
Farah dan Vino kini sedang dalam perjalanan untuk ke rumah orang tua Farah. Vino yang fokus dengan jalanan dan Farah yang hanya memandang ke samping dan sedang melamun. Suara ponsel milik Farah memecah keheningan perempuan cantik tersebut, ia melihat ponselnya untuk melihat siapa yang menelpon ternyata sahabatnya yang sudah lama tidak ia jumpai.
" Siapa ?? " Tanya Vino penasaran.
" Reina " Jawab Farah. Farah dengan segera mengangkat ponselnya.
" Halo Farah, lu kok belum sampai sih?? gue udah di rumah lo ni " tanya Reina di telpon.
" Iya, ini lagi di jalan Rei. Sebentar lagi gue nyampe kok. lu tunggu aja pokoknya " Jawab Farah.
" Gue udah hampir setengah jam ni disini, gue juga bantuin mami lo. Masa anaknya belum datang bantuin tapi temennya yang duluan datang dan bantuin, sebenarnya yang anaknya itu gue apa lo sih Far " Ucap Reina tampak kesal.
" Ya guelah anaknya. Sabar bawel 5 menit lagi nyampe nih. Lagian lu bantu mami gue apa ?? bantu masak atau bantu ngerusuh ?? "
" Bantu doa kali ya. Ya gue bantu bantu nata makanan aja " Jawab Reina terkekeh.
Farah pun tertawa mendengar jawaban sahabatnya itu, " Yaudah gue tutup telponnya dulu. Sebentar lagi gue nyampe ok " Setelah Reina mengiyakan dari seberang sana, Farah pun mematikan telponnya.
" Teman mu itu bawel sekali ya " ucap Vino. Ia masih ingat saat ke rumah David bagaimana Reina memperlakukannya. Farah pun hanya tersenyum mendengar ucapan Vino. Ya, Reina memang bawel dan cerewet tapi wanita itu adalah alasan mengapa Farah tak butuh teman lain disisinya, Reina saja sudah cukup. 5 tahun hidup dalam keterpurukan hanya Reina yang saat itu tempat berkeluh kesahnya, walau Reina bukanlah sosok yang bisa menasehati tapi Reina bisa memberinya semangat dan menghiburnya. Betapa beruntungnya Farah punya teman bawel seperti itu.
" Hei mengapa kau melamun ?? " Tanya Vino heran. Farah pun menoleh ke arah Vino.
" Tidak, tidak apa apa " jawab Farah.
Kini mereka sudah memasuki pekarangan komplek tempat orang tua Farah. 1 menit menyusuri komplek tersebut akhirnya mereka sampai juga. Satpam yang saat itu berjaga segera membuka gerbang ketika mengenali Vino sebagai suami dari nona mudanya dan nona mudanya juga ada di sana.
Farah yang tak sabar menemui kedua orang tuanya segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah, Vino hanya menggeleng geleng kepala saja melihat kelakuan istrinya itu.
__ADS_1
*******
" Farah... " John yang saat itu tengah membaca koran di ruang tamu di buat terkejut sekaligus bahagia ketika mendapati putri bungsunya sudah sampai. John segera menghampiri anaknya dan memeluk anaknya juga mengecup pucuk kepala si bungsu.
" Farah kangen sama papi " Ucap Farah di sela sela pelukan mereka.
" Papi juga sayang " setelah cukup lama berpelukan akhirnya John melepaskan anaknya.
" Kamu sendiri kesini nak ?? " Tanya John. Ia takkan marah kalau memang Vino tidak ikut bersama Farah, karena John tau kalau Vino adalah orang yang sibuk.
" Vino disini pi " Farah yang ingin menjawab pun ia urungkan niatnya ketika melihat suaminya. John pun memeluk sebentar menantunya itu.
" Papi kira kamu tak datang nak " ucap John dan hanya di balas senyuman oleh Vino.
" Papi, mami di dapur ya ?? " tanya Farah.
" Iya sayang, ada Reina juga disana "
Setelah mendapat anggukan dari papinya, Farah segera pergi ke dapur untuk ikut serta membantu. Sedangkan John dan Vino mereka berbincang bincang di teras depan dan John meminta pelayan untuk membuatkan teh untuknya dan menantunya.
********
Di dapur terlihat Desi yang sibuk membantu pelayan untuk memasak dan Reina tengah duduk di meja makan yang ada di dapur, Reina sedang memotong membantu sayuran. Karena terlalu fokus dengan tugas masing masing mereka tak menyadari kalau Farah ada disana.
" Wah skill motong sayur lo udah bagus ya Rei " Suara Farah seketika membuat semua orang segera menoleh ke arah Farah. Desi segera menghampiri anaknya dan memeluknya sebentar Farah pun membalasnya begitu juga Reina yang memeluk sahabatnya. Mereka berbincang bincang sebentar dan akhirnya kembali ke tugas memasaknya. Kali ini Farah ikut serta, namun ia di tugaskan untuk membuat makanan penutup dan tak di izinkan untuk membantu mamanya yang menyiapkan makanan utama. Begitu pula Reina yang kini membantu Farah menyiapkan bahan setelah tugas memotongnya selesai, Desi memang sengaja tak menempatkan mereka untuk membantunya. Banyaknya bumbu masakan dan bau rempah rempah, ia tak mau kedua wanita itu bau dapur. masa udah cantik tapi bau dapur, ya begitulah kata Desi kepada Farah dan Reina.
Kali ini memasak dengan porsi yang lumayan banyak bukanlah hal yang berat, canda tawa mengiringi pekerjaan mereka.
__ADS_1
" Eh Far, gue udah berdoa ni ya kalau kak Ferli dan Kak Alex pulang pulang bawa baby " ucap Reina berharap. Farah yang saat itu sedang memanggang cake berdecak kesal menanggapi perkataan Reina.
" Mana mungkin baru beberapa Minggu bulan madu langsung bawa bayi bodoh " Ucap Farah kesal.
" Maksudku kak Ferli langsung hamil gitu kan gue gk sabar punya ponakan Far "
" Iya deh, iya. Terserah lu " ucap Farah pasrah.
" Kalo punya ponakan dari lu mah, gue masih mikir mikir ni, emangnya kalian udah ngelakuin itu ?? " Tanya Reina pelan. Farah langsung menghunuskan tatapan tajam ke arah Reina.
" Kan cuma nanya Far, gue tau kok lu masih perawan. bibir lu aja mungkin masih perawan "
" Reina.....!!! " Teriak Farah yang membuat Desi yang saat itu sibuk segera melihat anaknya.
" Ada apa nak?? " Tanya Desi khawatir.
" Eh gpp kok tante, tadi kaki Farah gk sengaja ke injak Reina hehe " ucap Reina. Farah hanya menatap tajam ke arah Reina.
" Ih mami kira ada apa, yaudah mami mau lanjut tugas lagi. " Desi pun meninggalkan Farah dan Reina.
" Berarti bener yang gue bilang kan Far "
" Terserah "
.
.
__ADS_1
.
Yeay up lagi, jangan lupa like and komen ya guys sebagai bentuk dukungan kalian ke author agar author selalu semangat up nya.