Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Dompet Hans Dikuras Habis


__ADS_3

Hans menggigit bibirnya dengan lidah yang mendadak kelu. Perasaannya pun telah menjadi kesal dan menyesal. Keputusannya untuk menemani Candice sampai meminta izin tidak masuk piket pada akhirnya malah tidak membuahkan hasil. Karena alih-alih mendapatkan hal yang ia inginkan, Hans justru kehilangan banyak uang.


Setelah sempat mampir untuk mandi di sebuah pusat perbelanjaan dan tentu sudah membeli pakaian ganti dengan menggunakan uang Hans, Candice malah semakin brutal dalamn menguras habis dompet gurunya itu. Dan sebagai orang yang telah memberikan penawaran, tentu saja Hans tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekarang. Setiap kali ia hendak mengajak Candice untuk ia antar pulang, gadis itu malah mengancam akan berteriak dengan menuduh Hans sebagai guru penguntit yang mesum.


“Ck, aku tahu dia sangat pemberani dan hampir enggak punya rasa takut pada siapa pun. Tapi aku enggak menyangka dia sampai memorotiku separah ini. Dia enggak mungkin tahu, ‘kan, kalau aku akan orang kaya?” gumam Hans lkalu berusaha mengangkat kembali setidaknya tujuh paperbag berisikan barang belanjaan bocah nakal itu. Sementara si Bocah nakal masih saja sibuk memilih-milih sepatu kets keluaran baru di sebuah toko.


Di tempatnya berdiri, Candice tengah menyeringai. Tangan dan matanya masih sibuk pada sebuah sepatu berwarna putih dengan garis hijau dan biru di beberapa bagian.


“Ini balasan buat kamu, Pak Guru yang selalu bikin kesal. Akan aku habiskan semua uangmu! Hihi. Bermain ditemani olehnya rupanya enggak buruk juga ya? Pft ... haha,” gumam Candice diiringi suara tawa kecilnya.


“Segitunya kamu ingin balas dendam pada saya?” celetuk Hans yang mendengar gumam bibir Candice.


Candice sempat terkejut sampai kedua pundaknya terangkat naik. Detik berikutnya, ia memutar badan dan menatap Hans. “Waaah! Pak Guru bikin kaget saja!” gerutunya kesal.


“Tujuan kamu sudah tercapai, Candice. Uang saya sudah habis!” tegas Hans. “Saya sudah enggak bisa membayar sepatu tersebut.”


“Cih. Pelit banget! Padahal saya tahu Bapak juga memakai kartu kredit. Kan bisa dibayar pakai itu!”


“Kartu kredit saya diblokir, Candice.”


“Mm?” Dahi Candice mengernyit. “Oh, sama orang tua Bapak ya? Nakal sih! Haha. Saya enggak mau tahu, pokoknya saya mau sepatu itu dan kalau Pak Guru enggak mau bayar saya teriak nih.”

__ADS_1


“Ck.”


“Ayolah, Pak! Saya kan sudah enggak punya ayah, memanjakan anak yatim nanti bisa mendapat pahala lho, Pak! Kan Pak Guru sendiri yang kasih saya penawaran!”


Hans menghela napas. Setelah menggertakkan giginya, ia menatap Candice dengan lebih tajam. “Ini yang terakhir. Setelah itu saya antar kamu pulang. Sudah jam dua siang lho. Kita sudah bermain terlalu lama, nanti ibumu cemas.”


Candice memutar matanya. Perubahan ekspresi di wajahnya jelas kentara. Setiap kali membahas soal ibu, gadis itu selalu menunjukkan raut kesal dan lebih ke malas untuk membahas. Setidaknya hal inilah yang Hans dapatkan. Keberadaan Candice di halte bus di waktu yang masih sangat pagi, pasti ada kaitannya dengan sang bunda. Bukan hal tabu sebenarnya, sebab pertengkaran ibu dan anak memang sering terjadi. Namun untuk kasus Candice yang sampai memiliki karakter di luar batas normal kenakalan remaja, tentu pastinya ada penyebab lain yang jauh lebih berbeda.


“Kita makan dulu, boleh, Pak? Lapar nih. Pak Guru kan belum mengajak saya makan siang. Janji deh setelah ini saya mau pulang!” celetuk Candice yang sudah mendapatkan senyumannya kembali.


Hans menatap kecantikan gadis itu. Terutama di bagian senyuman yang memang sangat manis. Candice juga memiliki gigi gingsul, selain keunikan warna iris mata yang memiliki dua pigmen warna. Auranya ketika tersenyum polos begitu, sebenarnya telah menunjukkan jika Candice tetaplah gadis muda yang masih memiliki sisi kekanak-kanakan. Seorang anak yang mungkin sedang haus perhatian. Namun mungkin perhatian yang diinginkan memang tidak pernah Candice dapatkan.


“Ayo,” ucap Hans sambil mengambil langkah duluan. Ia melakukan transaksi pada staff toko yang bertugas. Sepatu yang diinginkan oleh Candice menjadi barang yang hendak ia beli. Gadis itu juga sudah memberitahu ukuran sesuai panjang kaki.


“Kamu mau makan apa?” tanya Hans setelah sampai di lantai paling bawah dengan gadis itu.


“Mm ....” Mata Candice mendaratkan tatapan ke sebuah restoran ayam dengan brand yang terkenal karena kepedasannya. “Situ, Pak. Makan yang pedas-pedas kayaknya enak deh!” Candice menunjuk restoran tersebut.


Hans tersenyum kecut. “Kamu ingin mengerjai saya ya? Mau meminta saya makan yang pedas-pedas?” tebaknya.


“Enggak tuh! Kan masih banyak menu enggak pedasnya. Ih, memangnya Pak Guru enggak doyan pedas?”

__ADS_1


“Enggak, enggak sama sekali.”


Seringai menarik salah satu sudut bibir Candice. Sepertinya rencananya untuk membuat lambung Hans terasa perih dan mendidih akan berjalan dengan lancar. Detik berikutnya, ia pun langsung berjalan ke restoran tersebut. Namun, hanya berkisar beberapa detik saja ia kembali mendekati Hans untuk meminta uang lantaran restoran tersebut memang memakai sistem pesan langsung bayar.


“Saya akan memesankan ayam yang enggak terlalu pedas buat Bapak. Jadi tenang saja, Pak! Hehe,” ucap Candice setelah akhirnya kembali melanjutkan rencananya.


“Ck, ck, ck.” Hans menggeleng-gelengkan kepalanya. Selanjutnya, ia segera mengambil langkah untuk menyusul gadis itu. “Rencana jahatnya kelihatan sekali.”


Singkat cerita, Hans dan Candice sudah duduk di salah satu tempat makan di dalam restoran itu. Keduanya saling berhadapan bahkan juga bertatapan. Candice menunggu kapan Hans akan menyantap ayam krispi bumbu super pedas, sementara Hans justru terkesan menunda-nunda pertunjukan yang akan dilihat oleh gadis itu.


“Ayo makan, Pak! Saya sudah mulai makan lho! Itu enggak pedas kok!” ucap Candice sembari mengunyah makanan tersebut.


Hans justru menopang dagunya di atas telapak tangannya. “Apa yang membuat kamu duduk di halte sepagi itu, Nak?” ucapnya yang malah ingin membahas hal lain. “Bisakah kamu mengatakan alasannya pada saya?”


Kegiatan Candice menjadi terhenti di detik itu juga. Mata indahnya semakin tajam dalam menatap wajah Hans yang tampan. “Oh ... begitu ya? Niat Pak Guru untuk mengajak saya bermain hingga tak segan membelikan banyak barang adalah untuk menyelidiki saya?” balasnya bertanya. “Sebenarnya apa alasan Pak Guru sampai mengincar saya? Di pertemuan pertama kita saja, Pak Guru malah sudah mengetahui nama saya. Apa Bapak adalah guru BP yang baru yang ditugaskan khusus untuk mengawasi saya?”


Hans agak terkejut karena ternyata Candice cukup pintar dalam membaca situasi. “Kenapa kamu harus diawasi? Selain tukang tawuran, kamu enggak sampai menjadi pengedar, ‘kan?”


“Jangan berkilah, Pak,” tandas Candice. “Meski nilai saya jelek, saya bukan orang yang sangat bodoh kok. Saya pun bingung mengapa saya harus sampai diawasi dan sampai dikirimi seorang guru, yakni Pak Hans, alih-alih segera dikeluarkan, seandainya tebakan saya memang benar. Kalau niatnya adalah membuat saya sadar, lebih baik Pak Guru berhenti dari sekarang. Karena saya enggak pernah berniat menjadi murid teladan! Aaah ... bikin enggak nafsu makan saja. Ck!”


Hans manggut-manggut. Baiklah, belum saatnya ia memaksa Candice untuk memberikan banyak cerita. Menghadapi gadis sekeras kepala itu memang harus lebih bersabar. Detik berikutnya, Hans mulai menyantap chicken super pedas itu. Namun reaksi Hans yang tampak baik-baik saja sukses membuat Candice melebarkan mata.

__ADS_1


“Sial, aku ditipu,” gumam Candice sangat pelan.


***


__ADS_2