arah lain sedangkan Lastri hanya memandang sendu anaknya.


" Biar saya cek keadaan kamu " ucap Farah kepada pasiennya itu.


" Tante bisa keluar sebentar, biar saya cek dulu keadaan anak tante " Ucap Farah sopan.


" Baiklah nak " Rita pun keluar dari ruangan anaknya.


Farah pun mengecek kondisi pasiennya yang ia ketahui bernama Kenzie daviandra austin. Pria itu berusia 26 tahun, ya memang lelaki ini lebih tua 3 tahun dibanding Farah. Saat ini Farah berusia 23 tahun. Bagaimana mungkin Farah tau nama dan umurnya?? tentu saja Farah tau, karena ia dokter yang menangani. Seorang dokter pasti akan menerima data diri milik pasiennya.


" Dok ini infusnya " ucap seorang suster yang baru saja masuk. Farah pun mengambilnya dan segera memasangkannya. Suster itu pun pergi setelah melaksanakan tugasnya.

__ADS_1


" Kenzie daviandra austin, nama yang bagus...mama anda sangat pandai ya memilih nama " Ucap Farah sekedar berbasa basi. Tetapi yang di ajak bicara hanya diam saja. Kenzie tetap memandang ke arah lain tanpa memperdulikan apapun.


" Apakah anda adalah keluhan ?? " tanya Farah. Tetap saja Kenzie tak menggubrisnya.


" Aku baik baik saja, pergilah " Akhirnya Kenzie mengeluarkan suaranya juga.


" Baiklah, kalau ada apa apa panggil saja saya " ucap Farah. Ia pun berlalu pergi meninggalkan Kenzie yang masih melamun. Farah ingin sekali membantu Tante Lastri untuk menasehati Kenzie agar tak melakukan hal bodoh. Tapi ia sadar, ini bukan waktu yang tepat. Kenzie tampak tak baik baik saja.


Di luar, Farah melihat tante Lastri sedang menangis. Ntah mengapa hati Farah ikut teriris melihatnya. Farah pun menghampiri Lastri dan duduk di sampingnya.


" Tante sudah makan ?? " Tanya Farah. Lastri pun dengan segera mengusap air matanya, Ia menatap Farah dengan senyuman.


" Pasti belum, kebetulan tadi pagi Farah membuat soto. Tapi sepertinya ini sudah dingin, kalau tante mau kita bisa minta di panaskan di kantin rumah sakit " ucap Farah lagi. Lastri pun menganggukan kepalanya dengan senang.


" Kamu tau aja kalau tante belum sarapan, yaudah yuk kita ke kantin. Semalam kamu kan udah janji mau makan bareng tante "


Mereka pun pergi bersama menuju kantin rumah sakit.


Di kantor, saat Vino baru saja selesai meeting. Ia hampir terkejut ketika masuk ke dalam ruangannya sudah ada David dan Fero.


" Akhirnya lu datang juga... " ucap Fero semangat. Ia segera bangkit dari sofa dan menjabat tangan Vino.


" Pekerjaan mu sudah selesai ?? mengapa tak mengabariku kalau kau sudah kembali " Ucap Vino kesal.


" Kan kejutan " balas Fero.


Vino beralih menatap David. Ia tentu masih kesal dengan David, Vino pun menatap David dengan tajam lalu memutuskan pandangan mereka. Vino pun duduk di kursi kebesarannya. David hanya terkekeh geli melihat kelakuan sahabatnya yang masih marah ini.


" Kenapa kalian?? lagi ngambekan ya " Fero yang berada di situ tentu menyadari kalau kedua sahabatnya itu sedang berselisih paham. Tetapi hanya Vino yang mengibarkan bendera perang, terlihat dari tatapannya yang tampak tak suka pada David. Sedangkan David hanya menanggapinya dengan santai, dengan mengangkat kakinya lalu meminum kopinya.


" Gak tau tuh si Vino. di nasehatin yang baik kok malah marah, aneh memang " ucap David sambil tersenyum. Vino pun kembali menatap David dengan tajam.

__ADS_1


" Udahlah Vin, jangan marah marah terus. Gimana kalo kita hari ini ke restoran Italian food. Sebentar lagi juga jadwal makan siang " ucap Fero yang berusaha melerai kedua sahabatnya, ralat lebih tepatnya untuk membuat Vino mau akur dengan David.


Vino pun menghembuskan nafasnya dan meletakkan berkas yang ia pegang. Ia menatap David dan David tersenyum ke arahnya " Baiklah "


David pun segera bangkit lalu mendekati Vino dan merangkul sahabatnya itu " Jadi bang Vino udah gk marah lagi sama acu " Ucap David dengan nada yang di buat buat. Vino yang jijik langsung melepaskan rangkulan David padanya dan Fero hanya tertawa keras melihat kelakukan David.


" Apaan sih lo, jijik tau gak. Eh Fero nanti coba cariin deh serikat para banci. kayaknya ni salah satu banci yang nyasar "


" Enak aja lo, gue masih berada di jalan yang lurus ya bro " seru David kesal. Fero yang sudah lelah tertawa akhirnya berhenti meskipun sesekali ia masih merasa geli.


" Udah yok, berangkat lah. Akhirnya akur juga lu berdua " ucap Fero senang. Vino pun kini bisa tersenyum dengan David dan merangkul pundak sahabatnya.


Lalu mereka bertiga pergi meninggalkan kantor menuju restoran yang mereka inginkan.


.


.


.


.


.


.


.


halo semuanya, maaf ya baru up sekarang. Semalam mau up, tapi author ada keperluan mendadak jadi gk bisa up. Dan maaf kalo part ini agak gaje wkwkwk. Jangan lupa like dan komennya dong kaka kaka semua, karena itu adalah bentuk support kalian agar author terus semangat di tengah tugas yang padat.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2