Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar

Pak Guru Tajir VS Gadis Bar-bar
Candice yang Pincang


__ADS_3

Gelisah, hati Lusiana tidak tenang. Daripada duduk, ia lebih memilih berjalan ke sana kemari di area kosong salah satu kamar di rumah itu, sementara Tony malah sudah meringkuk di atas kasur. Meninggalkan Candice dalam keadaan terluka sejujurnya membuat Lusiana tidak enak hati. Ia tetap khawatir pada putri semata wayangnya itu. Terlebih lagi ketika ia teringat akan karakter Candice yang masa bodoh pada beberapa hal. Sudah pasti, gadis itu tak akan mengurus lukanya sendiri.


"Aduh, Mas, aku beneran enggak tenang. Candice sedang terluka parah, aku harus pulang," ucap Lusiana pada Tony.


Detik itu juga, Tony langsung bergegas turun dari ranjang. Ia berangsur memeluk pinggang Lusiana dari arah belakang setelah berhasil menghampiri wanita simpanannya itu. Dan sungguh, ia tidak akan membiarkan Lusiana sampai meninggalkannya hanya demi Candice yang nakal.


"Sudahlah, sekali ini saja kamu biarkan dia. Biar dia juga berpikir serta instrospeksi diri. Kalau tanpa kamu, memangnya dia bisa apa," bisik Tony tepat di telinga Lusiana. "Lagi pula dia sudah besar, dia pasti bisa mengurus luka-lukanya, Lusi. Biar Candice juga tahu, bahwa dia tak seharusnya melibatkan diri pada urusan kita berdua. Dia hanya perlu belajar dan sekolah dengan baik saja, bukan mengurusi masalah orang tua. Iya, 'kan?"


"Tapi, Mas, anak itu kerap masa bodoh lho, Mas. Dia pasti tidak akan mengobati lukanya. Lagi pula, kamu juga harus pulang ke rumah istri kamu, 'kan?" sahut Lusiana.


"Lusi." Tony mempererat pelukannya di tubuh Lusiana. "Aku akan tetap di sini menemani kamu yang kalut. Lagi pula, kamu tahu, 'kan, kalau aku juga sudah pisah ranjang dengan istriku? Sudahlah, tenangkan diri dulu di sini bersamaku. Kita juga perlu bersikap lebih keras pada Candice."


"Tapi, Mas, aku tetap khawatir."


"Percaya saja padaku, aku punya anak tiga. Dan tampaknya aku lebih berpengalaman mendidik anak daripada kamu."


Lusiana tak berdaya. Ia malah memutar badannya dan menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan Tony. Hangat sekali. Pria ini selalu membuatnya merasa terlindungi. Sekarang pun, berkat Tony, ia bisa sedikit membuka usaha kecil-kecilan dengan berjualan pakaian. Tony memberinya modal untuk hal itu.


Sementara Tony, kini tampak menyeringai. Merasa menang atas diri Lusiana, tentu saja menang melawan kebrutalan Candice yang selalu menentang keberadaannya.


***


Beruntung, tadi malam para montir itu mengantarkan mobil Hans tak lama setelah Hans sampai di kediamannya. Sehingga pada saat ini, Hans bisa berangkat lagi ke sekolah tanpa merasa kesulitan. Sama seperti biasanya, ia melewati rute yang sama. Alunan musik terdengar dari radio dashboard mobilnya. Bibirnya yang manis itu pun kerap mengikuti bait lirik yang dinyanyikan oleh sang vokalis dari salah satu band ternama di negara ini.


Namun ... bak dejavu, Hans kembali menemukan seseorang yang sama seperti sebelumnya. Candice berjalan di trotoar dalam keadaan pincang. Awalnya Hans pikir ia hanya salah terka, tetapi setelah memastikan lagi dari kaca spionnya, ia melihat bahwa gadis berkaki pincang itu memang Candice.


Detik itu juga, Hans langsung menghentikan sejenak mobilnya di pinggir jalan. Karena merasa penasaran tentang mengapa Candice yang berjalan kaki dengan kaki yang tampaknya terluka, Hans memutuskan untuk turun. Ia harus melihat kondisi Candice dengan jarak yang lebih dekat.


"Candice? Apa-apaan ini?! Kamu kenapa?" Betapa terkejutnya Hans yang mendapati tangan dan kaki kanan Candice tampak terluka. Dan luka itu tidak terbalut perban sama sekali. Langkah kaki Candice pun pincang, sepertinya ada tulang kaki yang terkilir.

__ADS_1


Candice menghela napas. "Apa Pak Guru terus-terusan mengawasi saya, sampai kita terus bertemu seperti ini?" sahutnya setelah menghentikan langkah di hadapan Hans.


"Enggaklah. Kalau saya terus mengawasi kamu, saya enggak akan bertanya kamu kenapa, Candice! Kita satu arah. Jadi wajar jika bertemu di sini. Dan kamu jalan kaki, itu sebabnya, mungkin kamu memilih untuk berangkat pagi. Ada apa, Candice?"


"Ah, enggak ada apa-apa kok. Cuma jatuh dari motor, bukan karena tawuran. Tenang saja, Pak! Teman-teman saya juga sudah pada pensiun tuh gara-gara Bapak!"


"Jatuh dari motor?"


"Iyaaa! Bapak belum tuli, 'kan? Hadeh."


"Ih anak ini!" Hans menyentil dahi Candice karena gadis itu tetap judes dan tidak sopan. "Ayo ikut saya ke mobil, saya bantu carikan klinik dulu biar luka kamu bisa ditangani. Itu masih basah lukanya. Enggak langsung kamu urus ya?"


"Enggak mau."


"Jarak ke sekolah masih jauh, Candice. Sepertinya kamu juga enggak mau naik angkot."


"Bukan enggak mau, tapi saya enggak punya uang. Uang saya buat perbaikan motor sama ban mobil Pak Guru."


terlanjur mengerjai saya, dan sudah berhasil, 'kan?" Hans menghela napas lalu berkacak pinggang. "Masuk ke dalam mobil saya, atau saya gendong kamu, Candice? Saya yakin kamu enggak bisa melawan saya dalam keadaan sakit seperti ini."


"Iiih! Kenapa memaksa sih?!"


"Ini tumpangan gratis lho! Lagi pula kita sudah memiliki kesepakatan, 'kan?"


"Ck."


Candice terpaksa berjalan ke arah mobil Hans. Dan Hans membantunya membukakan pintu. Namun pria itu sama sekali tidak menyentuhnya. Mungkin Hans memang tidak mau disalahpahami oleh orang lain, atau malah jijik pada Candice yang berpenampilan seburuk saat ini. Kalau saja tidak diberikan tugas untuk mengawasi Candice atau kalau tidak berstatus sebagai seorang guru, Candice yakin Hans tidak akan sebaik ini padanya.


Hans bergegas masuk ke dalam mobilnya. Kemudian ia melajukan mobilnya tersebut untuk mencari klinik yang buka selama dua puluh empat jam. Sebab untuk apotik yang buka di hari sepagi ini akan lebih sulit Hans temukan.

__ADS_1


"Kamu jatuh di mana? Apakah setelah pulang mengantar saya?" celetuk Hans memecah kesunyian yang ada.


"Enggak kok, Pak. Bukan saat itu," jawabnya.


Hans melirik sekilas kondisi Candice yang duduk di sampingnya. Luka itu cukup parah. Mengapa pula Lusiana tidak segera memberikan pertolongan pertama? Apa karena Candice menolak? Atau apakah Lusiana tidak mengetahuinya sama sekali? Entahlah. Hans masih belum berani untuk menanyakan hal itu, sebab ia yakin Candice tidak akan jujur.


"Pak, apa Pak Guru tahu bagaimana caranya mati tanpa merasa kesakitan?" celetuk Candice tiba-tiba yang di luar nalar otak Hans. "Katanya, seorang terpidana mati akan ditembak oleh sepuluh orang di bagian jantungnya dalam jarak sepuluh meter, kemudian setelah dia tumbang baru ditembak kepalanya. Katanya diusahakan biar enggak terlalu menyiksa. Nah, apa benar terpidana itu enggak akan terlalu tersiksa?"


Candice menatap Hans. Mengharapkan jawaban dari Hans yang masih tampak syok berkat pertanyaannya.


Hans menghentikan mobilnya ketika lampu merah sedang menyala. "Kamu ... kok bisa tahu sedetail itu? Kamu tertarik dengan hukum beneran ya?" ucapnya, berusaha untuk tidak mempertanyakan apakah Candice tertarik untuk menjadi terpidana mati karena sudah tidak semangat hidup di dunia ini.


Candice menggeleng. "Enggak. Saya hanya sekadar tahu saja. Saya kan sering Googling, soalnya saya kerap ingin membuat masalah. Biar kalau ditangkap polisi, hukuman saya enggak parah, jadi saya sering lihat pasal-pasal tuntutan. Hidup di penjara kan enggak bebas!"


"Tapi, Candice, ingatanmu cukup tajam juga. Lebih baik, setelah lulus kamu ambil jurusan hukum saja."


"Haduh kenapa malah membahas itu sih?! Pak Guru harus fokus sama pertanyaan saya dong! Lagi pula, saya enggak tertarik kuliah. Enggak mau saya kuliah pakai uang haram dari Tua Bangka Sialan itu."


"Tua Bangka siapa maksud kamu, Candice?"


"Ugh, sudahlah, Pak!"


"Saya serius lho, Dik!"


"Saya juga serius lho, Pak! Lagi pula saya enggak punya duit, nilai saya juga jelek."


"Kamu kan sudah setuju untuk les bareng saya, saya yakin saya bisa membuat nilai kamu naik. Saya sangat mendukung penuh kalau kamu bisa lanjut ke jurusan hukum. Saya akan membantumu mencari beasiswa nantinya."


Candice terdiam, memilih mengabaikan di saat Hans terus mendorongnya untuk tetap menggali segala ilmu tentang bidang hukum. Gurunya itu memang terlalu cerewet, berisik, dan sangat suka ikut campur.

__ADS_1


Ketika Hans menemukan sebuah klinik, barulah omongan panjang lebarnya berhenti. Hans membantu Candice untuk menuju klinik tersebut.


***


__ADS_2